
Semua persiapan telah selesai, mempelajari beberapa dokumen untuk mempermudah Stefa
dan Judith saat tiba di Indonesia nanti. Saat ini, Stefa dan Judith sedang di
dalam pesawat menuju Indonesia. Butuh waktu 15 sampai dengan 16 jam untuk
sampai di Indonesia nanti.
Proyek yang akan Stefa tangani nanti, letaknya ada di pusat Ibu Kota Jakarta. The
Fritz Group bekerja sama dengan perusahaan Star Company yang bekerja khusus
dibidang perhotelan
Star Company sudah diketahui ke-eksisannya di dunia bisnis perhotelan. Semua orang
berlomba-lomba untuk meng-goal kan kontrak kerja sama yang pasti sangat sulit
di dapatkan. Tidak semua perusahaan bergengsi mampu menjalin kerjasama dengan
Star Company.
Banyak desas desus yang mengatakan jika perusahaan itu dipimpin oleh seorang pria muda
berbakat. Tapi terkenal dengan pribadi yang bossy-nya. Namun Stefa tidak
memperdulikan desas desus itu.
Tidak perduli seperti apa kepribadian pemilik perusahaan itu. Yang terpenting adalah
bagaimana ia mampu menangani proyek ini nantinya.
“Aahh..ini benar-benar perjalanan terlama yang aku alami. Badanku rasanya hampir remuk
semua.” Keluh Judith sambil meregangkan otot-ototnya.
Stefa-pun mengalami hal yang sama, ini adalah kali pertamanya Stefa pergi karena urusan
pekerjaan dengan jarak tempuh yang tidak sebentar. Berbeda negara sudah biasa,
tapi kalau berbeda benua seperti ini. Benar-benar membuat tubuh Stefa serasa
habis dikeroyok satu kota.
Setengah perjalanan itu, Stefa habiskan untuk tidur dan setengahnya lagi ia habiskan
untuk mempelajari dokumen-dokumen proyeknya. Saat bekerja, Stefa selalu
totalitas tanpa batas. Ia akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai
akhir yang baik.
Profesionalitas yang selalu Stefa lakukan. Urusan pribadi tidak pernah ia campur adukkan dengan
urusan pekerjaan.
Stefa memandang keluar kaca yang berada di sampingnya, di luar nampak gelap karena
memang saat ini tengah menunjukan malam hari. Stefa kembali memejamkan matanya
dengan rapat, rasa kantuknya kembali menyerang matanya.
Sedangkan Judith, sudah tertidur pulas seperti orang mati. Bahkan seandainya pesawat yang
mereka tumpangi itu mengalami kecelakaan, Judith tidak akan menyadarinya.
Tepat jam 11 siang ke-esokan harinya, Stefa dan Judith akhirnya sampai di Bandara
Soekarno Hatta.
Mereka sudah disambut dengan team yang sudah disiapkan oleh pihak Star Company.
Sebelum mereka sampai di tujuan selanjutnya, team penjemput mengajak Stefa dan
Judith untuk makan siang terlebih dahulu.
“Welcome to Indonesia Ms. Agatha dan Ms.
__ADS_1
Blaine. Perkenalkan saya Marya, team penjemput anda. Saya akan menjelaskan
beberapa tugas saya ke depannya. Dan akan menjelaskan sedikit mengenai proyek
yang akan Ms. Agatha tangani nanti.“
“Panggil saja saya Stefa. Dan ini Judith, sekretaris saya.“
Mereka saling meperkenalkan satu sama lainnya. Dan di akhiri dengan makan siang
bersama. Stefa yang memang sudah pasih menggunakan Bahasa Indonesia-pun, sangat santai mengobrol dengan Marya. Berbeda dengan Judith yang tidak bisa menggunakan bahasa itu sama sekali.
Saat ini mereka sedang menuju ke Hotel dimana Stefa dan Judith akan tinggal selama 6
bulan nanti. Hotel yang mereka tempati nanti, adalah salah satu Hotel milik
Star Company. Hotel berbintang 4 yang mereka siapkan untuk Stefa dan juga
Judith.
Sesampainya di Hotel, Stefa dan Judith langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Hari
ini tidak ada jadwal mengurus proyek, mereka lebih memilih untuk istirahat.
Baru ke-esokan harinya, seharian penuh mereka akan meninjau lokasi yang akan di
jadikan pembangunan Hotel.
Setelah semua baju-bajunya di masukkan ke dalam lemari yang sudah tersedia, Stefa
langsung membersihkan badannya. Barulah setelah itu, Stefa memilih untuk tidur
dan berencana bangun nanti sore. Badannya masih terasa remuk.
Stefa mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan memeriksa handphone nya
untuk yang terakhir. Ada beberapa pesan yang belum sempat ia baca sama sekali,
dan ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang selalu mengganggu nya.
Stefa mengabaikan semua pesan dan panggilan tak terjawab itu, kali ini ia benar-benar
matanya, rasa kantuknya sudah mulai menyerang.
Tepat pukul 5 sore, Stefa terbangun dari tidurnya. Tubuhnya dipenuhi dengan keringat
dingin, mimpi yang membuatnya ketakutan kembali menyerang dirinya. Mimpi yang
selalu sama. Ia selalu bermimpi tenggelam di kolam renang.
Stefa ingat, saat dirinya masih kecil. Stefa pernah tenggelam di dalam kolam renang,
tidak ada yang mendengar teriakan minta tolongnya. Termasuk ayah dan ibu Stefa
saat itu yang terlalu asyik mengobrol dengan temannya.
Saat itu, Stefa dan keluarganya sedang berlibur di Jepang, saat masih kecil Stefa sangat
menyukai yang namanya berenang. Dan karena itulah, ayah dan ibu Stefa
kecolongan. Karena terlalu asyik berbincang karena bertemu dengan teman lama
ibunya, yang kebetulan saat itu sedang berlibur juga di Jepang.
Mereka sampai mengabaikan Stefa yang sedang berenang, saat itu Stefa berusia 7 tahun.
Tiba-tiba kaki Stefa terasa kram dan tidak bisa di gerakkan. Semua orang disana
terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing, sampai-sampai jeritan minta
tolong seorang gadis berusia 7 tahunpun tidak ada yang mendengarnya.
Sampai pada akhirnya, kedua orang tua Stefa baru menyadari saat seseorang tak sengaja
melihat Stefa sudah hampir tenggelam. Barulah ayah Stefa berlari dan
menceburkan dirinya ke kolam renang untuk menyelamatkan putrinya.
__ADS_1
Semenjak kejadian itu, Stefa tidak lagi berani mendekati kolam renang ataupun laut. Bisa
dikatakan ia mengidap penyakit Aquaphobia.
Phobia air dengan jumlah atau volume air yang banyak. Jadi sebisa mungkin Stefa
akan menghindari tempat seperti kolam renang atau pantai bahkan laut.
Stefa segera menyeka keringat yang sudah terjun bebas di kenignya, tubuhnyapun
bereaksi sama mengeluarkan keringat. Stefa segera bangkit dari tempat tidurnya,
dan mengambil air minum untuk mengurangi rasa takutnya.
“Selalu saja mimpi yang sama.“ gumam Stefa dan kembali meneguk air minumnya sampai
tandas
Stefa berjalan ke arah tempat tidurnya, mengambil handphonenya dan mulai membuka
pesan yang sedari tadi ia abaikan. Salah satu pesan membuat Stefa tersedak
dengan air ludahnya sendiri.
‘Kau begitu seksi saat tidur.‘
“Oh God. Siapa yang mengirim pesan konyol seperti itu?“ Stefa tidak percaya dengan
isi pesan itu. Seolah-olah orang yang mengirim pesan sedang memperhatikan Stefa
saat tidur tadi.
Stefa mengedarkan pandangan ke seluruh isi kamar, memindainya dengan seksama.
Takut-takut jika ada orang iseng yang memasang kamera CCTV di dalam
kamarnya. Kembali bunyi notifikasi pesan
masuk ke dalam handphone Stefa.
‘Kau cantik saat sedang terkejut
dan kebingungan seperti itu.‘
‘Aku ingin memelukmu, mencium
aroma tubuhmu yang baru bangun tidur.‘
Stefa semakin terkejut dengan semua isi pesan yang terus-terusan masuk ke dalam
handphone nya. Sungguh, Stefa dibuat ketakutan mendapat pesan seperti itu. Apa
ada orang psikopat yang sedang
memata-matainya ?
Stefa langsung berlari ke kamar mandi, dan segera menyegarkan kepalanya dengan cara
berendam. Mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran negatifnya.
“Sialan. Aku kesini untuk kerja dan menenangkan pikiran, malah mendapat teror dari
orang gila. Sial.“ umpat Stefa di sela-sela aktivitas berendamnya.
“Sepertinya aku harus mengganti nomorku lagi. Aku harus meminta tolong Judith
untuk mengurus nomor baruku lagi. Untuk saat ini, aku akan menggunakan nomor
lokal demi menghindar dari manusia gila itu.“ lanjut Stefa.
Stefa berniat menyuruh Judith untuk mengurus nomor barunya lagi. Dan selama tinggal
di Indonesia, ia akan menggunakan nomor Indonesia. Dan Stefa memastikan bahwa
kali ini tidak akan ada lagi gangguan dari penerornya itu.
Sampai detik ini memang tidak ada teror yang membahayakan Stefa, hanya saja
__ADS_1
pesan-pesan yang selalu berisikan seolah-olah orang itu tahu segala aktivitas
yang dilakukan Stefa. Membuat Stefa merinding.