
Flashback On
Sudah sekitar satu minggu Judith merasakan mual-mual di jam-jam tertentu, seperti di pagi hari, menjelang malam hari atau pada saat ia mencium bau yang terlalu menyengat indera penciumannya itu. Judith sama sekali tidak memiliki pikiran buruk terhadap dirinya sendiri, ia merasa kalau beberapa hari belakangan ini tubuhnya begitu mudah lelah.
Ia hanya mengira bahwa ia sedang masuk angin karena semua pekerjaannya ia lakukan sendirian tanpa ada bantuan dari Stefa. Judith tak terlalu ambil pusing akan hal itu. Setiap kali ia merasakan mual berlebih, ia hanya akan meminum satu gelas aing madu hangat. Dan itu berguna untuk meredakan rasa mual berlebih yang ia rasakan.
Aroma madu yang tercampur dengan air hangat di dalam gelas, mengeluarkan aroma yang begitu wangi khas madu dan membuat Judith sedikit tenang dan nyaman akan hal itu. Sialnya, rupanya pikiran positif itu tak bertahan lama dan tidak sesuai dengan perkiraannya sama sekali.
Di hari kedatangan Stefa dari Paris, seharusnya ia datang lebih pagi untuk menyambut kedatangan Stefa di kantor bersama rekan-rekan satu divisinya itu. Memang awalnya ia sudah datang lebih pagi dari biasanya, bahkan ia sempat bertemu dengan beberapa rekan lainnya yang datang lebih pagi juga.
Mereka sempat bertegur sapa sebelumnya. Judith duduk di balik meja kerja seperti biasanya, ia meminum satu gelas air madu hangat yang sempat ia buat sebelum duduk di balik meja kerjanya itu. Saat ia melihat tanggalan, ia seakan terpikirkan sesuatu.
Ia mengecek kalender kecil yang disimpan di atas meja kerjanya, membuka satu lembar sebelumnya untuk memastikan apa yang sempat menggelayuti pikirannya. Dan benar saja, ia sudah satu bulan lebih tidak mendapatkan masa menstruasinya.
Kembali ia mengecek kalender tersebut. Dan hasilnya masih sama saja, ia benar-benar belum mendapatkan masa menstruasinya yang sudah terlewat satu bulan lebih itu.
“Tidak. Semoga saja tidak. Semoga apa yang kupikirkan tidak sesuai dengan kenyataan.” Gumamnya dengan sedikit gugup. Ia tak bisa duduk dengan tenang terlalu lama sampai akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari kursi kerjanya dan pergi berlalu begitu saja.
Ia berpapasan dengan salah satu rekan satu divisinya. “Ms. Judith, Anda mau ke mana? Sebentar lagi Ms. Stefa akan tiba.”
“Aku ada urusan, aku serahkan semuanya pada kalian.” Judith langsung berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban lanjutnya dari orang itu. Ia langsung menancapkan gas mobilnya menuju ke salah satu rumah sakit.
Jalanan yang biasanya tak terlalu padat itu tiba-tiba saja mendadak padat. Beberapa kali pula Judith menekan klakson mobilnya dengan tidak sabaran. Bahkan ia sering sekali mengumpat saat ada pengendara lain yang mengahalangi jalannya atau mendahului kendaraannya.
Tiba di rumah sakit yang dituju, Judith langsung menutup pintu mobilnya dan berjalan dengan terburu-buru masuk ke dalam. Ia mendaftarkan diri di bagian dokter kandungan. Ia sudah tak bisa menunggu lama lagi untuk mengetahui hasil yang sebenarnya.
Setelah selesai mendaftarkan dirinya di bagian administrasi umum, ia di arahkan untuk menuju ruangan dokter kandungan yang akan menanganinya itu. Sayangnya, rasa penasarannya itu harus sedikit ditahan dan ditekan kembali mengingat di sana begitu banyak sekali ibu-ibu yang akan memeriksakan kandungan mereka juga.
Ia menghela napas sesaat untuk menekan rasa kesalnya, ia duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruangan itu. Melihat sekelilingnya, kebanyakn ibu-ibu di dampingi oleh pasangannya. Berbeda dengannya, bahkan ia tak ada yang menemaninya saat ini. Masalahnya bukan hanya di situ saja, bahkan ia tak yakin apakah ia benar hamil atau tidak.
Semoga saja ia tak hamil. Karena jika ia benaran hamil, ia bingung harus bagaimana. Ia memang terbiasa melakukan **** bebas, karena di negaranya itu sudah hal yang lumrah. Mereka hanya perlu mengonsumsi pil pencegah kehamilan atau pengaman saat akan melakukan ****.
Sudah berjam-jam ia menunggu di depan ruangan itu, pasien pun sudah semakin berkurang hanya menyisakan beberapa orang saja. Sampai namanya di panggil oleh perawat yang membantu dokter yang berada di balik ruangan tersebut.
Ia melangkah pasti masuk ke dalam ruangan dokter itu. Judith mendapatkan senyuman hangat dari perawat dan dokter itu. Ia duduk tepat di depan si dokter setelah dokter itu mempersilahkannya duduk.
Sebelum melakukan USG, dokter itu mengisi data dan mengkonfirmasi mengenai data Judith sebelumnya. Menanyakan beberapa keluhan yang Judith rasakan sebelumnya. Tentu saja Judith menjelaskan apa yang ia alami beberapa hari yang lalu sampai saat ini.
Dokter dan perawat itu menggiringnya ke arah ranjang pasien yang biasa digunakan saat melakukan USG. Dokter itu menyingkap pakaian atas milik Judith dan mengoleskan gel ke atas perut Judith. Alat yang dokter itu pegang mulai menunjukkan gambar di dalam monitor.
Ada gumpalan kecil di dalam perut Judith yang tak ia mengerti sama sekali itu apa.
“Anda bisa melihat di layar, Miss?” tanya dokter itu memastikan. Judith pun mengangguk.
“Gumpalan kecil ini adalah calon bayi Anda. Melihat dari jarak masa menstruasi Anda yang sudah terlewat, usia kandungan Anda sekitar minggu ketiga memasuki minggu ke empat.”
__ADS_1
Dokter itu menjelaskan secara rinci dan jelas tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun. Judith serasa dihantam oleh sebuah palu dengan berat yang melebihi berat badannya sendiri. Kepalanya terasa berdenyut saat
mendengarkan dokter itu menjelaskan semuanya. Ada rasa lega, bahagia, sedih, marah dan yang pasti ia bingung.
Kenapa bisa ia kecolongan dan malah mengandung anaknya Cordy. Pria yang saat ini tinggal di Indonesia. Sudah jelas mereka berbeda benua. Astaga. Entah ini adalah sebuah anugerah atau sebuah musibah untuknya.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter menyerahkan sebuah resep obat penguat kandungan dan
beberapa resep obat lainnya. Dokter itu juga menyarankan agar Judith selalu rutin meminum susu untuk ibu hamil agar ibu dan bayinya selalu sehat. Dan masih banyak lagi hal-hal yang harus ia lakukan dan tak boleh ia lakukan yang dokter itu sarankan.
Judith ke luar dari ruangan itu bergantian dengan pasien lainnya yang di panggil oleh suster tadi. Ia duduk
termenung di atas kursi tunggu di sana, ia menundukkan kepalanya seraya mencengkeram hasil USG tadi. Matanya tiba-tiba saja turun membanjiri pipinya, pasien yang masih menunggu namanya di panggil.
Kebingungan karena melihat Judith yang tiba-tiba mengeluarkan air mata meskipun tanpa suara. Mata dan hidungnya sudah memerah karena tangisannya itu. bagaimana pun ia harus memberi tahu Cordy, pria itu harus bertanggung jawab atas kehamilannya.
“Cordy?” sapa Judith saat pria itu mengangkat panggilannya tanpa lama.
“Yes, baby. Ada apa?” jawabnya di balik telepon.
Sesaat Judith tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya mampu untuk menangis. Suara isakkan tangisnya terdengar jelas di telinga Cordy dan membuat pria itu memanggil namanya.
“Judith? Ada apa? Kenapa suaramu seperti sedang menangis, hm?”
“I’m pregnant, Cordy. Your baby!” ucapnya singkat.
Tak ada jawaban dari Cordy, tapi Judith masih bisa mendengar keterkesiapan Cordy di balik telepon itu.
“Kenapa bisa?” tanyanya bodoh yang membuat Judith merasa dongkol dengan pertanyaan Cordy.
“Tentu saja bisa, brengsek. Kita sering melakukannya saat aku masih berada di Indonesia. Tentu saja kau tak pernah mau mengenakan pengaman saat kita melakukannya.” Umpat Judith tanpa aba-aba membuat beberapa pasien yang berada di sekitarnya menatapnya heran.
“Hei tenanglah! Bukan itu maksudku. Kenapa bisa kau hamil? Bukankah kau selalu meminum pil pencegah kehamilanmu itu? Aku akui kita memang tak pernah melakukan pengaman saat melakukannya.” Sanggahnya dengan cepat tak ingin di salahkan begitu saja.
“Aku. Aku lupa tak meminum pilku saat terakhir kali kita melakukannya. Lalu aku harus bagaimana sekarang?” tangisannya kembali pecah dengan suara yang terdengar frustasi. Orang-orang menatapnya dengan iba dan rasa kasihan.
Suara helaan napas Cordy terdengar di balik telepon itu. “Berapa bulan usia kandunganmu?”
“Aku sudah memasuki minggu ke empat.” Jawab Judith singkat masih dengan isakkan tangisnya.
“Dengarkan aku, aku akan memikirkan semua ini. Aku akan memikirkan agar tak merugikanmu atau merugikanku. Kau mengerti?”
Judith tak percaya dengan perkataan Cordy yang mengatakan bahwa pria itu akan memikirkannya terlebih dahulu. Merugikan? Siapa di sini yang dirugikan? Jelas Judith-lah yang merasa rugi di sini. Ia harus menampung seorang janin yang saat ini bersarang di dalam perutnya.
Apa lagi yang harus pria itu pikirkan setelah ia tahu bahwa Judith sedang mengandung anaknya. Sialnya, jika Cordy tak berniat untuk bertanggung jawab ia tak bisa menuntut lebih. Tidak mungkin ia melaporkan atas kasus pemerkosaan ‘kan disaat mereka melakukan itu dengan suka rela dan suka sama suka.
__ADS_1
Bodohnya mereka tidak memiliki status sebagai sepasang kekasih. Mereka memang lebih dekat dari sebelumnya, memang Judith sudah mengenal dan dekat dengan keluarga Cordy. Tapi mereka tak pernah menjadi sepasang kekasih, mereka hanya saling membutuhkan tempat untuk menyalurkan kebutuhan biologis mereka masing-masing.
Shit! Andai saja Judith tahu bahwa di masa sekarang ia akan hamil, maka ia tak akan
pernah mau melakukan **** dengan Cordy pada saat detik-detik terakhir. Jika Cordy benar-benar akan memikirkan semuanya menimbang keduanya tidak akan ada yang dirugikan. Namun pada akhirnya Judith takut jika ia harus membesarkan anaknya sendirian.
Lama kelamaan perutnya akan semakin membuncit. Ia tak mungkin menutupi kehamilannya lebih lama lagi. Kepalanya semakin berdenyut memikirkan semua itu.
“Kau pikir perutku akan tetap sama seperti dulu begitu? Lama kelamaan perutku akan semakin membuncit, sialan! Dan kau berkata bahwa kau akan memikirkannya? Kau bilang rugi? Di sini aku yang merugi karena kau telah menanam benih di dalam rahimku. Sudah kukatakan saat kita melakukan ****, kau harus mengenakan pengaman meskipun aku mengonsumsi pil pencegah kehamilan. Itu untuk berjaga-jaga agar kejadian seperti ini tidak pernah terjadi. Sialan.” Segala caci makinya ia tumpahkan di balik telepon dan tentu saja pria itu bergeming begitu saja.
Hanya deru napasnya saja yang terdengar dan sesekali helaan napas panjang terdengar juga.
“Judtih, aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita. Untukmu, untukku dan untuk bayi yang ada di dalam perutmu. Aku hanya perlu memikirkannya sebentar, kau tau. Aku tak pernah mengalami hal ini, ini membuatku sedikit terkejut.”
“Kau pikir aku tak terkejut dengan berita kehamilanku, huh? Aku yang hamil, aku. Bukan kau. Jika kau benar-benar tak berniat untuk tanggung jawab, sebaiknya kau pergi saja ke neraka!” Judith langsung mematikan panggilan telepon itu dan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Seorang ibu-ibu yang masih menunggu namanya dipanggil menggeser posisi duduknya ke samping Judith. Ibu itu mengusap punggung Judith yang terlihat bergetar karena tangisannya.
Judith merasakan usapan di atas punggungnya kemudian mendongak ke samping. Ibu itu tersenyum memberikan efek hangat ke dalam hati Judith yang sedang di landa kerapuhan dan kesedihan.
“Tak apa jika ayah dari bayimu tak bertanggung jawab. Kau hanya harus menunggu beberapa bulan atas kelahiran bayimu ke dunia. Kau akan menjaga dan merawat bayimu sendirian, mungkin teman-temanmu bisa mendampingimu selama itu. Jangan melimpahkan kesalahan pada bayi yang sedang kau kandung.” Nasihat ibu itu.
“Bayimu tak berdosa. Dia akan bangga padamu sebagai seorang wanita sekaligus ibu yang telah mengandung, melahirkan dan merawatnya kelak. Aku bisa menjamin bahwa anakmu akan tumbuh dengan baik meskipun ayah kandungnya ada atau tidak ada di sampingnya.” Lanjut ibu itu lagi.
Sesaat judith terpekur memikirkan perkataan ibu itu yang beberapa saat yang lalu ibu itu pergi meninggalkannya karena namanya di panggil oleh suster. Benar apa kata ibu itu, bahwa ia akan membesarkan anaknya sendirian tanpa Cordy sekali pun.
Ia akan menjadikan anaknya sosok yang hebat meskipun hanya dengan didikan seorang ibu saja. Jika benar-benar Cordy tak berniat untuk bertanggung jawab, ia hanya tak perlu menceritakan kepahitan itu pada anaknya nanti saat anak itu sudah lahir dan tumbuh menjadi dewasa. Ia hanya perlu sedikit mengarang cerita, mungkin.
Judith pergi meninggalkan rumah sakit itu seorang diri dan kembali menuju kantor. Meskipun ia datang begitu terlambat karena urusan pribadinya, setidaknya ia masih bisa menyelesaikan tanggung jawab di kantornya. Ia akan menjelaskan mengapa ia tak hadir di kantor seharian ini.
Semoga saja Stefa mampu memberikan pengertian padanya. Setibanya di kantor, ia tak mendapati Stefa di ruang kerjanya. Ia pikir Stefa sedang makan siang mengingat ia tiba di kantor sudah hampir lewat dari jam makan siang. Ia tak sempat membeli makanan selama perjalanan menuju kantor tadi.
Baru beberapa menit Judith duduk di balik meja kerjanya, Stefa datang dan ke luar dari balik pintu lift dan
langsung menghampirinya begitu saja. Sesuai dugaannya, Stefa akan khawatir karena seharian ini ia tak berada di kantor bahkan tak sempat memberikan kabar padanya. Mengingat Stefa begitu pintar dalam menilai ekspresi seseorang, wanita itu langsung mengetahui bahwa ada yang tidak beres dengan sekretarisnya itu.
Stefa menyuruh Judith untuk menyerahkan laporan kerja sama dengan perusahaan Revaldo yang berada di
Indonesia. Laporan itu dijadikan alasan oleh Stefa agar ia lebih leluasa untuk mengorek tentang apa yang sedang menimpa Judith saat ini. Memang tak sepenuhnya berbohong, karena pada dasarnya Stefa memang harus memeriksa laporan itu.
Mengalirlah cerita dari mulut Judith, dan bisa ditebak. Stefa langsung terlihat penuh emosi saat Judith
mengatakan bahwa Cordy akan memikirkannya kembali tentang kehamlannya. Bahkan wanita itu berencana akan menemui Cordy di Indonesia jika dalam dua hari ini Cordy benar-benar tak memberikan kabar atau hasil yang diharapkan.
Flashback End
__ADS_1