
Mobil yang membawa Revaldo dan juga Stefa memasuki sebuah pekarangan rumah yang
begitu luas. Menampilkan rumah yang begitu besar, mewah, megah dan terlihat
sangat luas. Rupanya Revaldo tinggal di sebuah kawasan elit di salah satu
daerah di Jakarta.
Segera Revaldo menggendong tubuh Stefa masuk ke dalam rumah miliknya. Membawanya ke
lantai dua dan masuk ke salah satu kamar yang cukup luas untuk seukuran kamar
tamu. Membaringkan tubuh Stefa pelan-pelan, takut Stefa akan terbangun jika
Revaldo asal membaringkan tubuh wanita itu.
Tubuh Stefa di bungkus selimut yang menutupi sampai sebatas dadanya. Revaldo
merapihkan anak-anak rambut yang menutupi sebagian kening Stefa. Ditatapnya
wanita itu secara intens, sorot mata
Revaldo menyiratkan penuh rasa khawatir dan rasa marahnya. Berani-beraninya ada
yang mengusik dan menyakiti wanitanya. Setidaknya itu yang ada di dalam pikiran
Revaldo.
Hendrick masuk ke dalam kamar yang ditempati Stefa saat ini dengan mengetuk pintu
sebelumnya, dan menghampiri Revaldo yang masih duduk di sisi tubuh Stefa.
“Apa yang akan anda lakukan, tuan?” tanya Hendrick saat dia sudah berada di dekat
Revaldo.
“Aku ingin informasi yang lengkap tanpa celah sedikit pun tentang apa yang terjadi
dengan wanitaku! Kau tahu, bukan? Jika aku tidak akan pernah membiarkan
seseorang menyakiti wanitaku. Aku ingin besok pagi sudah menerima semua
informasi itu!” perintah Revaldo mutlak.
“Baik, tuan. Akan saya kirimkan paling lambat besok pagi.” Hendrick langsung pergi
meninggalkan ruangan itu dan segera mengumpulkan informasi mengenai apa yang
sudah terjadi dengan Stefa.
Di Hotel, Judith tampak begitu terlihat tidak tenang dan gelisah setelah mendengar
bahwa Stefa mendapatkan sebuah musibah. Judith tidak mengerti apa yang dimaksud
dengan dia yang datang menemui Stefa. Tapi Judith yakin, bahwa orang yang
dimaksud itu adalah orang yang sedari siang mencoba mencari tahu tentang
keberadaan Stefa.
Judith langsung mengambil handphonenya dan mendial nomor atasannya yang berada di London. Panggilan pertama tidak mendapatkan
jawaban, panggilan kedua masih sama, dan baru lah saat panggilan ketiga, atasannya
itu baru menjawab panggilannya.
“Ya, hallo?” sapa David terlebih dahulu saat panggilan telepon sudah tersambung.
“Hallo, Mr. David. Maaf, jika saya mengganggu waktu anda.” Ucap Judith merasa tak enak jika ia telah mengganggu
waktu atasannya itu.
“Tidak masalah. Katakan, ada apa sampai kau harus menghubungiku secara pribadi?!”
“Begini Mr. David, disini sudah terjadi sesuatu dengan Ms. Stefa. Saat ini dia sedang
tidak berada di Hotel tempat kami menginap, Mr. Revaldo membawanya ke
kediamannya. Seseorang datang mencari Ms. Stefa sedari siang, dan sepertinya
orang itu telah berbuat buruk terhadap Ms. Stefa.” Ujar Judith mencoba
menjelaskan apa yang terjadi kepada David.
“Maksudmu? Stefa diganggu seseorang, begitu?”
“Betul, Mr. David. Saat ini saya tidak bisa menemui Ms. Stefa di kediaman Mr. Revaldo,
saya harus menyelesaikan masalah disini terlebih dahulu. Kemungkinan besok saya
baru akan menemuinya.”
“Baiklah. Aku akan menyuruh seseorang kesana untuk mencari tahu apa yang terjadi. Aku
akan menyuruh orang kepercayaanku untuk menjaga kalian untuk sementara. Jaga
diri kalian baik-baik!”
David langsung mematikan sambungan teleponnya setelah ia mengatakan bahwa dia akan
memberikan perlindungan untuk Stefa dan Judith. Tak butuh waktu lama bagi David
untuk memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari informasi dan juga
memberikan penjagaan bagi kedua karyawannya.
Beruntung, David sebelumnya telah menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk ikut datang
ke Jakarta secara diam-diam mengikuti Stefa dan Judith untuk menjaga kedua
karyawannya bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu di luar dugaannya seperti
sekarang ini. Bagaimana pun juga, David tidak ingin terjadi sesuatu terhadap
karyawannya yang sedang mengurus masalah pekerjaan di negara orang.
Sepertinya David tidak bisa hanya tinggal diam saja, ia harus datang sendiri ke Jakarta
untuk memastikan kedua karyawannya sebagai perwakilan dari perusahaannya sedang
dalam keadaan baik-baik saja. David langsung menyuruh Michael untuk menyiapkan
segala keperluannya untuk keberangkatannya esok hari.
Di lain sisi, Stefa terlihat gelisah dalam tidurnya. Seolah ada yang mengganggu
tidurnya, seperti sebelum-sebelumnya keringat dingin membanjiri kening Stefa.
Revaldo yang masih menemani Stefa disana, langsung mengerutkan keningnya
melihat keringat bercucuran di kening Stefa.
“Apa yang terjadi denganmu?” gumam Revaldo kemudian menyeka keringat Stefa di
keningnya.
__ADS_1
Tidur Stefa terlihat semakin tak nyaman, Stefa semakin terlihat gelisah. Entah mimpi
apa yang sedang menghampiri Stefa saat ini sehingga membuat si pemilik mimpi
terlihat begitu gelisah. Selang beberapa menit berikutnya, Stefa malah semakin
terlihat gelisah dalam tidurnya.
“Hei, hei. Bangunlah! Apa yang terjadi denganmu?” ucap Revaldo mencoba untuk
membangunkan Stefa dari tidur gelisahnya.
Revaldo mengguncangkan bahu Stefa sedikit kencang, untuk menyadarkan Stefa dari alam
mimpinya saat ini. Perlahan mata Stefa terbuka, mengerjap-ngerjapkan kedua
matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menyinari ruangan itu.
“Kau baik-baik saja?” tanya Revaldo khawatir.
“Eng. A-aku dimana?” tanya Stefa dengan berusaha untuk mendudukkan dirinya di tempat
tidur.
Revaldo segera membantu Stefa untuk mengambil posisi duduk dan bersandar di kepala
tempat tidur.
“Kau ada di tempat tinggalku. Kau baik-baik saja?” Revaldo mengulang kembali
pertanyaan sebelumnya.
“Ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih Mr. Revaldo, sudah membawaku ke kediaman anda.
Aku akan menghubungi sekretarisku untuk menjemputku disini.”
“Aku sudah menghubungi sekretarismu, dan memberitahunya bahwa kau akan tinggal
disini malam ini.”
“Tapi aku tidak bisa meninggalkan Judith disana sendirian. Orang itu akan mencariku,
dan bisa saja dia menyakiti sekretarisku.”
“Aku sudah menyuruh beberapa penjaga untuk menjaga sekretarismu dan menyelesaikan
keributan di Hotel. Kau bisa beristirahat disini malam ini, besok aku akan
mengantarmu kesana. Dan sebaiknya kalian pindah kesini saja, itu akan lebih
aman untuk kalian berdua!”
“Terima kasih. Tapi, untuk tinggal disini aku rasa tidak pantas untuk kami. Mungkin,
kami akan meminta untuk mengganti Hotel untuk tempat kami tinggal selama
beberapa bulan lagi disini.”
“Baiklah. Aku tidak akan memaksa, tapi aku harap kau bisa mempertimbangkan tawaranku!”
“Terima kasih.”
Suasana hening dan canggung tercipta diantara mereka. Bagaimana pun juga, ini kali
pertama bagi Revaldo membawa seorang wanita ke kediamannya. Biasanya Revaldo
akan membawa wanita-wanitanya ke penthousenya
di pusat kota. Dan itu sudah terjadi sangat lama sekali.
“Kau membutuhkan sesuatu?”
“Ti-tidak, terima kasih. Ini sudah malam, sebaiknya anda pergi istirahat Mr. Revaldo!”
“Kau mengusirku?” tanya Revaldo dengan terkekeh.
Stefa langsung menegang, ia tak bermaksud untuk mengusir si pemilik rumah itu. Hanya
saja ini sudah larut malam, dan Revaldo perlu istirahat. Bahkan tidak mungkin
‘kan jika mereka harus berada dalam kamar yang sama hanya berduaan saja.
“Bu-bukan begitu. Maksudku, anda bisa kembali beristirahat. Ini sudah larut malam, tidak
baik untuk kesehatan anda.”
“Ah sepertinya kau benar, Stefa. Aku harus beristirahat. Bagaimana kalau kita
beristirahat bersama?” tanya Revaldo berniat untuk menggoda dengan senyumannya
yang terlihat begitu sensual.
Namun pertanyaan menggoda dari Revaldo membuat Stefa kembali menegang, ia menggigil
ketakutan. Menciptakan jarak yang cukup untuk posisi aman antara dirinya dan
juga Revaldo. Stefa menarik selimut dan meremasnya kuat-kuat, ia benar-benar
ketakutan. Rupanya tindakan yang dilakukan Marshal membuat Stefa ketakutan
sampai saat ini.
Bukan karena Stefa takut untuk melakukan hubungan intim, melainkan ia takut akan
semua sikap dan perlakuan Marshal yang semena-mena. Menjambak rambutnya,
memukulnya, bahkan hampir memperkosanya. Saat Revaldo melontarkan godaan itu,
sebersit bayangan mengerikan sebelumnya kembali menyeruak kedalam otak Stefa.
Melihat Stefa menjauh dari Revaldo, dan *** selimut serta badannya yang menggigil
ketakutan. Revaldo mengernyitkan dahinya. Ada apa dengannya? Itulah pertanyaan
yang sempat terpikirkan oleh Revaldo saat ini.
Revaldo menggeser duduknya untuk mendekat ke arah Stefa, dan mengulurkan tangannya.
Namun, Stefa kembali menggeser tubuhnya menjauh dan semakin ketakutan.
“Hei, are you okay?” tanya Revaldo masih berusaha mendekati Stefa.
Namun Stefa kembali beringsut menjauh.
“Stop! Jangan mendekat, kumohon jangan mendekat!” ucap Stefa sambil merentangkan salah satu tangannya ke depan untuk menahan Revaldo agar tidak mendekat.
“Hei, ada apa?” tanya Revaldo panik.
Stefa tidak menjawab, ia bergidik ngeri ketakutan. Yang ada di dalam pikirannya saat
ini adalah bahwa pria yang ada di depannya saat ini adalah Marshal, bukan
Revaldo. Stefa terlalu hanyut dalam bayang-bayang kejadian yang menimpanya sebelumnya.
Melihat Stefa tak bersuara, Revaldo mendekati Stefa dan mengikis jarak diantara mereka.
__ADS_1
Berusaha untuk meraih Stefa, untuk menenangkannya kembali. Sepertinya Revaldo
telah menakuti Stefa.
Revaldo menyentuh kedua lengan Stefa, dan Stefa langsung berteriak histeris.
“Jangaaan! Please! Jangan lakukan ini, menjauhlah!” teriak Stefa dan menangis meraung-raung serta mencoba menjauhkan tubuhnya dari sentuhan Revaldo.
Revaldo semakin dibuat panik dengan keadaan Stefa. Wanita yang ada di depannya sepertinya
trauma dengan kejadian itu. Revaldo sangat kesal, ia belum mendapatkan
informasi mengenai kejadian secara lebih lengkapnya. Ia bahkan tidak bisa
berbuat banyak saat ini.
“Hei, tenanglah! Ini aku, Revaldo. Kau baik-baik saja bersamaku. Aku tidak akan
menyakitimu, kumohon tenanglah!” ucap Revaldo.
Mendengar nama Revaldo disebutkan, Stefa langsung terdiam. Dan ia sudah menghentikkan
tangisannya yang meraung-raung, bahkan ia sudah tidak berteriak histeris lagi.
“Lihat aku, Stefa!” Revaldo menangkup kedua sisi wajah Stefa dan menghadapkan wajah
Stefa ke wajahnya.
“Re-Revaldo?” cicit Stefa pelan saat iris matanya menatap iris mata Revaldo.
“Yes, i am.”
Stefa menghembuskan nafas leganya saat ia menatap iris mata Revaldo. Ia sadar bahwa
yang tadi di dalam bayangannya bukanlah Marshal, pria brengsek yang hampir
memperkosanya.
“Katakan, apa yang terjadi padamu sebelumnya? Kau terlihat tampak kacau.”
Stefa hanya diam membisu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih
menimbang-nimbang antara harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Pasalnya,
Revaldo tidak ada kaitannya dengan dirinya.
“Kau mendengarku? Katakan apa yang terjadi?” Revaldo sedikit memaksa Stefa untuk
bercerita.
Stefa membuang nafasnya berat, kemudian menatap iris mata Revaldo.
“Dia datang mencariku kesini, dan dia menemuiku. Dia ingin melakukannya, dan mencoba
menyakitiku. Aku pikir, aku akan aman darinya selama aku berada disini. Entah
dia tahu dari mana informasi keberadaanku, sepertinya dia telah menyuruh
seseorang untuk mencari keberadaanku dan menemukanku disini.”
Revaldo menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh
Stefa. Dia? Dia siapa? Menyakitinya? Bahkan tidak ada satu orang pun yang
terlintas di pikirannya. Otaknya seolah mendadak bodoh dan tidak bisa berpikir
saat ini.
“Dia? Maksudmu, dia siapa? Dan melakukan hal apa? Jelaskan padaku secara rinci, aku
akan menolongmu. Kau dan Judith merupakan tanggung jawabku juga selama kalian
berada disini.”
Stefa menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin menyebutkan nama Marshal kepada
Revaldo.
“Aku tidak bisa mengatakannya.”
“Tapi kau tidak baik-baik saja setelah bertemu dengan dia yang kau maksud. Katakan
padaku!”
“Jangan paksa aku Mr. Revaldo! Aku baik-baik saja.” Stefa menggeram kesal. Karena
Revaldo terus saja memaksa untuk menyebutkan siapa dia yang Stefa maksud.
Revaldo membuang nafasnya kasar, baiklah untuk saat ini dia akan mengalah. Besok dia
akan mendapatkan informasi lengkapnya dari Hendrick. Jadi dia harus bersabar
untuk saat ini, untuk malam ini.
“Baiklah, jika kau tidak ingin mengatakannya padaku. Kembalilah istirahat! Aku akan
istirahat di kamarku, maaf aku sudah menakutimu. Tadi aku hanya ingin
menggodamu. Aku tidak tahu efek yang aku katakan bisa membuatmu seperti itu!”
ucap Revaldo dan pergi meninggalkan Stefa sendirian di dalam kamar itu.
Stefa menundukkan kepalanya. Ia masih setia memeluk selimut itu. Badannya terasa
sangat sakit dan lelah. Matanya pun merasakan kantuk kembali. Sepertinya dia
harus memejamkan matanya lagi, dan sedikit melupakan apa yang telah terjadi
untuk malam ini. Biarkan Stefa mengistirahatkan tubuh serta pikirannya dari
berbagai macam masalah yang menimpanya.
Satu jam sudah berlalu, namun Stefa tidak kunjung juga masuk ke alam mimpinya. Terus
membolak-balikkan posisi tidurnya. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di
pikirannya. Ia teringat dengan ucapan Revaldo sebelumnya, tentang bagaimana dia
mengatakan bahwa Stefa dan juga Judith adalah tanggung jawabnya juga.
Namun bukan perkataan itu yang mengganggu pikiran Stefa saat ini. Tatapan Revaldo. Ya
betul, tatapan Revaldo saat mengatakan itu terlihat aneh di mata Stefa. Entah
tatapan seperti apa, yang jelas tatapan itu memang terlihat aneh bagi Stefa.
Mau di pikirkan bagaimana pun, Stefa tidak bisa mendapatkan jawaban pastinya.
“Arrggh. Ini membuatku gila. Tatapannya itu, tatapannya aneh sekali. Membuatku merinding
saja. Ah terserah, aku akan tidur saja.”
Stefa memaksakan matanya untuk terpejam, mencoba peruntungan untuk menjemput alam
mimpi. Hanya memikirkan tatapan Revaldo saja sudah membuat Stefa sefrustasi
__ADS_1
itu.