
Open Pre-Order Novel My Love Story
(357 halaman)
Rp. 96.000
Format pemesanan
Nama
Alamat
Kota
Kelurahan
Kecamatan
Kode pos
Nomer hp
Judul buku
Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca
Online Order
https://api.whatsapp.com/send?phone\=62818331696
***
Pagi harinya Stefa terbangun dengan tubuh yang terasa menyiksa, matanya mulai terbuka dan mengerjap beberapa kali menyesuaikan dengan bias cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam melalui jendela. Tirai itu sudah terbuka lebar membiarkan Stefa terbangun karena cahaya yang menerobos masuk.
Sebelum David meninggalkan Stefa di kamar tidurnya sendirian, pria itu memakaikan kembali piyama Stefa seperti semula. Stefa meraba-raba sisi kosong di sampingnya dengan bergumam tak jelas. Ia mendudukkan dirinya dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang seraya menguap lebar karena masih mengantuk. Obat yang diberikan oleh dokter itu rupanya begitu memiliki efek yang kuat.
Sehingga Stefa mendapatkan tidur yang cukup nyenyak meskipun ia merasa aneh karena tubuhnya terasa pegal-pegal menyiksa. Padahal semalaman ia hanya tertidur pulas, tapi tubuhnya berkata lain seolah ia habis bekerja sebagai kuli bangunan. Oh yang benar saja, kata-kata itu terlalu ekstrim jika hanya untuk mengutarakan rasa pegal yang Stefa rasakan.
Stefa turun dari ranjang untuk masuk ke dalam kamar mandi, ia mulai mencuci muka dan menggosok giginya. Meninggalkan jejak bau tak sedap dari mulutnya, ciri khas orang bangun tidur. Rambut panjangnya ia biarkan terurai setelah ia menyisir rambut itu.
“Emh, wangi roti panggang.” Hidung Stefa mengendus-endus karena menangkap aroma sedap yang membuat perutnya keroncongan. Pikirnya, Brianna sudah berada di dalam kamar Hotelnya dan menyiapkan sarapan untuknya.
Biasanya manajer Stefa akan menyiapkan sarapan sederhana dengan segelas teh hangat atau susu rendah lemak. Itu bagus untuk tubuh Stefa yang sedang menjalani diet beberapa hari terakhir ini. Karena semalam, Stefa jelas-jelas tak berniat untuk diet kembali.
Stefa keluar dari kamar tidurnya, dan benar saja. Di atas meja bar dekat dapur mininya sudah tersedia sepiring roti panggang dengan selai coklat dan segelas susu yang sudah dipanaskan.
“Di mana Brianna? Apa dia tidak sarapan di sini?” Stefa bergumam seraya menarik kursi meja bar dan mengambil satu lembar roti yang sudah dipanggang, ia mengoleskan selai coklat itu sedikit
demi sedikit dan melahapnya. Mengoleskan lagi sedikit demi sedikit, dan melahapnya kembali, kegiatan itu terus berulang sampai roti yang ada di atas piring benar-benar habis.
“Ugh, manajerku memang yang terbaik. Ia mengerti jika saat aku bangun tidur, aku pasti akan merasakan lapar. Tapi rasanya tubuh bagian bawahku terasa tidak nyaman, terasa linu dan sedikit lengket.”
Stefa memukul-mukul pelan bahu dan juga pundaknya karena masih merasakan pegal-pegal. Ia melirik jam yang masih menunjukan pukul 8 pagi. Masih ada waktu untuk ia bersiap-siap sebelum menyelesaikan pemotretan terakhirnya di Indonesia. Stefa meraih gelas berisi susu hangat itu dan menempelkan bibirnya di bibir gelas.
__ADS_1
Ia menyesap susu hangat itu pelan-pelan. Suara pintu yang dibuka menarik perhatian Stefa yang masih
menyesap susu hangat itu. Matanya bersirobok menangkap sosok David yang baru saja masuk ke dalam kamar Hotelnya. Pria itu mengenakan setelan formalnya dan terlihat begitu... menakjubkan. Pemandangan indah dipagi hari bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk cuci mata.
Sayangnya itu tidak berlaku untuk saat ini. Stefa langsung menyemburkan susu yang belum sempat ia telan dan langsung terbatuk-batuk karena merasa tak percaya melihat David masuk ke dalam kamar Hotelnya.
“Uhukk.. uhukk..” Stefa terbatuk-tabuk dengan kencang, tangannya memukul-mukul dadanya karena batuknya tak kunjung reda.
“Kau, kenapa kau ada di sini?” tanya Stefa seraya menetralkan kembali suaranya setelah batuk itu berhenti.
Stefa menggelengkan kepala. “No, i mean.. Bagaimana bisa kau masuk ke dalam kamar Hotelku? Dari mana kau tahu aku ada di sini?” Stefa memberondongi David dengan pertanyaannya.
Pria itu menarik kursi di samping Stefa seraya menyodorkan pakaian yang sudah David beli, lebih tepatnya
asistennya lah yang membeli pakaian itu. David hanya cukup mengeluarkan uang untuk membayarnya dan menyerahkan pada Stefa.
“Aku yakin apa yang terjadi semalaman kau tak akan mengingatnya, bahkan kau tak akan sadar kalau roti dan susu yang baru saja kau makan itu buatanku.” Ucap David seraya menunjuk piring kosong dengan gelas yang isinya hampir kosong setengahnya dengan dagunya.
Stefa ikut melirik apa yang David tunjuk dengan gerakan dagunya itu. Ia kembali melotot menyadari bahwa apa yang ia makan dan apa yang ia minum barusan adalah buatan David. Tapi tunggu dulu! Dia bilang semalaman? Apa yang terjadi semalaman? Memang kenapa? Sungguh, Stefa tidak mengerti dengan yang David maksudkan itu. Tentu saja semalaman Stefa tertidur pulas dengan bermimpi... erotis?!
Apa? Ia bermimpi erotis? Semalaman? Dengan David? Ini bukan suatu hal kebetulan bukan? Tidak mungkin karena mimpi erotisnya dengan David tiba-tiba pagi harinya menjadi kenyataan bahwa David ada di hadapannya saat ini. Apa ia masih belum sadar dan masih berada di dunia mimpinya? Tuhan, tolong bangunkan Stefa jika ini masih berada dalam mimpinya!
Pria itu menatap Stefa terheran-heran karena ekpresi wajah Stefa yang berubah-ubah dengan cepat.
Kadang mulutnya terbuka, kadang ia membekap mulutnya sendiri dengan mata yang melotot menatapnya. Namun tak sepatah kata pun yang diucapkan oleh Stefa, dan itu mengundang David untuk kembali bertanya.
“Kau benar-benar tidak ingat dengan apa yang terjadi semalam?” pria itu masih menatap Stefa yang kini wanita itu juga sedang menatapnya.
“Wait, wait! Kau bilang semalam? Oh, jangan katakan kau sudah ada di sini dari semalam! Lagi pula kau tidak mungkin bisa masuk ke dalam kamarku.” Stefa mencoba mengelak dan menyanggah apa yang sedang berkelebat di dalam otak kecilnya itu.
“Oh, no, no, no.. Kau benar-benar tak mungkin berada di sini tadi malam! Aku semalaman tertidur dan aku bermim... pi...” Stefa tak bisa untuk melanjutkan kata-katanya kemudian menatap David dan menunjuknya sedemikian rupa.
“Kau.. Kau, apa yang kau lakukan semalam padaku?” tuding Stefa begitu cepat seraya bangkit dari kursi dan menjauhi David dengan melangkah ke belakang memberi jarak di antara mereka.
“Hei, tenanglah! Untuk menjawab pertanyaanmu kenapa aku bisa ada di sini, tentu saja itu mudah untukku. Aku hanya tinggal mencari namamu di daftar tamu yang menginap dan memberikan sedikit alasan kepada resepsionis dan meminta kunci cadangan. Dan untuk pertanyaan keduamu itu, apa yang terjadi semalam kau benar-benar tidak mengingatnya? Waah, sayang sekali. Padahal semalam kau menikmatinya dan mendesah di bawahku.”
Stefa tak bisa lagi berkata-kata, ia hanya terdiam dan menunduk. Ia mencerna semua kalimat yang pria itu ucapkan. Jadi, yang semalam itu bukanlah mimpi erotis biasa? Itu benaran dan kenyataan? Bagaimana bisa, apa yang akan terjadi ke depannya? Pria itu pasti berbohong dan mencoba untuk menakuti Stefa, pria itu hanya menggertak Stefa seperti biasanya. Ucapan pria itu tidak benar-benar kenyataan, itu pasti akal-akalan David untuk membohonginya.
Stefa mendongakkan kepalanya dan mengangkat dagunya penuh percaya diri. “Kau tak bisa menggertakku, Dave. Itu hanya bualanmu saja agar kau merasa puas.”
David mengangkat sebelah alisnya dengan tersenyum miring. “Dave? Oh, itu panggilan sayangmu untukku? Aku begitu tersanjung mendengarnya, jadi bisakah kita membahas apa yang terjadi semalam, sekarang?” David selangkah demi selangkah berjalan mendekati Stefa untuk meraihnya. Tetapi, Stefa malah selangkah demi selangkah melangkahkan kakinya ke belakang menghindari David.
“Lupakan tentang nama yang kusebutkan tadi, kau bisa menganggapnya seperti itu. Tapi jelaskan terlebih dulu tentang apa yang kau lakukan kepadaku!”
David tetap mendesak Stefa sampai wanita itu tak bisa lagi mundur ke belakang, tubuhnya terperangkap oleh sofa. Ia mendudukkan pantatnya di kepala Sofa dengan posisi David yang sudah memerangkap tubuhnya dan mengurungnya dengan kedua tangan pria itu yang memenjarakan Stefa di samping kanan dan kirinya.
“Umh, apa perlu aku membantu mengulangnya kembali agar kau ingat?!” goda David dengan senyuman yang menyebalkan.
“Kau tidak perlu mengulangnya, kau hanya cukup mengatakan apa yang terjadi semalam!” tolak Stefa kemudian.
“Baiklah jika itu yang kau mau.” David memainkan ujung rambut Stefa yang sengaja digerai ke bawah. Memelintirnya dengan jari telunjuk David, menggenggamnya kemudian menghirup aroma rambut Stefa.
“Semalam-aku-memasukimu-sebanyak-tiga-kali. Aku-menyemburkan-benih-unggul-di dalam-rahimmu.” David menekan setiap kata yang ia ucapkan agar Stefa mengerti dengan apa yang David ucapkan. Pria itu seolah sedang mengeja bacaan secara lambat-lambat.
Stefa langsung tercengang dan tak terasa air matanya turun begitu saja. Matanya sudah tak bisa lagi menampung air mata yang terus saja mendesak untuk segera keluar dari pelupuk matanya. Ia terisak, mengalihkan perhatian David dan sedikit menjauhkan tubuhnya ke belakang.
__ADS_1
Pria itu menangkup wajah Stefa dengan sorot mata yang teramat khawatir.
“Hei, kenapa kau menangis?” itu adalah pertanyaan paling bodoh bagi Stefa.
“Kau. Kenapa kau melakukan hal itu padaku?” Stefa menatap David dengan sorot mata yang seolah tersakiti. Ia tak bisa memikirkan lagi, ternyata mimpi yang terasa nyata itu bukanlah sekadar mimpi erotis biasa. Stefa benar-benar melakukannya dengan David. Jika pria itu melakukannya, dan apa yang dikatakan David sebuah kenyataan dan kebenaran tentang bagaimana ia menyemburkan benihnya di dalam rahim Stefa. Kemungkinan besar Stefa kali ini benar-benar akan hamil.
Oh tidak mungkin. Itu tak mungkin terjadi. Pikirannya berkecamuk menyebabkan kepalanya berdenyut. Ia butuh obat pereda nyeri saat ini. Stefa menepis tangan David yang masih menangkup wajahnya dan berlari masuk ke dalam kamar tidur untuk mengambil obat pereda nyeri.
Tangannya yang gemetaran tak luput dari pandangan David yang mengikutinya masuk ke dalam kamar. Stefa terburu-buru mengeluarkan obat pereda nyeri itu menyebabkan beberapa obat berjatuhan ke lantai. Ia langsung menelan obat itu dan menenggak air mineral yang berada di gelas bening di atas nakas.
“Obat apa yang kau minum?” David menggenggam pergelangan tangan Stefa. Meminta penjelasan terhadap Srefa tentang obat itu.
“Jangan katakan kau meminum obat pencegah kehamilan!” David menggeram disela-sela giginya. Gemelatuk giginya tak bisa tak terdengar oleh Stefa. Wanita itu masih terisak dengan dada yang naik turun dengan cepat. Matanya menatap David dengan tajam.
“Jika iya, lantas apa urusannya denganmu, huh?” Stefa berteriak kencang tepat di wajah David yang sedang
menahan amarahnya.
“Jangan pernah berpikir untuk melakukannya! Kalau kau berani melakukannya, aku akan...”
“Kau akan apa, huh? Memecatku dari perusahaanmu? Menghancurkan karirku sebagai model? Atau kau akan membunuhku?” potong Stefa kemudian.
Stefa tak habis pikir dengan David, kenapa pria itu berani memperlakukan Stefa sedemikian rupa seperti ini. Jika Stefa benar-benar hamil, hancurlah sudah masa depannya. Semua karirnya akan lenyap seketika, bahkan karir yang baru saja ia rintis sebagai model pun mungkin akan hancur lebur seketika. Bisa-bisanya pria itu melakukan hal sekejam seperti ini, tak memikirkan nasib Stefa sama sekali.
Apakah pria itu masih bisa disebut seorang manusia? Apa sekarang pria itu sudah merasa puas karena telah memporak porandakan Stefa? Lalu, bagaimana dengan nasib Stefa jika ia nanti benar-benar hamil anak David? Bukankah David memiliki kekasih si anak konglomerat itu? Apakah pria itu akan bertanggung jawab jika ia benar-benar hamil?
Isakan tangis Stefa semakin kencang dan pecah, ia mendudukkan dirinya di atas ranjang yang masih berantakan karena belum sempat ia rapikan.
“Why? Why me? Kenapa kau lakukan ini padaku, huh? Apa salahku padamu sampai kau melakukan ini padaku? Kau menghancurkan masa depanku, kau menghancurkan hidup yang sudah ku susun dan kujaga baik-baik selama ini. Kenapa kau harus muncul di hadapanku? Ah, tidak. Seharusnya aku meralat ucapanku, seharusnya aku tak pernah melamar dan bekerja di perusahaanmu. Seharusnya aku bekerja di perusahaan orang lain. Dan seharusnya ini tak pernah terjadi di dalam hidupku.” Stefa berteriak mengeluarkan segala bentuk rasa frustasinya pada David.
David memeluk Stefa yang terduduk di atas ranjang, pria itu membenamkan wajah Stefa di perutnya yang berotot. Wanita itu meronta dan memukul-mukul David dengan brutal meskipun tak memiliki efek apa pun pada David. Bahkan pria itu tak merasakan sakit saat Stefa memukulnya dengan brutal.
Pria itu tak bisa berkata-kata lagi, ia tak menampik atas ucapan Stefa. Kalau dipikir-pikir benar juga kata Stefa, kenapa ia harus melakukan itu pada Stefa? Padahal masih banyak wanita-wanita di luaran sana untuk memuaskan hasratnya. Dan kenapa pula ia menginginkan anak dari Stefa, padahal ia biasanya juga hanya sekadar memuaskan hasrat dan kebutuhan biologisnya saja.
Apa karena David merasa tertantang oleh Stefa? Jika iya, memang hal apa yang membuat David merasa tertantang untuk mendapatkan Stefa? Selama ini ia tak pernah memiliki affair dengan bawahannya sendiri. Untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya, David hanya perlu membayar wanita bayaran. Ia akan melakukannya dengan menggunakan alat pengaman.
Sudah, lupakan semua itu! Yang jelas saat ini ia benar-benar sedang disalahkan oleh Stefa. Tentu saja ia pantas disalahkan oleh Stefa, wanita mana pun yang diperlakukan sama oleh David pasti akan melakukan hal serupa dengan apa yang Stefa lakukan saat ini pada David.
“Ssstt, ssttt! Jangan menangis! Jika kau benar-benar mengandung anakku, katakan padaku dan aku akan bertanggung jawab. Entah apa yang aku inginkan sebenarnya, yang jelas aku begitu menginginkan dirimu untuk jadi milikku sepenuhnya. Aku hanya melakukan ini padamu, aku hanya menginginkan anak yang berkualitas dari rahimmu.” Bukannya menenangkan Stefa, ucapan pria itu malah membuat Stefa semakin meraung menangis dengan kencang.
Untung saja ruangan itu kedap suara, jika tidak. Mungkin orang yang menginap di lantai yang sama dengan Stefa mampu mendengar raungan Stefa. Ucapkan terima kasih pada si pemilik Hotel ini yang sudah memikirkan hal seperti ini yang tentu saja berguna untuk orang-orang dan kejadian seperti ini.
Perlukah Stefa mencari si pemilik Hotel dan mengatakan terima kasih sudah memasang peredam suara di ruangan itu karena raungannya sampai tak terdengar oleh orang lain? Yang benar saja. Jika Stefa melakukan itu, mungkin saja orang yang mendapatkan ucapan terima kasih itu malah mentertawakannya.
Ingin sekali Stefa mengumpat keras saat ini. Pria ini ternyata lebih brengsek dari pada mantan kekasihnya.
Perlukah Stefa membuatkan mereka berdua sebuah klub untuk anggota para pria brengsek yang pernah menyakitinya?
“Tolong tinggalkan aku sendirian! Aku butuh waktu.” Stefa melepaskan pelukan David dan sedikit menggeser tubuhnya ke samping. David langsung menghela napas beratnya.
“Aku akan meninggalkanmu untuk saat ini, aku akan kembali ke sini setelah kau pulang dari pemotretan.” Tukas David.
Stefa mendongak menatap David. “Dari mana kau tahu aku hari ini ada pemotretan?”
“Sudah kukatakan, tentu saja aku tahu semua tentangmu. Aku tak pernah melakukan ini pada wanita sebelum-sebelumnya, aku melakukan ini hanya padamu.” Setelah itu David benar-benar meninggalkan Stefa di dalam kamar tidur sendirian.
__ADS_1
Stefa termenung akan perkataan David. Benarkah David mengetahui semuanya tentang Stefa? Setelah ini apa yang harus Stefa lakukan? Tidak mungkin ia melakukan pemotretan dengan mata yang merah dan sembab. Semoga saja make up mampu menutupi mata sembabnya ini.