
“Maafkan aku sayang, maafkan aku. Kumohon jangan menangis!”
“Kau jahat, Marshal. Betapa bodohnya aku telah mencintaimu.” Stefa semakin meraung di dalam dekapan tubuh Marshal.
“Aku tahu aku bersalah padamu. Kumohon maafkan aku?!”
Stefa mendorong tubuh Marshal untuk menjauh. Marshal bingung dengan Stefa yang tiba-tiba saja mendorong tubuhnya sehingga terhuyung sedikit ke belakang karena tak siap dengan dorongan dari Stefa.
Dihapusnya air mata yang masih mengalir di pipinya dengan sedikit kasar. Untung saja make up yang di pakainya tidak mudah luncur, meskipun dalam kondisi menangis. Make upnya tetaplah aman dan tak meleleh tersapu air mata.
“Berhenti seolah-olah kau benar-benar menyesal, Marshal. Aku muak denganmu.” Stefa kembali menyalahkan Marshal setelah berhasil menahan tangisannya lagi. Kali ini ia benar-benar ingin mengakhiri hubungannya dengan Marshal. Ia tak ingin terbelenggu di dalam pusaran cinta penuh kesakitan.
Hah, bodoh sekali. Masih saja menyimpan perasaan cinta di dalam hati hanya untuk orang yang telah
menghianatinya. Hanya membuatnya terbayang-bayang rasa sakit saja selama ini dan tak berani untuk membuka hatinya lagi untuk pria lain yang mungkin saja siap membahagia ‘kannya.
“Aku benar-benar menyesal, sayang. Kau harus mendengar ‘kanku kali ini! Aku mencintaimu, sungguh.” Sorot mata Marshal tak bisa berbohong. Stefa tahu itu, dia tahu Marshal mencintainya sampai saat ini. Terlihat dari tatapan matanya.
Namun Stefa benar-benar tak ingin lagi mendengar perkataan Marshal. Stefa tak menanggapi perkataan Marshal dan berpaling dengan melangkah kembali untuk menjauhi Marshal.
Stefa berjalan sedikit cepat saat melewati lorong yang tadi sempat ia lewati sampai membawanya ke arah kolam renang dan berakhir menangis di dalam dekapan Marshal yang begitu ia rindukan.
Lagi-lagi tangannya di tarik ke belakang oleh Marshal. Tubuhnya membentur tubuh Marshal. Bisa dirasakan bahwa dada Marshal begitu keras dan kokoh. Stefa tahu di balik baju yang di pakai Marshal sekarang, ada perut kotak-kotaknya yang terpahat sempurna dengan sangat baik.
“Lepaskan aku, Marshal!” desis Stefa saat Marshal kembali memeluknya dan mengurungnya di dalam dekapan Marshal.
Di luar dugaan. Marshal malah mencium Stefa begitu memaksa, ciumannya terasa begitu kasar dan ganas. Napasnya begitu terasa menerpa wajah Stefa yang mencoba memberontak karena Marshal menciumnya dengan sangat kasar.
“Lepaskan, Mars....” Stefa tak bisa meneruskan kalimatnya karena Marshal tak memberi kesempatan dan kembali mencium Stefa dengan kasar.
Lelah karena terus memberontak, akhirnya Stefa lebih memilih diam dan membiarkan Marshal menciumnya sesuka hatinya sampai pria itu melepaskannya sendiri. Namun, lagi-lagi perasaan rindu tak bisa lagi dibohongi.
Stefa merindukan Marshal. Prianya. Sentuhan prianya, ciuman prianya, hembusan napas prianya, dan segala yang ada di diri prianya. Merasa tak ada lagi perlawanan dari Stefa, Marshal mengubah cara ciumannya.
Ciuman itu terasa lembut, penuh kasih sayang dan terasa manis di bibir Stefa. Stefa tak menampik jika saat ini ia benar-benar menginginkan ciumannya bersama Marshal. Meskipun Stefa tahu jika ini sangatlah salah, tapi setidaknya biarkan untuk kali ini dirinya menikmati ciuman yang mungkin menjadi ciuman terakhirnya dengan Marshal.
Marshal menahan tengkuk Stefa dan semakin mendekap tubuh Stefa di dalam pelukannya. Kedua tangan Stefa mulai merambat naik ke leher Marshal dan mulai meremas rambut Marshal yang sudah di potong rapih sebelumnya.
Di sela-sela ciumannya, Marshal tersenyum senang karena Stefa membalas ciumannya kali ini. Stefa mengerang nikmat saat Marshal meremas kedua bokongnya dan merambat naik ke punggung yang sudah terekspos sedari tadi. Mengusapnya seringan bulu membuat tubuh Stefa meremang karena sentuhannya.
Ciuman mereka terhenti saat di rasa pasokan oksigen mulai berkurang dan menipis. Mereka menyatukan kening mereka dengan napas yang saling memburu satu sama lain. Berebut oksigen dan menghirup sebanyak-banyaknya.
Marshal kembali melumat bibir Stefa. Gairahnya sudah tak bisa lagi di tahan karena ciuman panas mereka. Beruntung tak ada orang yang melewati lorong itu, dan tak ada yang melihat adegan ciuman panas mereka disana.
Marshal mendorong tubuh Stefa ke dinding lorong itu dan kembali memeluknya erat dan menciumnya dengan rakus. Decapan ciuman panas mereka begitu nyaring, sekali lagi. Beruntung tak ada orang yang
lewat di lorong itu.
__ADS_1
“Nghh.” Stefa melenguh nikmat saat Marshal menciumi leher dan cuping telinganya. Memberikan sensasi yang panas di sekujur tubuh Stefa. Bahkan celana dalam yang ia pakai pun, sudah terasa basah
saat ini karena ciuman panas mereka berdua.
“Aahh, Marshal.” Stefa menyebutkan nama Marshal saat tangan Marshal dengan nakalnya meremas kedua buah dadanya dengan sedikit kencang.
“Sebut lagi namaku, sayang!” perintah Marshal dan kembali meremas buah dada Stefa.
Stefa merasa sudah tak kuat lagi menahan serangan tangan Marshal di kedua buah dadanya. Kakinya mendadak seperti agar-agar yang tiba-tiba saja tak mampu menopang tubuhnya sendiri karena lemas.
Marshal buru-buru menahan tubuh Stefa agar tak merosot ke bawah.
“Apa yang kalian lakukan?!” suara menggelegar membuat cumbuan mereka terhenti. Sontak Marshal melepaskan remasan di buah dada Stefa dan melepas pagutan ciuman panas mereka.
Mereka serempak melirik ke arah sumber suara. Stefa terbelalak saat mendapati David sudah berdiri tak jauh dari mereka dengan wajahnya yang sedikit menyeramkan. Marah. Ya David terlihat marah
saat ini. Entah apa yang membuatnya marah.
David berjalan tergesa-gesa ke arah Stefa dan Marshal. Melihat penampilan Stefa yang menjadi pasangannya saat ini sedikit berantakan, membuat David semakin kesal dan marah. Tanpa basa-basi, David
mencengkeram kerah baju Marshal. Mereka saling memandang penuh dengan permusuhan.
“Kau.. Apa yang kau lakukan terhadap wanitaku?” desis David penuh tekanan dan amarah yang tak bisa lagi ditutupi.
Marshal tersenyum pongah dan percaya diri. “Aku yakin kau juga melihatnya sendiri apa yang aku lakukan tadi.”
Marshal merapihkan pakaiannya dan menatap David dengan seringai liciknya. David kembali melancarkan serangan pukulannya namun berhasil Marshal hindari. Kali ini Davidlah yang tekena pukulan Marshal.
Melihat kedua pria di hadapannya berkelahi dan saling baku hantam membuat Stefa resah sendiri.
“David hentikan! Marshal!” Stefa meneriaki kedua pria itu untuk tidak lagi saling memukul. Seolah pendengaran mereka dituli ‘kan, mereka malah semakin menjadi-jadi.
Melihat keduanya sudah memiliki luka lebam di area wajahnya, mau tak mau Stefa harus menghentikan salah satunya agar tak berkelanjutan. Stefa menghela napas kemudian menghirupnya lagi.
Stefa maju dan mendekat ke arah dua pria yang saat ini sedang saling baku hantam itu.
David tiba-tiba tak bisa bergerak, begitu pun dengan Marshal yang mengepalkan tangannya mengambang di udara. Matanya menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Stefa saat ini.
Kedua tangan mungil Stefa melingkar menahan tubuh David. Sejenak ketiganya terdiam. Tatapan David menunduk ke bawah menatap kedua tangan mungil nan mulus tengah memeluk tubuhnya saat ini.
“Kumohon, berhentilah!” ucap Stefa lirih. Marshal meremas kedua tangannya setelah menurunkan kepalan tangannya di udara yang sempat tertahan. Napasnya memburu tak terima bahwa wanitanya malah mendekap tubuh pria lain bukan dirinya.
“Apa yang kau lakukan, Stefa?” gumam David seraya menyentuh kedua tangan Stefa yang masih melingkari tubuhnya.
“Kumohon jangan berkelahi lagi, David! Aku tak ingin kau terluka.”
Seketika David melepaskan tangan Stefa di tubuhnya dan menarik wanita itu ke hadapannya dan membuat posisi Stefa saat ini berada di tengah-tengah antara Marshal dan David. David membingkai kedua sisi wajah Stefa dan menatapnya dalam-dalam, tatapan yang tak bisa Stefa artikan apa maksudnya.
__ADS_1
“Bisa kau ulangi lagi?!” tanya David.
“Aku bilang jangan berkelagi lagi, aku tak ingin kau terluka.” Ucap Stefa yang kali ini membuat David tersenyum.
David pikir, Stefa begitu memperdulikannya sampai Stefa tak ingin ia terluka. Lain dengan Marshal, pria
itu merasa telah di hianati oleh Stefa. Mereka baru saja melakukan ciuman panas yang sudah lama tak mereka lakukan, dan kali ini. Kali ini, Stefa malah mengucapkan bahwa dia tak ingin pria itu terluka.
“Apa maksudmu?” geram Marshal sembari membalikkan tubuh Stefa secara paksa. David sudah siap-siap untuk memukul Marshal lagi.
“Ma-marshal, sakit.” Keluh Stefa yang merasakan sakit di kedua lengannya karena cengkraman Marshal yang begitu kuat.
“Jelaskan apa maksudmu?” Stefa berjengit kaget karena Marshal membentaknya.
“Jangan membentaknya, ********!” geram David.
“DIAM KAU!” bentak Marshal pada David tak suka.
“Marshal, hentikan! Kau menyakitiku.” Lirih Stefa. Marshal tersadar dan segera melepaskan cengkramannya di lengan Stefa. Buru-buru Stefa mengusap kedua lengannya sendiri untuk menghilangkan rasa sakit karena Marshal.
“Kau, kau membelanya, Stefa?” Marshal tertunduk seolah menahan kekecewaannya terhadap pilihan Stefa yang lebih memilih David.
“Tidak, bukan begitu. Aku hanya, aku hanya tak ingin kalian berkelahi karenaku. Aku tak ingin kalian terluka
karenaku. Kumohon kalian jangan seperti ini.”
Baru saja Marshal akan mengutarakan ucapannya, segerombol orang datang menghampiri mereka bertiga. Entah dari mana orang-orang itu bisa tahu perkelahian kedua pria itu. Revaldo terlihat cemas
dengan keadaan mereka bertiga. Judith mengekor dari belakang Revaldo.
“Ada apa ini?” tanya Revaldo sembari menatap bergantian ketiga orang itu.
“Stefa, kau tak apa?” Judith langsung memeluk Stefa penuh kekhawatiran dan memeluknya erat.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Stefa seraya mencoba tersenyum meskipun sejujurnya ia enggan.
“Aku tak tahu apa yang terjadi diantara kalian bertiga, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk pertengkaran
kalian. Bersikaplah dewasa, aku yakin kalian sudah cukup umur untuk tak saling memukul seperti anak kecil. Stefa, bawa David ke kamarmu dan obati lukanya! Dan kau, ikut denganku!” Revaldo menunjuk Marshal untuk ikut dengannya. Entah apa yang akan Revaldo lakukan kepada Marshal.
David tersenyum penuh kemenangan dan mengejek Marshal lewat senyumannya. Stefa langsung meraih tangan David dan membawanya kembali ke kamar Stefa. Judith menyusul Stefa dan David yang sudah
meninggalkannya terlebih dulu.
Marshal mengekori Revaldo di belakangnya. Sampai mereka memasuki ruangan yang cukup luas. Sepertinya itu ruang kerja Revaldo di Hotel itu. Revaldo mempersilahkan Marshal untuk duduk di
sofa dan menyuruh orang untuk memanggilkan dokter untuk mengobati luka di wajah
__ADS_1
Marshal.