
Tepat tiga hari setelah mengirimkan paket melalui kantor pos, paket itu tiba di bagian penerimaan surat yang nantinya akan didistribusikan ke bagian-bagiannya masing-masing. Saat Stefa hendak menaiki lift, seorang karyawan yang bekerja di bagian penerimaan surat sedang berbicara melalui telepon seraya berteriak memarahi seseorang yang sedang di ajaknya bicara.
“Apa? Bagaimana bisa paket itu ditolak begitu saja oleh Mr. David? Kau seharusnya mengatakan kalau paket itu memang ditujukan untuknya, mengenai nama pengirim dan alamat pengirim yang tidak disebutkan itu. Seharusnya kau bisa menanganinya dengan baik. Baiklah, biar aku saja yang mengantarnya!” karyawan itu langsung mematikan sambungan telepon itu seraya mendengus kesal.
Stefa tak berniat menguping pembicaraan karyawan itu, hanya saja mereka sama-sama menaiki lift yang sama dan mengantarkan mereka ke lantai yang berbeda. Setelah itu Stefa jadi bingung sendiri, jika paket yang ia kirim melalui pos tidak diterima oleh David dan malah ditolak mentah-mentah. Lantas ia harus bagaimana?
Tiba-tiba muncul inisiatif yang dibilang nekad di dalam otak Stefa yang berkelebat begitu saja.
“Maaf, permisi?” ucap Stefa terlebih dulu membuat karyawan itu berbalik menatapnya dan sedikit menunduk memberi hormat.
“Saya tadi mendengar pembicaraan Anda mengenai paket untuk Tuan David. Kalau boleh tahu, kenapa Tuan David menolaknya begitu saja?”
Karyawan itu menghela napas. “Beliau tidak mau menerimanya karena pengirim dan alamat si pengirim tidak tercantum dengan jelas. Ia menganggap paket itu hanya pekerjaan orang tidak jelas saja, jadi ia langsung menolaknya begitu saja.”
Stefa terdiam sesaat sebelum ia kembali mengutarakan niatnya.
“Emh, begini saja. Kebetulan saya mau menuju ruangannya Tuan David, mungkin Anda bisa memberikan paket itu pada saya. Biar nanti saya yang membantu menjelaskan pada Tuan David.”
Karyawan itu tertegun sesaat menimbang-nimbang tawaran Stefa yang nantinya akan meringankan pekerjaan dan bebannya.
“Apa boleh seperti itu?” tanya karyawan itu pada akhirnya setelah menimbang-nimbang keputusannya dengan matang.
Stefa tersenyum kecil kemudian mengangguk. “Tentu saja.”
Akhirnya karyawan itu mengarahkan Stefa untuk ikut dengannya ke bagian penerimaan surat atau pun paket, karyawan itu menyerahkan paket yang ia maksud sebelumnya di dalam lift kepada Stefa.
Berulang kali karyawan itu mengucapkan rasa terima kasihnya atas tawaran serta bantuan Stefa yang dianggap telah meringankan beban pekerjaannya itu. Jadi ia tak perlu diomeli oleh atasannya karena satu masalah telah ia cabut. Semoga saja David mau menerima paket itu dengan bantuan Stefa. Batin karyawan itu.
***
Sebelum ke ruangan David, Stefa menyempatkan dulu untuk menaruh tas dan barang bawaan lainnya ke ruang kerjanya. Ia meminta sekretaris sementaranya itu untuk menyiapkan laporan yang harus ia cek sebelum ia serahkan ke bagian terkait. Stefa menghempaskan tubuhnya untuk duduk di atas kursi kerjanya yang terasa nyaman.
Paket yang seharusnya hari ini David terima dan mengetahui tentang kehamilannya harus tertunda karena pria itu menolaknya mentah-mentah tanpa pertimbangan lebih. Stefa mengecek handphone-nya dan membuka salah satu sosial medianya, ia mengecek beberapa akun resmi yang biasa menyajikan berita terkini. Ia mencari-cari berita terbaru dan perkembangan skandal Marshal dan Deborah
Ia tak bermaksud untuk ikut campur dalam masalah mereka, ia hanya penasaran saja akan kelanjutan dari berita itu. Sejauh ini dari kedua belah pihak sama-sama belum menggelar konferensi pers dan mengklarifikasi berita tersebut.
Jempolnya bergerak menggeser layar dari bawah ke atas untuk terus menggeser layarnya dan mencari berita terbaru yang menurutnya menarik. Sesekali jempolnya harus mengklik sebuah gambar di mana hampir keseluruhannya menyatakan bahwa memang belum ada perkembangan apa pun dari kedua belah pihak.
Stefa kembali menggerakkan jempolnya itu ke bawah, kemudian di tarik lagi ke atas untuk menggeser layar
handphone-nya. Entah mata Stefa yang terlalu jeli atau memang ini sebuah kebetulan, salah satu akun memposting berita tentang pesta pertunangan anak konglomerat di London yang sudah sangat terkenal itu dengan seorang pria pengusaha yang sukses.
__ADS_1
Stefa semakin dibuat penasaran karena di postingan itu tidak ada foto si pria yang sedang di gadang-gadangkan akan bertunangan dengan anak konglomerat terkenal itu. Begitu juga dengan foto anak konglomerat itu.
“Kenapa mereka tidak memasang fotonya? Kan ini namanya membuat penasaran orang-orang, termasuk aku.” Gumam Stefa dengan mata yang masih menatap setia berita itu.
Ia mulai mencari-cari berita terkait di Google, siapa tahu di sana ia bisa menemukan hal yang bisa mengurangi rasa penasarannya. Dan benar saja, kali ini ia benar-benar kehilangan minat penasarannya setelah mendapatkan artikel yang ia cari.
Di salah satu laman media memposting foto seorang pria dan wanita. Di mana ia mengenali siapa pria tersebut tetapi tidak dengan wanita yang berada di samping pria itu. Foto itu diambil diam-diam oleh salah satu paparazi yang berhasil memotret kebersamaan pria dan wanita itu.
Kedua orang itu tertangkap sedang makan di sebuah restaurant terkenal dan mewah di London. Di foto itu mereka tampak begitu romantis dan sangat serasi. Pria itu memperlakukan wanita itu dengan romantis, menggenggam tangan wanita itu saat mereka akan keluar dari restaurant.
Di foto lainnya, pria itu memasangkan mantel untuk menghangatkan tubuh wanita itu agar tidak terkena
angin malam yang terasa dingin pada saat itu. Wanita itu tersenyum dengan manisnya, matanya menunjukkan betapa ia menyukai perhatian kecil itu dari pria itu.
Caitlin Felicity Greicy, wanita yang berusia 27 tahun. Dengan rambut merah madunya serta mata yang berwarna hazel itu tampak mempesona. Tubuhnya terbentuk ramping dengan sempurna namun dada serta bokongnya begitu terbentuk besar sempurna. Tampak cocok untuk wanita bernama Caitlin itu.
Di dalam artikel lainnya, Stefa menemukan berita yang mengatakan bahwa Caitlin memiliki darah bangsawan karena masih memiliki ikatan keluarga dengan keluarga kerajaan. Baiklah, dilihat dari artikel yang Stefa baca ternyata ia kalah telak. Bahkan ia tak memiliki arti apa pun dan tak memiliki kelebihan-kelebihan yang harus dibandingkan dengan Caitlin.
“Huh, semua pria memang sama saja. Pria itu menanam benih berkualitas di dalam rahimku dan menjanjikan untuk bertanggung jawab, nyatanya pria itu malah mengumumkan pesta pertunangannya.”
Stefa mengejek dirinya sendiri. Beberapa hari yang lalu berita tentang skandal Marshal dan Deborah menjadi berita utama, kini harus tergeser karena berita pesta perunangan Caitlin yang akan digelar sebentar lagi. Tentu saja Stefa mengenali siapa pria itu, David. Ya pria itu adalah David Fritz pemilik sekaligus CEO The Fritz Group di mana ia saat ini telah berada di dalam perusahaan tersebut.
“Kau akan tumbuh menjadi anak berkualitas seperti yang Daddy-mu katakan saat menanamkan benihnya di dalam rahimku. Aku akan mengurusmu dengan ada atau tanpanya, jadi bersikap baiklah padaku!” Stefa seolah sedang berbicara dengan sosok bayi yang sudah terlahir ke dunia ini, nyatanya benih berkualitas itu belum terbentuk sempurna di dalam rahimnya.
***
Stefa menuju ruangan David untuk menyerahkan paket yang sempat ia kirim melalui pos yang berakhir di tolak mentah-mentah oleh David. Ia memutuskan untuk mengantarkannya sekaligus untuk meminta keterangan mengenai berita pertunangan pria itu dengan si wanita konglomerat sekaligus bangsawan itu.
Namun langkahnya terhenti tepat sebelum ia mengetuk pintu besar itu karena mendengar suara yang begitu
mengganggu pendengarannya. Dan di mana asisten David itu, kenapa tidak ada di meja kerjanya?! Stefa menajamkan pendengarannya dan menempelkan telinganya di pintu besar itu.
Suara aneh itu semakin terdengar jelas di telinganya, tangan Stefa tak bisa diam begitu saja. Tangannya begitu terasa gatal untuk sedikit mendorong pintu itu agar terbuka walau hanya sedikit saja. Ia mendorong pintu itu pelan-pelan agar orang yang di dalam tidak menyadarinya sama sekali bahwa pintu telah di dorong oleh seseorang dari luar.
Mata Stefa menatap horor tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. David sedang bercumbu dengan seorang wanita yang setengah telanjang itu. Wanita itu duduk di atas pangkuan David yang sedang duduk di kursi kerjanya, posisi wanita itu membelakangi pintu sehingga Stefa tak mampu melihat dengan jelas wajah wanita itu.
Namun hatinya terasa tergelitik dan berdenyut merasakan perih, ia meremas dadanya kuat-kuat untuk meredakan rasa perih di dadanya. Mungkin itu efek hormon ibu-ibu hamil, tidak mungkin kalau Stefa merasa tersakiti melihat David yang sedang mencumbu seorang wanita.
David sedang bermain di area gundukan kenyal milik wanita itu yang masih terhalang oleh bra berwarna merah terang. Sedangkan wanita itu menengadahkan kepalanya ke atas menikmati sentuhan David di gundukan kenyal miliknya. Stefa mengumpat berulang kali di dalam hatinya, menyumpahi ketololannya karena ia harus datang ke sana.
Pintu itu kembali ditutup sebelum kedua manusia yang sedang asyik bercumbu itu menyadarinya dan menoleh padanya. Stefa menenangkan dadanya yang masih berdenyut perih tak karuan itu. Kemudian tangannya terangkat dan mengetuk pintu tiga kali memberi kesempatan kedua manusia yang sedang bercumbu itu untuk merapikan pakaian mereka.
__ADS_1
Mendengar ketukan pintu ruangannya, David mengabaikannya sampai suara ketukan itu hilang. Ia melanjutkan kembali aktivitas bercumbunya dengan wanita yang sedang mendesah kenikmatan di atas pangkuannya.
Setelah 5 menit, ketukan itu terdengar lagi dan kali ini berhasil membuat David menghentikan aktivitasnya.
Pria itu menyuruh wanita itu untuk merapikan kembali pakaiannya dan mengatakan mereka akan melanjutkannya kembali setelah orang yang berada di balik pintu itu pergi setelah menyampaikan urusannya.
Mendengar perintah masuk dari dalam, Stefa tahu kalau pria itu sedang menahan geramannya karena aktivitasnya terganggu. Stefa mendorong pintu itu pelan-pelan kemudian menegakkan tubuhnya dan berjalan angkuh menuju meja David. Ia merasa risih, malu dan geram melihat pemandangan tak pantas di hadapannya. Wanita yang setengah telanjang tadi masih duduk di atas pangkuan David dengan kedua tangan yang bergelayut manja di leher David. Tetapi kali ini pakaiannya sudah rapi kembali, mungkin itu alasannya kenapa David tak kunjung menyahutinya dari dalam selama 5 menit yang lalu.
Stefa kali ini bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas, rupanya wanita itu bukanlah wanita yang sempat ia
lihat di artikel-artikel tadi. Ini wanita lain lagi, WANITA LAIN! Catat itu! Stefa mengalihkan pandangannya dari wanita itu dan menatap David, sebelumnya ia berdeham demi menetralkan geramannya yang tertahan.
“Maaf saya mengganggu Anda, Sir. Saya ingin menyerahkan paket ini pada Anda.” Ucap Stefa seraya menyimpan paket itu di atas meja kerja David. Pria itu mengangkat satu alisnya seolah sedang menanyakan paket apa itu.
Stefa dibuat mengerti dengan tatapan David dengan satu alis yang terangkat.
“Ini ada paket untuk Anda yang sepertinya PENTING, namun nama pengirim dan alamatnya tidak tercantum.” Jelas Stefa dengan menekan kata penting itu agar David mengerti dan mau menerimanya.
David menatap paket itu bergantian dengan menatap Stefa. Kemudian pria itu tersenyum aneh, lantas tangannya menepuk bokong wanita itu yang membuat wanita itu terpekik dengan suaranya menggoda.
“Turunlah dulu, aku harus membukanya!” perintah David. Wanita itu terpaksa harus turun dari pangkuan
David dan menatap Stefa tidak suka. Tangan wanita itu masih bergelayut manja di leher David dari belakang.
Stefa menyadari David akan membuka itu, ia langsung menahan David untuk tidak membukanya sekarang karena kalau sampai pria itu melakukannya. Maka akan ada orang lain yang mengetahui isi paket itu.
“Benih berkualitas yang Anda tanam sudah tumbuh dengan usia yang sudah menginjak satu setengah bulan. Dan benih berkualitas itu sudah berada di dalam tempat yang Anda inginkan dan akan tumbuh menjadi sesuatu yang berkualitas sesuai dengan yang Anda ucapkan saat Anda menanam benih itu. Sayangnya, sepertinya semua ucapan Anda waktu itu tidak sepenuhnya benar dan harus saya percayai. Bagi saya, Anda adalah seorang Big Liar!” Stefa langsung menyela David dengan kode yang hanya dapat dimengerti olehnya dan pria itu.
David langsung berhenti untuk meraih paket itu kemudian menatap Stefa yang memasang wajah datarnya. Ada rasa senang di dalam hati David, namun ia juga tak percaya benih berkualitas yang ia tanam benar-benar tumbuh di dalam rahim Stefa. Tapi, apa maksud Stefa yang mengatainya seorang pembohong besar?
“Saya tak menyangka Anda tidak bisa menepati ucapan serta janji Anda pada saat itu. Bahkan sepertinya Anda saat ini sudah siap untuk menanamkan benih berkualitas lainnya ke ladang lainnya. Padahal Anda sebentar lagi akan mengadakan PESTA.” Stefa tersenyum sinis namun matanya menyiratkan rasa sakit entah karena apa.
“Sayang, maksud wanita ini apa? Aku tak mengerti dengan benih berkualitas yang selalu dia ucapkan dari tadi? Apa kau sedang menanam sesuatu atau akan memanen sesuatu?” tanya wanita itu dengan nada yang dibuat-buat membuat Stefa mencebik jijik.
“Tentu saja pria yang sedang kau rayu itu sudah menanam benih berkualitas di ladang berkualitas milikku. Setelah sembilan bulan ladang itu menerima benih berkualitasnya, maka akan dipanen dan menghasilkan hasil panen yang berkualitas dari ladangku.” Stefa menjawab pertanyaan wanita itu dalam hatinya.
Tak mau berlama-lama di ruangan yang sama dengan David dan wanita itu yang hampir ditanami benih berkualitasnya pria itu, Stefa langsung pamit undur diri dan meninggalkan ruangan David tanpa berniat untuk membalikkan tubuhnya sekali lagi.
David menyingkirkan tangan wanita yang hampir bercumbu dengannya beberapa menit yang lalu dari lehernya. Pria itu menatap wanita itu dengan tatapan tajamnya.
“Sebaiknya sekarang kau keluar dari ruanganku, dan jangan pernah kembali lagi untuk menemuiku!” setelahnya David langsung meninggalkan wanita itu sendirian di ruangan David dengan perasaan dongkol tak tertahankan karena dicampakkan begitu saja oleh seorang David. Pria itu bergegas untuk menyusul Stefa, namun jejak wanita itu telah hilang lebih dulu.
__ADS_1