
Mana nih like, vote sama komentarnya?? Kok sepi amatan, padahal udah update nih... Tembus 500 like di kasih double update nih...
***
Tuhan akan selalu memberikan kebahagiaan bagi siapa saja yang mau berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan itu sendiri. Terkadang manusia rela melakukan apa pun untuk mendapatkan kebahagiaan itu, demi mendapatkan kepuasannya mereka terkadang tak tanggung-tanggung melakukan hal terburuk sekalipun, menghalalkan segala macam cara. David-lah salah satunya. Pria itu juga telah melakukan segala macam cara untuk mendapatkan kebahagiannya. Mulai dari melakukan hal tidak terpuji sampai akhirnya buah dari kesalahannya harus ia tanggung.
Namun Tuhan berkehendak lain. Tuhan memberikan sejuta kesempatan untuk David menebus kesalahan dan dosa-dosanya. Tuhan tidak pernah menutup mata, hal baik atau hal buruk pun Tuhan tahu semuanya. Tidak ada satu pun umat-Nya yang luput dari pengawasannya, entah itu hanya sedetik, semenit, satu jam atau bahkan puluhan dan ribuan tahun pun Tuhan akan mengawasi mereka.
Kali ini Tuhan kembali memberikan kebahagiaan dan kesempatan untuk David, sebentar lagi pria itu akan menjadi seorang ayah. Stefa tengah berjuang di dalam ruang persalinan ditemani olehnya. Persalinan normal memang membutuhkan tenaga ekstra untuk Stefa, dia memiliki keinginan kuat untuk melahirkan buah hatinya terlahir dengan normal. Suara penuh perjuangan memenuhi ruang persalinan itu, dibantu dengan dokter ahli dan
juga beberapa perawat. Tak henti-hentinya David memanjatkan doanya kepada Sang Pencipta, padahal sebenarnya ia bukanlah jemaat yang patuh akan ajaran Tuhannya.
Panjatan doa untuk meminta keselamatan bagi Stefa dan juga buah hati mereka tak henti-hentinya ia
senandungkan di dalam hati. Meminta kelancaran dalam persalinan yang kini tengah Stefa perjuangkan agar lebih mudah dan lebih cepat. Hatinya bertalu bahagia saat suara yang begitu asing di telinganya baru saja terdengar cukup nyaring. Suara penuh perjuangan Stefa tergantikan dengan suara asing itu tetapi mampu memberikan rasa bahagia yang menumpuk.
Bayinya. Bayinya telah lahir. Oh astaga. David tidak sabar ingin melihat dan menggendong bayinya. Begitu pula dengan Stefa, meskipun tubuhnya terasa lemas karena tenaganya banyak yang terkuras. Tetapi setelah mendengar tangisan bayinya, rasa lelah dan lemas itu tergantikan. Sangat sebanding. Air mata bahagia merembes keluar dari pelupuk matanya, tangannya saling menggenggam dengan David di sampingnya. Mereka saling melemparkan senyum bahagia penuh haru.
David mengecup kening Stefa tiada hentinya. Mengucapkan rasa terima kasihnya pada wanita yang telah bersedia mengandung dan mempertahankan buah hati mereka, sampai pada akhirnya buah hati mereka terlahir ke dunia.
“Selamat Tuan, Nyonya. Anak kalian perempuan. Dia terlahir dengan sehat dan sempurna. Anda ingin memeluknya sebentar sebelum perawat membersihkannya?” dokter itu memberikan penawaran yang tak mungkin bisa ditolak oleh keduanya.
David dan Stefa mengangguk. Pria itu merentangkan tangannya bersiap untuk menerima buah hatinya di dalam gendongannya. Ia begitu hati-hati saat dokter menyodorkan buah hati mereka ke dalam gendongan David. Nanar mata yang kembali memancarkan haru dan rasa bahagia tidak bisa tertahankan. Pria itu dengan gemetar menggendong buah hatinya. Bayi berkualitasnya ada di dalam gendongannya. Hatinya kian membuncah bahagia saat matanya menangkap wajah buah hatinya dengan seksama.
“Astaga. Dia menggemaskan.” Seru David dengan senyumannya yang merekah. Senyuman itu menular pada Stefa di sampingnya.
“Lihatlah, sayang! Wajahnya begitu menggemaskan. Astaga. Kenapa pipinya begitu penuh dan bulat?!” Stefa memutar bola matanya mendengar David berkata seperti itu. Jelas semua bayi akan terlahir seperti itu, menggemaskan, pipi penuh dan bulat, mata yang jernis dan bersih menandakan bahwa mereka begitu polos.
Dave mendekatkan dirinya pada Stefa yang sedang menggendong buah hatinya.
“Dia mirip sepertimu.” Ucap Stefa begitu pelan tetapi bisa didengar oleh David. Pria itu menyeringai lebar.
__ADS_1
“Tentu saja dia mirip denganku. Aku Ayahnya, bayi berkualitasku memang pasti mirip denganku. Aku yang membuatnya.” Kembali, Stefa memutar bola matanya jengah. Terlalu narsis untuk seukuran pria lajang yang baru saja statusnya berganti menjadi seorang ayah yang lajang.
Stefa kembali meneteskan air mata kebahagiaannya saat ia memeluk bayi dalam gendongannya. Berulang kali ia juga mengecupi wajah bayinya dengan lembut. Bayi itu menguap lebar dengan merengek, membuat Stefa tertawa geli melihatnya. Pipi yang bulat, penuh, putih sedikit semburat merah di pipinya menambah Stefa merasakan gemas tak bertepi.
Wajah yang begitu mirip dengan David, seolah gen David begitu kuat melekat pada bayi mereka yang baru saja lahir ke dunia. Hidung mancung sedikit mungil, mata bulat indah seperti milik Stefa, bibir mungil tipis berwarna merah ceri perpaduan antara bibir Stefa dan David. Bayi itu benar-benar terlahir dengan menggemaskan, cantik, dan sempurna.
Kabar bahagia itu ia bagikan dengan orang-orang yang dekat dengan mereka. Tak luput, Revaldo pun mendapatkan kabar langsung dari David melalui telepon atas kelahiran putri pertama mereka. Pria itu begitu terdengar lega dan bahagia mendengar wanita yang sampai saat ini masih dicintainya telah berhasil melahirkan seorang bayi perempuan. David tidak tanggung-tanggung membagikan kebahagiannya, ia menceritakan tentang bayinya yang begitu mirip dengan dirinya.
“Selamat untukmu, David. Kau sudah menjadi seorang Ayah sekarang. Katakan selamat untuk Stefa juga. Dia sudah menjadi seorang Ibu yang hebat.” Revaldo sekali lagi memberikan selamat untuk keduanya.
“Thanks, bro! Kau harus melihat mengatakannya sendiri pada Stefa. Kau juga harus melihat bayi kami. Kau akan menyukainya.” David tak henti-hentinya berkata penuh kebahagiaan. Hubungannya dengan Revaldo memang sudah membaik semenjak pria yang sedang berada di Indonesia itu melakukan pengorbanan untuk dirinya dan untuk Stefa.
“Aku pasti akan datang ke sana. Jadi, kapan kau akan menikahi Stefa?”
David semakin melebarkan senyumannya. “Secepatnya.”
Revaldo mengangguk paham meskipun ia yakin, David tidak akan mampu melihatnya.
“Kau harus segera menikahinya sebelum aku berubah pikiran. Ditambah, bayi kalian sudah lahir.” Revaldo tergelak dengan ancamannya sendiri.
***
Stefa sudah di pindahkan ke ruang inap VVIP. David memberikan yang terbaik untuk calon istrinya itu, ia tak ingin Stefa hanya mendapatkan ruangan inap yang biasa-biasa saja. Uang bukanlah menjadi masalah untuknya, uang bisa ia cari kembali. Bahkan untuk beberapa belas atau puluh tahun ke depan, uang yang ia miliki tidak akan pernah habis hanya untuk memberikan kebahagiaan dan kenyamanan untuk Stefa dan buah hati mereka.
Ken dan Charlote, serta Brianna sudah hadir di sana. Mereka langsung menangis haru, wanita yang rapuh tetapi selalu terlihat sok tangguh itu baru saja melahirkan. Ken mengusap puncak kepala Stefa seraya tersenyum penuh bahagia pada Stefa.
“Selamat, sayang. Kau sudah menjadi seorang Ibu.” Ken mengecup kening Stefa dengan hangat.
“Terima kasih, Paman.” Stefa membalas senyum hangat Ken.
“Kalian sudah menyiapkan namanya?” tanya Charlote yang sedari tadi tidak henti-hentinya menangis. Hidungnya sudah memerah karena terlalu banyak menangis.
__ADS_1
“Tante, berhentilah menangis, matamu bisa sembab! Kami belum menyiapkan namanya.” Balas Stefa dengan jujur.
Perawat masuk ke dalam ruangan membawa bayi perempuan yang baru saja terlahir ke dunia dengan dalam keadaan sudah bersih dari darah dan semacamnya. Mata indah itu tertutup menandakan jika bayi mungil itu sedang tertidur begitu lelapnya. Dengan hati-hati Stefa menerima bayinya dan mendekapnya dengan erat, tetapi hati-hati. Bayi menggemaskan itu begitu terlihat murni saat sedang tertidur. Perpaduan gen miliknya dan gen milik David kini sudah berada di dalam rengkuhannya. Ia tak pernah menyangka jika kedua gen yang disatukan hasilnya akan sesempurna itu.
“Oh, ya Tuhan, Ken. Lihatlah! Begitu menggemaskan sekali.” Kata gemas kembali Stefa dengar, Charlote adalah orang ketiga yang mengatakan itu setelah dirinya dan juga David. Pria itu masih belum kembali, mungkin ia masih sibuk membanggakan buah hatinya pada semua orang. Pria segagah itu rupanya akan terlihat kekanakan saat ia baru berganti status menjadi seorang ayah. Stefa jadi geli sendiri membayangkannya.
“Kemarilah, sayangku.” Ken menggendong bayi menggemaskan itu dengan hati-hati. Charlote dan Brianna segera merapat padanya, ingin melihat secara lebih dekat bagaimana bentuk wajah yang rupawan dan menggemaskan itu.
“Stefa, kau benar-benar hebat. Kau memiliki bayi perempuan yang cantik, begitu rupawan. Dia terlihat begitu murni. Aku salut padamu dan juga Dave. Bagaimana bisa kalian membuat anak selucu ini?” ungkap Brianna begitu tidak sabaran.
Stefa berdecak. “Kalau-kalau kau lupa, bayi berkualitasku yang menggemaskan ini dibuat karena Ayahnya yang memaksa. Tapi aku tidak menyesal karena telah mengandung dan melahirkannya. Kau benar, kau memang harus salut dan bangga padaku. Jadi kau juga harus mencari pria yang saling mencintai denganmu. Ingat! Kau harus menikah dulu baru memiliki bayi yang lucu seperti bayiku.” Peringat Stefa seraya menunjukkan jari telunjuknya di depan wajah Brianna. Meskipun terdengar peringatannya lebih seperti mengancam, tetapi yang ada Stefa berakhir terkekeh dengan peringatannya sendiri.
“Damn! Mana mungkin aku bisa mendapatkan pria secepat itu. Kau pikir mendapatkan pria yang serba sempurna itu mudah apa?!” gerutu Brianna begitu kesal.
“Sudah, sudah. Kenapa kalian jadi berdebat. Oh, ya ampun, ya ampun. Tangannya bergerak.” Pekik Charlote begitu melihat bayi menggemaskan itu menggeliatkan tubuhnya, tangannya bergerak ke atas seolah ia sedang meregangkan otot-otot tubuhnya.
Bayi itu merengek, kemudian lama kelamaan menangis karena merasa kaget mendengar suara berisik disekitarnya. Mengganggu tidur lelapnya. Ken menepuk-nepuk bokong bayi itu pelan tetapi pasti, mencoba menengkan tangisan nyaring bayi itu dan agar terlelap kembali. Stefa hanya tersenyum memperhatikan Ken yang sedang menggendong buah hatinya. Pria itu terlihat begitu menyanyangi bayi menggemaskan itu, terlihat dari cara ia menatap, menggendong, memeluk penuh dengan rasa hangat.
“Dia menangis?” tanya David yang baru saja masuk ke dalam ruangan Stefa. sepertinya pria itu baru saja selesai memamerkan status barunya pada orang-orang.
Stefa mengangguk dan menunjuk bayinya dengan dagu. “Dia hanya merasa tidurnya mengganggu.” Jelasnya singkat memberikan jawaban pada David. Pria itu mendekat ke arah ranjang perawatan, Brianna segera menggeser tubuhnya membiarkan David duduk di tepian ranjang.
“Kau ingin makan sesuatu? Sedari tadi kau belum memakan apa pun.”
“Aku memang belum lapar, Dave.” David mengangguk.
Seolah bayi itu tahu kehadiran ayahnya, tangisannya pun mereda tetapi kembali merengek. Ia seakan meminta Ken untuk memindahkan tubuhnya ke dalam gendongan milik David. Ken seakan bisa membaca keinginan bayi itu, lalu menyerahkannya pada David. Pria itu menerimanya.
“Kau merindukanku, hm?” tanya David pada bayi itu dengan mengecupi pipi bulat penuh itu.
“Berhenti menciuminya, Dave!” tegur Stefa tetapi bibirnya malah menyungging senyum.
__ADS_1
“Kau cemburu karena aku menciumi bayi kita? Kemari, kemari! Aku akan menciummu.” David semakin mendekatkan dirinya yang masih menggendong bayinya, lebih dekat dengan Stefa. Wanita itu terkikik geli saat David berusaha mati-matian untuk mencium bibirnya. Padahal di dalam ruangan itu bukan hanya ada mereka berdua saja. Masih ada Ken, Charlote, bahkan wanita lajang masih berada di ruangan yang sama dengan mereka.
“Hentikan, Dave! Astaga. Kau benar-benar memalukan.”