My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 46 Avoid Him


__ADS_3

            Sudah satu minggu sejak David menghabisi Stefa di ruangan kerjanya, dan sudah satu minggu pula Stefa bermain kucing-kucingan dengan pria itu. Selama satu minggu ini ia berusaha keras untuk menghindar dari pria itu. Menghindar dari orang-orang suruhan David yang mencoba untuk mengawasinya dari jarak aman mereka.


            Bersyukurlah Brianna bisa diandalkan olehnya, karena wanita itu mampu menjauhkan orang-orang suruhan David atas keberadaan Stefa setiap saatnya. Namun, Brianna tak bisa berkutik jika Stefa sudah berada di lingkungan tempatnya bekerja. Ia tak bisa memanipulasi apapun di bawah kendalinya.


            Tak ada yang tahu satu pun tentang hari itu selain David dan juga Stefa tentunya. Ya katakan saja Michael juga turut tahu akan apa yang telah terjadi waktu itu. Stefa memberikan alasan bahwa ia mendapatkan teror dari seseorang dan ada mata-mata yang mencoba mengganggu hidupnya pada Brianna agar menghilangkan jejak kecurigaan Brianna terhadap pernyataan yang diberikan Stefa.


            Itulah kenapa Brianna mencoba melindungi Stefa dari orang-orang itu. Sesuai dengan perkataan Brianna waktu itu bahwa ada banyak sekali tawaran pekerjaan untuknya. Salah satunya perusahaan yang menjalankan bisnis di bidang makanan dan minuman yang berada di Indonesia sebagai brand ambassador-nya.


            Keuntungan yang ditawarkan pun begitu menggiurkan. Brianna juga memberitahu Ken tentang tawaran itu dan tawaran lainnya. Ken tentu saja senang mendengarnya, ternyata negara cantik dengan penduduk yang ramah itu pun menawarkan kerja sama kepada keponakannya yang langsung disetujui begitu saja oleh Ken.


            “Stefa, kudengar dari manajermu kau akan pergi ke Indonesia lagi karena tawaran pekerjaan?!” tanya Lianne yang saat ini sedang berkunjung ke unit apartemen milik Stefa yang hanya berbeda beberapa lantai saja dengannya.


            “Uhum. Aku akan kembali ke sana. Kau mau ikut?” tawar Stefa pada sahabatnya itu. Mata Lianne langsung berbinar senang mendengar tawaran Stefa itu. Jika ia ikut ke sana, maka ia akan berlibur di sana sepuasnya. Tapi bagaimana dengan bosnya itu?


            “Kalau kau mau, aku akan membantumu meminta izin pada Mr. Johannes.” Seperti bisa menebak isi kepala Lianne, Stefa langsung menawarkan diri untuk meminta izin pada bos sahabatnya itu.


            “Oh tentu saja aku akan sangat bangga padamu kalau kau sampai membuat Mr. Jo membiarkan aku berlibur sebentar di negara orang.” Lianne menyengir penuh arti pada Stefa yang hanya di balas anggukkan olehnya.


***


            Stefa datang ke kantor seperti biasa, kali ini ia harus kembali berusaha menghindar dari orang-orang suruhan David. Hanya apartemen dan ruang kerjanya saja yang membuat Stefa sedikit merasakan aman dari mereka.


            Mengingat kembali bagaimana dengan nasib sekretarisnya itu, tentu saja wanita itu beruntung sekali. Cordy Black si pria yang telah berhasil membuat Judith hamil ternyata ia memutuskan untuk bertanggung jawab. Tentu saja itu membuat Judith bernapas lega karenanya, bahkan ibu dari Cordy menghubunginya langsung dan mengatakan bahwa keluarga mereka begitu senang mendengar kabar bahwa mereka akan kedatangan keluarga baru.


            Rencana Stefa dan Judith untuk melabrak Cordy pun akhirnya tidak sesuai. Karena si pria yang sudah terlebih dahulu mengabarkan bahwa ia akan bertanggung jawab atas semuanya. Mendengar kabar itu, Stefa selaku rekan kerja, teman dan juga bos bagi Judith turut bahagia dan lega mendengarnya.


            Namun, Judith akan tetap pergi ke Indonesia sama seperti dirinya. Dua manusia yang berbeda kepentingan itu akan kembali ke Indonesia dengan urusan yang berbeda. Stefa datang ke Indonesia karena urusan pekerjaan di dunia hiburannya, sementara Judith datang untuk menentukan tanggal pernikahannya.


            Stefa akan berangkat tiga hari kemudian, sementara Judith sudah meminta izin akan berangkat hari ini. Otomatis Stefa harus melepaskan Judith demi masa depan sekretarisnya itu. Ia harus berjuang menghindar dari David dan bawahannya sendirian tanpa ada sekretaris di sampingnya.


            “Aku seperti buronan saja, datang ke perusahaan mengendap-endap seperti ini. Pulang ke apartemenku pun seperti maling yang harus menghindar dari semua orang.” Gerutu Stefa sembari berjalan mengendap-endap memasuki ruangannya.


            Sialnya. Di dalam sana sudah ada pria yang selama satu minggu ini ia hindari begitu saja. Pria itu sedang duduk di atas sofa dengan menyilangkan kedua kakinya. Dengan sorot mata yang begitu tajam dan mengintimidasi Stefa. Wanita itu segera menelan ludahnya dengan susah payah.


            Sia-sia saja pelariannya selama seminggu ini, tetap saja pria itu bisa menemuinya sesuka hati. Apalagi ini adalah daerah kekuasaan pria itu, tentu saja dengan mudah Stefa akan ditemukan seperti sekarang ini.


            “Sepertinya kau senang sekali bermain kucing-kucingan denganku.” Ejeknya telak membuat Stefa mendengus kesal.


            “Aku tak mengerti maksudmu.” Stefa mengelak mencoba menutupi kebenarannya.


            David tersenyum geli kemudian mendengus. “Tentu saja kau mengerti maksudku. Kau menghindar dari jangkauan bawahanku dengan bantuan manajer sialanmu itu. Sepertinya aku harus menyingkirkan manajer sialanmu itu.” David tak pernah main-main dengan ucapannya dan Stefa tak suka dengan itu.


            “Jangan pernah menyentuh manajerku, sialan!” desis Stefa.

__ADS_1


            Pria itu bangkit dari sofa dan mendekat ke arahnya. Satu langkah David maju, satu langkah pula Stefa mundur ke belakang menjauh dari jangkauan David. Ia tak suka David mengintimidasi seperti sekarang ini. Oksigen di dalam ruangan itu seolah mendukung David yang turut mengintimidasinya.


            Stefa tiba-tiba merasa kepalanya pusing dan merasakan mual berlebihan. Ia meringis dan memegang perutnya yang terasa keram. Perubahan ekspresi Stefa tak luput dari perhatian David. Tiba-tiba Stefa jatuh ke bawah dengan tangan yang menahan perutnya yang terasa keram, David langsung menghampiri Stefa dengan raut wajah yang kali ini begitu terlihat jelas sangat mengkhawatirkan Stefa.


            “Ada apa denganmu?” tanya David dengan nada khawatirnya. Ia menyentuh kedua bahu Stefa. Stefa tak menjawabnya sama sekali, malah rintihan kesakitan yang ia rasakan.


            “Tunggu di sini, aku akan memanggil asistenku untuk menyiapkan mobil. Kita akan ke rumah sakit.” David langsung meninggalkan Stefa begitu saja dan lari keluar, bodoh. Sungguh bodoh pria yang bernama David itu.


            Kenapa pula ia harus berlari hanya untuk memanggil Michael. Ia tentu saja bisa memanggilnya melalui sambungan telepon. Dasar pria bodoh. Tiba-tiba Stefa berdiri dan berjalan ke arah kursi kerjanya, ia bernafas lega karena David meninggalkannya.


            “Tentu saja aku merasakan sakit di perutku, tapi itu tak terlalu sakit. Ternyata dia begitu mudah di kelabui.”


Stefa tertawa geli melihat David dengan mudahnya dibohongi. Tetapi, ia jadi terdiam saat ia semakin merasakan mual-mual. Perutnya seolah dikocok dan diobok-obok.


            “Tidak mungkin ‘kan kalau aku hamil begitu saja dan hanya dengan sekali melakukan hubungan intim itu?!” Stefa bergumam sendiri sembari menyentuh perutnya yang masih terasa keram dan mual.


            Stefa lantas menepis pemikiran konyolnya itu. Lagipula tak mungkin ia langsung hamil dalam waktu dekat ini, bahkan dalam waktu satu minggu, itu terasa konyol sekali baginya. Ia tak menampik kenyataan bahwa kebanyakan ada yang langsung mengandung hanya dengan satu kali melakukan ****.


            Stefa terus merapalkan doa agar ia tak mengalami hal yang sama dengan Judith. Yaitu hamil di luar nikah, bahkan rasanya ia tak sanggup untuk hanya sekadar membayangkannya saja. Stefa langsung mengambil obat pereda nyeri dari dalam tasnya, dan langsung di dorong dengan bantuan air yang melewati kerongkongannya.


            Air yang masuk belum semua lewat kerongkongannya, tiba-tiba pintu di buka dengan keras membuat Stefa


menyemburkan air dari mulutnya.


            “Sialan! Kau tak perlu membukanya sekeras itu.” suara Stefa terdengar menggeram karena kesal.


            Stefa merentangkan tangannya memberi tanda agar David tak terlalu dekat dengannya. “Aku baik-baik saja, dan aku tak perlu pergi ke sana. Tinggalkan aku sendirian!”


            “Jangan membantah dan ikut saja!” David menarik tangan Stefa begitu saja membuat Stefa berjalan kesusahan di belakang tubuh David. Bahkan tas yang berisikan handphone, dompet dan barang lainnya tertinggal di dalam ruang kerjanya.


            Mereka yang harus melewati ruang kerja milik bawahan Stefa mendapat tatapan tanda tanya dari orang-orang itu. Ini merupakan hal yang begitu jarang terjadi, bahkan hampir tak pernah terjadi.


            “Kenapa bos besar menyeret Ms. Stefa?” tanya salah satu karyawan wanita dari balik kubikelnya bertanya pada teman yang berada di sampingnya.


            “Kau bertanya padaku? Lantas aku bertanya pada siapa?” teman yang diajak bicara itu malah balik bertanya.


            “Apa kalian hanya bisa bergosip saja? Cepat kembali bekerja!” salah satu senior mengingatkan mereka agar


kembali bekerja. Kedua wanita itu langsung mencebik karena mereka tak bisa melanjutkan bahan gosipan mereka.


            Di bawah, David dan juga Stefa baru saja masuk ke dalam mobil milik David yang disopiri langsung oleh Michael. Pria itu tak berani mengucapkan sepatah kalimat pun, tak berani menatap ke belakang hanya dari balik kaca spion tengah saja. Pria itu seolah menjadi robot yang hanya mendapatkan perintah untuk menjalankan kendaraan dengan baik sampai rumah sakit.


            “Sudah kubilang kita tak perlu ke rumah sakit. Lagipula aku sudah minum obat pereda nyeri dan mual.” Lagi-lagi Stefa menolak untuk pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


            “Sudah ikuti saja perintahku, aku tak ingin kau dan juga calon bayiku kenapa-kenapa.”


            Stefa langsung tersedak dengan air ludahnya sendiri. “Siapa yang sedang hamil, huh? Kau terlalu percaya diri. Mana mungkin aku hamil dalam waktu satu minggu ini.”


            “Oh, jadi kau mengakui bahwa kita telah melakukannya seminggu yang lalu?!” Sial. David malah menggoda Stefa, dan Stefa tentu saja merutuki mulutnya yang seolah membenarkan dan membeberkan pada orang-orang bahwa mereka telah melakukannya.


            “Bukan itu maksudku.” Sanggah Stefa.


            “Tak mungkin aku hamil, lagipula kita hanya melakukan sekali. Ya, meskipun itu tak menampik kalau aku bisa saja hamil. Tapi yang benar saja! Aku tak mungkin hamil hanya dalam waktu seminggu. Jika pun iya aku hamil, tentu saja aku akan menggugurkannya. Aku tak ingin karirku hancur begitu saja karena kehadiran bayi yang tak kuinginkan.”


            Sontak David langsung mengetatkan rahangnya. Ia mengepalkan kedua tangannya seraya menggeram. Stefa langsung menyentuh mulutnya. Ia tak bermaksud berkata seperti itu. Sejujurnya, ia juga tak akan tega menggugurkan bayi tak berdosa. Ia hanya tak percaya saja, hanya itu.


            “Aku tak akan membiarkan kau melenyapkan bayiku.” Geram tertahan ke luar dari mulut David. Michael hanya mampu menjadi pendengar di antara perdebatan dua manusia yang berada di belakang. Telinganya hanya ia anggap sebagai pajangan saja, dan tak membiarkan ia menjadi penyebab kecanggungan di antara kedua manusia itu.


***


            Tiba di rumah sakit. David langsung bertemu dengan dokter yang sudah memiliki janji dengannya. Pria itu memiliki prioritas kelas satu tanpa harus perlu mengantri seperti yang lainnya hanya untuk sekadar memeriksakan seseorang yang ia bawa.


            Awalnya David berencana membawa Stefa ke dokter lain, namun ia teringat bahwa siapa tahu kalau Stefa kini tengah mengandung sesuai dengan yang ia harapkan. Jadi ia segera menelepon pihak rumah sakit dan membuat janji dengan salah satu dokter kandungan yang ia pilih.


            Seperti dokter pada umumnya, mereka akan mengkonfirmasi identitas si pasien yang akan mereka tangani. Setelahnya mereka akan menanyakan tentang keluhan yang pasien rasakan beberapa terakhir ini. Tentu saja Stefa tak keberatan memberi tahunya. Toh, ia hanya merasakan mual-mual, sakit kepala dan perut yang terasa keram.


            “Mari kita ke sebelah sana terlebih dulu, kita akan memeriksa dan memastikan apakah Anda memang sedang mengandung atau tidak.” jelas dokter itu seraya membawa Stefa ke ranjang pasien pemeriksaan diikuti oleh David di belakangnya.


            Dokter itu mulai mengangkat baju atasan Stefa dan mengoleskan gel di perutnya. Sama seperti saat Judith


melakukan pemeriksaan kandungan beberapa waktu lalu. Sebuah alat mulai digerakkan oleh dokter itu di atas perut yang sudah dibaluri gel khusus.


            “Jadi bagaimana hasilnya, apakah istriku sedang mengandung?” tanya David tak sabaran. Stefa memutar bola matanya saat ia di klaim sebagai istri David. Oh yang benar saja.


            Dokter itu tersenyum kemudian menatap kembali layar di depannya. Tangannya bergeser ke sisi lain perut Stefa.


            “Anda bisa melihat layar itu!” dokter itu menunjuk ke arah layar monitor.


            “Di layar monitor tak terlihat dan tak menunjukkan bahwa istri Anda sedang mengandung. Mungkin untuk saat ini janin masih belum terlihat jelas karena mengukur dari kegiatan intim terakhir Anda seminggu yang lalu, itu memungkinkan bahwa istri Anda saat ini belum hamil. Atau bisa saja janin belum bisa terdeteksi oleh alat USG ini.” dokter itu menjelaskan sedemikian rupa. Stefa menghela napas lega karena ia dinyatakan tidak hamil oleh dokter itu.


            Berbeda dengan David yang terlihat marah karena tak sesuai dengan keinginannya.


            “Saya sarankan kalian kembali memeriksa kandungannya lagi 1 bulan kemudian. Hasilnya akan ketahuan apakah istri Anda memang sedang hamil atau tidak.” dokter itu melanjutkan kalimat penjelasannya membuat David menumbuhkan harapannya.


            Stefa mendadak lesu tak bersemangat karenanya. Ia benar-benar berharap tak pernah mengandung bayi yang ditanam oleh David di dalam rahimnya. Bukan ia tak mensyukuri titipan Tuhan padanya, hanya saja ia benar-benar belum siap dan tak mau.


            “Kita akan kembali memeriksakan kandunganmu 1 bulan yang akan datang. Dan akan kupastikan bahwa kau mengandung anakku.” David kembali mengingatkan Stefa saat mereka masuk kembali ke dalam mobil dan menjauhi bangunan rumah sakit itu.

__ADS_1


            “Kau mendengarku?” tanya David memastikan karena Stefa hanya diam saja tak menanggapinya.


            “Terserah kau saja!” cetus Stefa terdengar begitu enggan dan malas menanggapi David. Lagipula Stefa tak akan membiarkan hal itu terjadi, untuk saat ini ia hanya perlu mengikuti apa yang dikatakan oleh pria yang berada di sampingnya itu.


__ADS_2