
Setelah selesai melakukan sarapan bersama, Judit dan Stefa kembali ke kamar
masing-masing dikarenakan Revaldo yang menyarankan mereka untuk kembali ke
kamar atau setidaknya mereka harus melakukan perawatan kulit tubuh mereka
selama tidak mengunjungi lokasi proyek berlangsung.
David dan Revaldo rupanya masih terlihat betah berada di restaurant Hotel itu. Obrolan mereka tidak akan jauh dari urusan pekerjaan, kedua bos besar bertemu sudah pasti pekerjaanlah yang mereka
bicarakan.
“Besok acaranya akan dimulai pukul 7 malam. Aku harap kalian akan menyukai pesta
penyambutan itu.” Revaldo mengharapkan jika pesta penyambutan yang ia siapkan
setidaknya membuat David dan dua karyawannya menyukainya.
“Baiklah. Dan tentu saja aku dan kedua karyawanku akan sangat menyukainya. Aku harap, aku
tidak merepotkanmu untuk urusan ini!”
“Tidak masalah. Ini memang sudah aku rencanakan dari awal, aku pikir kau tidak akan
datang kesini. Tapi bersyukurlah, kau akhirnya datang kesini. Setidaknya rencana
acara pesta penyambutan ini akan bertambah meriah dan berkesan. Kau benar-benar
harus hadir disana, David!”
David terkekeh mendengar penuturan Revaldo. Sejujurnya Revaldo sudah lama
menginginkan acara pesta penyambutan ini, yang di tujukan untuk kedua karyawan
David sebagai perwakilan dari perusahaan David. Namun, karena mereka terlalu
sibuk dan fokus terhadap pekerjaan masing-masing menyebabkan Revaldo lupa akan
rencana penyelenggaraan pesta penyambutan itu.
Dengan kehadiran David sekarang, setidaknya rencana Revaldo akan berjalan lancar. Dua
perusahaan besar bekerja sama, dan hadir dalam sebuah pesta mewah dan meriah
secara bersamaan itu adalah suatu kebanggaan.
Disana akan ada banyak pers atau media yang akan meliput mereka nantinya. Dunia
penasaran betul mengapa kedua perusahaan besar mau bekerja sama dan malah bukan
menjadi musuh dalam berbisnis. Revaldo dan David akan memberi tahukan kepada
khalayak publik mengapa mereka memutuskan untuk bekerja sama.
Di lain sisi. Stefa sudah sampai di kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di
atas tempat tidur. Sudah lama dia tidak menghubungi sahabatnya yang berada di
London. Stefa berniat untuk menghubungi sahabat yang berada di London sore hari
nanti atau saat malam nanti. Perbedaan waktu yang cukup jauh membuat Stefa
takut mengganggu keseharian sahabatnya jika ia memutuskan untuk menghubunginya
sekarang.
Stefa perlu menyesuaikan waktu yang pas dan tepat. Stefa menatap handphonenya
berulang kali, menggeser ke bawah lalu naik lagi ke atas tidak jelas. Dia merasa
bosan berada di kamar itu sendirian. Setidaknya, jika dia satu lantai dengan
Judith itu akan memudahkan Stefa untuk minta ditemani oleh sekretarisnya.
Tak lama, handphone milik Stefa berdering. Baru saja ia memikirkan sekretarisnya
dan orang yang sedang dipikirkan pun langsung menghubunginya. Buru-buru Stefa
langsung menggeser tombol warna hijau yang berada di layar.
“Hallo?” ucap Stefa setelah menempelkan handphone di telinganya.
“Yak, Stefa. Kau sudah tahu besok acaranya dimulai jam berapa?”
“Emmh, aku belum tahu. Kau sudah tahu?” tanya Stefa balik.
“Tentu saja. Sekretarismu ini bisa diandalkan, jadi harusnya kau bangga padaku karena
memiliki sekretaris sepertiku.!” Ucapnya bangga.
Stefa memutar bola matanya malas. “Ya, baiklah. Terserah kau saja!”
“Tunggu aku, aku akan ke kamarmu, oke?!” tanpa menunggu jawaban dan persetujuan Stefa,
Judith langsung mematikan sambungan teleponnya.
Untuk mengusir rasa bosan yang mendera Stefa, Stefa memutuskan untuk menonton siaran
__ADS_1
di televisi. Dia berjalan menuju ruangan televisi, ruangan itu terletak menyatu
dengan ruang tamu. Disana, Stefa bisa melihat mini bar dan dapur secara
langsung dari ruang televisi.
Stefa langsung mengambil remot televisi dan menyalakannya. Stefa mencari saluran
televisi yang menyiarkan acara luar negeri, namun tak banyak saluran televisi
yang menanyangkan film atau berita di luar negeri sana. Kebanyakan channel yang
Stefa temukan menyiarkan acara lokal.
Tak lama, bunyi bel terdengar. Stefa segera bangkit dan berjalan ke pintu utama
kamar Hotel dan segera membukanya.
“Holaaaaa?!” seru Judith saat Stefa sudah membuka ‘kan pintu untuknya. Judith langsung
merangsek masuk begitu saja tanpa si pemilik kamar Hotel menyuruhnya masuk.
“Bisakah kau tidak seheboh itu, Judith?!” tutur Stefa yang sudah tahu betul sifat
Judith.
“Ini!” Judith menyerahkan kotak berukuran sedang di tangannya dan menyerahkannya
kepada Stefa.
“Apa ini?” tanya Stefa bingung.
“Aku tidak tahu, kau buka saja!” jawab Judith tak acuh dan mengangkat bahunya.
“Dari mana kau mendapatkan ini?” tanya Stefa menyelidik dan tak urung juga dia
mengambil kotak berukuran sedang itu dari tangan Judith.
Judith langsung duduk di tuang televisi dan menekan-nekan tombol yang ada di remot
untuk mencari siaran yang bisa ia tonton.
“Aku menemukan itu di depan pintu kamar Hotelmu.”
Stefa mengernyit keheranan, pasalnya sedari tadi tidak ada yang menekan bel atau
mengetuk pintu untuk memberi tahu bahwa Stefa telah mendapatkan hadiah atau
apapun itu. Terserahlah.
terkejut saat ia tahu isi dari kotak yang di bawa Judith.
“Ada apa? Kau mengaget ‘kan ku saja.” Ucap Judith seraya mengelus dadanya naik turun
karena terkejut mendengar Stefa yang memekik.
“Kau lihat ini!” ujar Stefa meminta Judith untuk melihat isi dari isi kotak itu.
Judith langsung menggeser tubuhnya untuk mendekati Stefa, dia langsung merebut kotak
yang sempat ia temukan di depan pintu kamar Hotel Stefa. Sama seperti Stefa,
Judith pun ikut memekik terkejut melihat isi kotak itu.
Matanya melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia langsung menatap Stefa penuh
tanda tanya.
“Kau... Kau mendapatkan semua ini?” tanya Judith tak percaya.
Stefa mengangguk semangat.
“Kau memiliki penggemar rahasia?” tanya Judith lagi masih tak percaya.
Stefa langsung memutar bola matanya. “Aku tak tahu.”
“Wah, wah, wah. Kau baru tinggal beberapa bulan disini, dan kau. Kau sudah memiliki
penggemar rahasia. Aku iri padamu, Stefa.”
“Kau berlebihan. Kau ambil saja semua ini!” Stefa langsung menutup kotak itu dan
meyerah ‘kannya kepada Judith.
“Kau gila?! Dress, sepatu dan tas pesta
ini semua untukmu, dan kau malah memberikannya padaku?!”
Stefa mengedikan bahunya tak acuh.
“Tidak, tidak. Kau saja yang ambil! Lagi pula itu bukan ukuranku, itu pasti sudah jelas
ukuranmu. Kau harus menerimanya, dan sepertinya semua ini ditujukan agar kau
bisa mengenakannya besok ke pesta.”
“Baiklah, aku akan mengambilnya.” Jawab Stefa terdengar pasrah.
__ADS_1
Stefa langsung meletakkan kotak itu ke dalam kamarnya dan menyimpannya di atas meja
rias. Sebelum kembali menemani Judith, Stefa kembali melirik sekilas kotak itu.
Isi dari dalam kotak itu berupa dress dengan merek ternama, harganya bisa ditaksir menyentuh angka puluhan juta hanya untuk seukuran dress. Belum lagi sepatu dan juga tas pesta dengan merek ternama lainnya, kalau di jumalahkan. Barang-barang yang Stefa terima bisa sampai menyentuh angka ratusan juta.
Stefa tak habis pikir dengan orang yang mengiriminya barang-barang mewah itu.
Bukannya merasa senang, justru Stefa terkesan tak suka menerima barang mewah
seperti itu. Terlebih lagi Stefa tidak mengetahui siapa pengirimnya, bahkan tak
ada notes kecil yang Stefa temukan di dalam kotak itu.
Stefa duduk di samping Judith yang sedang menonton siaran televisi yang menanyangkan
drama percintaan dari negara yang terkenal, Korea Selatan. Meskipun Judith tak
terlalu mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan, beruntung saja di bawahnya
ada sejenis teks penerjemah.
“Jadi, besok acaranya jam berapa?” tanya Stefa sambil merebut remot yang ada di tangan
Judith.
“Yak. Kembalikan remotnya, aku sedang menonton itu!” Judith berusaha merebut kembali
remot yang sempat direbut Stefa.
“Jawab dulu pertanyaanku!”
Judith menghembuskan napasnya kesal. “Jam 7 malam. Sekarang kembalikan remotnya!”
Judith merebut kembali remot yang ada di tangan Stefa. Stefa membiarkan sekretaris
sekaligus temannya itu menikmati tayangan drama percintaan itu lagi. Judith
tampak serius saat menonton siaran itu, Stefa berjalan ke arah mini bar untuk mengambil
minuman untuk mereka berdua.
Ting tong.
Ting tong.
Bunyi bel berbunyi, mengalihkan pandangan Judith ke arah pintu lalu menatap Stefa.
“Siapa?” tanya Judith pada Stefa yang dibalas dengan gedikan bahu tak acuh Stefa.
“Kau buka saja pintunya!” titah Stefa yang sudah berjalan kembali ke arah Judith.
“Ckk. Kau ini. Ini ‘kan kamar Hotelmu, kenapa malah jadi aku yang harus membuka
pintunya?!” gerutu Judith.
“Kau ‘kan yang menumpang nonton disini, berarti kau yang membuka pintu itu.” balas
Stefa tak mau kalah dan menenggak minuman bersoda dari kemasan kaleng yang ia
ambil dari mini bar tadi.
Judith mau tak mau mengikuti apa kata Stefa dan segera ingin membuka ‘kan pintu kamar
itu.
“Wait! I’m coming.” Teriak Judith dari dalam.
Kleekk.
Judith langsung terpaku dan tak berkutik saat membuka pintu utama kamar itu. Matanya
mengedip berulang kali untuk memperjelas penglihatannya.
“Boleh saya masuk?” tanya orang yang menekan bel tadi.
Bukannya menjawab, Judith malah menutup kembali pintu itu dengan sedikit membanting.
Judith buru-buru berlari kecil ke arah Stefa.
“Yaaakk, Stefaaa! Kau lihat itu, di depan.. Waaahh, aku tidak bisa berkata-kata.”
Ucapnya tak jelas dan sedikit berteriak.
“Bisakah kau tak berteriak?! Siapa yang datang?” tanya Stefa.
Judith berkacak pinggang dan menunjuk ke arah pintu yang sempat ia buka dan ia tutup
lagi.
“Kau buka saja sendiri! Aku tak sanggup melihatnya.” Ucap Judith.
Stefa langsung mencebik saat Judith mengatakan hal konyol itu. Stefa langsung turun
dari sofa dan segera membuka pintu utama. Sama seperti Judith, ia juga terpaku
dan tak berkutik saat melihat siapa yang datang.
__ADS_1