
Seharusnya hari ini Stefa menikmati sarapan paginya dengan tenang seperti biasanya, tapi
hatinya tidak bisa di ajak kompromi sama sekali. Ia masih memikirkan ajakan
David sang bos besarnya untuk pergi ke pesta nanti malam. Dalam hatinya Stefa
masih enggan untuk datang bersama dengan David, karena Judith yang sudah
membantu menjawab mengiyakan ajakan David tanpa persetujuannya.
Mau tidak mau Stefa harus datang bersama David sang bos besarnya. Memang itu sebuah kehormatan besar untuk Stefa bisa berada di samping dan dalam rengkuhan lengan kokoh bos besarnya itu saat
berjalan bersama ke pesta.
“Aiihh, ini benar-benar membuatku gila. Jika saja Judith tidak mengiyakan ajakannya, aku tidak akan sefrustasi ini!” Stefa menjambak rambutnya pelan untuk melepas rasa putus asanya. Ia tidak
memperdulikan tatapan ornag-orang yang sedang menikmati sarapannya sama seperti
Stefa.
Stefa pergi meninggalkan meja makan dan sarapan yang belum sempat ia habiskan. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar, dan akan melakukan apa saja untuk membunuh rasa bosannya karena tidak
akan lagi datang ke lokasi proyek.
Tiba di kamar Hotel, handphone miliknya berbunyi dan mendapatkan sebuah panggilan telepon dari bos besarnya.
“Hallo, Mr. David?” sapa Stefa saat panggilan itu sudah tersambung dengannya.
“Stefa, aku mengirimkan beberapa orang untuk melakukan perawatan untukmu dan juga Judith. Kau bisa menikmati waktu luangmu sebelum nanti malam aku menjemputmu di kamar!”
“Ya Tuhan. Itu sungguh tidak perlu, sir!” Stefa menolak kebaikan David.
“Ini untuk membunuh rasa bosan kalian, aku tahu kalian akan bosan sepanjang hari ini karena tidak ada kegiatan lainnya. Dan nikmati saja!”
Tanpa mau menunggu jawaban dari Stefa, David langsung memutuskan sambungan telepon itu sepihak. Stefa menatap handphonenya sesaat sebelum ia meletakkan di atas meja kaca yang terletak di
depan sofa ruang televisi berada.
Tak lama bunyi bel pun terdengar. Stefa segera bangkit dan berjalan untuk membuka ‘kan pintu.
“Nona Stefa?!” tanya seorang wanita yang sudah mematung di depan pintu kamar Stefa. Wanita itu terlihat begitu cantik dan elegan serta terlihat begitu berkelas. Berbeda dengan Stefa yang
sudah pasti orang-orang akan tahu bahwa dia berasal dari orang biasa saja.
Stefa mengangguk membenarkan. “Ya. Anda siapa?”
“Saya di kirim Tuan David untuk melakukan beberapa perawatan untuk tubuh dan wajah anda, dan saat menjelang malam. Saya di tugaskan untuk merias anda sebelum Tuan David menjemput anda.”
__ADS_1
Wanita itu menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya.
Stefa menggeser sedikit tubuhnya dan membiarkan wanita itu masuk ke dalam kamar Hotelnya. Stefa pikir, hanya satu wanita saja yang datang. Ternyata, ada beberapa wanita lainnya yang turut masuk
ke dalam.
Stefa memang tidak menyadarinya saat ia pertama kali membuka pintu kamar, bisa di tebak siapa saja wanita itu yang telah mengekori wanita tadi. Siapa lagi kalau bukan para asistennya yang akan
membantu wanita tersebut.
“Silahkan duduk, aku akan mengambilkan minuman dulu untuk kalian!”
Buru-buru Stefa pergi ke arah dapur untuk mengambilkan minuman untuk beberapa orang suruhan David. Sekembalinya dari dapur, Stefa meletakkan beberapa gelas yang sudah diisi dengan air
berwarna oranye.
“Silahkan diminum! Maaf, aku hanya memiliki ini.” ucap Stefa merasa tak enak karena tidak memiliki persediaan minuman yang lain selain air yang berwarna oranye itu.
“Terima kasih, Nona.” Ucap wanita yang menurut Stefa itu adalah atasan di antara wanita lainnya.
Setelah mengobrol dan saling memperkenalkan diri masing-masing secara resmi dan menjelaskan hal apa saja yang akan mereka lakukan kepadanya, Stefa di giring ke kamar tidurnya untuk
segera menikmati proses perawatan yang diberikan secara Cuma-Cuma oleh bos
besarnya itu.
ternama di Indonesia. Beberapa artis kelas atas sering menggunakan jasa salon
kecantik ‘kannya dan juga menggunakan produk yang berasal dari butik miliknya.
Sehebat itukah bos besarnya itu sampai rela membuang uangnya secara Cuma-Cuma hanya untuk seorang Stefa?! Ah tidak. Bukan seorang Stefa saja yang di untungkan, bahkan sekretarisnya pun
ikut merasakan keberuntungan itu.
Ditengah-tengah perawatan yang sedang dinikmatinya, Stefa diganggu dengan bunyi handphone miliknya yang terus saja berbunyi. Melihat nomor asing yang sama sekali tidak Stefa kenali, Stefa
mengabaikan panggilan itu.
Berulang kali si penelepon berusaha untuk menghubungi Stefa namun tak di anggap oleh Stefa. Merasa nomor itu tidaklah penting untuk dirinya.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Saking menikmatinya, Stefa sampai melupakan makan siangnya alhasil, perutnya sekarang merasa lapar dan keroncongan. Beruntung Vivianne
mengerti dengan apa yang Stefa rasakan saat ini, Vivianne menyuruh salah satu
asistennya untuk memesan beberapa makanan dan segelas jus untuk mengganjal
perut Stefa.
__ADS_1
“Terima kasih, Vivianne. Berkat kau dan juga para asistenmu, aku bisa menikmati kembali tubuhku yang sebenarnya.”
“Sepertinya kau sudah lama tidak pergi ke salon untuk perawatan?” tanya Vivianne sambil tersenyum.
“Ya, kau benar. Aku terlalu sibuk menata hidupku kembali, sampai aku lupa bahwa aku harus menikmati waktuku yang telah terbuang.” Stefa terkekeh menyadari kebodohannya karena tidak bisa
menikmati waktunya dengan baik.
Dia hanya sibuk dan fokus menata hidupnya kembali karena sempat di buat hancur oleh mantan kekasihnya.
“Kau harus sering-sering melakukan perawatan, nikmatilah waktumu dengan baik. Pergi lah dengan beberapa temanmu dan tertawalah sepuasnya! Terkadang hidup tidak sesuai dengan keinginan kita,
tapi setidaknya kau harus menikmati waktu yang masih ada!” Vivianne memberikan
nasihat kepada Stefa dan diangguki setuju oleh Stefa.
“Ya, kau benar Vivianne. Aku memang harus sering pergi bersama teman-temanku, atau mungkin, aku bisa datang ke kelab malam untuk meliukkan pinggangku.” Mereka langsung tertawa lepas saat Stefa
mengatakan bahwa dirinya harus menyempatkan waktu untuk datang ke kelab malam.
“Sepertinya kau wanita yang istimewa untuk Tuan David?!” ucap Vivianne setelah dia meredakan tawanya.
“Tentu saja tidak.” Sanggah Stefa buru-buru.
“Tapi sepertinya iya. Setahuku, Tuan David tidak pernah melakukan hal seperti ini hanya untuk seukuran karyawan. Kau pasti benar-benar istimewa baginya, dia rela membuang uangnya hanya untuk
menyenangkanmu, bukan?!”
Stefa terdiam saat mendengar penuturan dari Vivianne. Memang benar adanya, perlakuan David terlalu istimewa dan terkesan berlebihan hanya untuk seukuran karyawan biasa sepertinya.
Sedikit tahu mengenai sepak terjang kisah percintaan dan asmara David, memiliki mantan kekasih dari kelas atas. Bahkan yang Stefa tahu, bosnya itu memiliki hubungan atau bisa dikatakan sedang
menjalin hubungan dengan seorang anak konglomerat di London.
Itu sudah pasti. Dan Stefa tidak yakin jika dirinya adalah orang yang spesial dan istimewa untuk David
sepertinya yang dikatakan oleh Vivianne barusan. Stefa tidak mau berharap
banyak dan menganggap serius perkataan Vivianne tentang perlakuan David yang
membuat dirinya merasa spesial dan istimewa.
Dia tidak ingin merasakan sakit karena jatuh untuk ke sekian kalinya hanya berharap pada sesuatu hal yang tidak pasti menurutnya. Dari segi kehidupan saja, sudah jelas Stefa dan David berbeda
kelas.
David yang seperti raja duduk di singgasananya, sementara Stefa seperti budak yang bersimpuh di bawah kaki David untuk mengabdikan hidupnya untuk bekerja kepada si raja. Itu mustahil sekali.
__ADS_1