
Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar beserta Votenya. Yang mau baca kelanjutan cerita Brenda Heather bisa langsung buka di lapak sebelah ya, yang mau tahu lapaknya di mana langsung aja gabung ke group chat di MT ini!!
Beberapa bab menuju ending (itu pun kalau author gak males up nya, hahaha)
***
“Nona, ada tamu yang mencari Anda.” Salah satu pelayan datang menemui Stefa di kamar tidurnya dan mengatakan bahwa ada seseorang yang mencarinya di malam hari menjadi sebuah tanda tanya besar untuk Stefa. Rasanya tidak sopan bertamu di malam hari, dan bahkan ini sudah lewat dari jam makan malam. Seharusnya, siapa pun yang datang mengetahui tata krama itu.
“Baiklah, aku akan turun. Terima kasih. Kau boleh pergi!” balas Stefa dan pelayan itu kembali pergi.
Stefa segera turun menyusul kepergian pelayan tadi. Stefa memang sedikit penasaran dengan sosok orang yang kini tengah bertamu di malam hari ini. Di sana, di ruang tamu. Sudah ada sosok yang begitu tidak asing lagi di mata Stefa, bahkan Stefa terlalu mengenal sosok orang itu.
“Hei?” sapa orang itu saat menyadari Stefa sudah turun dari tangga.
“Kau datang?” bukannya menjawab, Stefa malah bertanya balik.
“Uhm, aku datang. Bagaimana kabarmu dan juga bayinya?” tanya orang itu lagi.
Stefa mengambil posisi duduk tepat di depan orang itu.
“Kami baik-baik saja. Kenapa kau datang? Eh, maksudku kau tumben sekali datang malam-malam begini. Apa ada hal yang mendesak?”
Orang itu tersenyum. “Tidak. Aku hanya ingin melihatmu dan juga ingin tahu bagaimana kabar kalian. Karena bagaimanapun, kau dan bayi itu akan menjadi tanggung jawabku.”
Stefa hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf “O” tanpa berniat untuk menanggapi perkataan orang itu.
“Revaldo, kapan kau akan kembali lagi ke Indonesia?” Stefa mencoba mengganti topik pembahasan.
“Kau mengusirku? Atau kau akan ikut denganku ke Indonesia jika aku kembali lagi ke sana?”
Ternyata orang yang bertamu di malam-malam hari begini adalah Revaldo. Pantas saja orang itu bersikap
seenaknya, menganggap rumah itu seolah rumahnya sendiri. Ya begitulah, pria itu selalu bersikap seenaknya jika sudah menyangkut Stefa.
Stefa menggeleng seraya tersenyum tipis. “Tidak, aku tidak akan ikut denganmu. Jadi kapan kau kembali ke
Indonesia?”
“Belum pasti. Sebelum aku kembali ke Indonesia, aku ingin menentukan tanggal pernikahan kita.” Ucapan Revaldo membuat Stefa tak bisa berkata-kata. Ia benar-benar sangat berterima kasih kepada Revaldo, tetapi pernikahan. Pernikahan itu adalah suatu hal yang begitu penting untuk Stefa, Dan ia menginginkan pernikahan itu terjadi satu kali dalam seumur hidupnya dengan menikahi pria yang dicintainya.
Sementara perasaannya terhadap Revaldo begitu hambar. Tidak. Tidak sepenuhnya hambar. Revaldo memang pria yang sempurna untuk dijadikan seorang pasangan hidup, tetapi tidak untuk Stefa. Jika mereka menikah, Stefa yakin pernikahan itu akan terasa hambar dan hampa karena cinta yang bertepuk sebelah tangan saja.
Stefa tidak ingin mengikat Revaldo di dalam ikatan pernikahan yang mungkin saja akan pria itu sesali nantinya.
“Umh... Revaldo...”
“Ya?”
“Aku sungguh berterima kasih padamu tentang pernikahan itu. Tapi, sungguh. Aku belum memikirkan hal itu.” Revaldo belum menanggapi penolakan tersirat dari perkataan Stefa. Pria itu sedang merancang kata-katanya agar Stefa mau menikah dengannya.
Revaldo tahu benar bahwa Stefa tidak menginginkannya. Tetapi bayi itu butuh sosok pria yang akan dipanggil Ayah, dan menjaga mereka berdua nantinya. Setidaknya Stefa harus memikirkan bagaimana bayi itu terlahir dengan sosok ayah disampingnya.
“Listen!” Revaldo sedikit mengubah posisi duduknya.
“Pikirkanlah bayimu, Stefa! Dia butuh sosok ayah yang nantinya akan menjaganya seumur hidupnya. Dan aku tidak keberatan menjadi ayah untuk bayimu. Kau pasti tahu, kalau aku juga mencintaimu sejak lama, hanya saja kau berpura-pura tidak menyadarinya. Aku tidak keberatan jika kau saat ini masih belum bisa mencintaiku, setidaknya dengan hidup bersama. Rasa cinta itu akan tumbuh dengan seiringnya waktu berjalan.”
Stefa menghela napasnya sesaat. “Lalu, bagaimana jika pernikahan itu sudah berjalan lama, sangat lama. Tetapi aku masih belum bisa mencintaimu dengan semestinya? Aku tidak ingin pernikahan kita berjalan tanpa balasan cinta seperti yang kau harapkan. Bukankah kau bisa menjadi Paman untuk bayiku nantinya? Kita tidak harus menikah, Revaldo.”
__ADS_1
Paman? Hanya itukah yang pantas untuk Revaldo dapatkan dari Stefa? Dia hanya menginginkan Stefa menjadi istrinya dan menjadi ayah dari bayi yang bersarang di perut Stefa. Apa ia salah? Jika ia memang salah, katakan di mana letak kesalahan itu? Apakah pria bernama David itulah yang lebih pantas menjadi suami Stefa dan menjadi ayah untuk bayi itu?
“Tidakkah kau ingin memikirkannya ulang? Pikirkan bayimu juga, Stefa!” tukas Revaldo sedikit mencondongkan badannya ke depan.
Stefa menggeleng. “Sorry, but i’m not sorry. Aku tidak bisa melibatkan kau dalam masalah ini, but thank you. Kau telah bersikap baik kepadaku selama ini, aku senang kau selalu ada untukku. Tetapi aku tidak bisa membalas perasaanmu itu. Sorry!”
Stefa meninggalkan Revaldo di ruang tamu sendirian. Bukannya Stefa ingin bertindak gegabah atau berperilaku tidak sopan kepada Revaldo. Stefa hanya tidak ingin memberikan harapan palsu kepada pria yang memiliki cinta yang tulus kepadanya. Tidak ingin menjadikan pria itu korban akan masalah yang ia tanggung saat ini.
Perkataan Revaldo memang tidak salah. Bayi yang ia kandung memang membutuhkan sosok ayah, sosok ayah yang akan memberikan nama belakangnya sendiri ke bayi itu. Tapi bukan Revaldo orangnya.
Revaldo masih diam termenung memikirkan setiap penolakan yang ia terima dari Stefa. Berulang kali pria itu menghela napasnya dan menarik napas dalam-dalam. Tidak. Ia tidak akan menyerah begitu saja untuk Stefa dan juga bayinya, tetapi ia tidak akan terus-terusan mendesak Stefa agar menyetujui lamaran tidak resminya itu.
Ini harus dibicarakan dengan kepala dingin, mendiskusikan kembali dengan Ken dan juga Charlote. Ia tidak bisa bertindak cepat jika ia menginginkan hasil akhir yang baik untuk semuanya.
***
Stefa sedang duduk di salah satu meja kafe yang kosong dengan mengambil bagian terdekat dengan jendela yang terbuka. Menunggu seseorang yang beberapa waktu lalu meneleponnya yang entah dari mana orang itu bisa mendapatkan nomor pribadinya itu. Karena masa persembunyiannya sudah diketahui banyak orang, jadi Stefa tidak ragu-ragu untuk pergi keluar. Meskipun Ken masih saja menyisakan beberapa bodyguard untuknya.
Orang yang sedari tadi ditunggu baru saja masuk melewati pintu dengan bunyi lonceng. Sosok itu dengan cepat menemukan posisi Stefa berada dan segera berjalan ke arahnya dengan senyuman cerah nan hangatnya. Seakan mereka sudah mengenal sejak lama dan saling merindukan satu sama lain.
“Maaf aku terlambat.” Sosok itu duduk di depan Stefa seraya menyimpan tas kecilnya.
“Tidak masalah, aku malah berharap kau tidak pernah datang ke sini.” Sarkas Stefa dan orang itu hanya tersenyum seperti biasanya. Baginya, menghadapi orang semacam Stefa sudah biasa. Tetapi menghadapi ibu-ibu yang sedang hamil memang perlu bersabar dan menambah kadar kesabaran itu dari biasanya.
“Kau sudah memesan sesuatu?” tanya orang itu basa-basi.
“Ya.” Jawab singkat Stefa. Orang itu memanggil pelayan dan mulai menyebutkan pesanannya.
“Kau tidak masalah duduk di dalam kafe kecil seperti ini? Kurasa, sebentar lagi dunia akan dihebohkan dengan judul berita “Putri Konglomerat Yang Rendah Hati” atau judul lainnya “Putri Berdarah Bangsawan Kerajaan Memasuki Kafe Kecil”. Itu yang kau harapkan?”
Wanita itu terkekeh seolah yang dikatakan Stefa adalah sebuah hiburan yang patut diapresiasi olehnya.
“Kau, bukan kita.” Sarkas Stefa.
Wanita itu mengangguk. “Kau sudah menerima lamaran dari David?”
Stefa menatap tajam wanita itu. “Mengatakan kebenaran dan kejujuran, mengatakan penyesalan dan meminta maaf, meminta seorang wanita yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit untuk menikah. Apakah itu disebut sebuah lamaran? Aku tidak tahu bahwa di dunia ini ada cara melamar seperti itu.”
“Ah, rupanya David benar-benar perlu belajar banyak bagaimana cara melamar seorang wanita dengan benar. Aku akan mengajarinya nanti.” Wanita itu lagi-lagi tersenyum.
“Jadi apa jawabanmu tentang lamaran yang tidak bisa disebut lamaran itu?” tanyanya lagi.
“Kau sungguh-sungguh ingin tahu apa yang ingin kukatakan? Kau tidak keberatan jika TUNANGANMU itu melamar wanita lain?”
Wanita itu hanya mengangkat bahunya tak acuh.
“Jawabannya adalah tidak. Aku tidak akan menerima lamaran dari siapa pun. Tidak dari David, dan tidak dari pria manapun lagi melamarku. Baik secara normal atu tidak normal jenis lamaran itu. Dengar! Aku hanya ingin kalian enyah dari hidupku, membiarkan aku dan bayiku hidup berdua dan berakhir bahagia tanpa ada kalian. Sekarang aku bisa pergi.” Stefa sudah bersiap-siap untuk bangkit dari kursinya, tetapi wanita itu menahan Stefa.
“Aku mengerti perasaanmu walau aku tidak ada dalam posisimu sekarang. Setidaknya kau harus memikirkan ulang nasib bayimu sendiri. Berikan kesempatan untuk David memperbaiki kesalahannya kepadamu dan juga bayi kalian!”
Stefa terdiam beberapa saat. Apakah ia benar-benar harus menerima David sepenuhnya di dalam kehidupannya demi kehidupan yang sempurna demi bayi berkualitasnya itu? Stefa kembali duduk menghadap wanita itu.
“Caitlin?”
“Hmm.”
“Jika kau berada di posisiku sekarang, apa yang akan kau lakukan?” Stefa menatap langsung mata Caitlin yang terlihat tenang dan begitu teduh. Matanya begitu cantik, sama persis dengan wajahnya yang begitu cantik. Sempurna. Seharusnya David menikahi Caitlin si wanita sempurna itu.
__ADS_1
“Jika aku jadi kau, aku akan memikirkan masa depanku dan juga bayiku sendiri. Setiap orang yang hidup pasti pernah melakukan kesalahan, begitu juga denganku. Tetapi sebuah kesalahan pantas mendapatkan kata maaf, jika pun aku tidak bisa memaafkan orang itu. Setidaknya aku harus memberikan orang itu kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya. Mungkin seumur hidupku akan terus mengingat bagaimana rasanya aku dikhianati dan tersakiti. Tetapi dengan hidup selama sisa umurku dengan pria yang kucintai, pria yang mencintaiku dan juga bayiku akan menghapuskan rasa sakit dan rasa terkhianati itu.”
Stefa tertegun mendengar semua pemikiran Caitlin yang memposisikan dirinya sebagai Stefa. Benar. Apa yang dikatakan Caitlin adalah sebuah kebenaran. David pantas mendapatkan kesempatan kedua, walau Stefa tidak yakin ia akan memaafkan semua kesalahan David dengan mudah. Setidaknya ia harus melakukan hal yang benar untuk bayi berkualitasnya itu.
“Lalu, bagaimana denganmu jika aku menerima David?”
Caitlin tertawa terbahak-bahak. Tidak ada lagi senyum penuh aturan layaknya putri konglomerat lagi. Kali ini
Caitlin melupakan segala aturan yang selalu ia lakukan, bahkan saat tertawa pun Caitlin harus mematuhi aturan yang selama ini ia pelajari dan jalani.
“Kau tentu saja tahu jawabannya.” Caitlin lagi-lagi terbahak.
“Ehmm..” Caitlin berdeham untuk meredakan sisa gelak tawanya itu.
“Tentu saja aku tidak masalah jika itu yang kau pikirkan. Untuk apa aku memaksamu agar memberikan David kesempatan jika aku akan keberatan.”
“Keluargamu? Keluarga kerajaan?” tanya Stefa lagi meyakinkan dirinya bahwa Caitlin benar-benar tidak masalah dengan pengambilan keputusannya.
“Tenang saja, itu urusanku. Kau dan David tidak perlu memikirkan hal itu. David sudah tahu apa yang harus aku dan dia lakukan saat pembatalan pertunangan ini terjadi. Asal kau tahu, David bukanlah tipeku.” Saat mengatakan itu, Caitlin mencondongkan tubuhnya ke depan dan suaranya ia kecilkan serupa dengan bisikkan.
“Bagaimana? Kau setuju?”
“Kau benar, Caitlin. David memang bukan tipemu sama sekali. Seharusnya wanita sepertimu mendapatkan pria yang lebih baik. Arrgh. Andai saja aku tidak mengandung anak dari pria sialan itu, aku juga tidak ingin menikah dengannya.” Stefa langsung menutup mulutnya, ia menyadari telah berkata kasar dan mengumpat di depan Caitlin.
Caitlin tergelak kembali. “Tenang saja, kadang aku juga mengumpat dan berkata kasar secara diam-diam. Sebenarnya aku iri padamu, aku juga ingin hidup seperti wanita lainnya yang hidup bebas. Keluargaku membatasi segalanya, bahkan untuk tertawa pun aku memiliki aturannya sendiri. Itu menyebalkan.”
Baru kali ini Stefa melihat ada seorang anak konglomerat apalagi keturunan bangsawan kerajaan bersikap sesantai ini. Rupanya semua pemikiran tentang Caitlin selama ini hilang sudah. Pemikiran buruk dan rasa sukanya kini lenyap karena melihat sisi lain dari Caitlin.
“Caitlin?” panggil Stefa sekali lagi.
“Ya?”
“Thank you and so sorry.”
“Aku menerima rasa terima kasihmu karena aku menyadari kalau aku memang baik dan bermurah hati.” Stefa memutar bola matanya mendengar kenarsisan tingkat tinggi Caitlin.
“Tapi aku tidak menerima kata maaf darimu, karena seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena telah membiarkanmu terluka dengan berita pertunanganku dengan David.”
Stefa menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku yang meminta maaf.”
“Sudahlah, jika kau dan aku terus melempar kata maaf. Kapan aku akan memakan makananku?!” Stefa bungkam mendengarnya. Beberapa menit yang lalu pelayan sudah menyajikan makanan pesanan milik Caitlin.
Obrolan itu selesai dengan keduanya yang berakhir damai dengan tujuan yang memuaskan dan mereka bersepakat untuk menjalin hubungan sebagai teman. Caitlin memakan makanannya dengan wajah yang berbinar. Seumur hidupnya, Caitlin tidak pernah memakan makanan di tempat seperti itu. Karena keluarganya selalu memiliki aturan, sehingga Caitlin tidak bisa melakukan hal-hal yang ia inginkan seperti wanita kebanyakan.
***
Open PO Novel My Love Story versi cetak gelombang II mulai 16 April 2020 - 30 april 2020. Untuk info pemesanan bisa langsung kirim WA ke admin 0818331696 !!
Atau yang mau baca versi eBook juga bisa langsung download melalui Playstore, ya !!! Karena harganya lebih terjangkau..
***
__ADS_1
Yuk bantu follow Instagram @WeLac_Official dan juga Instagram author @rhesirahaku !!!