My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 7 Welcome to Indonesia


__ADS_3

Semua persiapan telah selesai, mempelajari beberapa dokumen untuk mempermudah Stefa


dan Judith saat tiba di Indonesia nanti. Saat ini, Stefa dan Judith sedang di


dalam pesawat menuju Indonesia. Butuh waktu 15 sampai dengan 16 jam untuk


sampai di Indonesia nanti.


Proyek yang akan Stefa tangani nanti, letaknya ada di pusat Ibu Kota Jakarta. The


Fritz Group bekerja sama dengan perusahaan Star Company yang bekerja khusus


dibidang perhotelan


Star Company sudah diketahui ke-eksisannya di dunia bisnis perhotelan. Semua orang


berlomba-lomba untuk meng-goal kan kontrak kerja sama yang pasti sangat sulit


di dapatkan. Tidak semua perusahaan bergengsi mampu menjalin kerjasama dengan


Star Company.


Banyak desas desus yang mengatakan jika perusahaan itu dipimpin oleh seorang pria muda


berbakat. Tapi terkenal dengan pribadi yang bossy-nya. Namun Stefa tidak


memperdulikan desas desus itu.


Tidak perduli seperti apa kepribadian pemilik perusahaan itu. Yang terpenting adalah


bagaimana ia mampu menangani proyek ini nantinya.


“Aahh..ini benar-benar perjalanan terlama yang aku alami. Badanku rasanya hampir remuk


semua.” Keluh Judith sambil meregangkan otot-ototnya.


Stefa-pun mengalami hal yang sama, ini adalah kali pertamanya Stefa pergi karena urusan


pekerjaan dengan jarak tempuh yang tidak sebentar. Berbeda negara sudah biasa,


tapi kalau berbeda benua seperti ini. Benar-benar membuat tubuh Stefa serasa


habis dikeroyok satu kota.


Setengah perjalanan itu, Stefa habiskan untuk tidur dan setengahnya lagi ia habiskan


untuk mempelajari dokumen-dokumen proyeknya. Saat bekerja, Stefa selalu


totalitas tanpa batas. Ia akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai


akhir yang baik.


Profesionalitas yang selalu Stefa lakukan. Urusan pribadi tidak pernah ia campur adukkan dengan


urusan pekerjaan.


Stefa memandang keluar kaca yang berada di sampingnya, di luar nampak gelap karena


memang saat ini tengah menunjukan malam hari. Stefa kembali memejamkan matanya


dengan rapat, rasa kantuknya kembali menyerang matanya.


Sedangkan Judith, sudah tertidur pulas seperti orang mati. Bahkan seandainya pesawat yang


mereka tumpangi itu mengalami kecelakaan, Judith tidak akan menyadarinya.


Tepat jam 11 siang ke-esokan harinya, Stefa dan Judith akhirnya sampai di Bandara


Soekarno Hatta.


Mereka sudah disambut dengan team yang sudah disiapkan oleh pihak Star Company.


Sebelum mereka sampai di tujuan selanjutnya, team penjemput mengajak Stefa dan


Judith untuk makan siang terlebih dahulu.


“Welcome to Indonesia Ms. Agatha dan Ms.

__ADS_1


Blaine. Perkenalkan saya Marya, team penjemput anda. Saya akan menjelaskan


beberapa tugas saya ke depannya. Dan akan menjelaskan sedikit mengenai proyek


yang akan Ms. Agatha tangani nanti.“


“Panggil saja saya Stefa. Dan ini Judith, sekretaris saya.“


Mereka saling meperkenalkan satu sama lainnya. Dan di akhiri dengan makan siang


bersama. Stefa yang memang sudah pasih menggunakan Bahasa Indonesia-pun, sangat santai mengobrol dengan Marya. Berbeda dengan Judith yang tidak bisa menggunakan bahasa itu sama sekali.


Saat ini mereka sedang menuju ke Hotel dimana Stefa dan Judith akan tinggal selama 6


bulan nanti. Hotel yang mereka tempati nanti, adalah salah satu Hotel milik


Star Company. Hotel berbintang 4 yang mereka siapkan untuk Stefa dan juga


Judith.


Sesampainya di Hotel, Stefa dan Judith langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Hari


ini tidak ada jadwal mengurus proyek, mereka lebih memilih untuk istirahat.


Baru ke-esokan harinya, seharian penuh mereka akan meninjau lokasi yang akan di


jadikan pembangunan Hotel.


Setelah semua baju-bajunya di masukkan ke dalam lemari yang sudah tersedia, Stefa


langsung membersihkan badannya. Barulah setelah itu, Stefa memilih untuk tidur


dan berencana bangun nanti sore. Badannya masih terasa remuk.


Stefa mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan memeriksa handphone nya


untuk yang terakhir. Ada beberapa pesan yang belum sempat ia baca sama sekali,


dan ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang selalu mengganggu nya.


Stefa mengabaikan semua pesan dan panggilan tak terjawab itu, kali ini ia benar-benar


matanya, rasa kantuknya sudah mulai menyerang.


Tepat pukul 5 sore, Stefa terbangun dari tidurnya. Tubuhnya dipenuhi dengan keringat


dingin, mimpi yang membuatnya ketakutan kembali menyerang dirinya. Mimpi yang


selalu sama. Ia selalu bermimpi tenggelam di kolam renang.


Stefa ingat, saat dirinya masih kecil. Stefa pernah tenggelam di dalam kolam renang,


tidak ada yang mendengar teriakan minta tolongnya. Termasuk ayah dan ibu Stefa


saat itu yang terlalu asyik mengobrol dengan temannya.


Saat itu, Stefa dan keluarganya sedang berlibur di Jepang, saat masih kecil Stefa sangat


menyukai yang namanya berenang. Dan karena itulah, ayah dan ibu Stefa


kecolongan. Karena terlalu asyik berbincang karena bertemu dengan teman lama


ibunya, yang kebetulan saat itu sedang berlibur juga di Jepang.


Mereka sampai mengabaikan Stefa yang sedang berenang, saat itu Stefa berusia 7 tahun.


Tiba-tiba kaki Stefa terasa kram dan tidak bisa di gerakkan. Semua orang disana


terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing, sampai-sampai jeritan minta


tolong seorang gadis berusia 7 tahunpun tidak ada yang mendengarnya.


Sampai pada akhirnya, kedua orang tua Stefa baru menyadari saat seseorang tak sengaja


melihat Stefa sudah hampir tenggelam. Barulah ayah Stefa berlari dan


menceburkan dirinya ke kolam renang untuk menyelamatkan putrinya.

__ADS_1


Semenjak kejadian itu, Stefa tidak lagi berani mendekati kolam renang ataupun laut. Bisa


dikatakan ia mengidap penyakit Aquaphobia.


Phobia air dengan jumlah atau volume air yang banyak. Jadi sebisa mungkin Stefa


akan menghindari tempat seperti kolam renang atau pantai bahkan laut.


Stefa segera menyeka keringat yang sudah terjun bebas di kenignya, tubuhnyapun


bereaksi sama mengeluarkan keringat. Stefa segera bangkit dari tempat tidurnya,


dan mengambil air minum untuk mengurangi rasa takutnya.


“Selalu saja mimpi yang sama.“ gumam Stefa dan kembali meneguk air minumnya sampai


tandas


Stefa berjalan ke arah tempat tidurnya, mengambil handphonenya dan mulai membuka


pesan yang sedari tadi ia abaikan. Salah satu pesan membuat Stefa tersedak


dengan air ludahnya sendiri.


‘Kau begitu seksi saat tidur.‘


“Oh God. Siapa yang mengirim pesan konyol seperti itu?“ Stefa tidak percaya dengan


isi pesan itu. Seolah-olah orang yang mengirim pesan sedang memperhatikan Stefa


saat tidur tadi.


Stefa mengedarkan pandangan ke seluruh isi kamar, memindainya dengan seksama.


Takut-takut jika ada orang iseng yang memasang kamera CCTV di dalam


kamarnya.  Kembali bunyi notifikasi pesan


masuk ke dalam handphone Stefa.


‘Kau cantik saat sedang terkejut


dan kebingungan seperti itu.‘


‘Aku ingin memelukmu, mencium


aroma tubuhmu yang baru bangun tidur.‘


Stefa semakin terkejut dengan semua isi pesan yang terus-terusan masuk ke dalam


handphone nya. Sungguh, Stefa dibuat ketakutan mendapat pesan seperti itu. Apa


ada orang psikopat yang sedang


memata-matainya ?


Stefa langsung berlari ke kamar mandi, dan segera menyegarkan kepalanya dengan cara


berendam. Mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran negatifnya.


“Sialan. Aku kesini untuk kerja dan menenangkan pikiran, malah mendapat teror dari


orang gila. Sial.“ umpat Stefa di sela-sela aktivitas berendamnya.


“Sepertinya aku harus mengganti nomorku lagi. Aku harus meminta tolong Judith


untuk mengurus nomor baruku lagi. Untuk saat ini, aku akan menggunakan nomor


lokal demi menghindar dari manusia gila itu.“ lanjut Stefa.


Stefa berniat menyuruh Judith untuk mengurus nomor barunya lagi. Dan selama tinggal


di Indonesia, ia akan menggunakan nomor Indonesia. Dan Stefa memastikan bahwa


kali ini tidak akan ada lagi gangguan dari penerornya itu.


Sampai detik ini memang tidak ada teror yang membahayakan Stefa, hanya saja

__ADS_1


pesan-pesan yang selalu berisikan seolah-olah orang itu tahu segala aktivitas


yang dilakukan Stefa. Membuat Stefa merinding.


__ADS_2