My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 39 Misunderstand


__ADS_3

***


        Kedua wanita yang berbeda umur itu sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jepang yang terkenal. Memasuki dari toko ke toko lainnya untuk membeli barang yang mereka sukai. Sepertinya mereka memang berencana untuk menghabiskan uang milik Ken. Kantong belanjaan yang berisi macam-macam barang pun sudah tak muat lagi di dalam genggaman tangan mereka.


            Charlote bahkan harus menyuruh beberapa bodyguard yang dipekerjakan suaminya itu untuk membantu membawa barang belanjaan mereka. Tak sampai di sana, mereka masih lapar mata dan ingin berburu barang-barang lainnya. Pakaian bermerk, sepatu bermerk, make up limited edition, belum lagi barang mahal lainnya yang mereka beli.


            Ken yang mendapat kabar dari salah satu bodyguard-nya, hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala di balik layar telepon saat mendengar kedua wanita kesayangannya sedang berburu di pusat perbelanjaan.


            “Tante, kurasa kita benar-benar akan menghabiskan uang Paman kalau begini caranya.” Stefa merasa tak enak karena telah menggunakan uang Pamannya begitu saja.


            “Tenanglah, sayang! Pamanmu memang harus melakukan ini, jadi biarkan saja uangnya habis. Untuk apa dia bekerja selama ini jika uangnya tak mau dipakai sama sekali.” Meskipun apa yang dikatakan Charlote benar adanya, tapi tetap saja Stefa merasa tak enak hati karena kebaikan Pamannya itu.


            “Oh, ya ampun. Dasar aku ini sudah tua. Perutku sudah lapar sampai berbunyi begini.” Keluh Charlote saat perutnya berbunyi karena merasa lapar di tengah acara berburu mereka.


            “Kita memang sudah terlalu lama di sini, Tante. Wajar saja perut Tante merasa lapar.”


            Akhirnya mereka memutuskan untuk menyambangi restaurant yang cukup terkenal di dalam pusat perbelanjaan itu. Mereka mulai berjalan menuju restaurant yang dituju. Sebelumnya, Charlote meminta Stefa untuk menunggu di salah satu sofa empuk yang letaknya tak jauh dari posisi mereka saat ini. Wanita itu sudah tak kuat lagi menahan urusannya untuk segera pergi ke toilet.


            Tinggallah Stefa sendirian di sofa dan menunggu Tantenya untuk menyelesaikan urusannya di dalam toilet. Ia menyempatkan untuk memposting beberapa foto miliknya ke dalam akun sosial medianya dengan caption yang


terbilang singkat. Beberapa detik kemudian, kolom komentar sudah dipenuhi dengan komentar-komentar dari teman-temannya.


            Lianne juga turut meramaikan kolom komentar tersebut dan di susul Judith menambahkan komentar di dalam postingan itu.


            “Stefa?” tanya seorang pria yang berdiri tepat di hadapan Stefa yang sedang memainkan handphone miliknya. Stefa mendongak menatap pria yang menyebut namanya.


            “Revaldo? Astaga. Kita bertemu lagi.” Stefa segera berdiri untuk mensejajarkan posisi tubuhnya dengan pria yang ternyata adalah Revaldo.


            “Sepertinya kita berjodoh.” Stefa langsung memutar bola matanya malas saat mendengar gombalan tak bermutu dari mulut Revaldo.


            “Sedang apa kau di sini?” lanjut Revaldo.


            “Aku sedang berbelanja dengan Tanteku. Kau sendiri?” tanya Stefa yang penasaran dengan kehadiran Revaldo di dalam pusat perbelanjaan. Biasanya pria semacam Revaldo akan sangat jarang sekali memasuki pusat perbelanjaan. Mereka cukup menyuruh dan memerintah asisten mereka untuk membeli sesuatu yang memang barang itu hanya ada di pusat perbelanjaan.


            Mereka tak akan repot-repot untuk turun tangan langsung membeli sesuatu di pusat perbelanjaan.


            “Aku akan bertemu dengan klienku yang kebetulan sedang berada di Jepang.” Revaldo melirik jam tangannya.


            “Sepertinya dia akan terlambat untuk datang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” tawar Revaldo.


            Stefa menoleh ke arah pintu toilet di mana Tantenya baru saja ke luar dari balik pintu toilet khusus wanita. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Stefa dan Revaldo yang sedang mengobrol.


            “Oh. Siapa ini?” tanya Charlote pada Stefa namun tidak dengan pandangan matanya yang sedang menatap Revaldo. Buru-buru Revaldo memperkenalkan dirinya dan menjelaskan siapa dirinya.


            “Perkenalkan, saya Revaldo.” Revaldo mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Charlote. Namun ia urungkan ketika Charlote hanya memandang tangan yang ia ulurkan begitu saja.


            “Tante!” gumam Stefa menyadarkan Charlote untuk menerima uluran tangan itu.


            “Kau siapanya keponakanku?” tanyanya dengan mata yang memicing curiga. Revaldo langsung menarik kembali tangan yang sempat ia ulurkan. Kemudian tersenyum.


            “Perusahaan saya bekerja sama dengan perusahaan di mana Stefa bekerja.” jelas Revaldo dengan ramah. Charlote masih memicing ‘kan matanya curiga, ia tak mudah percaya dengan perkataan orang lain.


            Sebenarnya Charlote sudah ke luar dari balik pintu toilet wanita sedari tadi, namun melihat ada sosok pria yang menurutnya begitu tampan sedang mengobrol dengan Stefa. Ia malah berdiam diri di dekat pintu masuk toilet, ia memperhatikan dari jarak jauh. Karena penasaran, akhirnya Charlote berjalan mendekat ke arah Stefa dan juga Revaldo.


            Saat Stefa melihat ke arahnya, ia sengaja membuat seolah-olah baru saja ke luar dari balik pintu toilet. Saat


mendengar nama pria itu, Charlote merasa pernah mendengar nama itu. Bukan untuk berlaku tak sopan saat Revaldo mengulurkan tangannya dan tak menerima uluran tangan itu.


            Ia sedang berpikir keras untuk mengingat nama yang disebutkan oleh Revaldo. Ia merasa pernah mendengar tapi ia lupa pernah mendengar di mana. Akhirnya, yang terjadi hanya menatap uluran tangan itu.


            “Perkenalkan ini Tanteku, Charlote!” akhirnya Stefa membantu memperkenalkan Tantenya itu yang tak mengeluarkan sepatah kata pun. Stefa merasa canggung dengan situasi yang sedang dihadapinya ini.

__ADS_1


            “Oh, ayolah anak muda. Kalian tak usah berpura-pura di depan orang tua ini. Aku tahu kalian sedang masa


pendekatan. Tak perlu menutupinya! Aku ini bukan orang tua yang kolot.” Celetuk Charlote yang memecah kecanggungan dengan kecanggungan lainnya. Stefa membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


            Begitu pula dengan Revaldo yang mengerjap ‘kan matanya berulang kali. Pendengarannya merasa mendadak tak berfungsi sama sekali. Jadi dari tadi wanita paruh baya itu menatap Revaldo curiga hanya karena masalah ini?! Oh yang benar saja.


            Revaldo sedang tidak masa pendekatan dengan keponakannya. Ya meskipun pada dasarnya pria itu memang ingin melakukannya, hanya saja mendengar seseorang mengucapkan kalimat seperti membuatnya jadi tak bisa mencerna situasi dengan baik.


            “Kenapa kalian malah diam saja? Ah, sudahlah. Lebih baik kita makan siang dulu, perut Tantemu ini sudah lapar. Dan kau anak muda, ikut bersama kami saja!” wanita paruh baya itu langsung meninggalkan kedua manusia yang masih berdiam diri.


            “Yak, Tante. Kau meninggalkanku begitu saja.” teriak Stefa mengejar langkah cepat Tantenya itu. Seperti orang bodoh, Revaldo masih saja mematung di tempatnya. Ia memperhatikan kedua wanita yang sudah lebih dulu berjalan cukup jauh dari posisinya.


***


            “Silakan memesan makanannya, biar saya yang membayar tagihannya.” Revaldo berniat untuk membayarkan seluruh tagihan atas makanan yang mereka pesan. Tentu saja Charlote berseru senang


karena pria muda tampan di depannya ini mau membayar seluruh tagihannya.


            Meskipun pada kenyataannya Charlote memegang kartu suaminya dan mampu membayar seluruh tagihan itu. Ia membiarkan Revaldo melakukan hal itu, ia ingin tahu seberapa besar usaha pria itu untuk


mengambil hatinya dan mendekatinya sebagai keluarga dari pihak wanita yang sedang ia dekati.


            “Baiklah, aku akan memesan makanan. Kau juga cepatlah pesan makananmu, jangan berdiam diri saja!” tegur Charlote yang melihat Stefa memandangnya dengan alis yang berkerut dalam.


            “Kau tak perlu melakukan itu, Revaldo. Kami akan membayar tagihan kami sendiri.” tolak Stefa.


            “Tak apa. Ini bukan masalah untukku. Kau bisa memesan apapun yang kau ingin makan.”


            Pria itu langsung memanggil salah satu pelayan dan menyebutkan beberapa menu makanan yang ia inginkan. Tak lupa juga sebotoh anggur merah sebagai pendamping minuman mereka. Disusul dengan pesanan Charlote dan juga Stefa.


            Tak lama, pelayan pun mengantarkan pesanan mereka dan menghidangkannya di atas meja. Mereka menikmati makan siang dengan tenang, hanya suara garpu dan juga pisau yang menjadi pemecah kesunyian itu. Stefa memakan makanannya dengan pelan karena canggung akan situasi yang terjadi.


            Berbeda dengan Tantenya itu, wanita cerewet yang sudah salah paham karena mengira Revaldo sedang melakukan pendekatan dengannya malah makan dengan begitu lahap dan tenangnya.


            “Makan saja makananmu, jangan terus menghela napas seolah dunia akan runtuh hari ini juga!” tegur Charlote yang sebenarnya menyadari Stefa terus saja menghela napas dan bergantian melirik kepadanya dan juga Revaldo.


            Stefa tersentak mendengar suara Tantenya. “Ti-tidak.”


            Charlote menaruh garpu dan juga pisau di atas piring kemudian mengelap mulutnya dengan serbet. Mengisi gelasnya dengan anggur merah kemudian meneguknya sedikit.


            “Kau pikir Tantemu ini buta? Sedari tadi kau membuang napasmu seolah dunia sebentar lagi akan runtuh, kau melirikku kemudian melirik pria ini. Tenang saja, sudah kukatakan bahwa aku bukan orang tua yang kolot. Kalian bisa mengobrol seperti tadi, jangan terlalu menghiraukanku!” ucapnya panjang lebar. Revaldo yang dari awal hanya memperhatikan malah terkekeh pelan menarik perhatian kedua wanita itu.


            “Kenapa kau tertawa?” desis Stefa dengan memelototkan matanya.


            “Aku tidak.” elak Revaldo dengan santai.


            Stefa mendelik kemudian menghabiskan makanannya dengan terburu-buru. Ia ingin segera pergi dari situasi yang tak ia inginkan ini. Pria itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Stefa yang seolah sedang merajuk.


            Setelah semuanya selesai, barulah Revaldo memanggil pelayan lagi dan meminta tagihan makanannya. Ia membayar tagihan itu dengan uang tunai. Semua itu tak luput dari perhatian Charlote.


            “Ngomong-ngomong, kalian sudah berapa lama melakukan pendekatan?” celetuk Charlote setelah pelayan itu pergi dengan membawa beberapa lembar uang kertas yang Revaldo bayarkan atas tagihan makanannya.


            “Tante!” tegur Stefa tak suka.


            “Sstt.. Diamlah! Tantemu ini ingin mendengar yang sejujurnya.”


            “Kami tidak sedang melakukan pendekatan, Tante. Kau berlebihan dan kali ini kau salah.” Stefa membuang


mukanya ke arah lain sembari menyesap anggur dari gelas.


            “Kami melakukannya tidak terlalu lama, dan tidak terlalu sebentar juga.” Jawab Revaldo membuat Stefa menatap horor ke arahnya.

__ADS_1


            Astaga. Pria ini benar-benar membuat kepala Stefa berdenyut sakit mendengarnya. Sejak kapan mereka melakukan pendekatan? Lagi pula, kenapa pria itu tiba-tiba mengucapkan hal yang tidak pernah terjadi.


            “Benarkah?” mata Charlote sudah berbinar bahagia.


            “Tidak. Sudah kukatakan kami tidak melakukannya!” elak Stefa kemudian menatap Revaldo dengan tajam, seolah mengatakan sebaiknya kau diam saja dan tutup mulutmu itu.


            “Apa anda menyetujui jika kami melakukan pendekatan dan memiliki hubungan?” lagi-lagi Revaldo membuat Stefa geram dan kepalanya semakin berdenyut.


            “Kau!” tunjuk Stefa.


            “Kau kenapa? Kau seperti cacing kepanasan dari tadi, kau selalu saja menampik kenyataan yang jelas-jelas Tante sudah tahu sendiri kebenarannya.” Sela Charlote sebelum Stefa kembali melontarkan segala macam protesannya.


            “Astaga. Wanita ini benar-benar sok tahu sekali. Sudah kukatakan aku dan pria ini tidak ada hubungan apapun.” gerutu Stefa dalam hatinya.


            “Oh, ya. Aku mungkin saja merestui hubungan kalian, tapi kau harus berusaha mengambil hati suamiku. Kau haru bertemu dengannya dan menangkan hati suamiku agar merestui hubungan kalian berdua. Datanglah ke rumah kami!” ucap Charlote kemudian.


            Revaldo mengangkat alisnya sebelas seraya menatap Stefa dengan seringai jahilnya membuat wanita itu mencebik dan mengguman mengutuk dirinya tak jelas.


            “Dengan senang hati saya akan berkunjung ke rumah anda.” Revaldo tersenyum dengan begitu manisnya menutupi kelicikannya.


            Dunia tentu saja akan memihak padanya yang sedang ingin melakuka pendekatan pada Stefa. Lihatlah! Wanita itu mencoba menolak dari takdir yang diciptakan Tuhan untuk mereka berdua. Namun dewi keberuntungan seolah tak memihak pada wanita itu, dan malah memihak pada Revaldo.


            Dalam hatinya Revaldo bersorak gembira. Satu orang sudah memberikan dukungan untuknya, hanya tinggal satu orang lagi yang harus ia dekati dan mendapatkan dukungannya. Setelah mendapat dukungan keluarga Stefa, barulah ia akan memperjuangkan Stefa agar menjadi miliknya.


            Ternyata kedatangannya ke Jepang tidak sia-sia. Ia tidak tahu-menahu mengenai Stefa yang sedang berada di Jepang. Ia murni datang ke Jepang hanya untuk menghadiri seminar dan beberapa urusan bisnis. Mungkin Tuhan memang sudah mentakdirkan dirinya untuk kembali bertemu dengan Stefa.


            Wanita yang sejak beberapa bulan yang lalu pernah datang ke Indonesia dan menjadi wanita yang satu-satunya Revaldo inginkan sebagai pendampingnya. Sayangnya, melihat Stefa yang bersikap dingin dan sedikit bar-bar. Revaldo harus sedikit berusaha keras untuk meluluhkan hati wanita itu dan mendapatkan hatinya.


            Pertemuannya di bianglala waktu itu sungguh membuatnya memanjatkan rasa syukurnya pada Tuhan. Sejujurnya Revaldo tak berniat datang ke tempat seperti itu, namun seolah hatinya bersorak dan menyuruhnya untuk datang ke sana.


            See. Untung saja ia menuruti apa kata hatinya, akhirnya ia bertemu dengan Stefa di sana. Jika saat itu ia tak mengikuti apa kata hatinya, saat ini mungkin ia tak akan pernah tahu kalau Stefa berada di Jepang.


            Untuk pertemuan kali ini pun, di luar rencana Revaldo. Ia datang ke sana untuk bertemu dengan rekan bisnisnya yang kebetulan sedang berada di Jepang juga. Namun, sepertinya orang itu terlambat datang karena sampai saat ini rekanannya itu belum muncul juga.


            Revaldo sudah memesan salah satu meja di restaurant yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu untuk pertemuannya dengan rekan bisnisnya.


            “Mrs. Charlote, maafkan aku. Aku harus pergi karena rekan bisnis saya sudah tiba.” Akhirnya Stefa bisa bernapas lega mendengar Revaldo akan segera pergi dari hadapannya. Pria itu baru saja menerima pesan dari sekretaris rekan bisnisnya yang memberi tahukan bahwa mereka sudah tiba di restaurant yang ia pesan sebelumnya.


            “Kau sudah mau pergi?” tanya Charlote dengan raut wajah seolah tak terima jika pria itu harus pergi. Ia


masih ingin mengbrol banyak perihal kedekatannya dengan Stefa.


            “Tante, biarkan saja dia pergi.” sela Stefa dengan senyuman mengembang yang tak bisa ia tutupi lagi.


            Charlote memelototkan matanya menyuruh Stefa untuk diam saja yang malah dibalas dengan cebikkan Stefa.


            “Sejujurnya saya masih ingin menemani kalian, tapi rekan saya benar-benar sudah datang. Begini saja, saya akan mampir ke rumah anda besok siang jika memang anda mengijinkan saya.”


            Charlote kemudian berseru senang dan memeluk Revaldo yang sudah berdiri.


            “Tentu saja kau harus datang ke rumah kami. Baiklah, kau bisa pergi sekarang. Dan, oh iya. Kau bisa memanggilku Tante saja, tak usah seformal itu. Aku bukan atasan atau rekan bisnismu, tapi calon keluargamu juga.” Charlote mengedipkan sebelah matanya ke arah Revaldo. Lagi-lagi pria itu tersenyum jahil ke arah Stefa. Wanita itu sudah bersidekap dengan memesang wajah tak sukanya.


            “Hey, ayolah. Kalian tak usah berlebihan!” protes Stefa dan langsung pergi meninggalkan kedua manusia itu


yang sedang menatapnya berlalu begitu saja.


            Charlote menggenggam kedua tangan Revaldo dengan lembut. “Maafkan atas sikap keponakanku. Dia bukanlah orang yang seperti itu, dia anak yang baik dan hangat. Namun, setelah peristiwa yang membuatnya terluka. Aku merasa dia berubah, dia bukan anak nakal yang dulu lagi.” Ada raut kesedihan dan menyesal dari wajah Charlote. Ia merasa gagal karena tak bisa menjaga Stefa dengan baik. Jika saja ia dan juga Ken mampu mencegah kejadian yang mampu membuat Stefa seperti ini.


            Ia dan juga Ken akan berusaha sebisa mungkin untuk tak membuat Stefa menjadi wanita yang sedingin seperti sekarang.


            “Aku tahu. Lagi pula itu masa lalunya, dan itu wajar jika itu pun terjadi padaku juga. Aku akan membuatnya

__ADS_1


kembali hangat seperti dulu yang anda katakan.” Janji Revaldo dan membalas genggaman tangan Charlote. Wanita paruh baya itu kemudian tersenyum dan memeluk sekali lagi.


            “Pergilah! Rekanmu sudah menunggu, Nak.”


__ADS_2