My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 22 Bingung


__ADS_3

    Setelah selesai melakukan sarapan bersama, Judit dan Stefa kembali ke kamar


masing-masing dikarenakan Revaldo yang menyarankan mereka untuk kembali ke


kamar atau setidaknya mereka harus melakukan perawatan kulit tubuh mereka


selama tidak mengunjungi lokasi proyek berlangsung.


    David dan Revaldo rupanya masih terlihat betah berada di restaurant Hotel itu. Obrolan mereka tidak akan jauh dari urusan pekerjaan, kedua bos besar bertemu sudah pasti pekerjaanlah yang mereka


bicarakan.


    “Besok acaranya akan dimulai pukul 7 malam. Aku harap kalian akan menyukai pesta


penyambutan itu.” Revaldo mengharapkan jika pesta penyambutan yang ia siapkan


setidaknya membuat David dan dua karyawannya menyukainya.


    “Baiklah. Dan tentu saja aku dan kedua karyawanku akan sangat menyukainya. Aku harap, aku


tidak merepotkanmu untuk urusan ini!”


    “Tidak masalah. Ini memang sudah aku rencanakan dari awal, aku pikir kau tidak akan


datang kesini. Tapi bersyukurlah, kau akhirnya datang kesini. Setidaknya rencana


acara pesta penyambutan ini akan bertambah meriah dan berkesan. Kau benar-benar


harus hadir disana, David!”


    David terkekeh mendengar penuturan Revaldo. Sejujurnya Revaldo sudah lama


menginginkan acara pesta penyambutan ini, yang di tujukan untuk kedua karyawan


David sebagai perwakilan dari perusahaan David. Namun, karena mereka terlalu


sibuk dan fokus terhadap pekerjaan masing-masing menyebabkan Revaldo lupa akan


rencana penyelenggaraan pesta penyambutan itu.


    Dengan kehadiran David sekarang, setidaknya rencana Revaldo akan berjalan lancar. Dua


perusahaan besar bekerja sama, dan hadir dalam sebuah pesta mewah dan meriah


secara bersamaan itu adalah suatu kebanggaan.


    Disana akan ada banyak pers atau media yang akan meliput mereka nantinya. Dunia


penasaran betul mengapa kedua perusahaan besar mau bekerja sama dan malah bukan


menjadi musuh dalam berbisnis. Revaldo dan David akan memberi tahukan kepada


khalayak publik mengapa mereka memutuskan untuk bekerja sama.


    Di lain sisi. Stefa sudah sampai di kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di


atas tempat tidur. Sudah lama dia tidak menghubungi sahabatnya yang berada di


London. Stefa berniat untuk menghubungi sahabat yang berada di London sore hari


nanti atau saat malam nanti. Perbedaan waktu yang cukup jauh membuat Stefa


takut mengganggu keseharian sahabatnya jika ia memutuskan untuk menghubunginya


sekarang.


    Stefa perlu menyesuaikan waktu yang pas dan tepat. Stefa menatap handphonenya


berulang kali, menggeser ke bawah lalu naik lagi ke atas tidak jelas. Dia merasa


bosan berada di kamar itu sendirian. Setidaknya, jika dia satu lantai dengan


Judith itu akan memudahkan Stefa untuk minta ditemani oleh sekretarisnya.


   Tak lama, handphone milik Stefa berdering. Baru saja ia memikirkan sekretarisnya


dan orang yang sedang dipikirkan pun langsung menghubunginya. Buru-buru Stefa


langsung menggeser tombol warna hijau yang berada di layar.


    “Hallo?” ucap Stefa setelah menempelkan handphone di telinganya.


    “Yak, Stefa. Kau sudah tahu besok acaranya dimulai jam berapa?”


    “Emmh, aku belum tahu. Kau sudah tahu?” tanya Stefa balik.


    “Tentu saja. Sekretarismu ini bisa diandalkan, jadi harusnya kau bangga padaku karena


memiliki sekretaris sepertiku.!” Ucapnya bangga.


    Stefa memutar bola matanya malas. “Ya, baiklah. Terserah kau saja!”


    “Tunggu aku, aku akan ke kamarmu, oke?!” tanpa menunggu jawaban dan persetujuan Stefa,


Judith langsung mematikan sambungan teleponnya.


    Untuk mengusir rasa bosan yang mendera Stefa, Stefa memutuskan untuk menonton siaran

__ADS_1


di televisi. Dia berjalan menuju ruangan televisi, ruangan itu terletak menyatu


dengan ruang tamu. Disana, Stefa bisa melihat mini bar dan dapur secara


langsung dari ruang televisi.


    Stefa langsung mengambil remot televisi dan menyalakannya. Stefa mencari saluran


televisi yang menyiarkan acara luar negeri, namun tak banyak saluran televisi


yang menanyangkan film atau berita di luar negeri sana. Kebanyakan channel yang


Stefa temukan menyiarkan acara lokal.


    Tak lama, bunyi bel terdengar. Stefa segera bangkit dan berjalan ke pintu utama


kamar Hotel dan segera membukanya.


    “Holaaaaa?!” seru Judith saat Stefa sudah membuka ‘kan pintu untuknya. Judith langsung


merangsek masuk begitu saja tanpa si pemilik kamar Hotel menyuruhnya masuk.


    “Bisakah kau tidak seheboh itu, Judith?!” tutur Stefa yang sudah tahu betul sifat


Judith.


    “Ini!” Judith menyerahkan kotak berukuran sedang di tangannya dan menyerahkannya


kepada Stefa.


    “Apa ini?” tanya Stefa bingung.


    “Aku tidak tahu, kau buka saja!” jawab Judith tak acuh dan mengangkat bahunya.


    “Dari mana kau mendapatkan ini?” tanya Stefa menyelidik dan tak urung juga dia


mengambil kotak berukuran sedang itu dari tangan Judith.


    Judith langsung duduk di tuang televisi dan menekan-nekan tombol yang ada di remot


untuk mencari siaran yang bisa ia tonton.


    “Aku menemukan itu di depan pintu kamar Hotelmu.”


    Stefa mengernyit keheranan, pasalnya sedari tadi tidak ada yang menekan bel atau


mengetuk pintu untuk memberi tahu bahwa Stefa telah mendapatkan hadiah atau


apapun itu. Terserahlah.


terkejut saat ia tahu isi dari kotak yang di bawa Judith.


    “Ada apa? Kau mengaget ‘kan ku saja.” Ucap Judith seraya mengelus dadanya naik turun


karena terkejut mendengar Stefa yang memekik.


    “Kau lihat ini!” ujar Stefa meminta Judith untuk melihat isi dari isi kotak itu.


    Judith langsung menggeser tubuhnya untuk mendekati Stefa, dia langsung merebut kotak


yang sempat ia temukan di depan pintu kamar Hotel Stefa. Sama seperti Stefa,


Judith pun ikut memekik terkejut melihat isi kotak itu.


    Matanya melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia langsung menatap Stefa penuh


tanda tanya.


    “Kau... Kau mendapatkan semua ini?” tanya Judith tak percaya.


    Stefa mengangguk semangat.


    “Kau memiliki penggemar rahasia?” tanya Judith lagi masih tak percaya.


    Stefa langsung memutar bola matanya. “Aku tak tahu.”


    “Wah, wah, wah. Kau baru tinggal beberapa bulan disini, dan kau. Kau sudah memiliki


penggemar rahasia. Aku iri padamu, Stefa.”


    “Kau berlebihan. Kau ambil saja semua ini!” Stefa langsung menutup kotak itu dan


meyerah ‘kannya kepada Judith.


“Kau     gila?! Dress, sepatu dan tas pesta


ini semua untukmu, dan kau malah memberikannya padaku?!”


    Stefa mengedikan bahunya tak acuh.


    “Tidak, tidak. Kau saja yang ambil! Lagi pula itu bukan ukuranku, itu pasti sudah jelas


ukuranmu. Kau harus menerimanya, dan sepertinya semua ini ditujukan agar kau


bisa mengenakannya besok ke pesta.”


    “Baiklah, aku akan mengambilnya.” Jawab Stefa terdengar pasrah.

__ADS_1


    Stefa langsung meletakkan kotak itu ke dalam kamarnya dan menyimpannya di atas meja


rias. Sebelum kembali menemani Judith, Stefa kembali melirik sekilas kotak itu.


    Isi dari dalam kotak itu berupa dress dengan merek ternama, harganya bisa ditaksir menyentuh angka puluhan juta hanya untuk seukuran dress. Belum lagi sepatu dan juga tas pesta dengan merek ternama lainnya, kalau di jumalahkan. Barang-barang yang Stefa terima bisa sampai menyentuh angka ratusan juta.


    Stefa tak habis pikir dengan orang yang mengiriminya barang-barang mewah itu.


Bukannya merasa senang, justru Stefa terkesan tak suka menerima barang mewah


seperti itu. Terlebih lagi Stefa tidak mengetahui siapa pengirimnya, bahkan tak


ada notes kecil yang Stefa temukan di dalam kotak itu.


    Stefa duduk di samping Judith yang sedang menonton siaran televisi yang menanyangkan


drama percintaan dari negara yang terkenal, Korea Selatan. Meskipun Judith tak


terlalu mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan, beruntung saja di bawahnya


ada sejenis teks penerjemah.


    “Jadi, besok acaranya jam berapa?” tanya Stefa sambil merebut remot yang ada di tangan


Judith.


    “Yak. Kembalikan remotnya, aku sedang menonton itu!” Judith berusaha merebut kembali


remot yang sempat direbut Stefa.


   “Jawab dulu pertanyaanku!”


    Judith menghembuskan napasnya kesal. “Jam 7 malam. Sekarang kembalikan remotnya!”


    Judith merebut kembali remot yang ada di tangan Stefa. Stefa membiarkan sekretaris


sekaligus temannya itu menikmati tayangan drama percintaan itu lagi. Judith


tampak serius saat menonton siaran itu, Stefa berjalan ke arah mini bar untuk mengambil


minuman untuk mereka berdua.


    Ting tong.


    Ting tong.


    Bunyi bel berbunyi, mengalihkan pandangan Judith ke arah pintu lalu menatap Stefa.


    “Siapa?” tanya Judith pada Stefa yang dibalas dengan gedikan bahu tak acuh Stefa.


    “Kau buka saja pintunya!” titah Stefa yang sudah berjalan kembali ke arah Judith.


    “Ckk. Kau ini. Ini ‘kan kamar Hotelmu, kenapa malah jadi aku yang harus membuka


pintunya?!” gerutu Judith.


    “Kau ‘kan yang menumpang nonton disini, berarti kau yang membuka pintu itu.” balas


Stefa tak mau kalah dan menenggak minuman bersoda dari kemasan kaleng yang ia


ambil dari mini bar tadi.


    Judith mau tak mau mengikuti apa kata Stefa dan segera ingin membuka ‘kan pintu kamar


itu.


    “Wait! I’m coming.” Teriak Judith dari dalam.


    Kleekk.


    Judith langsung terpaku dan tak berkutik saat membuka pintu utama kamar itu. Matanya


mengedip berulang kali untuk memperjelas penglihatannya.


    “Boleh saya masuk?” tanya orang yang menekan bel tadi.


    Bukannya menjawab, Judith malah menutup kembali pintu itu dengan sedikit membanting.


Judith buru-buru berlari kecil ke arah Stefa.


    “Yaaakk, Stefaaa! Kau lihat itu, di depan.. Waaahh, aku tidak bisa berkata-kata.”


Ucapnya tak jelas dan sedikit berteriak.


    “Bisakah kau tak berteriak?! Siapa yang datang?” tanya Stefa.


    Judith berkacak pinggang dan menunjuk ke arah pintu yang sempat ia buka dan ia tutup


lagi.


    “Kau buka saja sendiri! Aku tak sanggup melihatnya.” Ucap Judith.


    Stefa langsung mencebik saat Judith mengatakan hal konyol itu. Stefa langsung turun


dari sofa dan segera membuka pintu utama. Sama seperti Judith, ia juga terpaku


dan tak berkutik saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


__ADS_2