My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 35 Curious


__ADS_3

            Sekembalinya dari ruang rapat, Stefa langsung membuat surat pengambilan cuti yang cukup lama. Ia berencana akan berangkat ke Jepang besok pagi. Ia sudah tak sabar untuk pergi dan bertemu dengan tante dan juga suaminya. Semalam, Ken mengirimi pesan padanya dan ingin menawarkan sesuatu yang menguntungkan untuknya dan juga Ken.


            Stefa memang sedikit penasaran hal apa yang bisa menguntungkan dirinya dan juga Ken. Tidak mungkin ‘kan, kalau Ken berencana untuk mengatur perjodohan untuknya?! Semoga itu tidak akan pernah terjadi.


            Stefa menekan tombol interkom. “Judith, tolong masuk ke ruanganku, segera!”


            Tak lama setelahnya, Judith sudah berada di ruangan kerja pribadi milik Stefa. Disana, Judith disuguhkan dengan selembar kertas yang tak ia mengerti maksudnya apa. Kemudian, Stefa baru menjelaskan bahwa itu adalah surat ijin pengambilan cutinya. Dan memberi tahukan pada Judith bahwa besok pagi, ia akan berangkat.


            Stefa meminta tolong pada Judith untuk mengantar surat ijin tersebut dan memberikannya kebagian HRD. Sesuai dengan perintahnya, Judith langsung menuju ke ruangan dimana para pekerja bagian HRD itu berada. Bagian HRD memang tak satu lantai dengan dimana para wanita itu bekerja.


            Judith perlu turun beberapa lantai untuk sampai ke ruangan para HRD bekerja.


            “Tunggu! Apa yang ada di tanganmu itu?” tanya seorang pria yang tak lain adalah David. Entah apa yang sedang pria itu lakukan di ruangan kepala HRD sehingga menyebabkan mereka harus bertemu.


            “Oh, ini.” Judith mengangkat kertas yang ia bawa.


            “Ini surat ijin pengambilan cuti, sir.” jawab Judith lagi.


            “Kau akan mengambil cuti?” tanya David terdengar penasaran.


            Judith pun menggeleng. “Bukan. Ini milik Ms. Stefa. Ia berencana untuk mengambil cutinya karena ada beberapa urusan pribadi yang harus ia lakukan. Kalau begitu saya permisi.” Tak mau berlama-lama dengan David, Judith segera meninggalkan pria itu sendirian yang sedang mengerutkan kenignya.


            David menerka-nerka. Ia penasaran dengan alasan kenapa Stefa mengambil cuti padahal Stefa baru saja pulang dari Indonesia. Memang itu tidak ada hubungannya dengan pengambilan cuti. Hanya saja ini belum lewat beberapa hari sejak kedatangannya kembali ke London.


            Tak mau dibuat pusing sendiri. Lantas David pergi meninggalkan ruangan itu. Ia akan menghadiri rapat penting dengan beberapa pemegang saham. Rapat para pemegang saham biasanya akan dilakukan tiga bulan sekali.


***


            “Kau sudah menyerah ‘kannya?” tanya Stefa tanpa melihat lawan bicaranya.


            “Tentu. Dan tadi aku sempat bertemu dengan Mr. David.” Stefa tidak terlalu berminat untuk membahas topik yang mengikutsertakan pria yang bernama David itu. Ia tak menanggapi ucapan Judith dan malah menyuruh sekretarisnya itu untuk meninggalkan ruangan miliknya.


            Kesibukannya terpecah karena suara handphone miliknya berbunyi cukup nyaring.


            “Ya, Hallo?” sapa Stefa tanpa melihat siapa yang sedang meneleponnya.


            “Stefa, kau sibuk?” tanya si penelepon. Sekilas Stefa langsung melihat layar handphone-nya, ternyata


Lianne-lah yang sedang meneleponnya.


            “Yups.” Jawabnya singkat.

__ADS_1


            “Kau sudah memutuskan kapan kau akan pergi ke Jepang?” tanya Lianne.


            “Besok aku berangkat pagi-pagi sekali.” Balasnya singkat dan terdengar datar.


            Terdengar suara helaan napas di seberang sana. “Besok aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Aku harus pergi ke luar kota bersama Mr. Jo. Tiba-tiba dia mengajakku untuk pergi ke luar kota, katanya ada urusan yang penting dan aku harus mendampinginya. Tak apa ‘kan, kalau kau pergi sendiri?”


            “Umh, ya. Tak apa.” Lagi-lagi Stefa hanya menjawab singkat. Tangannya masih sibuk dengan beberapa dokumen yang sedang ia kerjakan.


            Setelah mengobrol beberapa menit, panggilan itu terputus. Dan tak lama, bunyi notifikasi menyusul masuk ke dalam handphone miliknya.


            ‘Kau akan mengambil cuti? Berapa lama kau pergi? Apa perlu aku temani dan kita bisa


bersenang-senang disana?!’


            Stefa mengerutkan keningnya. Lagi-lagi ia mendapatkan teror pesan dari nomor yang tak ia kenali sama sekali. Menurut Stefa, orang yang mengiriminya pesan itu seperti seorang pecundang. Orang itu hanya berani menguntitnya melalui pesan singkat.


            Jika orang itu memiliki nyali besar, seharusnya orang itu berusaha untuk bertatap muka dengannya meskipun pada akhirnya bisa saja orang itu akan di tolak mentah-mentah olehnya. Tak mau ambil pusing, Stefa langsung menghapus pesan itu dan mematikan handphone-nya.


            Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tanpa Stefa sadari, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 05.30.


            “Kau tak pulang?” tanya Judith yang hanya berdiri di ambang pintu ruangan pribadi Stefa.


            “Kau pulang saja duluan! Aku sebentar lagi selesai.” Balasnya tanpa melihat Judith di ambang pintu.


            “No! Aku akan pulang setelahnya.” Stefa membiarkan Judith untuk pulang lebih dulu. Ia tak ingin membebani sekretarisnya dan menahan sampai ia benar-benar menyelesaikan pekerjaannya.


***


            Tepat pukul 7 malam. Stefa baru selesai dengan pekerjaannya, ia mulai merapihkan meja kerjanya dan memasukkan beberapa dokumen ke dalam tasnya. Mengecek berulang kali takut jika ada barang yang tertinggal. Merasa sudah rapih dan tidak ada yang tertinggal, Stefa langsung keluar ruangan.


            Stefa menutup pintu kerjanya dan saat berbalik. Stefa dikejutkan dengan sosok pria yang sangat ia tak sukai sejak beberapa bulan yang lalu. Pria itu berdiri tepat di belakang Stefa, tapi memiliki jarak beberapa meter ke belakang dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kerja miliknya.


            Meskipun lampu di ruangan itu cukup gelap, tapi bisa diyakini bahwa tatapan pria itu sedang menatapnya dengan tajam. Stefa bergidik membayangkan pria itu menatapnya dengan penuh intimidasi saat ini. Untuk sesaat Stefa sempat terpaku berdiri dan tak bisa bergerak. Namun, otak warasnya memerintahkan untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


            Ia tak ingin terlibat obrolan dengan pria itu, jadi ia berusaha untuk tak bertegur sapa dengan orang itu. Dengan buru-buru Stefa berbalik dan berjalan menuju lift. Sialnya. Pria itu malah mengikutinya dari belakang. Stefa langsung menekan tombol turun agar segera berjauhan dari makhluk yang tak ia sukai.


            Pintu lift terbuka. Stefa langsung masuk ke dalam lift. Dan sialnya lagi. Pria itu malah menahan pintu lift yang akan tertutup dengan kakinya. Pintu lift kembali terbuka di susul dengan pria itu yang turut masuk ke dalam lift. Pria itu berdiri tepat di samping Stefa agak sedikit mundur ke belakang. Pria itu dengan jelas bisa menatap Stefa dari samping. Bahunya sedikit terlihat tegang saat pria itu mengucapkan kalimat pertanyaan.


            “Kau menghindariku?” tanya pria itu saat sudah berada di dalam lift yang sama dengan Stefa.


            Tak mau menjawab. Stefa malah sibuk memainkan handphone miliknya dan mencoba untuk menulikan pendengarannya.

__ADS_1


            “Astaga. Apa yang kau lakukan?” pekik Stefa saat tiba-tiba pria itu membalikkan tubuhnya dan mendorong tubuhnya ke pojokkan lift.


            “Katakan padaku, apa kau menghindariku?” tanya pria itu lagi dengan nada penuh penekanan. Stefa menelan salivanya dengan susah payah. Meskipun ada niatan untuk balas dendam dan mengerjai pria sialan itu. Tetap saja, jika sudah berhadapan dan berdiri seintim ini, nyali Stefa mendadak ciut dan mengkerut seperti jemuran yang terlalu lama di jemur di bawah sinar matahari.


            Apalagi tatapan tajam milik pria itu. Seolah mengatakan jika saja Stefa berani menghindarinya, maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Stefa buru-buru menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan pikiran buruknya.


            “Aku tidak.” jawabnya dengan mata yang menatap balik pria itu dengan sama tajamnya. Padahal di dalam hatinya ia merasakan kebat-kebit tak terkendali.


            “Kau jelas-jelas menghindariku.” geram pria itu dan mencengkeram pergelangan tangan Stefa dengan erat. Sedikit meringis karena merasakan cengkeraman yang cukup erat.


            “Itu bukan urusanmu.” Stefa mengangkat dagunya tinggi untuk menantang pria yang ada di hadapannya ini.


            Pria itu tersenyum miring. Kemudian tangan yang lainnya menyentuh rahang Stefa membuat Stefa kembali bergidik ngeri. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Di tambah, lift serasa berjalan begitu lambat sekali dan tak kunjung sampai di parkiran. Jika malam ini terjadi sesuatu pada dirinya, apakah CCTV itu akan menjadi bukti bahwa seseorang berusaha untuk menyakitinya?!


            Pria itu semakin menghimpit tubuh Stefa ke pojokkan lift. Napasnya sengaja ia hembuskan ke wajah Stefa dan memberikan sensasi hangat. Aroma napasnya yang wangi masuk ke indera penciuman Stefa. Untuk sesaat, Stefa memejamkan matanya menikmati aroma hembusan napas yang terasa wangi.


            Stefa pikir pria itu akan menciumnya. Nyatanya, pria itu dengan sengaja meremas kencang salah satu


gundukan kenyal miliknya.


            Plak..


            Stefa langsung menampar pipi pria itu dengan penuh emosi.


            “Sialan. Kau.. Bastard!” tunjuk Stefa tepat di depan wajah pria itu yang saat ini sedang tersenyum miring. Bukannya marah karena mendapat tamparan dari Stefa, pria itu malah menyunggingkan senyum miringnya. Tangannya mengelus pipi yang terkena tamparan dari Stefa. Tapi, matanya menyiratkan sesuatu yang berbahaya. Stefa menyadari itu, alarm berbahaya di dalam otaknya mengetahui tatapan mata yang berbahaya seperti itu.


            Tak lama, pintu lift terbuka. Stefa langsung keluar dari lift dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di salah satu barisan mobil yang terparkir disana. Stefa melangkah cukup cepat, ia tak ingin mendapat perlakuan tak menyenangkan secara susulan. Tangannya bergerak di dalam tas mencari kunci mobil. Dan sialnya lagi, kunci mobil itu seolah terselip di antara beberapa barang pribadi di dalam tas miliknya.


            Tangannya masih mencari-cari kunci mobil itu. Segera, Stefa menekan tombol pembuka kunci otomatis dari remot mobil miliknya. Tangannya yang terasa lamban, segera di cegah oleh kedua lengan yang kokoh dan berurat itu.


            Stefa tersentak saat menyadari pria itu sudah berada di belakangnya dan mencengkeram kuat kedua lengan miliknya. Tanpa sadar, Stefa menahan napasnya. Bahkan ia tak sadar jika kunci mobil miliknya sudah terjatuh ke bawah.


            “Kau tak bisa lari dariku!” pria itu menggeram tertahan.


            “Tentu saja aku bisa lari darimu. Kau tak memiliki hak apapun atas diriku!” Stefa membalas pria itu dengan nada yang sengit. Merasa terancam, nyali Stefa mendadak mencuat ke permukaan sampai mampu membalas perkataan pria itu dengan nada tak bersahabat.


            Pria itu terkekeh, seolah ada yang lucu dari perkataan Stefa. “Tentu saja aku ber-hak atas dirimu, kau milikku.” Ucap pria itu tak mau kalah.


            Kini bergantian Stefa-lah yang terkekeh, mendengar ucapan pria itu terasa menggelitik indera pendengarannya. “Aku bukan barang yang bisa di miliki siapapun. Termasuk kau!” dengan sekuat tenaga, Stefa mampu melepaskan dirinya dari pria itu.


            Stefa berjongkok untuk mengambil kunci mobil miliknya, kemudian merapihkan pakaian yang terlihat kusut. Sebelum masuk ke dalam mobil, Stefa menatap penuh permusuhan pada pria itu yang hanya di balas senyuman miring yang khas dari pria itu. Buru-buru Stefa masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pria itu sendirian di area parkiran.

__ADS_1


            Sudah cukup jauh jarak antara dirinya dengan area tempatnya bekerja, barulah Stefa mengutuk dan memberikan sumpah serapahnya pada pria itu.


            “Ada apa dengan pria itu? Dia bertanya padaku mengapa aku menghindarinya, seharusnya dia sadar kenapa aku melakukan itu. Ingin rasanya aku menendang bokong seksi pria sialan itu.”


__ADS_2