My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 19 Ide Nakal


__ADS_3

Stefa baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah mandi, rambut yang masih basah


membuat tetesan air menetes di lantai yang berasal dari ujung rambut miliknya. Satu


tangannya memegang handuk putih ukuran kecil untuk mengeringkan rambut dan


menahan agar tetesan air dari rambutnya tidak terjatuh ke lantai kamar.


Setelah selesai mengoleskan beberapa krim perawatan wajahnya, Stefa bangkit dari kursi yang


berpasangan dengan meja rias dan berjalan ke arah tempat tidur yang sangat


besar. Tempat tidur yang empuk dan nyaman sudah pasti membuat Stefa akan tidur


nyenyak malam ini.


Stefa menaiki tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhnya di atas sana. Karena rasa lelah dan sakit


di badannya masih terasa, Stefa enggan untuk mengganti jubah mandinya terlebih


dahulu dengan baju tidur. Ia cukup meranya nyaman dengan hanya menggunakan


jubah mandi itu.


Matanya mulai terpejam dan napasnya mulai teratur. Jubah mandi yang masih melekat di tubuh Stefa


sedikit tersingkap mengakibatkan paha mulus miliknya terpampang cukup jelas.


Beruntung di dalam kamar itu hanya ada Stefa seorang.


Baru saja Stefa akan menjemput mimpi indahnya, suara bunyi bel membuat Stefa terganggu dari tidur


nyamannya. Keningnya berkerut karena mendengar bunyi bel yang terus-terusan


berbunyi.


“Ssh, siapa sih yang menekan bel terus-terusan?” gumam Stefa kesal dengan mata yang masih tertutup


rapat. Ia enggan bangun dari posisi nyamannya saat ini. Ia membiarkan orang itu


menunggu di luar sana dan menekan bel. Terlalu malas rasanya untuk bangkit dari


posisi ternyamannya saat ini.


Namun lagi-lagi bunyi bel itu terdengar, bahkan kini suara bel itu lebih terdengar nyaring. Orang


yang berada di luar sana terus-terusan menekan bel agar segera di bukakan


pintu. Mau tidak mau Stefa harus bangkit dari posisi ternyamannya saat ini.


Stefa berjalan keluar dari kamarnya, dan menuju pintu utama ruangan itu. Rambutnya yang terlihat


berantakkan pun tidak ia perdulikan, yang terpenting saat ini adalah membuat si


pembuat keributan dengan membunyikan bel segera pergi.


Cklek.


Pintu utama ruangan itu terbuka. Stefa yang masih belum mengembalikan kesadarannya secara penuh tidak


menyadari siapa yang kini ada di hadapannya. Matanya masih setengah terpejam


saat ia membukakan pintu utama tersebut. Matanya tidak bisa di ajak kompromi,


dan sangat berat untuk membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


Sedangkan pria yang saat ini berada di hadapan Stefa sedang terkejut melihat penampilan berbeda


Stefa saat ini. Rambut yang acak-acakkan tidak seperti biasanya, jubah mandi


yang masih melekat dan sedikit terbuka di bagian dadanya, dengan belahan bagian


paha yang ikut sedikit terbuka.


Pria itu merasa malu melihat penampilan Stefa saat ini dan segera memalingkan wajahnya ke samping untuk menutupi rasa malu dan gugupnya. Ada semburat merah di pipinya, ini adalah kali


pertamanya melihat Stefa seperti itu.


“Siapa?” tanya Stefa pada orang itu dengan mata yang masih terpejam.


Tidak ada jawaban. Stefa yang masih belum meraih kesadaran sepenuhnya mengerutkan keningnya lagi,


kenapa tidak ada jawaban padahal sedari tadi bel berbunyi terus?!


“Siapa?” tanya Stefa lagi dan kini malah di susul dengan menguap. Satu tangannya menggaruk kepala


yang sebenarnya tidak terasa gatal dan malah semakin membuat rambutnya semakin


berantakan tapi tidak membuat Stefa menjadi jelek dan tidak enak untuk di


pandang.


Geram. Karena merasa tidak ada yang menyahut, Stefa merasa geram. Tidurnya terganggu dengan bunyi


bel yang tidak henti-hentinya. Dan sekarang saat ia sudah terbangun dan membuka


pintu, orang itu malah tidak menjawab. Apakah orang itu sudah pergi karena


Stefa yang terlalu lama membuka pintunya? Atau hanya orang yang jahil saja?


Karena merasa tidak ada jawaban, Stefa memutuskan untuk kembali ke kamar setelah menutup pintu utama. Bukannya Stefa berjalan ke arah kamar, dia malah berjalan ke arah sofa dan melemparkan


Rupanya Stefa benar-benar tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Tidak membutuhkan waktu


yang lama untuk membuat Stefa tidur terlelap, karena saat ini Stefa sudah


benar-benar menjemput alam mimpinya sendiri.


Pintu utama ruangan itu terbuka secara perlahan. Pelaku utama si pembuat keributan dengan bunyi bel itu


masuk ke dalam. Saat Stefa menutup pintu, satu kakinya menahan pintu itu agar


tak tertutup rapat. Sebenarnya ada yang ingin dia sampaikan pada Stefa saat


Stefa membukakan pintu tersebut, namun melihat Stefa yang berpenampilan seperti


itu dia menjadi merasa gugup sendiri.


Pria itu berjalan mendekat ke arah Stefa yang sudah terlelap. Salah satu kakinya menjuntai ke


bawah menyentuh lantai. Membuat paha mulusnya kembali terpampang. Pria itu


mati-matian menelan ludahnya sendiri menahan gejolak yang ada di dalam tubuhnya


agar tidak tergoda dengan paha mulus Stefa yang menggiurkan.


Dia berjongkok di samping tubuh Stefa dan memperhatikan setiap titik wajah Stefa yang terlihat


berdamai dengan mimpinya. Bibir pria itu tertarik ke atas membuat sebuah


lengkungan senyum tercipta.

__ADS_1


Tangannya menyentuh kening Stefa dengan lembut, dan tak lama di susul dengan sebuah kecupan di


kening Stefa.


“Kau memang lebih cantik saat sedang tidur.” Ucap pria itu pelan.


Stefa bergumam tidak jelas saat ia merasakan sesuatu menempel di keningnya dan sentuhan ringan di


keningnya.


Pria itu menjauhkan tangannya, dan lebih berfokus untuk memperhatikan wajah Stefa. Senyuman itu


tidak henti-hentinya tersungging dari wajahnya saat ini. Melihat Stefa yang


sedang tertidur sepertinya akan menjadi hobby baru untuknya.


Perlahan pria itu menggendong tubuh Stefa dan berjalan menuju kamar tidur. Tubuh Stefa di


rebahkan di atas tempat tidur, jubah mandi yang masih dikenakan Stefa pun ia


rapihkan agar tubuh mulus Stefa tidak terpampang seperti sebelumnya.


Pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Stefa sampai sebatas dada. Dan lagi-lagi sepertinya


Stefa benar-benar mengantuk, bahkan dia tidak terusik sama sekali dengan


gerakan-gerakkan dari pria yang telah menggendongnya ke kamar.


Pria itu masih enggan meninggalkan Stefa sendirian dan tatapannya masih menelisik wajah Stefa yang


tertidur. Tiba-tiba sebuah ide nakal melesat di pikirannya, senyum penuh arti


pun menghiasi wajah pria itu. Entah setan mana yang datang mendekatinya


sehingga membuat ide seperti itu muncul di otaknya.


Jubah mandi bagian atas yang sempat ia rapihkan untuk menutupi bagian dada Stefa ia buka sedikit. Stefa


yang saat ini tidak memakai bra, mempermudah pria itu untuk melancarkan ide


nakalnya.


Kepalanya mendekat ke arah buah dada milik Stefa. Bibirnya ia tempelkan dan mulai menggigit dan


menghisap buah dada bagian atas milik Stefa sehingga meninggalkan sebuah tanda


merah disana.


Warna merah itu terlihat kontras dengan kulit putih milik Stefa. Merasa puas karena hasil


karyanya sudah tercetak, pria itu tersenyum dan menutup kembali jubah mandi


itu. Ia kembali mengecup kening Stefa sebelum meninggalkan Stefa sendirian


disana.


Saat ia meninggalkan kamar Stefa dan melangkah keluar. Tak henti-hentinya ia tersenyum, ia


membayangkan ekspresi Stefa saat wanita itu sudah terbangun dan melihat tanda


merah di buah dadanya.


“Aah, aku sudah tidak sabar melihat ekspresimu yang terkejut karena melihat hasil maha karyaku di


tubuhmu.” pria itu berdialog dengan dirinya sendiri dengan tidak menghentikkan

__ADS_1


langkahnya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana yang ia kenakan.


__ADS_2