
Keesokan paginya Stefa terbangun di dalam kamar yang tak ia kenali sama sekali. Ia menyadari bahwa ia sedang berada di dalam kamar yang biasa ia tempati. Lantas dimana dirinya saat ini? Stefa mencoba untuk mendudukan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang.
Kepala serasa berdenyut dan berputar-putar. Tangannya bergerak untuk memijqt pangkal hidung dan pelipisnya yang terasa sakit. Perutnya bergejolak merasakan mual-mual akibat terlalu banyak mengonsumsi minuman dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.
Sebelum membuat kekacauan di dalam kamar orang lain, Stefa buru-buru turun dari ranjang dan berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya belum terisi apapun sama sekali. Setelah merasa lega karena telah memuntahkan isi perutnya, Stefa langsung mencuci wajah dan mulutnya dengan air di wastafel.
Lingkaran hitam di bawah matanya semakin terlihat jelas. Rambutnya terlihat berantakan tak terkendali lagi.
Beruntung make upnya tidak terlalu berantakan, sehingga saat bercermin tidak membuat Stefa jatuh pingsan karena wajahnya yang seperti zombie yang sering ia tonton di televisi.
Keluar dari kamar mandi, tangannya mengelus perutnya sendiri yang rata karena masih merasakan mual-mual dan terasa tidak nyaman. Matanya mengedar ke seluruh penjuru kamar asing itu. Tidak ada seorang pun disana kecuali dirinya saja dengan penampilan yang bisa di katakan, errr.. Sempat berpikir apakah dirinya telah tersesat dan salah masuk ke dalam kamar seseorang. Tapi siapa orang itu? Apa dirinya telah di culik seseorang?
Tapi, mana mungkin ia di culik dan diperlakukan dengan baik. Siapa pula yang ingin menculiknya sejauh ini.
Stefa keluar dari kamar tidur itu dan mencari si pemilik kamar. Saat menyadari bahwa dirinya berada di sebuah kamar dengan tipe kamar yang sama dengannya. Stefa menyadari bahwa ini adalah kamar milik David.
“Kenapa aku ada disini?” Stefa bertanya pada dirinya sendiri dengan nada kebingungan.
Bedanya, di kamar milik David seperti kamar Hotel yang memiliki dua lantai. Karena untuk menuju ruang tamu atau tempat lainnya, Stefa harus menuruni beberapa anak tangga. Berbeda dengan kamar Hotel miliknya yang hanya memiliki satu lantai saja. Meskipun di dalamnya tak berbeda jauh dengan milik David.
Stefa mencium aroma yang begitu sedap dan membuatnya merasa lapar saat itu juga. Cacing-cacing di dalam perutnya langsung berdemo minta diisi dengan makanan. Mengiktui insting manusia yang tengah lapar, Stefa berjalan mencari dapur dan menemukan siapa yang telah memasak dan menyebabkan aroma yang begitu sedap mendobrak di indera penciumannya.
Sampai di dapur, Stefa di suguhkan dengan pemandangan yang WOW. Disana, David sedang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana trainingnya. David sedang membuat sarapan untuknya dan juga Stefa. Tak disangka, seorang pria yang tampan,berbadan kokoh, seksi dan kaya raya mampu mengurus dirinya termasuk makanan untuk mengisi perutnya sendiri. Menyadari ada orang lain di dapur selain dirinya, David menoleh sebentar ke belakang.
Tanpa tersenyum sama sekali, David membalikkan badannya lagi dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Tak memperdulikan siapa yang sedang memperhatikannya disana, yang jelas, ia harus segera menyelesaikan masakannya. Mendapat sikap tak menyenangkan dari si pemilik kamar Hotel itu, Stefa mendadak kesal.
“Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku ada disini, bukan di kamarku?” tanya Stefa pada akhirnya dan melupakan sopan santunnya yang mengingatkan ia sedang berbicara dengan sang bos besar.
David masih sibuk dengan penggorengannya, tak menjawab pertanyaan Stefa dan pura-pura menulikan
pendengarannya. Stefa menggeram tertahan karena David telah mengabaikan pertanyaannya. Matanya terpejam demi mengubur kekesalannya agar tak meledak begitu saja dan membuat keributan di dalam kamar orang lain. Ya, orang lain. Tentu saja itu orang lain. Memang David siapanya Stefa?!
“Seharusnya aku berada di kamarku. Kenapa aku ada disini? Dan, tunggu...” Stefa baru sadar. Seharusnya ia masih berada di kelab malam, bukan berada di dalam kamar milik David.
“Shit! Seharusnya aku masih berada di kelab malam. Kenapa aku bisa ada disini?” umpat Stefa yang membuat David menghentikan aktivitasnya dan mematikan kompor. David berjalan ke arah Stefa yang tampak sedang mengumpat berulang kali.
“Kau tak ingat apa yang telah kau lakukan semalam? Jika aku tak datang, mungkin kau sudah berada di kamar Hotel milik pria lain yang jelas bisa saja memanfaatkan situasi karena kau tak sadarkan diri. Kau akan di jadikan budak **** semalaman oleh pria yang tak kau kenal.” Ucapan David menyentil ego Stefa, tak terima dengan ucapan David membuat Stefa mendelik tak suka.
“Jaga ucapan anda, sir! Aku bisa menjaga diriku sendiri, tanpa harus anda khawatirkan. Lagi pula, kenapa anda bisa datang ke kelab malam dan membawaku kesini? Seharusnya aku masih menikmati minumanku disana dan menari di lantai dansa dengan beberapa pria.”
David mengepalkan tangannya tak suka saat Stefa mengatakan serentetan kalimat itu.
__ADS_1
“Lantas, setelah itu kau akan menghabiskan malam panasmu dengan pria yang tak kau kenal. Begitu? Menjajakan tubuhmu pada pria-pria hidung belang yang tak kau kenal sama sekali, begitu? Oh, aku tahu. Kau memang wanita yang seperti itu, kau datang kesana hanya untuk mempertontonkan lekuk tubuhmu yang sialannya sangat seksi itu.”
Wajah Stefa sudah memerah menahan amarah, mendengar kalimat penghinaan yang di terima dari David membuat amarahnya benar-benar sudah berada di ubun-ubun. Ini kali pertama dalam sejarah hidupnya ada orang yang berani merendahkan dan menghina dirinya.
Bahkan, saat si pelacur Deborah membuat masalah dengannya. Wanita itu tak menghina separah ini dan kalimatnya bisa di toleransi. Namun, perkataan David sungguh sudah keterlaluan.
Pria itu sudah menyakiti dan melukai harga dirinya. Tidak cukupkah David menyakiti hatinya dengan kalimat yang menyuruh Stefa untuk melupakan apa yang terjadi di antara mereka seolah tak terjadi apapun?! Dan sekarang pria itu merendahkan harga dirinya, mengatakan bahwa Stefa datang ke kelab malam hanya untuk menjajakan tubuhnya.
“Kenapa diam saja? Apa yang aku katakan benar? Kau memang ingin menjajakan tubuhmu saja ‘kan disana? Atau kau ingin mencari pria yang mungkin levelannya sama dengan mantan kekasihmu itu?! Pria yang gemar dengan berbagai jenis ************ tanpa harus memikirkan resikonya.” kembali David melukai harga diri Stefa.
“Dengar ini Mr. David Fritz yang terhormat! Apapun yang saya lakukan, apapun yang saya perbuat dimana pun saya berada dan kapan pun, itu bukanlah urusan anda! Ini urusan saya, kehidupan pribadi saya. Anda tak perlu ikut campur tentang kehidupan saya, mengenai saya mau menjual tubuh saya pada siapa pun itu juga bukan urusan anda. Jangan bertindak dan bersikap seolah anda dan saya memiliki hubungan yang spesial. Anda dan saya hanya sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih. Jadi jangan ikut campur urusan pribadi saya! Dan mengenai pria yang termasuk dalam kategori mantan kekasih saya, saya sudah tidak perduli. Bagi saya, pria itu sama saja. Sama-sama penyuka ************ seperti yang anda maksudkan.”
Napasnya memburu saat Stefa mengucapkan kalimat panjang itu dengan sekali tarikan napas. Stefa juga tak percaya bahwa dirinya mampu mengatakan hal tak sopan, kasar, penuh dengan kesinisan seperti itu kepada atasannya. Ini semua gara-gara harga dirinya yang sudah David lukai begitu saja.
Tak ingin mendengar penghinaan lagi dari David, wanita itu buru-buru membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu keluar. David yang mendengar kalimat itu hanya diam mematung sedang mencerna kalimat yang Stefa ucapkan. Benar apa yang dikatakan wanita itu, itu bukanlah urusannya. Lalu, kenapa ia repot-repot harus mengurusi wanita dengan segala urusannya?
Saat sudah sampai di pintu keluar, Stefa berbalik kembali menghadap David yang masih diam di tempat yang sama sebelumnya.
“Terima kasih sudah menemukan saya di kelab malam dan membawa saya kesini. Jika anda tidak menemukan saya di kelab malam, seperti yang anda katakan tadi. Mungkin saya sudah menjadi budak **** pria yang tak saya kenali.” Setelah mengatakan kalimat yang penuh dengan nada sindirian, Stefa benar-benar pergi meninggalkan David dan membanting pintu itu dengan cukup keras.
Bunyi pintu yang tertutup begitu keras menyadarkan David untuk kembali ke kehidupan nyata. Ucapannya telah menyakiti hati seorang wanita, David sadar itu. Entah karena apa, David merasa kesal dan marah saat melihat Stefa menari dengan di himpit beberapa pria yang berotot di lantai dansa. Tangan-tangan nakal para pria disana mencoba menggerayangi tubuh Stefa dengan mengajak Stefa menari bersama sebagai tamengnya.
Sebuah kebetulan David berada di kelab malam yang sama dengan kelab malam yang Stefa datangi semalam. Tidak ada maksud untuk menguntit Stefa. David datang jauh lebih awal di kelab malam itu. Saat Stefa menuruni anak tangga dan duduk di meja bar, David merasa kenal dengan sosok wanita itu.
Di pojokan sana, David memperhatikan Stefa yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya dengan beberapa pria yang menghimpit tubuh Stefa. Bahkan, Stefa tampak tak keberatan saat salah seorang pria melingkarkan lengannya di pinggang Stefa dari belakang.
Stefa tertawa lepas saat beberapa pria menggodanya dan mengajaknya menari bersama. Pemandangan itu membuat darah David mendidih dan tak suka dengan apa yang matanya tangkap. Memang seharusnya David tak memperdulikan Stefa, mau dia menari dengan seberapa banyak pria yang mengelilinginya. David harusnya tak perduli sama sekali. David benar-benar tak bisa mengontrol amarahnya saat itu.
Di tambah, setelah Stefa meninggalkan gerombolan lelaki yang menemaninya menari di lantai dansa. Stefa memesan satu botol minuman dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Wanita itu hampir menghabiskan setengah botol minuman keras itu dan membuatnya mabuk dan tak sadarkan diri.
Kesempatan itu David gunakan untuk membawa Stefa kembali ke Hotel. Namun, kini David hanya merutuki mulutnya yang tajam. Karena ucapannya yang telah merendahkan Stefa, membuat wanita itu merasa terhina dan pergi meninggalkannya sendirian.
Bisa saja wanita itu menaruh rasa benci yang teramat dalam karena perkataannya yang menghina dan merendahkan dirinya. Sudah terlanjur seperti itu, David membiarkan semuanya mengalir dengan sendirinya. Ia enggan untuk datang ke kamar wanita itu dan menekan bel serta mengetuk pintunya.
Kemudian bersujud meminta maaf karena telah merendahkan diri wanita itu. Itu bukanlah sifatnya. Rasa egoisme yang tinggi mengalahkan segalanya. Merasa bahwa dirinya adalah seorang yang levelnya berada di atas Stefa, menahan David untuk mengatakan maaf kepada wanita yang telah ia sakiti hatinya.
David melupakan makanan yang sempat ia masak yang masih berada di dalam penggorengan itu. David masuk ke dalam kamarnya dan mengambil handuk, setelahnya masuk ke dalam kamar mandi dan berendam.
Di lain sisi. Stefa sedang melampiaskan kekesalan dan amarahnya dengan cara membanting seluruh botol minuman dari dalam lemari pendingin. Ruangan itu begitu berantakan karena beberapa botol minuman terbuat dari beling. Semua minuman yang sempat ia beli di supermarket terdekat kini sudah tak bersisa satu botol pun.
Umpatan kasar dan segala caci maki serta sumpah serapah terus keluar dari mulut Stefa.
__ADS_1
“Sialan. Dengan kurang ajarnya dia menghina dan merendahkan diriku. Memang siapa dia? Berani-beraninya dia menghina diriku dan mengatakan bahwa aku menjajakan tubuhku kepada pria-pria yang tak ku kenal. Bahkan sampai saat ini pun, aku masih menjaga keperawananku. Sialan.”
“Oh, Shit! Aku lepas kendali atas diriku sendiri. Astaga.”
Bunyi bel menghentikan Stefa untuk tak membanting botol-botol minuman itu lagi. Segera Stefa berjalan menuju pintu dan membukanya dengan sekali tarikan saja. Disana, sudah ada Judith dengan matanya yang melotot karena melihat penampilan Stefa yang acak-acakkan tak jelas.
“Ada apa denganmu?” tanya Judith setelah menerobos masuk ke dalam.
“Astaga, ya Tuhan. Kenapa berantakan seperti ini? Apa yang terjadi disini?” pekik Judith saat melihat kondisi kamar Hotel Stefa yang begitu berantakan. Di tambah pecahan-pecahan beling yang berserakan di lantai.
“Katakan, apa yang terjadi?!” tanya Judith dengan menahan kedua bahu Stefa.
Stefa menepis tangan Judith dari bahunya seraya mendengus dan tak menjawab. Ia malah melenggang masuk ke dalam kamar tidurnya dan membiarkan Judith mengintil dari belakang.
“Stefa, jelaskan apa yang terjadi?!” Judith meraih pergelangan tangan Stefa.
“Tak ada yang terjadi. Kau keluarlah, aku ingin sendiri!” Stefa mengusir Judith begitu saja tanpa mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Tidak. Aku tidak akan keluar sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi denganmu. Cepat, katakan!” Judith
memaksa Stefa untuk menjelaskan.
“Tak ada yang terjadi dan aku tak perlu menjelaskan apapun. Sekarang keluarlah!” sekali lagi Stefa mengusir Judith untuk meninggalkannya sendirian disana. Mencoba bersabar menghadapi si wanita yang ingin tahu dengan urusannya agar tak kena semprot amarahnya. Bagaimana pun, Judith tidaklah bersalah.
Tak memperdulikan Judith yang masih menunggu jawaban dari Stefa, melupakan rasa malunya terhadap orang lain. Toh tubuhnya sudah pernah di lihat saat bertelanjang oleh pria brengsek bernama David. Stefa membuka seluruh pakaiannya dan mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Stefa masuk ke dalam jacuzzi dan menenggelamkan tubuhnya sampai menutupi setengah kepalanya. Matanya di tutup rapat-rapat, mencerna semua yang terjadi di dalam kehidupannya. Seolah rasa sakit yang menimpanya tak berkesudahan.
Matanya mulai memanas, dan tumpahlah air mata Stefa yang tidak bisa di bendung lagi. Dadanya naik turun karena sudah tak bisa lagi menahan rasa sakit di hatinya. Pria yang ia kagumi dan hormati, malah menorehkan luka di dalam hatinya dengan cara merendahkan dirinya.
Sudah 30 menit berlalu, Stefa baru keluar dari kamar mandi dan disana masih ada Judith yang sedang duduk di atas ranjang Stefa. Stefa pikir, dengan berendam selama itu, Judtih akan pergi meninggalkannya sendirian. Melihat keberadaan Judith, Stefa mendengus tak suka. Sekretarisnya itu tak mendengar apa yang Stefa perintahkan untuk meninggalkannya sendirian saja.
“Stefa, aku tak bermaksud mengurusi urusanmu. Tapi setidaknya kau bisa berbagi denganku apa yang terjadi denganmu.” Judith kembali berusaha agar Stefa mau mengatakan yang sejujurnya.
“Sudah ku katakan, tak ada yang perlu kujelaskan karena memang tak ada yang terjadi.” Mengatakan itu, tangan Stefa mulai mengambil pakaian dan mengenakannya.
“Baiklah, jika memang kau tak ingin berbagi denganku. Aku tak akan memaksa, aku akan menunggu sampai kau mau berbagi denganku.” Kali ini Judith meninggalkan Stefa tanpa harus diminta. Dia menyerah dengan sikap dingin Stefa dan ke-enggannannya akan berbagi dengannya.
Stefa mengambil gagang telepon dari nakas samping tempat tidurnya dan menghubungi layanan kamar untuk membersihkan kamar Hotelnya yang berantakan. Suasana sudah seperti kapal pecah dan terjadi
peperangan saja.
__ADS_1
Petugas layanan kamar sudah selesai membersihkan kekacauan itu. Stefa menyerahkan beberapa lembar uang kertas sebagai tips untuk si petugas itu. Menerima ucapan terima kasih berulang kali dari si petugas layanan kamar, Stefa hanya menanggapinya dengan wajah datar dan menganggukkan kepalanya saja.