
Please, guys ! Biasakan untuk follow dan like ya ! Aku gak muluk2 buat minta poin atau koin dari kalian, cukup kasih like sama follow aja. That's very simple, guys.. Dan aku mau ucapin makasih banyak buat kalian yang selalu sempetin baca cerita ini, yang udah like juga makasih banget, dan yang komen, maaf aku gak bisa bales satu per satu..
But, thank you so much for your support for me ... Love you guys ..
---------------------------------------------------------------
Semua mata tertuju pada sepasang pria dan wanita yang jelas berbeda jenis kelamin itu
saat mereka memasuki sebuah ruangan berjenis ballroom yang saat ini tengah dipakai untuk sebuah acara
penyambutan.
David dan Stefa berjalan menerobos para penghuni ballroom itu penuh dengan kepercayaan diri yang maksimal. Tangan David yang begitu enggan melepaskan rengkuhannya di pinggang ramping Stefa. Dan Stefa dengan berjalan begitu anggunnya membuat hampir seluruh tamu itu menatapnya penuh rasa iri.
“Kau lihat wanita itu?! Dia begitu cantik dan sempurna. Siapa dia?” seorang wanita yang turut menghadiri acara itu terdengar berbisik ke salah satu wanita lainnya yang turut hadir juga disana.
Bisik-bisik mulai semakin terdengar, semakin masuk ke dalam ballroom semakin terdengar jelas bisikkan-bisikkan itu. Sebenarnya Stefa sedikit risih karena hampir semua orang memperhatikan kedatangannya dengan David.
David begitu jengkel melihat mata para pria yang disana memandang Stefa penuh minat seolah ingin menelanjangi wanitanya. Ya, wanitanya. Setidaknya untuk sampai saat ini selama acara pesta
berlangsung, Stefa di klaim sebagai wanitanya.
Sepatu pesta dengan model Open-Toe Heels dengan memiliki warna senada dengan dress yang dipakai Stefa, semakin membuat Stefa begitu sempurna cantiknya malam ini. Menggunakan sepatu berjenis itu dengan dress model terbuka di bagian dada dan punggung sangatlah serasi. Stefa begitu berterima kasih kepada orang yang telah memberikan hadiah itu dan menaruhnya di depan pintu kamar Hotelnya.
Rupanya orang yang mengirim hadiah itu benar-benar mengerti fashion sehingga membuat Stefa tampak memukau malam ini. Buktinya, para tamu begitu memperhatikannya secara mendetail.
“Ya Tuhan, Stefa. Kau sangat sempurna malam ini.” pekik Judith saat mendapati Stefa dan David sudah
bergabung dengannya. Disana juga ada Revaldo yang sedang mengobrol dengan beberapa pria lainnya yang mungkin saja itu adalah rekan bisnisnya juga. Sama seperti David dan juga dirinya.
“Terima kasih, Judith. Malam ini kau juga begitu sangat cantik.” puji Stefa kembali saat melihat sekretarisnya
begitu cantik mempesona karena menggunakan dress yang tak kalah cantik dan seksinya.
“Kalian sudah datang?!” tanya Revaldo menghampiri ketiga orang yang sedang mengobrol itu.
“Kami baru saja datang.” Jawab David dengan tersenyum ramahnya. Stefa semakin dibuat ketar ketir saat melihat senyuman David yang begitu hangat. Membuat sisi liar Stefa serasa ingin keluar dari dalam tubuhnya dan mulai menggoda David saat ini juga.
“Oh, dear. Kau sangat cantik malam ini.” puji Revaldo saat memperhatikan Stefa begitu cantik malam ini. Sejujurnya Stefa sudah sangat bosan sedari tadi dia mendengar banyak orang mengatakan bahwa dirinya begitu cantik malam ini.
“Terima kasih, sir.” Balas Stefa dengan sedikit menyunggingkan senyumnya tanda menghargai pujian tulus dari Revaldo.
“Oh ayolah. Kau tak perlu memanggilku seformal itu, ini pesta. Pesta kita, dan kau jangan menyebutku
seperti itu. Panggil saja namaku. Bukan ‘kah begitu David?!” Revaldo meminta pendapat David untuk menghilangkan kata-kata formal malam ini. Tentu saja David menyetujui ucapan Revaldo. Mereka mulai menghilang ‘kan ucapan-ucapan formal yang menurutnya membosankan.
Revaldo menggiring ketiga orang itu untuk berkeliling dan memperkenalkan ke beberapa orang yang hadir di pesta itu. Mereka menyambutnya begitu hangat. Pepatah yang mengatakan bahwa orang Indonesia adalah orang yang hangat dan ramah benarlah adanya.
Buktinya, mereka begitu merasa nyaman karena orang-orang disana begitu terasa hangat dan ramah saat mereka mengobrol. Disana sudah ada beberapa wartawan yang siap meliput acara malam ini. Sepertinya mereka juga sudah menyiapkan berbagai macam pertanyaan yang akan mereka ajukan saat mewawancarai
David dan juga Revaldo.
“My Queen, aku akan meninggalkanmu sebentar bersama Judith. Aku harus pergi kesana dengan Revaldo. Nikmatilah pestanya tapi jangan pergi terlalu jauh sehingga aku bisa menemukan Ratuku kembali nantinya!” David menunjuk salah satu tempat yang sudah dipenuhi dengan beberapa wartawan. Disana sudah ada Revaldo
juga yang sedang mengobrol ringan dengan para wartawan sebelum acara resmi dimulai.
“Baiklah. Aku akan disini bersama Judith.” Jawab Stefa. Meskipun Stefa tidak bisa menunjukkan senyumannya, namun rona merah tidak bisa menutupi rasa malunya karena kalimat pertama yang
disebutkan David saat meminta ijin untuk meninggalkannya.
David mencium pipi Stefa dan langsung meninggalkannya disana bersama Judith. Melihat David mencium pipi Stefa, Judith dibuat gemas sendiri karena melihat betapa romantisnya bos besarnya itu.
“Astaga, Stefa. Dia benar-benar romantis sekali. Kau yakin tak terlibat affair dengannya?!”
__ADS_1
Stefa langsung menatap horor Judith dan dibalas cengiran tanpa dosa dari sekretarisnya itu.
“Meskipun dia romantis tetap saja dia bukan pasanganku yang sebenarnya. Kau terlalu banyak menonton drama-drama yang alur ceritanya tak akan jauh dari kata affair.” Ejek Stefa.
“Bisa saja kau terlibat affair dengan dia. Kalau aku jadi kau, tentu aku tak masalah terlibat hubungan seperti itu selama dia romantis kepadaku.” Judith membayangkan dirinya terlibat affair dengan David.
Stefa buru-buru menyentil kening Judith. Stefa tak habis pikir dengan sekretarisnya itu kenapa bisa memiliki
pikiran sebodoh itu.
“Yak. Kenapa kau menyentil keningku?” protes Judith seraya mengusap keningnya yang terasa sakit karena
ulah Stefa.
Stefa langsung mengangkat bahunya tak acuh, kemudian meninggalkan Judith disana yang masih mengaduh dan mengusap keningnya. Tenggorokan yang terasa mendadak haus itu membawa Stefa ke meja
dimana disana sudah tersedia berbagai jenis minuman.
Stefa mengambil gelas berkaki berisikan red wine kesukaannya. Seketika tenggorokannya terasa lega setelah menenggak minuman itu. Tangannya memutar-mutar wine yang ada di dalam gelas. Namun saat Stefa akan menenggak kembali winenya, mata Stefa menangkap sosok pria yang ia kenal selama ini. Pria itu sedang menatapnya tanpa tersenyum sama sekali, tangannya memegang gelas berkaki yang berisikan minuman beralkohol lainnya.
Pria itu menatapnya tanpa henti seolah tak berkedip sedetik pun. Tangan Stefa mulai gemetar tat kala pria itu menaruh gelasnya di atas meja dan berjalan pelan ke arahnya. Stefa mendadak membutuhkan Judith saat ini juga, tapi sekretarisnya itu malah menghilang entah kemana.
Stefa mendadak menyesal karena telah menyentil kening Judith dan meninggalkannya tadi. Jika saja tahu pria itu akan ada disini dan berjalan ke arahnya, Stefa tidak akan pernah ingin sendirian seperti sekarang.
“Hai, baby?!” pria itu berbisik di telinga kanan Stefa dan membuat Stefa mematung di tempat. Stefa mendadak tidak bisa bernapas sama sekali saat ini, pria itu kini sudah ada di hadapannya dengan seringaian jahatnya.
Buku-buku jari pria itu mengusap pipi Stefa dan membuatnya bergidik ngeri. Stefa memejamkan matanya sesaat untuk menetralkan rasa takut dan gugupnya. Tangannya sudah tidak lagi gemetaran terlihat dari wine yang ada di dalam gelas sudah tak lagi bergoyang kesana kemari di dalam gelas berkaki itu.
“Kau cantik sekali malam ini, dan terlihat... seksi.” Sekali lagi pria itu berbisik di telinga kanan Stefa dan
mengecup sudut bibir Stefa.
Tangan yang masih memegang gelas berkaki itu kembali gemetaran, satu tangan pria itu menahan tangan Stefa yang memegang gelas itu agar gelasnya tak jatuh karena tangan Stefa yang tak stabil.
“Ma-marshal?” ucap Stefa begitu pelan setelah menyadari pria itu benar-benar nyata ada di hadapannya.
“Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Stefa dengan menatap tajam Marshal.
Pria yang ada di hadapan Stefa saat ini adalah mantan kekasih sekaligus mantan calon tunangannya yang beberapa waktu lalu hampir memperkosanya secara paksa dan brutal. Entah apa yang dilakukan pria ini di pesta, dan siapa pula yang telah mengundang Marshal untuk datang di pesta ini.
“Tentu saja aku bisa ada disini. Karena kau.” Seringaian licik itu lagi yang mampu menghiasi wajah Marshal.
Stefa buru-buru mendorong tubuh Marshal dan menaruh gelas berkaki itu ke atas meja. Stefa berlari meninggalkan ballroom itu dan menyusuri lorong Hotel yang malah membawa Stefa ke kolam renang yang sangat sepi. Tak ada seorang pun yang berenang disana.
Stefa tidak bisa bergerak sama sekali. Trauma yang dideritanya tiba-tiba naik ke permukaan otaknya dan memerintahkan Stefa untuk tak bergerak sama sekali. Sekelebat bayangan saat ia tenggelam semasa kecil kembali melintas.
Tubuhnya mulai gemetaran tak terkendali. Sementara Marshal sudah berada di belakang Stefa dan dengan lancangnya menyentuh bahkan mengusap punggung telanjang Stefa. Stefa semakin bergidik ngeri, tubuhnya semakin gemetaran tak terkendali. Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya.
“Kau tak bisa lari dariku, sayang. Kau adalah milikku, kemana pun kau pergi. Aku pasti akan menemukanmu.” Marshal mengecup tengkuk leher Stefa dan menghirup aroma tubuh Stefa
sebanyak-banyaknya.
“Ma-marshal. Bisakah kau jangan seperti ini?! Kumohon.” Suara Stefa terdengar bergetar menahan ketakutannya. Disana benar-benar sangat sepi tak ada seorang pun, bahkan sepertinya petugas Hotel pun tak terlihat melintas di dekat area itu.
“Kenapa? Kau takut denganku?” Marshal tak bisa melepaskan tubuh Stefa begitu saja. Dengan keadaan Stefa saat ini, malah semakin membuat Marshal senang menggoda Stefa. Tangan nakal Marshal mulai memeluk Stefa dari belakang, menggesek-gesekkan bibirnya di sepanjang garis leher Stefa sampai ke tulang selangkanya. Mengecupnya disana penuh dengan hembusan napas yang menggoda.
Marshal membalikkan tubuh Stefa sekaligus dan membuat Stefa menghadapnya. Tatapan tajamnya seolah menelanjangi Stefa saat ini, namun dengan cepatnya Marshal merubah tatapannya dengan tatapan penuh kerinduan. Pertahanan Stefa hampir saja dibuat runtuh karena tatapan Marshal yang melembut dan penuh kerinduan itu.
Jika saja boleh jujur, Stefa masih mencintai Marshal dan merindukan setiap moment bersama Marshal. Tidak mudah melupakan orang yang telah menemaninya cukup lama dan menjalin hubungan cukup lama pula. Meskipun ada rasa benci terhadap Marshal, namun jauh di dalam hati Stefa. Pria itu masih menguasai hatinya.
“Kemarilah! Aku tahu kau takut dengan kolam renang.” Marshal menggandeng tangan Stefa sedikit menjauh dari kolam renang itu. Tentu saja Marshal tahu ketakutan Stefa saat melihat air dengan volume yang banyak itu.
Tak jauh dari kolam renang itu, ada kursi malas yang terbuat dari kayu pilihan berwarna coklat dengan tambahan busa empuk di atasnya agar terasa lebih nyaman saat orang menggunakannya.
__ADS_1
Marshal duduk di salah satu kursi malas itu dan menyuruh Stefa untuk duduk di sampingnya. Marshal sedikit mengubah posisi duduknya agar lebih leluasa menatap Stefa.
“Kau tahu, aku benar-benar merindukanmu. Maafkan aku karena pernah hampir memperkosamu malam itu. Sungguh, aku tak bermaksud seperti itu.” ucapan Marshal membuat Stefa sedikit terperangah. Dia tidak percaya bahwa Marshal mengatakan hal demikian.
“Kau tak seharusnya melakukan ini Marshal.” Stefa berdiri dan mencoba untuk meninggalkan Marshal disana, namun tangan Marshal dengan cepat menahan tangan Stefa untuk tidak pergi meninggalkannya sendirian.
“Dengarkan aku, Stefa!” ucap Marshal sedikit penuh penekanan.
“Duduklah! Aku tak akan menyakitimu.” Lanjutnya lagi.
Stefa kembali duduk di samping Marshal dan menatapnya penuh kehati-hatian, jaga-jaga jika Marshal berbuat macam-macam lagi.
“Katakan padaku, Marshal. Kenapa kau ada disini? Ini bukan pesta yang bisa dihadiri oleh sembarang orang.” Stefa memulai obrolan itu lebih dulu.
“Tentu saja aku bisa, Stefa. Sudah aku katakan, aku akan ada dimana pun kau berada.”
“Hentikan ini, Marshal! Kau tak bisa seenaknya datang dan pergi memasuki kehidupanku. Sudah cukup kau meninggal ‘kanku di acara terkutuk itu, ah tidak. Lebih tepatnya kau tak pernah datang di acara terkutuk itu.” jengah dengan sifat Marshal yang menurutnya seenaknya saja. Emosinya merasa terpancing membuat Stefa kembali mengungkit masalah yang sebenarnya enggan untuk dibahas.
“Aku tahu aku salah padamu, dan juga kepada keluargamu. Mungkin.”
“Mungkin? Kau bilang mungkin?” Stefa membentak Marshal.
“Kau benar-benar tidak tahu malu, Marshal. Sekarang biarkan aku mengatakannya padamu, Marshal.”
Napasnya memburu karena menahan kekesalan dan amarah kepada Marshal. Stefa kembali mengatur napasnya sebelum mengatakan sesuatu.
“Kita sudah lama berakhir, kau dan aku berakhir. Hubungan kita sudah berakhir saat kau memutuskan untuk tak pernah datang di acara terkutuk itu. Kau menghianatiku dengan berselingkuh dengan wanita yang mengaku saat ini sedang mengandung anakmu. Aku sudah memiliki pasanganku sendiri, kau tak perlu khawatir. Aku tidak akan pernah merusak hubunganmu dengan wanitamu hanya karena rasa dendamku padamu.”
“Tidak, Stefa. Dengarkan aku!” sela Marshal mencoba untuk membela diri.
“Hentikan! Aku belum selesai.”
“Aku sudah lama mengubur perasaanku padamu, semua waktu yang pernah kita lalui bersama sudah terkubur dengan perasaanku saat itu juga. Kau tak bisa hadir di kehidupanku seenaknya. Meskipun orang tuamu memang menyukaiku, tapi aku sudah tak ingin lagi bersamamu. Jadi kumohon, berhentilah muncul di hadapanku!” Stefa bangkit berdiri dan melangkah menjauh meninggalkan Marshal disana yang sedang mencerna ucapan Stefa.
Stefa tersentak saat sepasang tangan telah mendekapnya begitu erat dari belakang.
“Kumohon kembalilah kepadaku, Stefa!” ucap Marshal begitu pelan tapi masih bisa di dengar Stefa.
“Marshal, lepaskan!”
“Tidak.”
“Marshal, dengarkan aku! Kita tak bisa lagi bersama. Kau sudah memilih dia dari pada aku. Begitu pun denganku, aku sudah memiliki kekasih.” Dusta Stefa. Sejauh ini dirinya tak memiliki kekasih sama sekali. Stefa hanya ingin terlihat kuat dan baik-baik saja di depan Marshal. Pria yang telah menghianatinya.
“Kau bohong!” sentak Marshal dan mebalikan tubuh Stefa sekaligus.
“Kau bohong, Stefa! Aku tahu kau tak pernah menjalani hubungan dengan siapapun sampai sekarang.” Marshal berucap dengan geram saat Stefa berdusta di hadapannya.
“Aku tak pernah bohong, Marshal. Kau tahu aku kesini datang dengan siapa?!” Stefa tersenyum sinis.
“Aku datang dengan kekasihku. David Fritz. Dia kekasihku.” Stefa lagi-lagi berdusta dan menjadikan David sebagai tamengnya agar terlepas dari jeratan Marshal.
“Hhh..” Marshal tersenyum mengejek.
“Kau pikir aku tak tahu siapa David Fritz?! Dia sudah memiliki kekasih, dia memiliki hubungan dengan salah satu anak konglomerat. Dan dia tidak mungkin memilihmu yang hanya dari kalangan biasa. Kau tak sebanding dengannya.”
Perkataan Marshal begitu menyayat hati Stefa. Benar. Benar sekali apa yang dikatakan Marshal. Dia hanya dari kalangan biasa, bukan dari kalangan konglomerat, kerajaan ataupun lainnya. Dia hanya seorang Stefani Agatha. Wanita dari kalangan biasa.
Bersyukurlah Marshal mengingatkan akan kenyataan. Meskipun Stefa tak menaruh rasa kepada David, tapi setidaknya dia juga berharap ada orang yang benar-benar memilihnya sebagai pasangan hidup.
“Hahahahaha.....” Stefa tertawa hambar untuk menutupi rasa sakit hatinya. Meskipun ucapan Marshal ada benarnya, tapi hinaan itu tak bisa Stefa terima.
“Kau salah Marshal! Dia tak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun selain aku. Dia bahkan rela meninggalkan wanita mana pun hanya untukku. Tidak sepertimu yang malah meninggalkan aku dan memilih wanita lain.” Stefa kembali tertawa namun air mata yang tak diinginkan malah turun ke pipinya.
__ADS_1
Marshal tersentak saat Stefa menangis namun tetap berusaha tertawa agar terlihat lebih kuat di depannya.
Marshal langsung mendekap Stefa yang kini telah meangis sesenggukkan. Tubuhnya bergetar karena menangis, tangannya terkunci di samping tubuhnya sendiri. Sementara Marshal memeluk Stefa begitu erat.