
Maaf ya minggu kemaren author gak sempet update karena sibuk bikin naskah ini sama Brenda di sebelah... Sekadar info aja kalo cerita ini bakalan tamat di bab 70-an... Jadi, tetep ikutin alur ceritanya dan bakalan lebih banyak informasi yang bakalan author umumin di sebelah ya !!!
Buat readers yang belum sempet ikutan PO 1 novel My Love Story, kalian bisa langsung chat wa nomor admin 0818331696 atau yang mau beli versi ebook nya bisa langsung dibeli di Playstore atau Google Playbook !!!
***
Sesuai dengan janji yang ia ucapkan kepada Stefa, David memenuhi keinginan Stefa untuk mengunjungi makam kedua orang tua Stefa di London. Meskipun mereka harus menempuh waktu yang tidak singkat, David tetap mempriotitaskan keinginan calon istrinya itu dengan penuh perhitungan dan rencana yang matang. Di sana mereka
memesan hotel mewah. David dan Stefa bersepakat untuk menginap di hotel dengan bertujuan untuk menghabiskan waktu bersama tanpa ada satu orang pun yang mungkin saja nantinya akan mengganggu mereka berdua. Seperti pelayan atau siapa pun itu.
David sesekali meninggalkan Stefa di hotel untuk memiliki dan menghabiskan waktunya sendiri tanpa gangguan darinya, sedangkan ia akan datang ke kantornya untuk menghadiri beberapa pertemuan penting seperti rapat pemegang saham, atau mengenai pekerjaan lainnya. Berita tentang kehadiran Stefa di London kembali muncul diberitakan. Beruntung saja kehamilannya masih belum terendus oleh publik. Mungkin David atau Pamannya-lah yang telah menutupi kehamilannya sebelum pesta pernikahan itu digelar.
Atau bisa jadi ada orang lain yang melakukannya demi kebaikan Stefa dan juga bayinya. David dan Stefa memutuskan untuk tinggal di London untuk beberapa hari ke depan yang entah sampai kapan mereka akan memutuskan kembali ke Jepang. Ken dan Charlote menginginkan Stefa melahirkan bayinya di Jepang, melarang Stefa untuk tidak berlama-lama di London. Sepasang suami istri itu begitu ketakutan jika Stefa justru malah berniat tak ingin kembali ke Jepang. Apalagi kepergian Stefa kali ini didampingi oleh David.
“Kau sudah pulang?” Stefa menghampiri David dan mengambil jas serta tas kerjanya dan menyimpannya di atas sofa kamar hotelnya. Seperti biasa, David akan mencium kening, hidung, kedua pipi Stefa, dagu dan yang terakhir ciuman itu ia labuhkan di bibir Stefa.
“Kau sudah makan?” David malah balik bertanya setelah ia mencium bibir Stefa tanpa menghiraukan pertanyaan dari wanita hamil itu.
Wanita itu mengangguk. “Aku sudah makan tadi. Kau mau memesan makanan atau kita turun saja ke restaurant?”
David menghempaskan tubuhnya di atas sofa kemudian menarik Stefa agar terjatuh dan duduk tepat di atas pangkuannya. Melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Stefa, menyembunyikan wajahnya di dada Stefa dan enggan berpisah. Stefa tersenyum melihat David yang selalu bersikap manis dan manja seperti sekarang. Pria itu berubah semakin manis dari hari ke hari setelah Stefa menyatakan bahwa ia ingin menikah hanya dengan ayah kandung dari bayi berkualitasnya itu.
“Aku tidak lapar. Aku menginginkan yang lain.” Ucap David seraya menggesek-gesekkan wajahnya ke dada Stefa yang semakin berisi itu.
Stefa terkikik merasakan kegelian karena David melakukan itu, tetapi jari-jemarinya tidak berhenti mengusap-usap kepala David dengan sayang.
“Kau harus makan, Dave! Kau bisa sakit jika kau telat makan.”
David menggeleng menolak perkataan Stefa.
“Aku tidak akan sakit hanya karena aku tidak makan satu kali. Tapi aku akan mati kalau aku tidak bisa menghabiskan waktuku bersamamu dan juga anak kita.”
Stefa tertawa menanggapinya kemudian mendaratkan kecupan di bibir David.
“Apa kau selalu berkata seperti itu kepada setiap wanita yang pernah kau tiduri?”
Sebenarnya Stefa tidak ingin mendengar jawaban atas pertanyaannya itu. Ia akan merasakan sakit hati dan
kecemburuan jika David mengatakan yang sebenarnya. Tetapi ia juga ingin mengetahui apakah David pria yang sebegitu brengseknya, atau setidaknya pria itu hanya memiliki beberapa wanita yang menjadi mantan teman tidurnya hanya dalam hitungan jari saja.
David menjauhkan wajahnya dari dada Stefa kemudian menatapnya tidak suka.
“Apa menurutmu aku sebrengsek itu, sweety?”
Stefa terdiam kemudian tersenyum menggoda. “Sepertinya kau hanya tergila-gila kepadaku saja. Dan kau selalu senang setiap kali kau ataupun aku mendesahkan nama masing-masing.”
David menyeringai.
“Kau jadi nakal belakangan ini.”
__ADS_1
“Akhh!” Stefa terpekik saat David membalikkan tubuh Stefa dan membaringkannya di atas sofa dengan sekali hentakkan tetapi penuh kehati-hatian. Mengurung tubuh wanita itu tepat di antara tubuh kekarnya dan sofa yang menjadi tempat ia membaringkan tubuh wanita itu.
“Kau harus bertanggung jawab, sayang. Kau membangkitkan sisiku yang lain.” Bisik David terdengar menggeram rendah di telinga Stefa.
“Dave!” Stefa menahankan kedua tangannya di dada David.
Pria itu mengerutkan kedua alisnya tak mengerti.
“Kita membutuhkan ranjang.” Bisik Stefa dengan pipi yang sudah merona hebat karena ucapan yang terdengar menggoda itu, padahal mereka sudah mulai terbiasa dengan kegiatan seperti itu.
“Sepertinya kita memang memerlukan ranjang sekarang.”
Stefa kembali terpekik saat David tiba-tiba menarik tubuhnya dan menggendongnya menuju kamar tidur mereka. Stefa melingkarkan kedua tangannya di leher David seraya tertawa karena David tidak henti-hentinya menciumi wajah Stefa. Hatinya menghangat setiap kali David memperlakukan dirinya seperti itu. Ketakutan akan pilihannya karena memilih David kini hilang sudah. Memang di awal, Stefa sempat merasakan ketakutan karena telah salah memilih David untuk menikah dengannya.
Tetapi setelah menghabiskan waktu bersama cukup lama bersama dengan David, Stefa benar-benar sudah merasa yakin bahwa pilihannya adalah benar. Nyatanya mereka hidup bahagia sampai saat ini, ditambah dengan kehamilan Stefa yang sudah tidak lagi muda membuat David lebih bersikap manis kepadanya. Belakangan ini juga, Ken sedikit meluinak kepada David. Mungkin Pamannya itu sudah sedikit berubah pikiran setelah melihat kedekatan antara Stefa dan juga David selama mereka tinggal bersama.
Ken pun tahu bahwa setiap malam David selalu mendatangi kamar Stefa, begitu juga sebaliknya. Stefa akan mendatangi kamar David dan berakhir keluar dari kamar itu pada keesokan harinya berbarengan. Tentu saja para pelayan yang sering kali memergoki mereka berdua keluar dari kamar secara bersama-sama langsung melaporkan kepada Ken. Hanya saja Ken tidak bertindak sesuai dengan ancaman berupa syarat yang ia berikan kepada David yaitu tentang David yang tidak boleh melakukan hal-hal lebih kepada Stefa.
Setelah menghabiskan beberapa ronde dalam pertempuran yang menggairahkan, mereka saling berpelukan menyalurkan kehangatan, kenyamanan satu sama lain dalam keheningan. Punggung Stefa yang masih polos itu, tidak henti-hentinya David mengusapkan jari-jemarinya di sana. Merasakan kehalusan dan kelembutan kulit punggung Stefa, ia tak pernah merasa bosan untuk melakukan itu setelah pertempuran yang selalu menggairahkan. Sedangkan Stefa sendiri, wanita itu hanya memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan halus di punggungnya dan menghirup aroma tubuh David yang sudah menjadi aroma kesukaannya dalam beberapa waktu ini. Pemciumannya sudah terbiasa dengan aroma tubuh David. Aroma tubuh David sudah seperti lilin aroma terapi yang dinyalakan untuk Stefa, mampu menenangkan dirinya, merilekskan segala macam pikiran yang mungkin membuat lelah, serta memberikan rasa nyaman bagi Stefa dan juga kandungannya.
Seperti sudah menjadi kebiasaan juga, David akan menyentuhkan jari-jemarinya ke punggung polos Stefa. Dan sebelum mereka kembali terlelap dalam kegelapan menjemput mimpi indah setelah percintaan yang cukup melelahkan, David selalu menciumi perut buncit Stefa sampai wanita itu merasakan geli yang tiada henti. Ketika matanya mulai memberat, David akan menyesap puncak bukit kembar Stefa seolah ia adalah bayi yang membutuhkan asi milik ibunya.
Dan mereka akan tertidur kemudian terbangun kembali dalam keadaan David yang masih menyesapkan mulutnya di sana. Stefa terkadang kebingungan sendiri, dari mana David memiliki ide seperti itu. Atau setidaknya dari mana datangnya sifat David yang seperti itu. Seolah ia ingin menghabiskan jatahnya sebelum anak mereka terlahir ke dunia ini.
“Dave, tidak bisakah kita menghabiskan waktu bersama saja hari ini?! Aku bosan di sini sendirian, sedangkan kau disibukkan dengan pekerjaanmu di perusahaan.” Stefa menahan David yang akan pergi ke kantor dengan bergelayut manja di lengan David setelah pagi-pagi buta sekali, David menerima telepon bahwa ada keadaan mendesak di perusahaannya dan harus segera diselesaikan secepatnya.
Padahal mereka sudah berjanji akan menghabiskan waktu bersama seharian ini. Entah itu untuk makan malam bersama, atau mengunjungi tempat-tempat wisata pada siang harinya. Yang jelas, Stefa dan David sudah memiliki rencana mereka. Dan yang terjadi sekarang, David sedang memakai dasinya dan siap berangkat ke perusahaan. Tentu saja David merasa bersalah kepada Stefa karena telah melanggar janji mereka.
“Maafkan aku sayang, aku harus pergi ke kantor. Aku janji, setelah semuanya selesai. Kita akan menghabiskan waktu seharian tanpa ada yang mengganggu kita. Jangan memasang wajah seperti itu, kau terlihat menggemaskan!” David mencubit pipi Stefa dengan gemasnya.
Wanita itu berdecak sebal menjauhkan dirinya dari tubuh David yang sempat bergelayut manja di lengannya.
“Kau menyebalkan!” Stefa memalingkan wajahya tidak ingin menatap David.
“Hei, hei, lihat aku, sayang!” David menyentuh dagu Stefa, mengarahkan wanita itu agar bisa menatapnya dengan jelas.
“I’m promise. Aku akan segera kembali dengan cepat.”
Stefa kembali berdecak sebal tetapi tak urung juga ia menganggukkan kepalanya mengerti. David melakukan kegiatan rutinnya sebelum ia menginggalkan Stefa atau saat ia kembali pulang bertemu dengan Stefa.
“Aku berangkat dulu. Jangan lupa makan siangmu, minum vitaminnya, dan jangan nakal!” nasihat David mengingatkan Stefa.
“Baiklah, baiklah. Kau sangat cerewet.” Cebik Stefa kesal.
David hanya terkekeh kemudian ia benar-benar meninggalkan Stefa sendirian. Pintu itu tertutup perlahan seiring dengan menghilangnya tubuh David dari pandangan Stefa. Ia kembali menuju kamar tidurnya dan mencari handphone miliknya dan mengirimkan pesan kepada Lianne. Ia memberi tahu Lianne jika saat ini dirinya sedang kesepian di hotel. Stefa meminta Lianne untuk menemaninya, padahal Stefa tahu jika saat ini Lianne harusnya sudah berangkat bekerja.
Stefa membutuhkan teman mengobrol saat ini, ia akan mati kebosanan jika seharian ia hanya berdiam diri sendirian di hotel tanpa ada satu orang pun yang mengajaknya berbicara. Melanggar aturan David yang melarangnya untuk tidak mengundang siapa pun ke kamar hotelnya, meskipun itu sahabatnya sendiri.
Aahh. Saat-saat seperti ini Stefa jadi merindukan dirinya yang dulu. Ia akan bebas pergi ke mana saja tanpa ada seseorang yang melarangnya ini dan itu. Menghabiskan waktunya seharian bahkan sampai malam hanya untuk jalan-jalan bersama sahabatnya, mencicipi setiap makanan yang tersaji di kedai-kedai yang menjadi tempat nongkrong anak-anak muda zaman sekarang. Atau Stefa dan Lianne akan pergi ke kelab malam hanya sekadar untuk menari di lantai dansa dan kembali ke tempat tinggal masing-masing menjelang pagi hari.
__ADS_1
Tetapi semua itu telah berubah dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi waktu yang seperti itu. Kehidupannya berubah sepenuhnya setelah ia ditinggalkan oleh Marshal di acara pertunangan mereka sendiri, kemudian diperkosa oleh David bahkan sampai mengandung seperti sekarang ini.
“Haah.. Aku benar-benar bosan. Aku tidak menyangkan kalau aku akan menjadi seorang ibu dalam waktu dekat ini. Melahirkan anak kemudian menikah. ****! Seharusnya aku menikah dulu baru hamil kemudian melahirkan. Tapi aku tidak menyesal karena kau hadir di hidupku, my baby.” Setelah mengumpat kasar, ia mengusap perutnya yang membuncit itu.
“Tumbuhlah dengan baik di sana, dan lahirlah ke dunia ini dengan selamat. Kau adalah bayi berkualitasku dan juga David. Kuharap, saat kau dewasa nanti. Kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari pada kedua orang tuamu ini.” Stefa tersenyum memejakmkan kedua matanya membayangkan bahwa setelah bayinya terlahir, bayi itu akan tumbuh dewasa dengan memiliki wajah yang cantik atau tampan. Segala tindak-tanduknya selalu berada dalam batas kewajaran, tidak mendapatkan hal-hal buruk seperti yang selama ini terjadi di dalam hidupnya.
Sedari sore Stefa sudah tidak bisa berdiam diri lagi, ia kebosanan karena David tak kunjung juga pulang ke hotel. Sementara sekarang, jam sudah menunjukkan hampir jam 9 malam. Sahabatnya, Lianne sudah pulang sejak pukul 7 malam tadi karena Stefa merasa tak enak hati telah mengurangi porsi jam istirahat sahabatnya. Beberapa kali Stefa mencoba menghubungi David tetapi pria itu malah tidak menjawab panggilannya sama sekali. Berpuluh-puluh pesan telah ia kirimkan, tetapi hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban atau balasan pesan dari David.
Segala macam pikiran buruk tentang David berseliweran di kepalanya. Ia takut jika David menemui wanita lain selain dirinya, atau berkencan dengan wanita lain di belakang yang kemudian keesokan harinya ia mendapati berita telah memposting foto pria itu dengan wanita lain dalam keadaan bermesraan. Oh, tidak, tidak. Stefa tidak boleh berpikiran buruk tentang calon suaminya itu. Dan dari mana datangnya pemikiran buruk itu? Oh sial! Ia mencoba menghipnotis dirinya sendiri agar selalu berpikiran baik tentang David. Mungkin keterlambatan pulang David disebabkan karena pekerjaannya yang belum selesai. Ya, ya. Seperti itu.
Stefa menghela napasnya kemudian kembali ke kemar tidurnya, mencoba untuk memejamkan matanya yang memang sudah terasa mengantuk itu tetapi tetap ia paksakan untuk tetap menunggu kedatangan David. Tiba-tiba matanya terasa perih ingin menangis membayangkan kembali hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi di antara dirinya dan juga David. Pria itu seolah melupakan keberadaan Stefa di London saat ini. Bahkan hanya sekadar untuk membalas pesan Stefa saja, pria itu seolah tidak berniat sama sekali.
Ia terisak dalam diam dan dalam keadaan kamar yang gelap. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap, mengusap perutnya beberapa kali mencoba menenangkan dirinya sekaligus bayinya. Karena kefokusannya dalam isak tangisnya, Stefa tidak menyadari jika David baru saja membuka pintu kamar itu dan mendapati lampu kamar tidak menyala.
“Sayang, kau di dalam?” tanya David seraya mencari-cari tombol lampu untuk menyalakannya.
Dengan lampu kamar yang sudah nyala terang benderang, membuat matanya dengan cepat menangkap sosok wanita hamil yang sedang ia cari, sedang terisak menangis. Ia segera mempercepat langkahnya dan menghampiri dengan kekhawatirannya.
“Sayang, kenapa kau menangis?” David segera menangkup wajah Stefa dengan raut khawatir. Stefa tersadar dari isak tangisnya, menyadari David kini ada di hadapannya dalam keadaan mengkhawatirkan dirinya yang baru saja terisak menangis. Ia langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh David, memeluk tubuh kuat itu begitu erat dan kembali terisak.
“Sstt... ssttt... Apa ada yang sakit, hm?” David mengusap-usap kepala Stefa demi menenangkan wanita itu,
tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Kini tangisannya benar-benar pecah tak terkendali. Suasana yang tadinya sunyi sepi kini berganti dengan raungan tangisan Stefa di dalam pelukan David.
“Kau tidak mengabariku, Dave. Aku ketakutan. Aku takut kau melupakanku di sini, bersama bayi kita. Kau jahat!” Stefa memukul-mukul dada David dengan kesal bercampur tangisan. Tetapi kekhawatirannya tidak dapat disembunyikan, kelegaan merayapi dirinya melihat David kini sudah ada di depan matanya sendiri.
“Aku takut kehilanganmu.” Lanjutnya lagi. Sedangkan David malah mengulum senyumannya, menahan agar tidak terbahak mendengar Stefa yang saat ini sedang merajuk.
David menjauhkan tubuh Stefa sedikit memberi jarak di antara mereka.
“Maaf aku sudah membuatmu khawatir dan ketakutan. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan juga bayi kita, di mana pun aku berada. Kau dan bayi kita adalah segalanya bagiku. Sekali lagi aku minta maaf.” David mengecup kening Stefa setelah berhasil menenangkan wanita hamil itu. Isak tangisnya mulai mereda dan senyuman tersungging kembali di bibir Stefa. Mereka saling bertatap-tatapan dalam kehangatan yang menyelimuti perasaan mereka, saling memuja dan mendamba dalam diam.
Mereka berciuman dalam diam, menyalurkan cinta yang terasa tak akan pernah habis dan terkikis oleh waktu. Saling membelai dalam kelembutan. Saling membelit satu sama lain, mencecap setiap rasa dari ciuman yang terciptakan di antara mereka.
“Sekarang tidurlah! Aku akan membersihkan tubuh dulu, setelah itu akan berbaring di sampingmu.” Sekali lagi David mengecup kening Stefa, membantu wanita itu berbaring kembali di atas ranjang dan menyelimutinya sampai sebatas dada.
David segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama di dalam sana, David sudah keluar dengan pakaian yang bersih. Stefa bisa merasakan bagian sampingnya bergerak, menandakan bahwa David sudah berada di sampingnya saat ini. Ia segera membalikkan tubuhnya menghadap David, menatap pria itu dalam remang-remang cahaya dari lampu tidur.
“Kemarilah!” David merentangkan tangannya meminta Stefa untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya. Dan tentu saja Stefa akan senang hati melakukannya. Wanita itu segera masuk ke dalam pelukan David dan membalasnya tak kalah eratnya. Menenggelamkan wajahnya di dada David yang terasa kokoh tetapi memberikan rasa nyaman dan kehangatan baginya.
Tangan David membelai kepala Stefa berulang kali dalam gerakan yang beraturan. Berulang kali pula David
mendaratkan kecupan di puncak kepala Stefa.
“Tidurlah, sweety!” Stefa hanya bergumam pelan sebagai tanda membalas ucapan David padanya.
***
Jangan lupa tinggalin like, vote, dna komentarnya !! Jangan pelit-pelit like sama vote biar dapet pahala... wkwkwk
__ADS_1
Follow juga IG author @rhesirahaku atau WP author @RhesiKim ....