My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 30 Not As Usual


__ADS_3

            Judith berjalan di depan Stefa dan mendahuluinya. Mereka sedang berjalan menuju restaurant Hotel dimana mereka biasa menghabiskan waktu sarapannya disana. Tak disangka, disana juga ada Revaldo yang sedang duduk sendiri sedang menyeruput secangkir kopi.


            “Selamat pagi Mr. Revaldo?” sapa Judith menghampiri Revaldo.


            Revaldo lantas meletakkan cangkir kopi itu dan menatap Judith. “Pagi kembali Ms. Judith. Anda sendirian?” tanya Revaldo balik karena tak melihat Stefa di samping Judith.


            “Tidak. Aku bersama Stefa.” Judith langsung menoleh ke belakang dan melihat Stefa sudah hampir dekat.


            “Pagi, sir?!” sapa Stefa saat sudah berada di antara Judith dan Revaldo.


            “Pagi, Stefa.” Revaldo tersenyum.


            “Kalian baru mau sarapan?” Revaldo melirik jam tangannya dan sedikit mengerutkan keningnya.


            “Yups. Kami kesiangan dan baru akan sarapan.” Jawab Judith.


            “Kalau begitu kalian duduklah bersamaku, lagi pula aku tak ada teman yang bisa ku ajak bicara sedari tadi.”


Revaldo terkekeh dan menyuruh kedua wanita itu duduk satu meja dengannya.


            Tidak berniat menolak, lantas kedua wanita itu duduk di hadapan Revaldo yang kembali menyeruput kopinya. Stefa dan Judith mulai memesan sarapan yang di bantu oleh seorang pelayan wanita.


            Sambil menunggu pesanan datang, mereka bertiga mengobrol mengenai acara semalam yang digelar oleh Revaldo. Revaldo tak berniat untuk mengungkit masalah yang tak mengenakkan itu.


            Tak lama, pelayan pun datang dan meletakkan beberapa piring dan mangkuk berisikan pesanan Stefa dan Judith.


            “Selamat menikmati!” ucap si pelayan itu setelah selesai meletakkan pesanan kedua wanita itu.


            “Terima kasih.” Balas Judith dengan tersenyum yang terlihat begitu cerah.

__ADS_1


            “Kau tak sarapan, sir?” tanya Stefa saat melihat Revaldo yang hanya menyeruput secangkir kopi saja.


            “Oh. Aku sudah sarapan tadi sebelum kalian datang. Nikmatilah sarapan kalian, dan habiskan!” Revaldo terkekeh dan di balas anggukkan kedua wanita itu.


            Stefa dan Judith mulai menyantap makanannya. Lidahnya serasa di manjakan dengan makanan di restaurant itu. Rempah-rempah yang begitu terasa dan kuat, mampu menggoyangkan lidah kedua wanita itu untuk terus melahap semua makanan itu sampai habis tak bersisa.


            “Astaga, perutku kenyang sekali.” Gumam Judith sambil mengelus perutnya yang terasa sangat kenyang karena menghabiskan makanan sampai benar-benar tak bersisa sedikit pun.


            Revaldo terkekeh melihat kedua wanita yang ada di hadapannya terlihat kekenyangan.


            “Aku rasa sekembalinya kalian dari sini, timbangan berat badan kalian akan naik.” Revaldo menggoda kedua wanita itu dengan senyum jahilnya.


            Pasalnya. Wanita sangat tak menyukai jika ada yang mengungkit mengenai berat badan atau masalah timbangan badan. Itu merupakan hal yang paling sensitif di kalangan wanita. Tak jarang dan tak sedikit, wanita akan langsung melakukan diet ketat jika mengetahui berat badannya hanya naik satu kilo saja.


            “Jangan membahas masalah berat badan, sir!” Stefa memberengut kesal mendengar Revaldo mengungkit hal sensitif itu.


            Revaldo dibuat gemas melihat Stefa yang seolah sedang merajuk karena membahas hal sensitif. Dia tahu, wanita sangatlah sensitif dengan hal seperti itu. Namun, bukan Revaldo namanya kalau tidak membuat orang lain kesal dan merajuk.


            Stefa yang baru saja menempelkan bibirnya di gelas, gerakannya langsung tertahan dan menatap David dengan tatapan yang... entahlah.


            “Oh, kau disini juga?” Revaldo malah balik bertanya saat melihat David di sampingnya.


            “Boleh aku bergabung disini?” tanpa menunggu jawaban David langsung menarik kursi di samping Revaldo dan duduk. Tatapannya tak mau lepas dari Stefa. Sadar David sedang menatapnya, Stefa langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan buru-buru menenggak air putih yang ada di gelas.


            “Kau sudah sarapan?” tanya Revaldo.


            “Belum. Aku baru mau sarapan. Kalian sudah sarapan?”


            Mereka mengangguk kompak kecuali Stefa yang bergeming. Matanya enggan bertemu dengan David. Dadanya masih saja merasakan sesak yang begitu kuat, teringat dengan ucapan David saat sebelum Stefa masuk ke dalam kamarnya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


            “Permisi, aku akan kembali ke kamarku lebih dulu. Selamat menikmati.” Stefa bangkit dari duduknya.


            “Kau tak mau menemani kami lebih lama lagi?” tanya Revaldo mencegah Stefa untuk tak terburu-buru pergi.


            Sesaat, Stefa melirik David dan menggeleng ‘kan kepalanya tanda bahwa dia benar-benar serius dengan ucapannya. Kemudian, Stefa meninggalkan Revaldo, David dan juga Judith di restaurant itu.


            Judith sedikit heran dengan sikap Stefa yang tak biasanya. Merasa ada yang aneh dengan Stefa karena wanita itu kembali ke sifatnya yang dingin tak tersentuh. Revaldo pun berpikiran sama dengan Judith.


            Berbeda dengan David, dia sudah yakin jika perubahan sikap Stefa adalah karena dirinya.


            “Ada apa dengannya?” gumam Judith yang masih bisa didengar oleh kedua pria itu.


            “Aku rasa Stefa memiliki urusan yang sedikit penting.” Tukas Revaldo pada akhirnya.


            Setelah sampai di kamarnya, Stefa kembali ke dalam kamar tidurnya dan meraih handphonenya. Beberapa panggilan tak terjawab dari nomor tak di kenal dan beberapa pesan dari tantenya yang berada di Jepang.


            Charlote Yoshida adalah adik kandung dari Ibu Stefa. Charlote sudah menetap di Jepang sejak 6 tahun yang lalu. Charlote pindah ke Jepang karena suaminya, Ken Yoshida harus mengurus perusahaan keluarganya yang berada di Jepang. Mau tidak mau, Charlote harus ikut suaminya dan meninggakan Stefa sendirian di London.


            Stefa membuka pesan yang dikirim oleh tantenya itu yang sudah lama tak ia temui semenjak kepindahannya ke Jepang.


            ‘Dear, maafkan tante yang tak hadir di acara pertunanganmu waktu itu. Tante turut bersedih dan menyesal atas pembatalan pertunangan itu. Tante dan Ken, ingin sekali menemuimu di London. Ku dengar, kau sedang di Indonesia. Lianne memberi tahuku saat aku menanyai tentangmu padanya. Kapan kau akan berkunjung ke Jepang? Jika kau datang, ajaklah teman-temanmu sekalian! Ken mengatakan kau harus berlibur disini sangat lama, ambillah cutimu dan kesini!’


            Stefa tersenyum saat membaca pesan dari tantenya itu. Tantenya memanglah sangat perhatian sejak dulu. Stefa masih ingat, Ken, suami dari tantenya itu selalu memanja ‘kannya. Bahkan setiap tantenya menelepon, Ken selalu merebut handphone milik tantenya dan mengambil alih obrolan.


            Sejenak, terpikir untuk pergi ke Jepang dan mengambil cuti panjang untuk menemui tante dan juga suaminya disana. Berbagai macam masalah yang belakangan ini Stefa hadapi, menjadi pendukung kuat


untuk pergi kesana.


            Kebetulan, waktu tinggal di Indonesia tidak lama lagi. Setelah pemantauan proyek ini selesai, Stefa akan

__ADS_1


langsung mengambil cuti panjangnya dan menyerahkan surat pengambilan cutinya ke bagian HRD.


            Stefa butuh suasana baru lagi, butuh menenangkan dirinya sedikit lama. Kembali Stefa teringat perkataan David tadi pagi. Seketika mood Stefa langsung kembali memburuk. Betapa lancangnya David, mengatakan hal tak berperasaan seperti itu kepadanya setelah apa yang mereka lakukan kemarin malam.


__ADS_2