
Open PO Novel My Love Story versi cetak gelombang II mulai 16 april 2020 - 30 april 2020. Untuk info pemesanan bisa langsung kirim WA ke nomor admin 0818331696 !!
Tersedia juga Novel My Love Story versi eBook. Kalian bisa langsung download di Playstore dengan harga yang lebih terjangkau !!
Happy Reading para reader ku!
Jangan lupa Like, Vote dan juga Komentarnya ya !! Atau yang mau follow Instagram author langsung aja cari @rhesirahaku di kolom pencarian.. Tengkyuuuhhh
***
Setelah bertemu dengan Caitlin, Stefa mendapatkan pencerahan akan masa depan dirinya dan juga bayi yang ia kandung. Bukan karena egois, Stefa sadar betul bahwa selama ini ia bukan hanya merasakan sekadar suka dan kagum terhadap David. Tetapi ia juga diam-diam menyimpan rasa cinta untuk David, hanya saja ia selama ini mencoba untuk menutupi dan mengelak semampunya.
Dengan kehadiran Caitlin di dalam hidupnya telah memberikan sedikit dorongan untuknya agar mampu menghadapi dan mengakui bahwa ia juga mencintai pria itu. Jangan katakan Stefa bahwa ia adalah wanita yang munafik, tidak jelas atau semacamnya. Karena siapa pun tidak akan pernah menduga kapan akan merasakan jatuh cinta.
Sekarang ia sedikit bermasalah dengan lamaran yang Revaldo berikan untuknya. Bagaimanapun ia harus menjelaskan kepada Revaldo bahwa ia memang tidak bisa menikah dengan pria itu. Bukan masalah cinta saja yang jadi permasalahannya, tetapi keterlibatan Revaldo di dalam hidupnya yang seharusnya tidak pria itu lakukan. Pria seperti Revaldo seharusnya mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Stefa.
Pria itu terlalu baik dan sempurna untuk menjadi suami bagi Stefa dan menjadi ayah dari bayinya. Stefa tidak ingin pria itu merasa terbebani dengan ikatan pernikahan seperti yang pria itu inginkan. Tidak. Stefa tidak akan mengorbankan masa depan dan kebahagian Revaldo hanya untuk mengambil tanggung jawab akan kehamilan dirinya yang tidak pria itu perbuat.
Selama Revaldo dan David masih berada di Jepang, ia harus secepatnya menyelesaikan masalah ini. Masalah serumit ini tidak bisa lagi ditunda-tunda olehnya, ia harus segera memutuskan dengan benar. Maka dari itu, Stefa meminta semua orang untuk hadir di rumahnya tepat saat jam makan malam tiba.
Satu persatu mobil berdatangan dan terparkirkan di halaman rumah Stefa, si pemilik mobil itu menuruni mobilnya dan segera menekan bel. Pintu terbuka, rupanya Stefa menyambut tamunya secara langsung. Untuk sesaat mereka berpelukan, Ken dan Charlote memeluk Stefa begitu eratnya dan seperti biasa. Menjadi kegiatan rutin yang disukainya, Ken dan Charlote akan bergantian mencium kening Stefa layaknya mereka mencium kening putrinya sendiri.
Lianne datang dengan Johannes, wanita itu begitu melihat Stefa langsung berhambur memeluknya dan berteriak histeris memanggil nama Stefa dengan suara cemprengnya itu. Johannes menyapa Stefa berbasa-basi karena mereka memang saling mengenal, hanya saja mereka tidak terlalu dekat.
Di belakang, Revaldo sedang menatap Stefa penuh kehangatan kemudian tersenyum dan menghampiri Stefa. Pria itu menyodorkan buket bunga kesukaan Stefa.
“Kau begitu cantik malam ini.” puji Revaldo setelah melepaskan pelukannya dari Stefa. Lianne yang melihat itu langsung menggoda Stefa.
“Ohoo, Stefaaa.. Sepertinya kau harus menjelaskan sesuatu kepadaku!” Lianne menyikut lengat Stefa dengan kedua alis yang ia naik turunkan demi menggoda Stefa. Astaga. Wanita itu terkadang menyebalkan jika sudah menggoda Stefa seperti itu.
“Terima kasih, aku suka bunganya. Dan malam ini...” Stefa berbisik mendekat ke telinga Revaldo.
“Kau juga terlihat tampan.” Stefa terkekeh setelahnya. Revaldo mengacak-acak rambut Stefa. Ada sedikit rona merah di pipi Revaldo saat Stefa memujinya seperti itu. Ya Tuhan. Revaldo begitu menggemaskan sekali. Bayangkan saja, tubuh besar dipenuhi otot seperti itu, sementara pipinya merona hebat hanya karena pujian singkat dari Stefa.
Mereka semua masuk ke dalam, tetapi sepertinya ada yang kurang. Stefa masih menunggu seseorang di depan pintu. Berulang kali mengecek handphone-nya tetapi tak ada pesan ataupun panggilan telepon dari orang itu yang mengatakan bahwa ia akan datang terlambat, atau justru orang itu malah membatalkannya.
Revaldo kembali menghampiri Stefa karena wanita itu tidak mengikutinya masuk ke dalam rumah.
“Kau menunggu siapa?”
Stefa terkesiap dan langsung berbalik menatap Revaldo. “Oh.. Tidak ada. Ayo masuk!”
Sekali lagi Stefa menolehkan kepalanya ke belakang untuk memastikan bahwa orang itu benar-benar tidak datang. Dengan penuh rasa kecewa, Stefa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah beriringan dengan Revaldo yang memeluk bahunya dari samping.
Belum sampai di ruang makan, terdengar bunyi bel yang ditekan berulang kali. Langkah keduanya terhenti.
“Masuklah dulu, aku akan membukakan pintu sebentar!” Stefa menghela Revaldo agar masuk ke ruang makan lebih dulu. Ia berjalan menuju pintu rumahnya.
Saat pintu terbuka, Stefa dikejutkan dengan serbuan dari seseorang. Orang itu tiba-tiba mencium bibir Stefa dan menekannya kuat-kuat, melumatnya sebentar kemudian menjauhkan dirinya dari Stefa. Matanya menatap Stefa penuh rindu, sedangkan udara yang keluar dari mulut orang itu begitu wangi dang terasa hangat menerpa wajah Stefa.
“Maaf aku terlambat.” Sesal orang itu setelahnya.
Stefa masih saja bergeming karena masih terkejut akan ciuman dadakan itu.
Cup!
Orang itu mengecup bibir Stefa sekali lagi, karena Stefa masih saja terdiam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun untuknya.
__ADS_1
Cup!
Dikecupnya sekali lagi, dan Stefa masih terdiam.
Cup!
Cup!
Cup!
“Berhenti menciumiku seperti itu!” Stefa mendorong tubuh orang itu setelah beberapa kali orang itu mengecup bibirnya saat ia sedang terdiam mencerna semuanya. Orang itu terkekeh, kemudian sekali lagi orang itu mengecup bibir Stefa. Kali ini kecupan itu cukup lama tetapi tidak ada lumatan atau saling menghisap satu sama lain.
Stefa membiarkan orang itu
menciuminya sepuasnya, sekarang ini.
Tanpa kata, Stefa berbalik meninggalkan orang itu di depan pintu tanpa bersusah payah mengajaknya masuk ke dalam rumah. Karena pada dasarnya orang itu pasti akan mengikutinya dari belakang. Setibanya di ruang makan, pelayan sudah menghidangkan berbagai jenis makanan di atas meja. Mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, bahkan hidangan penutup yang kesemuanya begitu menggugah selera.
“Kemarilah, sayang! Siapa yang datang?” Charlote mendekati Stefa dan menuntunnya ke kursi samping kanan Ken, dan menarik kursi itu untuk Stefa duduki.
Stefa belum sempat menjawab, tetapi suara orang itu telah menjawab pertanyaan Charlote barusan.
“Selamat malam semuanya. Maaf aku terlambat datang.” Dan alhasil, semua orang menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya Ken melihat sosok itu hadir di dalam jamuan makan malam yang Stefa adakan. Begitu pula dengan Revaldo sama terkejutnya seperti Ken. Bahkan pria itu sampai bangkit dari kursinya dan siap menghampiri orang itu untuk memberikan bogem mentah.
Tetapi Stefa langsung menahan lengan Revaldo agar tidak melakukan hal apa pun saat ini.
“Aku mengundang David ke sini. Duduklah!” titah Stefa pada David.
“Aku akan menjelaskannya nanti pada kalian.”
Acara makan malam berjalan dengan tenang dan lancar, hanya saja suasananya terlalu tenang. Seharusnya jamuan makan malam itu dipenuhi dengan obrolan-obrolan atau hal lainnya demi menghangatkan suasana jamuan makan malam itu. Tetapi, kehadiran David di sana telah mengubah suasana jamuan makan malam menjadi terlalu tenang dan sunyi. Bahkan kenyucian di kuburan pun akan kalah dengan kesunyian yang terjadi sekarang.
Pelayan mengambil peralatan makan yang kotor dan menyimpannya ke bagian belakang untuk segera dicuci. Sementara semua orang masih berada di meja makan, menunggu penjelasan dari Stefa perihal kedatangan David di sana.
“Dan untuk Revaldo...” Stefa menyentuh punggung tangan Revaldo dan memberikan senyuman hangatnya, pria itu duduk tepat di samping Stefa yang saat ini sedang menatap tangannya sendiri karena di sanalah Stefa menyentuhkan tangannya ke tangan Revaldo.
“Terima kasih karena kau selalu ada untukku dan telah hadir dihidupku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku tidak mengenalmu. Kau begitu berarti untukku, untuk hidupku. Sekali lagi aku berterima kasih padamu, aku berhutang banyak padamu.” Semua orang terdiam mendengarkan Stefa tanpa berniat untuk menyela. David pun begitu, ia masih terdiam belum memberikan komentar apa pun meskipun yang saat ini ia rasakan adalah rasa kesal dan jengkelnya karena melihat Stefa menyentuh tangan pria lain selain dirinya.
“Oh ya, Brianna tidak bisa hadir di sini. Dia hanya menitipkan salam untuk Paman dan Tante, dan oh. Dia juga menitip salam untukmu, Lianne.” Stefa baru teringat akan titipan salam dari Brianna.
“Astaga. Pantas saja aku merasa kurang. Rupanya Brianna tidak ada di sini.” Ucap Lianne.
“Tak apa sayang. Kami menerima salam darinya.” Charlote melempar senyuman untuk Stefa.
“Jadi bisakah kau lanjutkan apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Ken menuntut penjelasan dari Stefa.
Stefa menatap semua orang di sana satu persatu, termasuk David yang duduk di samping Revaldo.
“Mungkin apa yang ingin kukatakan saat ini akan begitu menyakiti hati seseorang, atau bahkan mungkin aku akan mengecewakan kalian semua. Tetapi, jauh dari apa yang kukatakan aku sudah memikirkan semuanya dengan baik-baik.”
“Apa maksudmu dengan menyakiti seseorang di sini? Siapa yang akan kau kecewakan?” Lianne begitu tidak sabaran dan malah memotong ucapan Stefa. Johannes memperingati Lianne agar tak menyelanya, tetapi wanita itu malah menatap Johannes seolah berkata “Diam saja kau, tidak ada urusannya denganmu!”
“Aku bersedia menikah... Tetapi...” ucapannya terhenti dan melirik sekilas ke samping.
“Bukan dengan Revaldo. Aku ingin menikah jika itu dengan...” semua orang terdiam dan menunggu kelanjutan dari perkataan Stefa.
“Asal aku menikah dengan David.” Dan semua orang di sana tercengang mendengarnya, termasuk David. Pria itu juga tidak menyangka jika Stefa akan mengatakan itu. Dengan bersamaan dengan rasa keterkejutannya sekaligus rasa bahagianya, ucapan selanjutnya meluruhkan dan menenggelamkan semuanya.
“Tetapi setelah aku melahirkan anakku.”
Revaldo begitu terpukul mendengar penuturan Stefa di hadapan semua orang yang hadir di sana, cintanya seolah dipermainkan oleh Stefa saat ini. Tetapi apa daya, ia tidak bisa bertindak banyak. Revaldo menatap Stefa begitu dalam dengan pandangan mata yang menyiratkan kekecewaan dan juga rasa sakit hatinya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Revaldo harus merelakan Stefa akan keputusannya itu.
“Tidak bisakah kau mempertimbangkan ucapanmu itu, Nak?” tanya Charlote memecah keheningan saat ini.
__ADS_1
Stefa menggelengkan kepalanya pelan. “Maafkan aku, Tante. Ini keputusanku, dan aku mengecewakan kalian untuk kesekian kalinya. Tetapi, anakku membutuhkan Ayah kandungnya sendiri. Dan tentu saja, aku tidak ingin melibatkan pria sebaik Revaldo dan mengorbankan masa depannya hanya untukku dan juga anakku.”
“Paman tidak setuju!” Ken sedikit membentak menyerukan ketidak setujuannya akan keputusan Stefa yang terdengar gegabah. Pria paruh baya itu bangkit dan menghampiri David, mencengkeram pakaiannya dan menatapnya penuh kemarahan.
“Apa yang kau lakukan kepada keponakanku? Tidak puaskah kau telah menyakitinya dan memberinya harapan palsu, dan sekarang kau ingin menikahi keponakanku? Seharusnya kau sadar diri akan perlakuanmu dulu terhadap keponakanku!”
Bugh!
Satu pukulan melayang tepat mengenai rahang David. Semua orang terpekik di sana, Revaldo segera menahan Ken dan mencoba menjauhkan Ken dari David agar tidak terjadi keributan malam ini. Charlote yang biasanya tenang, kini menangis melihat keributan yang terjadi. Begitu pula dengan Stefa, wanita itu tercengang melihat David dihajar oleh Pamannya sendiri.
Bugh!
Bugh!
Ken berhasil melayangkan kembali pukulannya di rahang David.
“Kau pantas mendapatkan itu pria sialan!” maki Ken, sedangkan tubuhnya berhasil ditahan kembali oleh Revaldo.
“Paman, cukup!” teriak Stefa tak terima dnegan kekacauan ini.
“Hentikan, Paman! Jangan lakukan itu lagi, bagaimanapun ini semua adalah keputusanku. Kumohon, terimalah keputusanku ini, Paman!”
“Apa kau bersungguh-sungguh dengan apa yang kau katakan itu, Stefa? Pria ini mungkin saja akan menelantarkanmu dan juga anakmu nantinya. Paman hanya tidak ingin kau terluka dan menderita, Revaldo pantas menjadi suamimu.”
Stefa menggeleng lemah. “Apakah mengorbankan masa depan orang lain itu adalah prioritasmu, Paman? Membiarkan masa depan Revaldo hancur karena harus menikahi wanita yang mengandung yang bahkan bukan anaknya sendiri? Aku tidak bisa, Paman. Revaldo pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku memang menyayanginya, tetapi aku tidak mencintainya.”
Semua terdiam.
“Apa kau mencintai David, Nak?” Charlote mendekati Stefa setelah tangisannya mereda. Charlote sudah bisa menguasai dirinya kembali, ia tidak bisa berkelakukan lemah dan cengeng di saat situasi sedang seperti ini.
“Aku mencintainya.” Jawab Stefa begitu
pelan nyaris tak terdengar jika saja di ruangan itu tidak mendadak sunyi sepi.
Charlote menghela napasnya kemudian berbalik mendekati suaminya, ia menyentuh rahang Ken yang masih tegang karena menahan amarahnya.
“Biarkan Stefa memilih kebahagiannya, suamiku! Kita tidak bisa mengorbankan hal lainnya lagi sekarang, membiarkan keponakan kita menikah dengan pria yang dicintainya sekaligus Ayah dari bayi itu adalah keputusan yang bijak. Aku tahu kau mencintai keponakanku, tetapi tugas kita sudah cukup sampai di sini. Ini saatnya kita melepaskan dan membiarkan keponakan kita mengambil keputusannya sendiri.”
“Dengan membiarkan pria sialan itu menikah dengannya?” Ken melempar tatapan tajamnya pada David yang sedang meringis kesakitan.
Charlote mengangguk.
“Paman?” panggil Revaldo yang sejak tadi diam.
“Aku menerima keputusan, Stefa. Aku tak masalah Stefa menikah dengan David, asalkan Stefa bahagia. Prioritasku adalah kebahagiaan Stefa dan juga bayinya, aku tidak peduli jika aku harus melepaskan wanita yang kucintai. Terpenting adalah bagaimana aku membiarkannya bahagia.”
Stefa langsung berhambur memeluk Revaldo dengan tersedu-sedu. Perkataan Revaldo telah membuatnya menangis bahagia dan juga rasa haru. Pria itu rela menderita hanya demi melihat Stefa bahagia bersama pria lain.
“Jangan menangis, honey!” Revaldo menjauhkan wajah Stefa dari tubuhnya kemudian menangkup wajah itu dengan lembut. Memberikan senyuman yang mungkin terkesan dipaksakan, tetapi sesungguhnya Revaldo memang mengikhlaskan Stefa untuk pria lain.
“Aku senang jika kau benar-benar bahagia dengan keputusanmu. Sesuai dengan pengakuanmu tadi, apa pun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu. Untuk bayimu.” Revaldo menyentuh lembut perut Stefa.
“Aku akan menjadi Paman yang hebat untuknya. And now! Berbahagialah dengan pria yang kau cintai itu!” Revaldo mendorong tubuh Stefa ke arah David. Pria itu menjulurkan kedua tangannya untuk menerima uluran tangan Stefa. Sesaat Stefa hanya diam mematung, menatap Revaldo masih dengan derai air mata. Kemudian menatap David dengan penuh harap dan juga cinta.
“Berbahagialah!” seru Revaldo menyakinkan Stefa bahwa dirinya baik-baik saja. Stefa merasa beruntung, sangat, sangat beruntung karena telah bertemu dan mengenal Revaldo. Mungkin luka yang ia berikan kepada pria itu akan membekas sampai kurun waktu yang entah sampai kapan. Pria tampan, mapan dan sukses, memiliki hati yang begitu seperti malaikat berulang kali telah Stefa sia-siakan demi keegoisannya sendiri.
Tetapi dengan semua yang Revaldo miliki, Stefa begitu sangat yakin. Bahwa di masa depan nanti, pria itu akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan mampu memberikan cintanya hanya untuk Revaldo.
Stefa melangkah pasti ke arah David dan memeluknya begitu erat. Menumpahkan semua rasa yang telah selama ini ia pendam sendirian. Ia menangis kembali di dalam pelukan David. Membiarkan air matanya membasahi pakaian pria itu, membiarkan pria itu mendengar betapa lelahnya Stefa selama ini karena semua yang terjadi kepadanya. Membiarkan pria itu menggerakkan tangannya untuk menenangkan Stefa dengan cara mengusap-usap punggungnya.
“Terima kasih kau telah memilihku. Aku sangat mencintaimu. I love you so much.” David mengecup kening Stefa cukup lama, menikmati momen itu dan memasukkannya ke dalam memori yang pantas untuk ia ingat selamanya.
“Thanks, bro!” ucap David pada Revaldo dan dibalas dengan anggukkan seraya tersenyum kecil.
__ADS_1