
Sekumpulan para wartawan sudah berkumpul di depan lobby rumah sakit yang cukup terkenal di Osaka-Jepang itu sejak kedatangan Stefa ke rumah sakit. Tidak ada yang mengetahui alasan mengapa para wartawan itu bisa mengetahui keberadaan Stefa di rumah sakit. Bahkan berita tentang kondisi kesehatan Stefa dan juga keberadaannya saat ini sudah masuk ke dalam berita. Baik berupa berita online, cetak atau di televisi sekalipun.
Untung saja para wartawan itu tidak memberitakan tentang Stefa yang sedang mengandung di luar nikah. Atau mungkin saja saat ini para wartawan masih menyimpan kenyataan yang mereka sudah ketahui sejak awal kedatangan Stefa ke rumah sakit itu untuk dijadikan bahan berita yang akan mengguncang dunia hiburan.
Ken tidak bisa menyalahkan para wartawan yang sedang mencari nafkah dengan cara mencari berita-berita. Ia membiarkan pihak rumah sakit mengkonfirmasi tentang adanya Stefa di dalam rumah sakit itu, dengan alasan bahwa masuknya Stefa ke rumah sakit hanya karena kelelahan akibat pekerjaan dan memerlukan istirahat untuk beberapa hari ke depan.
Di London, David sedang memimpin rapat yang sudah berjalan sejak setengah jam yang lalu untuk membahas proyek-proyek yang sedang perusahaan itu kerjakan. Michael datang memasuki ruangan itu setelah mengetuk ruangan rapat itu dan segera mendekat ke arah David.
Micahel mencondongkan tubuhnya untuk mengatakan sesuatu yang hanya dapat didengar oleh David saja.
“Ms. Stefa sudah ditemukan. Ia saat ini sedang berada di salah satu rumah sakit terkenal di Osaka. Para wartawan berkumpul di depan lobby rumah sakit sejak kedatangan Ms. Stefa.”
“Apa yang dia lakukan di rumah sakit?”
“Menurut informasi yang di dapat dari informan kita, Ms. Stefa jatuh sakit karena kelelahan dan mengakibatkan ia jatuh pingsan. Dokter menyarankan agar Ms. Stefa melakukan rawat inap selama beberapa hari ke depan.”
“Baiklah, aku mengerti. Periksa semua jadwal pekerjaanku untuk beberapa hari ke depan, jika ada jadwal yang begitu penting. Tolong jelaskan bahwa aku memiliki urusan lain yang sangat darurat, tetapi jika tidak ada hal penting maka kosongkan semua jadwalku!” titah David pada Michael yang dibalas dengan anggukkan kepala.
“Dan satu lagi, siapkan jadwal keberangkatanku malam ini!” sambungnya lagi dan kemudian Michael meninggalkan ruangan itu.
David kembali memimpin rapat itu sampai dengan selesai.
Saat Lianne membuka salah satu media sosialnya, ia membaca sebuah artikel di mana di sana menyatakan bahwa Stefa sedang menjalani perawatan akibat jatuh pingsan karena kelelahan bekerja. Ia sungguh tak menyangka jika Stefa akan memilih tinggal di Jepang dekat dengan Paman dan juga Tantenya.
Ia langsung menemui Johannes untuk meminta izin agar bisa menemui Stefa di Jepang tentunya. Tetapi, pria itu enggan mengizinkan Lianne yang berencana pergi menemui sahabatnya di Jepang. Kecuali, wanita itu membiarkan ia ikut bersamanya ke Jepang. Tentu saja Lianne akan mengizinkan pria itu ikut bersamanya jika itu membuatnya bisa pergi ke Jepang.
Berbeda dengan Revaldo dan Marshal. Mereka berdua sama seperti David yang mendapatkan kabar melalui asisten pribadinya itu. Mereka juga segera melakukan pengaturan jadwal selama beberapa hari ke depan dan menyiapkan keberangkatan mereka ke Jepang. Entah apa yang akan terjadi jika ketiga pria itu bertemu di rumah sakit yang sama dengan alasan yang sama. Yaitu untuk menemui seorang Stefani Agatha yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat kelelahan.
Nyatanya semua berita yang diketahui publik itu hanyalah tipuan belaka. Tentu saja Ken tidak mungkin membiarkan orang luar mengetahui bahwa keponakannya jatuh pingsan akibat pengaruh hormon kehamilan. Bukan karena ia akan malu akan reputasinya yang rusak, tetapi ia lebih mengkhawatirkan Stefa yang mungkin saja nantinya akan semakin berpengaruh pada kesehatan dan juga beban pikiran yang nantinya akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil itu.
Brianna sedang menunggui Stefa yang masih belum sadarkan diri akibat obat bius yang diberikan dokter melalui selang infusan yang tersambung ke punggung tangannya. Wajah wanita hamil itu masih terlihat pucat pasi, rona kemerahan di wajahnya begitu tak terlihat sama sekali. Brianna meringis membayangkan betapa sulitnya menjadi seorang Stefa, meskipun di kelilingi oleh tiga orang pria yang tampan.
Tetap saja dari ketiga pria itu tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tulus mencintai Stefa, atau mungkin belum. Brianna memang bekerja sebagai manajer Stefa saat wanita itu masih menyandang gelar model. Tetapi, Brianna sudah menganggap Stefa sebagai saudaranya sendiri.
***
Revaldo tiba lebih dulu dari pada David dan juga Marshal. Jarak tempuh dari Jakarta menuju Osaka hanya memerlukan sekitar 10 jam lebih, berbeda dari London. David dan Marshal harus memakan waktu sekitar 12 jam lebih. Revaldo tiba di rumah sakit di mana Stefa dirawat, ia langsung bergegas mencari ruangan yang diisi oleh Stefa.
Tiba di ruangan itu, Revaldo langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena ia pikir Stefa dalam keadaan sendirian di dalam ruangan itu. Nyatanya saat ia membuka pintu itu, di dalam ada Ken yang sedang menunggui Stefa. Pria paruh baya itu menengok ke arah pintu yang tiba-tiba saja terbuka tanpa permisi.
“Son, kau datang?” tanya Ken terlebih dulu dan bangkit dari posisi duduknya untuk merengkuh Revaldo dan menggiringnya ke arah sofa.
“Maaf, kupikir tak ada seorang pun yang menjaganya makanya aku langsung masuk begitu saja.” Sesal Revaldo yang terkesan tidak sopan itu.
Ken menggeleng tak masalah. “Tak apa. Kau tahu Stefa di rawat di sini?”
“Tentu aku tahu, aku tidak bisa membiarkan Stefa melewati masa sulitnya sendirian. Jadi ia sakit hanya karena kelelahan saja?” selidik Revaldo dengan matanya penuh harap akan penjelasan dari Ken.
Untuk sesaat Ken hanya mampu menghela napasnya yang terdengar begitu berat.
“Kau tahu, Nak?! Sejujurnya wanita yang rapuh sok tangguh itu sedang mengalami masa sulit yang tak seharusnya ia dapatkan.”
Revaldo jelas tidak mengerti dengan ucapan Ken.
__ADS_1
“Maksud Anda?”
“Dia hamil.” Hanya butuh dua kata itu yang Ken ucapkan tanpa ingin menjelaskan secara rinci terhadap Revaldo. Sejujurnya Ken menginginkan keponakannya menjalin hubungan dengan Revaldo, sedikit banyaknya Ken sudah mengenal siapa Revaldo. Jadi ia tak perlu lagi khawatir jika Stefa memang menjalin hubungan dengan anak muda yang ada di sampingnya ini.
“Ha-hamil? Apa maksudnya itu? Anda jangan bercanda, Tuan Ken, ini sama sekali tidak lucu.”
“Apa aku terlihat bercanda, Son? Ya, wanita yang terbaring di atas ranjang rawat dengan selang infus itu sedang mengandung. Kau mengenal pria bernama David Fritz?”
Kening Revaldo semakin mengkerut dalam.
“David Fritz? David Fritz yang itu? Jika aku tidak salah orang, maka aku tentu mengenalnya. Pria itu adalah rekan bisnisku dalam pembangunan sebuah proyek hotel di Jakarta.”
“Jadi kau mengenal pria itu?!” Ken tentu saja terkejut, ia tak pernah menyangka jika dunia begitu sempit. Ia pikir Revaldo tak akan mengenal baik sosok pria yang telah menghamili keponakannya itu.
“Tentu aku mengenalnya.” Jawabnya tegas.
Ken kembali menghela napasnya. “Pria itulah yang telah menghamili Stefa, dia memaksakan kehendaknya terhadap keponakanku yang malang. Aku merasa gagal menjadi Pamannya, aku tidak bisa menjaga dan mengurus keponakanku dengan baik.” Ken menyalahkan dirinya sendiri.
Revaldo segera merangkul bahu Ken untuk menenangkannya dan memberikan dukungan.
“Anda tidak salah sama sekali. Itu memang bukan salah Anda, pria itulah yang bersalah karena memaksakan kehendaknya. Aku akan bertanggung jawab.”
Ken langsung mendongakkan wajahnya menatap Revaldo, telinganya tidak salah mendengar jika anak muda itu mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab.
“Aku akan bertanggung jawab atas kehamilan Stefa. Aku akan menikahinya secepatnya, aku hanya perlu mengurus segala dokumen yang dibutuhkan dan segera membawa Stefa ke jenjang pernikahan. Kau tak perlu khawatir tentang Stefa!”
“Nak, dengarkan aku! Aku memang senang kau berniat menikahi keponakanku, tetapi seharusnya pria itulah yang bertanggung jawab. Bagaimana bisa aku membiarkan kau, pria muda tak berdosa menanggung kesalahan dari orang lain?! Itu tidak akan pernah terjadi, Stefa tidak akan menyetujuinya.” Tolak Ken dengan halus tapi tak mampu menutupi rasa terima kasih karena niat baik dan tulus Revaldo. Niatan tulus itu terlihat dari cara Revaldo menatap Ken saat ini, matanya mengatakan bahwa pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Lantas, apa yang akan Anda lakukan jika pria itu sama sekali tak berniat untuk bertanggung jawab akan kehamilan Stefa? Aku tidak bisa membiarkan Stefa terlalu lama menanggung bebannya sendirian, dia akan tersiksa dengan seiringnya waktu berjalan. Kumohon, kumohon biarkan aku menikahi Stefa secepatnya?!”
***
Berbagai macam pertanyaan mereka lontarkan, seperti ada apa mereka sampai datang ke rumah sakit itu? Siapa yang sakit? Apa hubungan mereka dengan Stefa? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mereka sodorkan. Tetapi tak ada satu pun dari ketiga pria itu yang ingin menjawab pertanyaan dari para wartawan yang terlihat kecewa.
Kedatangan ketiga pria itu secara beruntun memang sudah diketahui publik namun masih menyisakan banyak pertanyaan alasan mereka bertiga sampai datang ke rumah sakit itu dan memiliki hubungan seperti apa dengan Stefa. David membuka kasar pintu ruang rawat Stefa, David tidak menyadari kehadiran Revaldo yang sedang duduk di samping ranjang rawat itu dan memilih mengabaikannya.
Revaldo berdiri dan bergeser ketika David merangsek dan memeluk tubuh Stefa yang masih memejamkan matanya.
“Maafkan aku, maafkan aku tidak bisa menjagamu dan bayi kita. Seharusnya aku tidak membiarkan kau pergi jauh, seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya padamu sejak awal sehingga kau tak perlu lari dariku seperti ini.” David berulang kali mengecup kening Stefa dan mengecup pipinya.
“Ehm...” suara dehaman menyadarkan David.
“Bisakah kau menyingkir sebentar?! Aku ingin mengatakan sesuatu pada kekasihku.” Ucapan Marshal membuat Revaldo menjadi kesal sendiri mendengarnya, sementara David hanya mengabaikan ucapan pria tak tahu diri itu.
“Hei, kubilang minggirlah!” Marshal menarik David agar menyingkir.
“Bisakah kalian tidak ribut di sini?!” Tiba-tiba saja, Ken sudah ada di dalam ruangan itu tanpa mereka sadari. Ken menatap satu persatu orang yang ada di dalam, kecuali Revaldo yang memang sejak beberapa jam yang lalu pria itu sudah ada di sana.
“Kalian, ikut denganku!”
Ken memberikan titah pada ketiga pria itu untuk mengikutinya, ada yang harus ia katakan kepada mereka. Sementara itu, Brianna dan Charlote-lah yang menggantikan Revaldo menjaga Stefa.
Tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu sempit juga, Ken meminjam ruangan itu kepada pihak rumah sakit untuk mengerjakan sesuatu. Mereka langsung menduduki sofa tanpa diminta sekalipun oleh Ken.
__ADS_1
“Kalian sudah saling mengenal, bukan?” Ken membuka pembicaraan lebih dulu.
Ketiga orang itu mengangguk bersamaan. Ken sudah tahu wajah Marshal, bagaimanapun Marshal pernah menjalin hubungan dengan keponakannya cukup lama meskipun ia tak pernah bertemu secara langsung. Baru kali ini Ken bertemu langsung dengan Marshal dan bertatap muka seperti sekarang. Sedangkan untuk David, tak perlu Ken jelaskan lagi. Yang jelas ia bisa menebak siapa pria itu kalau bukan David.
“Bagaimana keadaan Stefa?” Marshal-lah yang bertanya terlebih dulu.
“Tidak cukup baik.” Revaldo yang sedari tadi hanya diam, kini ia yang menjawab pertanyaan dari Marshal membuat pria itu mendelik tak suka. Maksud Marshal, ia melontarkan pertanyaan itu pada Ken.
“Dia hamil!” lagi-lagi Ken hanya mengucapkan dua kata itu dan berhasil menyita perhatian David dan Marshal. Tentu saja David terkejut bukan karena ia baru tahu kalau Stefa hamil, ia terkejut karena Ken yang sudah mengetahuinya dengan cepat. Sedangkan Marshal, pria itu seolah Ken salah ucap.
“Apa maksudnya itu? Kekasihku masih perawan sampai saat ini.” sanggahnya dengan cepat.
“Mantan kekasih, ingatkan itu di dalam otakmu!” sarkas Ken menimpali Marshal yang membuat pria itu langsung mengatupkan bibirnya.
“Seorang pria brengsek berhasil merenggut keperawanan keponakanku secara paksa, dan melakukannya berulang kali bahkan disaat keponakanku sedang tidur. Merenggut keperawanannya, lalu menghamilinya tanpa ada niatan untuk bertanggung jawab sedikit pun.” Jelas di sini Ken sedang menyindir seseorang yang hadir di antara mereka.
“Siapa pelakunya?” lagi-lagi Marshal-lah yang bertanya.
Hening untuk beberapa saat, tak ada yang bersuara ataupun berniat untuk memberitahu Marshal tentang siapa pelakunya. Jelas selain Ken, Revaldo dan juga David, Marshal-lah yang tidak tahu apa-apa. Pria itu akhir-akhir ini disibukkan dengan berita skandal hubungannya dengan Deborah.
“Aku.” Akhirnya David bersuara.
“Hh...” Ken mendengus geli.
“K-kau? Maksudmu, kau yang melakukan itu?” Marshal menunjuk wajah David yang kebetulan duduk di sampingnya.
David mengangguk, kemudian Marshal sedikit terhenyak. Tetapi, selanjutnya Marshal meraih kerah kemeja milik David dengan penuh emosi.
“Kau, ******** sialan! Apa yang kau inginkan sebenarnya, huh? Kau melakukan itu atas dasar dan tujuan apa? Kau benar-benar binatang, bahkan binatang lebih suci darimu!”
David menepis cengkeraman tangan Marshal dari kerah kemejanya, ia tersenyum sinis menanggapi perkataan Marshal.
“Bahkan kau juga sama brengseknya denganku, sialan! Kau hampir memperkosanya di hotel saat dia sedang bertugas. Kau pikir aku tidak tahu siapa yang melakukannya? Kau pikir aku akan begitu lama mengetahuinya? Aku sengaja diam selama ini agar kau berpikir bahwa kau aman-aman saja atas perbuatan tercelamu itu.” tekan David pada setiap kalimatnya.
Braakk...
Ken menggebrak meja di hadapannya. Napasnya kian memburu karena kesal, dua pria idiot itu malah saling menyalahkan bukannya introspeksi diri masing-masing.
“Berhenti berdebat manusia idiot!” Ken kehilangan kendalinya.
“Kalian sama-sama manusia hina, dan kau!” Ken menunjuk David.
“Kau tak perlu khawatir, karena keponakanku sudah memiliki pasangannya sendiri.” Mendengar itu membuat David menatap Ken tak percaya, sementara Marshal menatap horor ke arah Ken.
“Aku akan menikahi Stefa!” seruan dari pria yang sejak tadi hanya jadi pengamat membuat David dan Marshal serta Ken turut menatap pria itu.
“Kau jangan bercanda!” sela David tak terima.
“Lalu, jika aku tidak bertanggung jawab akan kehamilan Stefa. Lantas siapa yang akan melakukannya? Kau? Kau bahkan sudah memiliki tunangan, kau tidak berniat untuk melakukan itu ‘kan pada Stefa?!”
“Kau tak perlu repot-repot bertanggung jawab akan perbuatanku! Aku memang berniat menjadikan Stefa sebagai milikku selamanya, sepenuhnya. Dan mengenai pertunanganku, aku akan menyelesaikannya dengan cepat jika saja Stefa tidak lari begitu saja dariku.” David membela dirinya sendiri.
“Jadi kau menyalahkan keponakanku, begitu?” Ken kembali terpancing emosi.
__ADS_1
Kali ini Marshal-lah yang jadi penonton dan pengamat yang baik. Sejak awal ia memang tidak tahu apa pun, jadi ia tak bermaksud masuk ke dalam pembicaraan mereka. Ia hanya perlu mendengarkan, siapa tahu saja ia bisa mengambil keuntungan dari masalah itu. Keuntungan yang ia maksud adalah mengambil kembali Stefanya. Ya, Stefanya.
“Listen to me! I will never let you touch or even marry my niece, never ever!” putus Ken pada akhirnya.