My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 60 Realized


__ADS_3

Yang masih belum kebagian novel My Love Story versi cetak masih bisa ikut PO gelombang kedua ya.. 


PO gelombang II 16 April 2020 - 30 April 2020.. Pemesanan bisa langsung WA ke 0818331696 !!


Versi eBook juga masih tersedia di Playstor ya !! 




***


            Mata indah itu terbuka dan mengerjap beberapa kali, mengedarkan seluruh pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Suara ringisan keluar dari bibir nan indah serta ranum itu karena kepalanya terasa berdenyut ketika ia mencoba untuk bangun. Ia tak sanggup hanya untuk sekadar duduk saja, kepalanya masih terlalu sakit saat ini. Kembali ia membarinkan tubuhnya yang tak sempat duduk itu.


            Di dalam ruangan asing itu tak ada seorang pun yang menemaninya, entah semua orang pergi ke mana saat ini. Tenggorokannya merasakan sakit, ia butuh air minum untuk membasahi kerongkongannya itu. Tangannya mencoba meraih gelas yang disimpan di atas nakas samping ranjangnya, namun tangannya tidak sampai ke atas nakas itu.


            Pintu ruangan itu dibuka, Revaldo masuk ke dalam pelan-pelan karena ia pikir Stefa masih belum sadarkan diri. Stefa sudah tak sadarkan diri selama dua hari, dan hari ini. Stefa sudah tersadar tanpa ada seorang pun yang berjaga di ruangannya.


            “Hei, kau sudah bangun?” Revaldo segera menarik kursi di samping ranjang Stefa dan duduk di sana dan tangannya tergerak untuk menyentuh tangan Stefa.


            “Tunggu sebentar, aku akan panggilkan Dokter untukmu!” Revaldo langsung memanggil dokter, padahal di sana ada tombol yang terhubung ke monitor yang dapat dilihat langsung oleh dokter atau pun perawat bahwa di salah satu ruangan pasien ada yang memanggilnya.


            Revaldo terlalu senang melihat Stefa sudah bangun, tanpa pikir panjang pria itu mencari dokter atau suster untuk segera mengecek kondisi Stefa. Tak lama, Revaldo kembali masuk ke dalam ruangan itu disusul dengan satu orang dokter dan dua orang perawat di belakangnya.


            Dokter langsung memeriksa keadaan Stefa yang baru saja terbangun dari masa terlelapnya selama dua hari. Sementara itu, Revaldo segera menghubungi Ken, Charlote dan juga Brianna. Tangannya sudah siap untuk menekan nomor David dan juga Marshal, tetapi ia urungkan. Ia ingat bagaimana pria itu mencampakkan Stefa begitu saja hanya karena wanita yang status sosialnya lebih tinggi dari pada Stefa. Untuk Marshal, jelas Revaldo tidak perlu menghubungi pria itu sama sekali karena menurutnya Marshal adalah masa lalu Stefa yang harus ditinggalkan.


            “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Revaldo setelah ia selesai memberitahu Ken dan juga Charlote.


            “Kondisi pasien saat ini sudah membaik, hanya saja tekanan darahnya masih cukup rendah. Selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, keluarga harus tetap ada yang berjaga menemani pasien.” Setelah itu dokter memberikan resep obat yang harus diminum oleh Stefa pada Revaldo, kemudian meninggalkan keduanya di dalam ruangan itu.


            “Kau sudah merasa lebih baik?” Revaldo kembali duduk di kursi samping ranjang Stefa.


            Ia mengangguk seraya tersenyum lemah. “Aku merasa lebih baik. Siapa yang membawaku ke sini?”


            “Brianna dan juga keluargamu yang membawamu ke sini.”


            Kembali, Stefa hanya mengangguk dan tersenyum. Ia bingung harus mengatakan apa pada Revaldo yang sudah lama tidak ia temui itu. Ruangan itu terasa sepi dan suasana mendadak canggung.

__ADS_1


            “Oh ya, kenapa kau bisa ada di sini? Seharusnya kau ada di Indonesia, atau kau memang sedang ada urusan di Jepang?” Stefa menyuarakan kebingungannya tentang keberadaan Revaldo.


            Pria itu tersenyum manis dengan mengusap punggung tangan Stef di mana selang infusan tertancap di punggung tangan Stefa.


            “Aku sedang ada di Jepang karena ada urusan pekerjaan, tanpa kuduga. Asistenku mendapatkan kabar tentangmu yang sedang sakit dan dirawat di sini, jadi aku memutuskan untuk datang.” Tak sepenuhnya Revaldo mengatakan kebohongan, memang benar adanya jika ia memutuskan untuk datang ke sana setelah asistennya mengatakan kondisi Stefa. Tetapi ia berbohong karena mengatakan ia sedang memiliki urusan di Jepang.


            “Berapa lama aku tidak sadarkan diri?”


            “Sudah dua hari kau tidak sadarkan diri. Sekarang kau tidak perlu khawatir, kau akan baik-baik saja.” Revaldo kembali tersenyum kemudian tangan Stefa ia genggam dan mengarahkannya ke bibir miliknya.


            Dikecupnya punggung tangan Stefa dengan lembut, menghantarkan rasa hangat dan nyaman menuju hati Stefa yang sedang dibalut luka dan perih. Stefa tersentuh dengan sikap lembut Revaldo padanya, tak bisa dipungkiri lagi. Revaldo memang selalu bersikap lembut dan baik padanya, tidak seperti pria-pria lainnya yang hanya mampu menorehkan luka di hatinya.


            Keresahan hati melanda Stefa. Apakah Revaldo sudah mengetahui bahwa ia sedang mengandung anak David? Jika ia tahu, lantas apa yang akan ia katakan padanya? Keresahan hati Stefa tak luput dari pandangan Revaldo, raut wajah Stefa yang begitu jelas menyiratkan keresahan hati si pemiliknya sejak tadi Revaldo sudah menyadarinya.


            “Aku sudah tahu tentang kehamilanmu, dan aku tidak peduli akan hal itu. Jika itu yang saat ini sedang kau pikirkan.” Stefa langsung tersentak, ia menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Revaldo.


            “Da-dari mana kau tahu aku ha-hamil?” Suaranya serasa tercekat di tengah-tengah tenggorokkannya.


            “Pamanmu sudah memberitahuku, tak apa. Kau jangan khawatir atau merasa berkecil hati, kau tidak perlu memikirkan nasib anak yang sedang tumbuh berkembang di dalam sana. Karena aku yang akan bertanggung jawab untuk kalian berdua.” Ucapan Revaldo begitu membuat Stefa semakin tercengan, tetapi ia takjub akan kemuliaan hati Revaldo yang berniatan mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya David lakukan.


            “Terima kasih karena kau selalu bersikap lembut dan baik kepadaku. Tetapi, kau tidak perlu melakukan itu! Aku hanya ingin menikmati masa kehamilanku hanya berdua dengan bayiku, bayi berkualitasku.” Stefa mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum seraya mengusap perutnya.


            Arah mata Revaldo mengikuti gerakan tangan Stefa.


            “Kau memberikan nama panggilan pada bayimu?”


            Stefa terkekeh geli melihat tampang Revaldo yang terlihat aneh akan panggilan bayi berkualitas dari Stefa.


            “Tentu saja aku harus memberinya nama panggilan, dia bayi berkualitasku. Ya meskipun dia hadir karena sebuah kesalahan besar, setidaknya aku memiliki seseorang yang berarti dalam hidupku yang sedang mencoba bertahan di dalam rahimku. Kau tahu? Aku sudah tidak sabar ingin bayi berkualitasku segera hadir ke dunia. Kau akan jadi orang pertama yang akan kukenalkan padanya nanti.” Dengan bangganya Stefa mengatakan semua itu dengan tawanya yang terbahak-bahak tetapi membuat Revaldo tersenyum miris.


            Di saat seperti ini pun, bisa-bisanya wanita itu tersenyum dan mencoba untuk melucu. Revaldo tahu, di


dalam hatinya Stefa merasakan sakit yang teramat sangat. Wanita mana yang akan merasa baik-baik saja di saat ia dicampakkan begitu saja dalam keadaan mengandung? Wanita mana yang mampu tersenyum dan mencoba melucu padahal hatinya sedang terluka begitu dalam?


            Tentu saja Revaldo tidak ingin melihat Stefa berpura-pura baik-baik saja padahal sesungguhnya tidak sedang baik-baik saja. Ia akan menjadi cahaya untuk Stefa dan juga anaknya. Ia tak merasa keberatan jika ia harus menjadi ayah dari bayi yang sedang kandung, baginya ia adalah bagian dari hidup Stefa yang harus ia jaga juga.


            “Kau tidak perlu berpura-pura bahagaia agar terlihat baik-baik saja! Kau bisa menunjukkan sisi lemahmu di

__ADS_1


depanku, tetapi jangan di depan orang lain! Kau bisa menangis sepuasmu sampai kau merasa lelah dan air matamu enggan untuk keluar lagi, tetapi hanya di depanku saja!” ucapan Revaldo membuat sisa tawa Stefa terhenti. Raut wajahnya kini menyiratkan rasa perih yang mendalam.


            “Aku baik-baik saja, karena aku masih memiliki Paman, Tante, Brianna, Lianne dan juga ada kau di sini. Jadi kau tidak perlu mengkhatirkan aku!” Stefa mencoba untuk tersenyum kembali membiarkan Revaldo merasakan tenang karenanya.


            Tetapi pria itu justru malah bangkit dari kursinya dengan kedua telapak tangan yang menangkup wajahnya sendiri. Ia menggeram kesal mendengar Stefa yang berkata seolah ia baik-baik saja padahal tidak sama sekali.


            “Kau tidak perlu bersikap seperti ini, lagi pula aku sudah memutuskan untuk menikahimu dan menjadi Ayah dari bayi berkualitas yang kau sebut tadi. Aku tidak peduli apa kau mau menerima atau menolkanya, yang jelas aku akan melakukannya.” Setelah itu Revaldo keluar meninggalkan Stefa yang termenung.


            Stefa menghela napas panjang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menatap langit di luar sana yang sudah siap berganti dengan sang rembulan.


***


            Brianna sedang menyuapi Stefa makan malam dengan semangkuk sup hangat yang dibuatkan oleh Charlote tadi sebelum ia datang ke rumah sakit saat David datang dan membuka pintu ruangan itu.


            Baik Brianna ataupun Stefa, sama-sama menatap kedatangan seseorang yang tak diundang itu.


            “Hai?” sapa David terasa kikuk karena Stefa yang mengabaikan kedatangannya dengan memakan kembali sup hangatnya yang disuapkan oleh tangan Brianna.


            Ia meletakkan keranjang buah-buahan ke atas nakas samping ranjang Stefa. Matanya memperhatikan Stefa yang dengan lahapnya menyantap makanan itu dari tangan Brianna. Matanya terkatup rapat tak ingin mengucapkan sepatah kata yang dapat mengganggu Stefa saat makan malam.


            David lebih memilih untuk duduk di sofa ruangan itu dengan diam. Tak lama, Ken dan Charlote datang. Mereka sempat terdiam untuk sesaat saat melihat David sudah ada di ruangan Stefa.


            “Ajaklah dia berbicata, bagaimanapun dia adalah ayah dari bayi keponakan kita!” Charlote mengusap lengan kiri Ken dengan tersenyum, kemudian menghampiri Stefa dan Brianna.


            Ken duduk di samping David tanpa menoleh sedikit pun kepadanya. David semakin kikuk karena kehadiran Ken di ruangan itu.


            “Kau sudah lama datang ke sini?” tanya Ken untuk membuka obrolan.


            “Tidak, aku baru saja datang.” Jawab David sedikit canggung.


            “Tenanglah, aku tidak akan memukulmu meskipun pada kenyataannya tanganku terasa gatal sekali untuk memukul wajahmu. Setidaknya sekali saja.” Ucapan Ken membuat David terkekh.


            “Anda bisa memukulku sepuasnya jika itu membuat Anda merasa lebih baik.” Balas David setelah ia menghentikan kekehannya.


            “Jangan bersikap formal padaku, kau bisa memanggilku Paman atau apalah, terserah padamu!” David hanya mengangguk.


            “Bicaralah padanya baik-baik, aku akan memberikan kesempatan untukmu agar bisa menjelaskan kepada Stefa! Meskipun keputusanku masih sama, Revaldo-lah yang akan menikahi Stefa nantinya.” Ken bangkit dari duduknya dan berbisik di telinga Charlote, kemudian Charlote dan Ken meminta Brianna untuk meninggalkan David dan Stefa berduaan saja.

__ADS_1


__ADS_2