
Akhirnya Stefa bisa menginjakkan kembali kakinya di Indonesia lagi dengan urusan yang sama seperti beberapa bulan yang lalu, hanya saja kali ini ia datang bukan untuk mewakili perusahaannya yang ada di London. Ia datang untuk sebuah kerja sama dengan perusahaan yang menawarkannya sebagai brand ambassador-nya.
Untuk kali ini ia datang bersama dengan Brianna dan juga Lianne. Sesuai dengan janjinya, Stefa mampu mendapatkan izin dari Johannes, bos besar Lianne dengan mudahnya. Pria itu mempercayakan Lianne pada Stefa dan juga Brianna tentunya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Johannes saat itu, dengan mudahnya ia menyutujui permintaan Stefa begitu saja.
Bahkan Lianne harus dibuat tercengang karena bisa mendapatkan izin dengan mudah tanpa harus memasang wajah memelas. Dan tentu saja Stefa juga menyerahkan surat pengambilan cuti kembali karena urusan pekerjaannya yang ini. Sepertinya perusahaan milik David benar-benar harus memberikan kelonggaran khusus untuk Stefa, harus mengerti pekerjaan Stefa yang lain.
Ah ralat. Harusnya di sini Stefa-lah yang tahu diri, ia bekerja di dua perusahaan sekaligus dan pasti nantinya akan ada salah satu pekerjaan yang harus ia korbankan ke depannya. Ia tak berani menjamin bahwa kedua pekerjaannya akan baik-baik saja, mungkin untuk sampai sekarang akan baik-baik saja.
“Stefa!” teriak Judith yang berjalan cepat menghampiri Stefa di pintu kedatangan. Wanita itu tidak hanya datang sendirian, namun ada Cordy yang turut datang menemani Judith tentunya.
Wanita itu berjanji akan menjemput Stefa di bandara saat bosnya itu tiba di Indonesia. Dan ia berhasil
menepatinya.
“Hei berhati-hatilah, kau sedang mengandung!” tegur Stefa tegas namun tidak dengan gestur tubuhnya. Stefa memeluk Judith dengan hangat.
“Akhirnya kalian datang juga. Aku datang bersama Cordy, dia janji akan menemaniku menjemput kalian di sini.” Terangnya dengan wajah bahagia yang tak bisa di tutupi lagi. Cordy mengekor dari belakang dan menyapa Stefa karena mereka pernah kenal sebelumnya.
“Jadi kau memutuskan untuk menikahi sekretarisku, huh?” sindir Stefa kepada Cordy yang ditanggapi dengan cengiran lebar Cordy serta menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sama sekali.
“Jika saja kau berani menyakiti sekretarisku, akan kupastikan kebanggaanmu ku babat habis tak bersisa.”
Ancamnya yang langsung membuat pria itu meringis ngeri membayangkannya.
“Tenang saja, dia tak akan berani melakukannya karena aku sudah menjinakkannya.” Judith mengedip ke arah Cordy dan dibalas dengan gelengan kepala.
Stefa memperkenalkan Brianna dan juga Lianne pada Cordy dan setelahnya, mereka meninggalkan area bandara. Kali ini perusahaan yang mengontrak Stefa menawarkan hunian mewah di Ibukota Jakarta. Namun, Stefa menolak keras tawaran itu.
Stefa lebih memilih untuk menginap di The Ritz-Carlton Hotel yang letaknya tepat di area Pacific Place-Jakarta Selatan. Tentu saja Hotel yang ia pilih bukanlah Hotel murah dan tak berkelas, justru Hotel itu adalah salah satu Hotel berkelas bintang 5 di Jakarta. Dari sekian banyaknya Hotel bintang 5 di Jakarta, ia lebih memilih untuk menginap di Hotel itu.
Alasannya sangat mudah, akses yang didapat lebih mudah jika ia akan pergi dan memerlukan sesuatu. Pihak perusahaan itu tentu saja menyetujui pendapat Stefa dan memutuskan untuk mengganti fasilitas tempat tinggal Stefa dari hunian mewah ke Hotel bintang 5 itu.
“Kau benar-benar pintar memilih Hotel di negara orang.” Puji Lianne saat mereka tiba di Hotel itu. Brianna
menaruh barang-barang Stefa di kamarnya. Tentu saja Lianne dan Brianna tidak tinggal dalam satu kamar bersama. Mereka memang menginap di Hotel yang sama, namun tipe kamar mereka jelas berbeda dengan Stefa.
“Tentu saja aku melihat di papan pencari sebelum aku datang ke sini. Banyak sekali review bagus tentang Hotel ini, jadi aku penasaran dan ingin merasakannya sendiri.” Jelas Stefa dengan tangan yang sibuk memasukkan
baju-bajunya ke dalam lemari pakaian yang sudah tersedia di dalam kamarnya itu.
“Oh ya, berapa lama kau akan berada di Indonesia?” tanya Judith yang membantu Stefa merapikan barang-barangnya. Sedangkan Cordy, tentu saja pria itu sibuk duduk di ruang tamu dan hanya menjadi mandor bagi keempat wanita itu.
“Kurang lebih satu minggu, itu pun kalau pekerjaanku bisa selesai tepat waktu.” Jawab Stefa masih sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
Judith hanya mengangguk paham dan setelahnya hanya keheningan yang menyelimuti mereka di dalam kamar. Setelah semuanya selesai, Judith dan Cordy berpamitan untuk kembali ke kediaman Cordy. Pria itu sepertinya benar-benar akan bertanggung jawab, melihat dari caranya memperhatikan dan mengkhawatirkan Judith dan juga kandungannya.
Sepertinya pemikiran buruk dan cap pria brengsek yang sempat Stefa sematkan untuk pria itu kini hilang sudah dengan sendirinya. Brianna dan juga Lianne sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Kedua wanita itu tinggal di lantai yang sama, hanya berbeda satu lantai saja dengan Stefa.
Stefa menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, perjalanan yang memakan waktu lama itu membuat tubuhnya begitu lelah dan terasa pegal-pegal. Tak terasa matanya terpejam begitu saja, bahkan ia tak ingat bahwa badannya begitu lengket karena keringat. Tubuhnya menolak untuk diajak kompromi dan lebih mementingkan untuk mengistirahatkan walau hanya sebentar saja.
***
Keesokan harinya, Stefa terbangun karena bunyi alarm handphone-nya. Ia tidur seperti orang mati, bahkan ia terbangun dengan posisi yang sama saat wanita itu memejamkan matanya karena kelelahan. Tangannya bergerak menekan tombol untuk menghentikan bunyi alarm yang terdengar menyebalkan baginya.
Tubuhnya menggeliat dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia berjalan keluar dan mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin yang letaknya berada di dalam dapur mini. Kerongkongan yang terasa kering kini tergantikan dengan rasa lega dan segar dari air mineral dingin itu.
“Oh, kau sudah bangun?!” sapa Brianna yang baru saja masuk dengan membawa sekantong plastik berisikan buah-buahan dan sayur-sayuran untuk ia masukkan ke dalam lemari pendingin milik Stefa.
“Kau membeli semua itu?” tunjuk Stefa pada sekantong plastik yang masih berada di tangan Brianna.
“Tentu. Awalnya aku akan pergi ke pusat perbelanjaan di dekat sini, tapi staf Hotel menyarankanku agar memesan melalui aplikasi saja. Wah, ini benar-benar menghemat waktuku.” Terangnya panjang lebar membuat Stefa menganggukkan kepala dan membiarkan Brianna melakukan tugasnya.
__ADS_1
Ia meninggalkan manajernya di dalam dapur mini, sementara ia pergi dan masuk kembali ke dalam kamar tidurnya. Tubuhnya butuh berendam untuk menghilangkan aroma tak sedap yang menguar dari tubuhnya. Ia ingat bahwa semalam ia tak sempat berendam atau sekedar mencuci muka karena terlalu lelah.
Butuh waktu 30 menit untuk melakukan semuanya bagi Stefa. Kini ia benar-benar sudah rapih dan terlihat kembali bertenaga. Tubuhnya menguarkan aroma wangi bunga mawar dari sabun mandi yang ia pakai saat mandi tadi. Rupanya Brianna sudah pergi dari kamar Hotelnya. Wanita itu hanya meninggalkan lembaran kertas berisi jadwal pekerjaan yang harus Stefa ikuti.
Stefa membaca lembaran kertas itu dan mempelajarinya. Mulai dari konsep pemotretan yang akan ia lakukan dan akan dimulai besok siang. Hari ini ia masih memiliki waktu luang, ia bisa menghabiskan waktu luangnya dengan membakar lemak atau berburu makanan lezat di Jakarta.
Ia jadi teringat dengan pria yang pernah menemaninya dan memberikan kesan saat bertemu di Jepang. Bisakah ia bertemu kembali dengan pria itu lagi? Apakah pria itu masih marah kepadanya karena kejadian sebelumnya saat mereka masih berada di Jepang? Ah lupakan. Lagipula pria itu tak mencoba untuk menghubunginya setelah kejadian waktu itu.
Stefa mengirimkan pesan pada Brianna bahwa ia akan pergi keluar sebentar untuk menikmati waktu luangnya.
“Jangan lupa gunakan masker, kacamata dan juga topi untuk menutupi siapa dirimu!” itulah kata-kata yang di keluarkan oleh Brianna. Hell, no! Stefa tidak mungkin melakukan itu, ia bukanlah artis terkenal atau aktor atau apapun itu. Ia hanya seorang model yang baru terjun, tak mungkin penduduk Indonesia mampu mengenalinya begitu saja.
Reputasinya tak seterkenal itu. Ia mengabaikan peringatan dari Brianna namun tak sepenuhnya mengabaikan. Wanita itu memang mengenakan topi dan juga kacamata, namun tidak dengan masker agar menutupi wajahnya itu.
Setelah bertanya kepada resepsionis mengenai pusat perbelanjaan terdekat yang bisa Stefa datangi, akhirnya Stefa tiba di pusat perbelanjaan itu tanpa harus tersesat. Bersyukurlah akan kemampuan bahasa Indonesianya itu, ia jadi mudah untuk menanyakan arah pada orang-orang sekitar tanpa kesusahan untuk berkomunikasi.
Stefa memasuki salah satu toko kosmetik terkenal di pusat perbelanjaan itu. Salah satu petugas membantu Stefa untuk memilihkan produk kosmetik yang cocok untuk Stefa. Sialnya. Saat si petugas itu akan membantu Stefa mengaplikasikan make up ke wajahnya, seorang wanita yang entah munculnya dari mana tiba-tiba menabrak Stefa membuat ia harus tersungkur ke lantai.
Stefa mengaduh kesakitan karena ia terjatuh cukup keras membuat pantatnya terasa begitu sakit.
“Oh maafkan aku. Aku sungguh tak sengaja.” Ucap wanita itu seraya mencoba membantu Stefa untuk kembali berdiri. Begitu pun dengan petugas tadi yang membantu Stefa untuk kembali berdiri lagi.
“Tak ap...” ucapannya tak sempat ia selesaikan saat melihat siapa yang telah berani membuatnya tersungkur tadi.
“Oh Gosh! Dunia begitu sempit.” Celetuk wanita itu yang tak lain adalah Deborah. Wanita penggoda dan perusak hubungan orang yang kini tengah mengandung anak dari mantan kekasihnya.
Stefa mengumpat dalam hatinya. Ia merasa tidak beruntung kali ini karena bisa-bisanya ia pergi ke benua yang begitu jauh, negara yang begitu jauh dan malah berakhir bertemu dengan wanita penggoda ini. Ingin rasanya Stefa cepat-cepat menghilang dari sana.
Deborah menatap penampilan Stefa dari ujung kaki sampai ujung kepala hanya untuk menilai Stefa seperti apa. Tentu saja Deborah tahu kalau Stefa saat ini telah memiliki dua profesi. Pekerja kantoran sekaligus seorang model yang sedang mencoba naik daun. Deborah menganggap Stefa bukanlah saingannya, terlalu berkhayal jika Stefa mampu menyaingi reputasinya itu.
Deborah tersenyum sinis dan terlihat mengejek penampilan Stefa yang biasa-biasa saja, bahkan tanpa ada penjagaan ketat oleh bodyguard yang biasa mengelilingnya jika ia pergi kemana pun.
“Huh, dasar model murahan dan tak berkelas. Pakaianmu mencerminkan siapa dirimu sebenarnya.” Sindir Deborah tanpa melihat tempat ia sedang berada di mana dan lingkungan seperti apa. Petugas itu hanya menatap ke arah Stefa dan Deborah bergantian karena ia tak terlalu mengerti dengan bahasa asing itu, ia hanya mengerti beberapa kata saja dari yang ia dengar dari ucapan kedua wanita itu.
“Kau...” sepetinya Deborah terpancing emosinya sampai ia harus menunjuk-nunjuk tepat di wajah Stefa.
Wajahnya memerah karena marah, sedangkan Stefa. Ia begitu tampak menguasai emosinya kali ini dan tak ingin membuat keributan di hari yang begitu cerah ini.
Stefa langsung pergi meninggalkan Deborah begitu saja diikuti dengan petugas tadi karena diminta oleh Stefa untuk membantu membawakan barang yang ia inginkan untuk ia bayar di kasir nanti. Petugas itu hanya mengikuti Stefa dari belakang tanpa ingin ikut campur urusan konsumennya itu.
Deborah pergi meninggalkan toko itu dengan kedua kaki yang menghentak jengkel. Mulutnya tak bisa berhenti untuk menggerutu karena Stefa telah berhasil memancing emosinya itu.
“Sial. Kenapa aku harus bertemu dengan wanita semacam itu di negara ini? Dari sekian jutaan wanita, kenapa pula aku harus bertemu dengannya. Sepertinya takdir sedang mengajakku bermain-main lagi.” Stefa bermonolog sendiri setelah meninggalkan toko kosmetik tadi.
Niat hati ia akan menghabiskan waktu luangnya dengan berbagai hal, melakukan apa saja di dalam pusat perbelanjaan itu selama waktu masih tersisa banyak. Ia bisa saja memakan beberapa menu makanan terkenal di sana, menonton film di bioskop atau apapun itu. Tetapi niatnya hilang menguap begitu saja setelah kesialannya bertemu dengan Deborah.
Dan kesialannya itu tidak sampai di situ saja. Saat ia berjalan menuju toko minuman, seorang anak kecil
menabraknya dan membuat es krim yang anak kecil itu pegang menempel di pakaian Stefa. Stefa kali ini benar-benar harus menahan umpatannya karena tidak mungkin ia mengumpati seorang anak kecil tak berdosa itu.
“Hei, berhati-hatilah anak manis!” anak itu tak berani mengangkat wajahnya karena takut kalau Stefa akan
memarahinya karena kesalahannya. Lagipula di mana orang tua anak ini? Yang benar saja, membiarkan seorang anak kecil berkeliaran sendirian di pusat perbelanjaan sebesar ini bukanlah hal yang bijak.
“Kenapa kau tak menatapku, hm?” Stefa mencoba untuk tak menakuti anak itu. Anak itu akhirnya mau mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk dan kali ini menatap wajah Stefa dengan takut-takut.
“Ma-maafkan aku. Aku tak sengaja.” Ucap anak itu dengan suara bergetar dan anak itu nyaris menangis. Stefa langsung berjongkok dan menyamakan tinggi badannya.
“Aku tak akan marah pada anak manis sepertimu. Dan di mana orang tuamu?” Stefa mengusap kepala anak itu dengan lembut membuat anak itu tak lagi menunjukkan wajah ketakutannya. Anak kecil itu tersenyum, namun kemudian menggeleng.
“Kau sendirian?” tanya Stefa lagi.
__ADS_1
“No. Mom tadi ada di belakang.” Jelas anak itu. Mata Stefa mencari ke belakang tubuh anak itu dan tak menemukan Ibu dari anak itu sama sekali.
“Kau mau duduk di sana?” Stefa menunjuk kursi panjang tak jauh dari posisinya saat ini. Anak itu mengangguk dan Stefa langsung menggandeng tangan anak itu menuju kursi panjang. Stefa mengangkat tubuh kecil anak itu dan mendudukkannya di kursi panjang itu tepat di samping tubuh Stefa.
Anak itu menatap Stefa dengan seksama, mata bulat jernihnya terus menatap wajah Stefa yang begitu asing di matanya. Stefa juga menatap wajah anak kecil itu, wajah lucu dan manis anak itu membuat Stefa gemas sendiri jadinya. Ia jadi membayangkan kalau nanti ia memiliki anak selucu dan semanis anak ini.
“Astaga. Kenapa aku jadi membayangkan seorang anak. Tidak, tidak.” Stefa menggelenkan kepalanya kuat-kuat membuat anak itu terkikik geli melihat Stefa.
“Kau mentertawakanku, hm?” Stefa menggoda anak itu yang semakin terkikik geli. Stefa menciumi wajah anak itu dengan gemas.
Kedua manusia itu sibuk dengan dunia mereka sampai mereka tak menyadari seorang wanita menghampirinya dan membuat tawa Stefa dan anak itu terhenti. Anak itu menghambur ke dalam pelukan wanita itu.
“Sayang, kau membuat Mom mengkhawatirkanmu dan mencarimu kemana-mana.” Ucap wanita itu yang ternyata adalah Ibu dari anak itu.
Stefa mendekat ke arah mereka berdua dan tersenyum cerah tak sepeti biasanya.
“Lain kali berhati-hatilah, jangan membiarkan anak manis ini berjalan tanpa pengawasan orang dewasa. Untung saja dia menabrakku tadi, jadi aku membawanya duduk di sana.” Stefa menunjuk kursi panjang yang sempat mereka duduki tadi.
“Terima kasih karena telah menjaga anakku. Dan maafkan atas kecerobohan anakku karena menabrakmu.” Sesal Ibu anak itu.
“Tak apa. Kalau begitu aku harus pergi.” Stefa mencium kembali pipi anak itu dan langsung meninggalkan sepasang Ibu dan anak itu.
Stefa berniat kembali ke Hotel karena rencanya memang sudah tak bersisa lagi di benaknya. Hancur sudah niatan untuk memanfaatkan waktu luangnya itu. Bahkan rasa haus dan laparnya pun turut hilang. Beruntung kesialannya tak seburuk itu karena bisa bertemu dengan anak kecil lucu, manis dan menggemaskan tadi.
Stefa keluar dari pusat perbelanjaan itu dan sedikit berjalan ke depan untuk menemukan jalan raya. Ia berniat mencari taksi yang lewat untuk mengantarkannya kembali ke Hotel. Baru saja ia berniat untuk menyeberang, dari arah samping kanan. Sebuah mobil hampir saja menabrak Stefa yang akan menyeberang.
Semua pengunjung di sana yang melihat berteriak histeris. Stefa terjatuh ke bawah dengan napas yang
terengah-engah dengan tubuh yang gemetaran. Sial. Lagi-lagi ia harus sial. Bertemu dengan wanita penggoda, anak kecil yang mengotori pakaiannya karena sebuah es krim, dan sekarang nyawanya nyaris melayang karena hampir di tabrak mobil.
Pemilik mobil itu keluar dan menghampiri Stefa.
“Kau tak apa?” suara yang begitu Stefa kenali mengiang dan masuk ke dalam telinganya. Pemilik mobil itu membantu Stefa untuk berdiri dan memapahnya untuk kembali ke pinggir jalan. Sialnya. Kenapa juga Stefa harus mencari taksi yang lewat dari pinggir jalan. Padahal ia bisa meminta petugas pusat perbelanjaan itu untuk memanggilkan taksi dan menunggunya di Lobby. Bodoh.
“Kau baik-baik saja?” tanya orang itu lagi. Stefa mengangkat wajahnya dan matanya membulat sempurna.
Benar saja sesuai dugaannya. Orang yang hampir membuat nyawanya melayang adalah Marshal. Marshal pun terkejut melihat siapa wanita yang hampir ia tabrak barusan, ternyata adalah mantan kekasihnya sendiri.
“Tadi wanita penggoda sekaligus kekasihnya, dan sekarang nyawaku nyaris hilang oleh pria brengsek sekaligus kekasih wanita penggoda itu.” Stefa mengumpat dalam hatinya. Rengkuhan tangan Marshal yang masih menempel di tangan Stefa dan bahu Stefa ditepis dengan kasar oleh Stefa. Ia merasa tak sudi disentuh oleh pria menjijikan sepeti itu.
Oh. Rupanya sepasang kekasih itu sedang menghabiskan waktu bersama, mungkin. Dan pria itu akan menjemput kekasihnya di pusat perbelanjaan ini mengingat tadi Stefa bertemu dengan Deborah di dalam.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Marshal pada Stefa yang menatapnya dengan mata yang begitu tajam.
“Bukan urusanmu.” Stefa berbalik dan melangkah untuk meninggalkan Marshal di tempatnya. Pria itu menyusul Stefa dan meninggalkan mobilnya begitu saja dengan sembarang membuat pemilik mobil lain mengumpati mobil Marshal yang dengan jelas si pemiliknya tidak ada di dalam mobil itu.
“Tunggu aku Stefa!” teriak Marshal seraya meraih pergelangan tangan Stefa.
“Berhenti mengikutiku, Marshal!” bentak Stefa dan menepis tangan Marshal.
“Ayo ke rumah sakit.” Ajak Marshal kembali meraih pergelangan tangan Stefa namun kembali Stefa tepis dengan tatapan menunjukan permusuhannya.
Takdir benar-benar sedang mengajak Stefa untuk bermain-main lagi. Hari yang seharusnya menyenangkan untuk Stefa malah berakhir dengan penuh kesialan. Orang-orang dari masa lalunya yang pernah menorehkan luka dalam di hati Stefa malah bermunculan secara beruntun di hadapannya saat ini. Stefa ingin sekali menyalahkan takdir, tapi semua itu percuma saja. Mungkin yang ada takdir malah mentertawakan Stefa yang mencoba menyalahkan takdir itu sendiri.
“Kita harus pergi ke rumah sakit, aku hampir membuatmu tertabrak mobilku.” Ucap Marshal lagi.
Stefa tersenyum sinis. “Hampir! Kau hanya hampir menabrakku dan itu tidak terjadi. Aku baik-baik saja dan tak perlu menuruti ucapanmu itu, Sekarang lepaskan tanganmu dari tanganku, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Mengerti?!”
Stefa berhasil melepaskan tangan Marshal dari tangannya dan segera berlari. Untung saja sebuah mobil taksi melewati Stefa dan langsung berhenti setelah Stefa mencoba menghentikkannya. Tak mau berurusan dengan pria itu lagi, Stefa langsung masuk ke dalam taksi itu dan mengarahkan sang sopir untuk ke Hotel tempatnya menginap.
Marshal menatap kepergian Stefa begitu saja tak berniat untuk mengejarnya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah kembali menuju mobilnya, memarkirkan mobil itu di tempat seharusnya, dan menjemput Deborah untuk kembali ke Hotel tempat mereka menginap.
__ADS_1
Urusan Stefa bisa ia lakukan nanti setelah mengantar Deborah ke Hotel. Ia berencana akan menemui Stefa lagi. Pria itu yakin jika Stefa menginap di Hotel yang letaknya tak jauh dari pusat perbelanjaan itu. Instingnya seolah mengatakan hal itu. Ia hanya perlu menyuruh seseorang untuk mencari data tamu di setiap Hotel terdekat dan menemukan nama Stefa terdaftar di sana.