
Stefa baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah mandi, rambut yang masih basah
membuat tetesan air menetes di lantai yang berasal dari ujung rambut miliknya. Satu
tangannya memegang handuk putih ukuran kecil untuk mengeringkan rambut dan
menahan agar tetesan air dari rambutnya tidak terjatuh ke lantai kamar.
Setelah selesai mengoleskan beberapa krim perawatan wajahnya, Stefa bangkit dari kursi yang
berpasangan dengan meja rias dan berjalan ke arah tempat tidur yang sangat
besar. Tempat tidur yang empuk dan nyaman sudah pasti membuat Stefa akan tidur
nyenyak malam ini.
Stefa menaiki tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhnya di atas sana. Karena rasa lelah dan sakit
di badannya masih terasa, Stefa enggan untuk mengganti jubah mandinya terlebih
dahulu dengan baju tidur. Ia cukup meranya nyaman dengan hanya menggunakan
jubah mandi itu.
Matanya mulai terpejam dan napasnya mulai teratur. Jubah mandi yang masih melekat di tubuh Stefa
sedikit tersingkap mengakibatkan paha mulus miliknya terpampang cukup jelas.
Beruntung di dalam kamar itu hanya ada Stefa seorang.
Baru saja Stefa akan menjemput mimpi indahnya, suara bunyi bel membuat Stefa terganggu dari tidur
nyamannya. Keningnya berkerut karena mendengar bunyi bel yang terus-terusan
berbunyi.
“Ssh, siapa sih yang menekan bel terus-terusan?” gumam Stefa kesal dengan mata yang masih tertutup
rapat. Ia enggan bangun dari posisi nyamannya saat ini. Ia membiarkan orang itu
menunggu di luar sana dan menekan bel. Terlalu malas rasanya untuk bangkit dari
posisi ternyamannya saat ini.
Namun lagi-lagi bunyi bel itu terdengar, bahkan kini suara bel itu lebih terdengar nyaring. Orang
yang berada di luar sana terus-terusan menekan bel agar segera di bukakan
pintu. Mau tidak mau Stefa harus bangkit dari posisi ternyamannya saat ini.
Stefa berjalan keluar dari kamarnya, dan menuju pintu utama ruangan itu. Rambutnya yang terlihat
berantakkan pun tidak ia perdulikan, yang terpenting saat ini adalah membuat si
pembuat keributan dengan membunyikan bel segera pergi.
Cklek.
Pintu utama ruangan itu terbuka. Stefa yang masih belum mengembalikan kesadarannya secara penuh tidak
menyadari siapa yang kini ada di hadapannya. Matanya masih setengah terpejam
saat ia membukakan pintu utama tersebut. Matanya tidak bisa di ajak kompromi,
dan sangat berat untuk membuka matanya lebar-lebar.
__ADS_1
Sedangkan pria yang saat ini berada di hadapan Stefa sedang terkejut melihat penampilan berbeda
Stefa saat ini. Rambut yang acak-acakkan tidak seperti biasanya, jubah mandi
yang masih melekat dan sedikit terbuka di bagian dadanya, dengan belahan bagian
paha yang ikut sedikit terbuka.
Pria itu merasa malu melihat penampilan Stefa saat ini dan segera memalingkan wajahnya ke samping untuk menutupi rasa malu dan gugupnya. Ada semburat merah di pipinya, ini adalah kali
pertamanya melihat Stefa seperti itu.
“Siapa?” tanya Stefa pada orang itu dengan mata yang masih terpejam.
Tidak ada jawaban. Stefa yang masih belum meraih kesadaran sepenuhnya mengerutkan keningnya lagi,
kenapa tidak ada jawaban padahal sedari tadi bel berbunyi terus?!
“Siapa?” tanya Stefa lagi dan kini malah di susul dengan menguap. Satu tangannya menggaruk kepala
yang sebenarnya tidak terasa gatal dan malah semakin membuat rambutnya semakin
berantakan tapi tidak membuat Stefa menjadi jelek dan tidak enak untuk di
pandang.
Geram. Karena merasa tidak ada yang menyahut, Stefa merasa geram. Tidurnya terganggu dengan bunyi
bel yang tidak henti-hentinya. Dan sekarang saat ia sudah terbangun dan membuka
pintu, orang itu malah tidak menjawab. Apakah orang itu sudah pergi karena
Stefa yang terlalu lama membuka pintunya? Atau hanya orang yang jahil saja?
Karena merasa tidak ada jawaban, Stefa memutuskan untuk kembali ke kamar setelah menutup pintu utama. Bukannya Stefa berjalan ke arah kamar, dia malah berjalan ke arah sofa dan melemparkan
Rupanya Stefa benar-benar tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Tidak membutuhkan waktu
yang lama untuk membuat Stefa tidur terlelap, karena saat ini Stefa sudah
benar-benar menjemput alam mimpinya sendiri.
Pintu utama ruangan itu terbuka secara perlahan. Pelaku utama si pembuat keributan dengan bunyi bel itu
masuk ke dalam. Saat Stefa menutup pintu, satu kakinya menahan pintu itu agar
tak tertutup rapat. Sebenarnya ada yang ingin dia sampaikan pada Stefa saat
Stefa membukakan pintu tersebut, namun melihat Stefa yang berpenampilan seperti
itu dia menjadi merasa gugup sendiri.
Pria itu berjalan mendekat ke arah Stefa yang sudah terlelap. Salah satu kakinya menjuntai ke
bawah menyentuh lantai. Membuat paha mulusnya kembali terpampang. Pria itu
mati-matian menelan ludahnya sendiri menahan gejolak yang ada di dalam tubuhnya
agar tidak tergoda dengan paha mulus Stefa yang menggiurkan.
Dia berjongkok di samping tubuh Stefa dan memperhatikan setiap titik wajah Stefa yang terlihat
berdamai dengan mimpinya. Bibir pria itu tertarik ke atas membuat sebuah
lengkungan senyum tercipta.
__ADS_1
Tangannya menyentuh kening Stefa dengan lembut, dan tak lama di susul dengan sebuah kecupan di
kening Stefa.
“Kau memang lebih cantik saat sedang tidur.” Ucap pria itu pelan.
Stefa bergumam tidak jelas saat ia merasakan sesuatu menempel di keningnya dan sentuhan ringan di
keningnya.
Pria itu menjauhkan tangannya, dan lebih berfokus untuk memperhatikan wajah Stefa. Senyuman itu
tidak henti-hentinya tersungging dari wajahnya saat ini. Melihat Stefa yang
sedang tertidur sepertinya akan menjadi hobby baru untuknya.
Perlahan pria itu menggendong tubuh Stefa dan berjalan menuju kamar tidur. Tubuh Stefa di
rebahkan di atas tempat tidur, jubah mandi yang masih dikenakan Stefa pun ia
rapihkan agar tubuh mulus Stefa tidak terpampang seperti sebelumnya.
Pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Stefa sampai sebatas dada. Dan lagi-lagi sepertinya
Stefa benar-benar mengantuk, bahkan dia tidak terusik sama sekali dengan
gerakan-gerakkan dari pria yang telah menggendongnya ke kamar.
Pria itu masih enggan meninggalkan Stefa sendirian dan tatapannya masih menelisik wajah Stefa yang
tertidur. Tiba-tiba sebuah ide nakal melesat di pikirannya, senyum penuh arti
pun menghiasi wajah pria itu. Entah setan mana yang datang mendekatinya
sehingga membuat ide seperti itu muncul di otaknya.
Jubah mandi bagian atas yang sempat ia rapihkan untuk menutupi bagian dada Stefa ia buka sedikit. Stefa
yang saat ini tidak memakai bra, mempermudah pria itu untuk melancarkan ide
nakalnya.
Kepalanya mendekat ke arah buah dada milik Stefa. Bibirnya ia tempelkan dan mulai menggigit dan
menghisap buah dada bagian atas milik Stefa sehingga meninggalkan sebuah tanda
merah disana.
Warna merah itu terlihat kontras dengan kulit putih milik Stefa. Merasa puas karena hasil
karyanya sudah tercetak, pria itu tersenyum dan menutup kembali jubah mandi
itu. Ia kembali mengecup kening Stefa sebelum meninggalkan Stefa sendirian
disana.
Saat ia meninggalkan kamar Stefa dan melangkah keluar. Tak henti-hentinya ia tersenyum, ia
membayangkan ekspresi Stefa saat wanita itu sudah terbangun dan melihat tanda
merah di buah dadanya.
“Aah, aku sudah tidak sabar melihat ekspresimu yang terkejut karena melihat hasil maha karyaku di
tubuhmu.” pria itu berdialog dengan dirinya sendiri dengan tidak menghentikkan
__ADS_1
langkahnya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana yang ia kenakan.