
Open Pre-Order Novel My Love Story
Format pemesanan
Nama
Alamat
Kota
Kelurahan
Kecamatan
Kode pos
Nomer hp
Judul buku
Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca
Online Order
https://api.whatsapp.com/send?phone=62818331696
***
Bersyukur Stefa mampu melewati beberapa hari ke belakang dengan lancar, pekerjaan yang lancar, kru, fotografer, bahkan sang produser pun telah bekerja dengan baik. Tak ada kendala selama Stefa melakukan pekerjaannya di lokasi pemotretan itu. Memang kemarin lusa Marshal tiba-tiba datang ke lokasi pemotretan dan membuat semua orang heboh.
Ia memaksa untuk bertemu dengan Stefa dan sedikit membuat keributan dengan para staf karena tak memperbolehkan Marshal untuk masuk ke ruang pemotretan itu. Bahkan pria itu harus sampai menelepon pemilik perusahaan hanya untuk meminta izin agar ia diperbolehkan masuk ke dalam dan bertemu dengan Stefa. Tentu saja untuk menemukan keberadaan Stefa sangatlah mudah bagi Marshal.
Seburuk-buruknya manusia, jika mereka dihadapkan dengan seseorang yang menemaninya cukup lama pasti memiliki ruang tersendiri di dalam hatinya. Begitu pula dengan Marshal yang memiliki ruang khusus untuk Stefa.
Setelah mendapatkan izin dari pemilik perusahaan yang turut menginstruksikan bawahannya agar membiarkan Marshal masuk, pria itu tak mau membuang waktu terlalu lama yang menurutnya begitu berharga. Proses pengambilan gambar akhirnya diberhentikan untuk jeda sekitar setengah jam lebih dan memberikan privasi untuk Marshal dan juga Stefa.
Seluruh kru termasuk produser dan Brianna pun meninggalkan ruangan itu dan menyisakan Marshal dan Stefa saja di dalam. Pria itu meminta Stefa untuk memaafkannya dan meminta Stefa untuk kembali lagi ke sisinya.
Tentu saja itu membuat Stefa tertawa terbahak-bahak mentertawakan Marshal yang menurutnya terlalu brengsek dan bodoh. Bagaimana bisa pria itu meminta Stefa untuk kembali ke sisinya sementara pria itu masih berhubungan dengan wanita lain bahkan sedang mengandung. Bahkan jika saat ini Marshal berstatus lajang alias tak sedang menjalin hubungan dengan wanita lain, jelas sekali Stefa tak akan mau kembali bersamanya. Pria itu berusaha keras untuk meyakinkan Stefa bahwa ia akan mengakhiri hubungannya dengan Deborah.
Untungnya, Stefa tak akan membiarkan hal itu terjadi. Meskipun Stefa tak yakin bahwa bayi yang dikandung Deborah anak Marshal. Tapi sesungguhnya ia tak perduli akan hal itu, ia hanya tak ingin bayi itu lahir tanpa ada sosok ayah yang bertanggung jawab dan memberikan nama belakangnya di nama anak itu. Stefa memang membenci Deborah dan juga Marshal, namun untuk melibatkan bayi tak berdosa bukanlah perbuatan terpuji. Tuhan akan menghukum Stefa jika sampai ia melakukan hal tersebut.
Marshal berniat untuk melakukan tes DNA bayi yang dikandung oleh Deborah dan meyakinkan Stefa kalau bayi itu bukanlah anaknya. Tentu saja Stefa tidak peduli lagi, ia benar-benar tidak peduli. Sekali lagi, ia TIDAK PEDULI. Mau itu anak Marshal dengan Deborah, atau anak Deborah dengan pria lain itu bukanlah urusannya.
Yang jelas di sini hubungan mereka benar-benar sudah berakhir. Tak bisa dipungkiri walau Stefa terkadang
merindukan kebersamaannya dengan pria itu, melamunkan masa-masa kebersamaannya dengan pria itu, tetapi untuk kembali bersama bukanlah pilihan yang benar dan harus di pikirkan beribu kali.
Obrolan mereka begitu alot sampai waktu setengah jam pun terasa begitu lama. Brianna begitu khawatir yang telah membiarkan Stefa dan Marshal di dalam ruangan tertutup berduaan saja. Sedikit banyaknya Brianna juga mengetahui tentang masa lalu mereka berdua. Namun tak semua informasi ia dapatkan dari Ken atau dari orang lain.
Ia hanya tahu bahwa mereka berdua pernah menjalin asmara cukup lama dan berakhir tak bahagia. Reputasi Marshal di mata Brianna tentu saja tidak baik. Pria itu sudah beberapa kali membuat keributan pada Stefa di tempat yang berbeda. Jadi tentu saja Brianna cemas membiarkan mereka berdua hanya berduaan saja.
Oke lupakan tentang keributan itu lagi, sekarang kita beralih kembali untuk menceritakan masalah Stefa baru-baru ini. Hanya sisa dua hari lagi Stefa tinggal di Indonesia dan untuk menyelesaikan pekerjaannya itu. Bahkan selama itu pula, Stefa tak pernah bertemu dengan Revaldo sama sekali. Ngomong-ngomong, kemana perginya pria itu?
__ADS_1
Biasanya pria itu akan muncul di mana saja seperti nyamuk yang selalu hadir disetiap waktu dan di berbagai
tempat. Anggap saja Tuhan sedang tak memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertemu kali ini. Takdir mereka tak seberuntung sebelumnya di mana saat itu mereka dipertemukan di Jepang. Apakah pertemuan itu termasuk keberuntungan atau apa?
Kali ini Stefa dilanda oleh kecemasan yang begitu besar dan membuatnya stres beberapa hari ini. Tentu
kalian ingat saat Stefa pulang dari pusat perbelanjaan yang bertemu dengan Deborah, ditabrak anak kecil yang membawa es krim dan mengotori pakiannya, dan hampir ditabrak mobil milik Marshal. Intinya pada hari itu Stefa begitu mengalami kesialan tak berhenti.
Sekembalinya ia dari pusat perbelanjaan itu, ia merasakan mual-mual dan perutnya terasa bergejolak.
Seharusnya minggu ini ia mendapatkan periode rutinnya, namun kali ini periode bulanan itu tak kunjung ia dapatkan juga. Ditambah setiap pagi ia harus terbangun lebih awal karena isi perutnya harus ia keluarkan begitu saja di depan kloset.
Kepalanya berdenyut hebat, tubuhnya terasa lemas, bahkan nafsu makan pun berkurang. Tak jarang Stefa memuntahkan kembali makanan yang masuk ke dalam perutnya dan malah berakhir memuntahkan seluruh isi yang ada di dalam perutnya.
Tentu saja ia harus merasakan kecemasan dan dilanda cemas kali ini. Ketakutan yang membayanginya tak mungkin terjadi, ia teringat dengan perkataan David yang mengatakan bahwa ia harus segera mengandung anaknya. Oh tidak. Untuk membayangkannya saja Stefa sudah tak sanggup dan malah bergidik ngeri.
Tak mungkin ia hamil secepat itu hanya dalam kurun waktu beberapa hari saja. Ya bisa dibilang sudah hampir dua minggu memang. Tapi tetap saja itu tak masuk akal sama sekali. Sialnya ia harus diingatkan bahwa gejala yang ia alami saat ini seolah menunjukan tanda-tanda
wanita yang sedang hamil. Tak mungkin ia akan menggemparkan dunia dengan berita kehamilannya tanpa seorang suami. Bisa-bisa ia di hukum mati langsung oleh Tante dan juga Pamannya.
Brianna dibuat kewalahan karena kondisi Stefa yang kurang baik saat itu, bahkan Brianna berniat untuk mengundur jadwal pekerjaan Stefa dan jika perusahaan itu meminta ganti rugi. Tentu saja Brianna lebih memilih untuk mengeluarkan uang dari pada harus terjadi sesuatu pada Stefa. Dengan profesionalnya, Stefa tetap mampu menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa setiap harinya. Hanya saja tubuhnya kurang baik itu, itu saja.
“Aku tak mungkin hamil ‘kan? Masih ada waktu dua hari lagi aku di sini, aku tak mungkin mengetesnya dengan test pack sialan itu yang mungkin saja bisa membodohiku. Jika aku melakukan itu, aku takut Brianna akan tahu dan malah membuat keributan lainnya. Sebaiknya aku pergi ke dokter kandungan secara diam-diam.” Stefa bermonolog sendiri di dalam kamar tidurnya seraya mengusap perutnya yang terasa mual-mual lagi.
Rasa mual merayap kembali ke kerongkongannya dan ia langsung lari terbirit-birit ke kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya. Kali ini hanya cairan bening yang ia muntahkan dan itu rasanya begitu pahit. Stefa memijat-mijat kepalanya sendiri dan kembali berjalan menghampiri ranjang.
Ia merebahkan tubuhnya di sana dengan mata yang terpejam kuat. Mual-mualnya tak terlalu parah kali ini karena berhasil ia muntahkan, hanya saja rasa mual-mual itu masih ia rasakan sesekali. Rasa kantuk mulai menyerang mata Stefa dan siap untuk terlelap.
***
Sebelum datang ke lokasi pemotretan Stefa meminta izin untuk datang ke rumah sakit dengan alasan badannya yang terasa kurang enak. Memang alasan itu tak sepenuhnya bohong, karena memang ia merasakan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Brianna sudah siap mengantarkan Stefa dan menemaninya sampai selesai namun ia langsung ditolak mentah-mentah oleh Stefa. Tentu saja ia akan menolak kebaikan hati Brianna untuk
Stefa sudah duduk di kursi tunggu di depan salah satu ruangan yang bertuliskan spesialis dokter kandungan dengan beberapa pasien lainnya. Saat namanya dipanggil oleh suster, Stefa merasa gugup dan tak sanggup mendengar kenyataan bahwa dokter mengatakan bahwa ia benar-benar sedang hamil.
“Dunia akan kiamat jika aku benar-benar hamil saat ini.” ia bergumam sebelum masuk ke dalam ruangan itu.
Dokter menyambutnya dengan senyuman ramah, ya seperti biasa dan seperti pada umumnya jika kita datang ke dokter dan berkonsultasi. Mereka akan melakukan hal dasar pekerjaan mereka, mengkonfirmasi data pribadi kita yang terdaftar, menanyakan keluhan dan lain hal sebagainya. Mereka akan bersikap seperti itu karena pasien yang datang berarti mereka telah mengirimkan pundi-pundi uang bagi mereka.
“Aku melewatkan jadwal masa periodeku bulan ini, harusnya aku mendapatkannya. Bisakah Anda segera memeriksa saya dan melakukan pengecekan?” tanya Stefa saat dokter itu menanyakan keluhan lainnya.
Dokter itu tersenyum dan mengangguk. “Tentu, mari kita ke sebelah sana untuk melakukan pengecekan!”
Suster sudah menyiapkan alat USG untuk memeriksa Stefa. Dokter itu mulai mengoleskan gel khusus ke atas perut Stefa dan menempelkan alat khusus yang tersambung langsung dengan layar monitor di sana.
“Anda bisa melihat di layar monitor itu!” dokter itu menunjuk layar monitor dan langsung diikuti arahnya oleh
Stefa.
“Di dalam rahim Anda tidak terjadi masalah sama sekali.” Jelas dokter itu lagi.
“Apa aku sedang tidak hamil? Emh, maksudku aku saat ini benar-benar sedang tidak hamil ‘kan?” tanya Stefa sejelas mungkin agar dokter itu mengeceknya sungguh-sungguh dan tidak melewatkan kesalahan sedikit pun.
Dokter itu kembali mengarahkan alat itu ke sisi lain perut Stefa dan hasilnya memang tak ada masalah apapun di dalam rahim Stefa. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Stefa sedang hamil.
“Silahkan rapikan kembali pakaian Anda! Saya akan menjelaskan sedikit perihal keluhan yang Anda alami beberapa hari ke belakang.” Dokter itu berjalan menuju merja kerjanya kembali di susul oleh Stefa yang langsung duduk di depannya.
__ADS_1
“Jadi bagaimana hasilnya?” tukas Stefa tak sabaran.
Dokter itu kembali tersenyum dan sedikit membenarkan posisi kacamatanya yang hampir merosot menuruni hidungnya yang tak terlalu mancung itu.
“Setelah melakukan USG dan pemeriksaan, tentu Anda sudah melihatnya dengan jelas bahwa Anda saat ini
benar-benar sedang tidak mengandung.” Dokter itu sedikit menjeda membuat Stefa berharap mendengar kelanjutan penjelasan dokter itu lagi.
“Masa periode menstruasi yang sering terlambat tak selalu mengenai tentang kehamilan, atau terjadinya pembuahan di dalam sel telur. Bisa jadi merupakan kurangnya olahraga atau bergerak, pikiran yang tak baik atau stres. Dan sering mengonsumsi makanan atau minuman tak sehat sehingga mengganggu hormon yang ada dalam tubuh kita. Apa akhir-akhir ini Anda memiliki pikiran berat atau pekerjaan yang terlalu melelahkan?” setelah sedikit menjelaskan, Dokter itu mengajukan pertanyaan pada Stefa.
Stefa sedikit termenung. “Ya, akhir-akhir ini aku memang terlalu banyak pikiran. Dan aku memiliki dua
pekerjaan yang sedikit membuatku kewalahan.” Jawab Stefa pada akhirnya.
“Kalau boleh tahu, jenis pekerjaan apa yang Anda maksudkan tersebut?” dokter itu kembali bertanya.
“Aku seorang pekerja kantoran, sejujurnya aku tinggal dan bekerja di London. Namun aku bekerja sebagai model juga, aku datang ke Indonesia untuk melakukan pekerjaanku di bidang lainnya. Apa itu termasuk mempengaruhi hormonku?”
Dokter itu mengangguk. “Sudah saya jelaskan sebelumnya, hormon yang tidak stabil akan disebabkan oleh beberapa faktor. Termasuk banyak pikiran dan pekerjaan yang terlalu berlebihan sehingga membuat tubuh kita menjadi lelah. Sekali lagi saya terangkan, bahwa Anda benar-benar sedang tidak hamil. Anda hanya kelelahan karena dua pekerjaan Anda yang bertolak belakang dan pikiran Anda yang tak stabil. Tolong usahakan untuk beristirahat lebih banyak dalam kurun waktu satu minggu ke depan untuk memulihkan tubuh Anda. Kurangi beban pikiran Anda yang tak perlu! Saya akan meresepkan vitamin untuk Anda.”
Stefa akhirnya bisa benapas dengan lega karena dokter mengatakan bahwa ia hanya terlalu lelah dan banyak pikiran Lantas kenapa ia mengalami mual-mual seperti ibu-ibu hamil?
“Eh, Dok?!” Dokter itu menatap Stefa kembali.
“Mengenai mual-mual dan muntah-muntah yang aku alami, apakah itu benar-benar bukan tanda bahwa aku
sedang mengandung ‘kan?”
Seketika dokter itu tertawa mendengar pertanyaan Stefa. Memang apanya yang lucu dari pertanyaan Stefa? Tak ada yang lucu sama sekali di sini. Apa dokter itu mendadak gila karena pekerjaannya yang terlalu sering berhadapan dengan pasien? Stefa jadi bergidik ngeri membayangkannya jika dokter itu benar-benar menjadi gila.
“Begini...” dokter itu menyeka matanya yang terasa berair karena tertawa.
“Anda benar-benar tak perlu khawatir tentang kehamilan yang Anda maksud itu. Itu hanya reaksi biasa jika pola makan Anda tak teratur atau beberapa faktor lainnya.”
Dokter itu benar-benar menjelaskan kembali secara menyeluruh membuat Stefa kali ini benar-benar mengerti dan bersyukur kalau ia sedang tak mengandung anak David. Akhirnya Stefa bisa pulang ke Hotel dengan suasana hati yang lega. Tunggu! Ia benar-benar tak harus kembali ke Hotel sekarang, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya.
Stefa langsung meluncur ke lokasi pemotretan yang sudah ditunggu oleh para kru dan juga Brianna yang sejak awal sudah siap di sana. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dengan segera karena waktu dua hari tidaklah lama. Sebentar lagi ia harus kembali ke London dan mengambil cuti kembali untuk mengistirahatkan tubuhnya dan mengikuti saran dari dokter.
Entah perusahaan itu akan memberikan izin cutinya atau tidak, atau bahkan lebih buruknya ia akan ditendang dari perusahaan itu. Untuk saat ini ia hanya harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke London.
“Bagaimana kata dokter?” tanya Brianna saat Stefa tiba di lokasi.
“Aku baik-baik saja. Dokter hanya menyarankan kalau aku harus istirahat selama seminggu ke depan karena dua pekerjaaan yang berbeda membuatku kelelahan. Itu berpengaruh pada kesehatanku akhir-akhir ini.”
“Oh Tuhan! Kau benar-benar malang sekali.” Ucap Brianna dengan memeluk Stefa begitu erat.
“Hei, aku bukannya akan mati! Aku hanya perlu istirahat selama seminggu, oke?!” gerutu Stefa dengan melepaskan pelukan Brianna.
“Memang siapa yang mengatakan kau akan mati, huh?” tanya balik Brianna.
“Kau bertingkah seolah aku akan mati besok. Aku hanya perlu istirahat seminggu dan tak memikirkan apapun. Kau hanya perlu mengurus dan memperpanjang masa cutiku saja!” Stefa bergegas ke ruang ganti untuk mempersiapkan pemotretannya yang hanya memiliki waktu sekitar 20 menit sebelum dimulai.
Brianna mengekor dari belakang, ia harus kesusahan mengikuti langkah Stefa yang terlalu cepat karena waktunya sudah tak banyak lagi.
“Bagaimana kalau kau keluar saja dari pekerjaan kantormu itu? Lagipula kau tak akan bisa terus-menerus mengambil cuti. Memangnya itu perusahaan Pamanmu apa?!” seru Brianna yang masih mengekor Stefa dari belakang.
__ADS_1
“Emh, akan aku pikirkan nanti!” Stefa berlari menuju ruang ganti. Brianna sudah kelelahan untuk mengejar Stefa.
“Kenapa dia harus berlari seperti itu, huh? Dasar anak nakal. Untung saja Pamanmu menitipkanmu padaku.” Gerutu Brianna karena tak bisa menyamakan langkah kakinya dengan Stefa. Masih dengan mulut yang menggerutu, ia tetap saja harus menyusul Stefa juga.