My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 9 Revaldo Gunawan


__ADS_3

Siapa yang tidak mengenal aku, seorang Revaldo Gunawan pemilik Star Company. Perusahaan ku


bergerak dibidang perhotelan. Star Company masuk ke dalam daftar perusahaan


yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata nomor 1 se-Asia Tenggara.


Kali ini perusahaan ku menjalin kerja sama dengan The Fritz Group. Perusahaan yang bergerak hampir di


semua bidang usaha. Dan sudah pasti perusahaan tersebut memiliki pengaruh yang


besar di Eropa.


Proyek yang akan kami jalankan yaitu sebuah pembangunan Hotel bintang 5 dengan segala bentuk fasilitas


yang tersedia nantinya setara dengan fasilitas di Hotel bintang 7.


Beberapa hari yang lalu aku menerima data orang-orang yang di kirim untuk menangani proyek ini


sekaligus perwakilan dari The Fritz Group. Saat aku membuka data tersebut,


mataku  terpaku dengan salah satu data


seorang wanita. Menarik. Itu yang terlintas di pikiranku.


Dia memiliki paras yang begitu cantik dan mempesona, dan anehnya wajahnya tidak membuatku bosan untuk


berulang kali membolak-balik data pribadi miliknya. Ada sesuatu yang


menggelitik perasaanku saat aku menatap photo yang ada di dalam data tersebut.


Stefani Agatha. Itulah nama wanita yang membuatku sedikit tertarik. Dia menangani bagian Hubungan


Internasional. Itulah sebabnya kenapa dia yang dikirim ke sini untuk menangani


proyek ini.


“Rupanya dia cukup pintar. Bisa berbahasa Indonesia dengan pasih. Sungguh sangat langka.” gumamku


saat aku membaca kembali data pribadi miliknya.


Ada rasa penasaran yang cukup besar, aku ingin mengenal wanita itu. Dan saat ini aku sedang berdiri di


restaurant salah satu hotel yang berada di bawah naungan perusahaanku. Aku


terpaku dengan sosok wanita yang beberapa hari yang lalu sudah membuatku


tertarik.


Aku melihatnya sedang menikmati makanan dan minuman dengan seorang wanita lainnya. Yang aku yakini


dia bernama Judith. Sekretaris pribadi Stefa. Aku tidak terlalu tertarik dengan


sekretarisnya, aku hanya tertarik dengan Stefa.


Tiba-tiba, entah ide dari mana. Aku mengambil beberapa makanan dan mulai mendekat ke meja mereka.


Maksudku untuk ikut bergabung bersama mereka, dan jika mereka bertanya. Maka


aku akan menjawab bahwa semua meja dan kursi sudah penuh. Karena memang itulah kenyataannya.


Saat aku meminta ijin untuk bergabung dengan mereka. Stefa hanya menatapku sekilas, kemudian

__ADS_1


tatapannya ia alihkan pada Judith. Dan Judithlah yang mengijinkan aku untuk


bergabung bersama mereka.


Aku mengulas sedikit senyuman saat aku berhasil duduk bergabung dengan mereka. Sesekali aku mencuri


pandang ke arah Stefa. Dan dia terlihat menikmati makanannya. Dia mengabaikan


sekelilingnya. Rupanya wanita yang cuek, batinku.


Kamipun menyelesaikan acara makan kami. Dan inilah kesempatanku untuk bisa mengenalnya secara


pribadi. Judith meninggalkan kami berdua karena handphone-nya tertinggal di


kamar hotelnya.


“Ehmm...” aku berdeham untuk mengalihkan perhatiannya. Dan berhasil. Dia menatapku saat ini, dan


pandangan kami saling terkunci meskipun itu hanya beberapa detik saja.


Aku perlu sedikit memutar otakku untuk bisa membuka obrolan dengannya.


“Apa anda sedang berlibur disini?” itulah pertanyaan yang sempat terlintas dibenakku.


“Tidak.” jawabnya singkat.


“Perkenalkan, saya Revaldo!” aku mencoba peruntunganku dengan memperkenalkan diriku padanya.


“Stefa.” Balasnya singkat.


Aku hanya terkekeh mendapatkan jawaban-jawaban singkat darinya. Mungkin dia sedikit risih karena


sedari tadi aku selalu menatapnya.


menarik dalam waktu yang bersamaan.


Apa dia tidak mengenaliku sama sekali? Bukankah seharusnya dia tahu siapa aku sebenarnya saat


aku menyebutkan namaku tadi? Atau memang dia belum sempat membaca data pribadiku,


yang seharusnya ia baca sebelum sampai disini?


Baru saja aku memikirkan berbagai macam spekulasi kenapa dia seperti tidak mengenaliku. Atau


bahkan mengenal saat aku menyebutkan namaku. Kini wanita yang ada di hadapanku


menatapku dengan tatapan yang sedikit aneh.


Tapi tak lama dia berpamitan untuk kembali ke kamar hotelnya. Untuk beberapa detik aku hanya


diam. Dan barulah saat dia membalikkan tubuhnya, aku hanya menyunggingkan


sebuah senyuman.


“Aku harus mendapatkannya.” Gumamku.


Aku menyusul meninggalkan restaurant, dan mulai melangkah ke luar lobby. Mobilku sudah ada disana, dan


aku meminta sopirku untuk tidak mengantarkanku kali ini. Aku ingin mengendarai


mobilku sendiri.

__ADS_1


“Terima kasih.” ucapku saat sopirku menyerahkan kunci mobil.


Aku langsung masuk ke dalam, dan mulai menginjak pedal gas. Selama di perjalanan, tak henti-hentinya


aku menggumamkan nama Stefa. Sungguh. Aku sangat tertarik dengan wanita yang


bernama Stefa.


“Carikan informasi lengkap tentang seorang wanita bernama Stefani Agatha! Dia bekerja di


perusahaan The Fritz Group.”


Aku menyuruh seseorang untuk mencari informasi lebih lengkap mengenai Stefa. Aku begitu dibuat


penasaran dengan wanita ini. Ada sebuah pesan masuk, dan aku hanya melihatnya


sekilas. Ada nomor yang tidak dikenal mengirimkan aku sebuah pesan.


Barulah saat aku sampai di rumah. Aku membuka pesan  tadi. Dan


sedikit membuatku bingung. Dari mana dia tahu kalau aku menyuruh orang untuk


mencari informasi tentang Stefa?


‘Jangan mencari informasi tentang Stefani Agatha! Dan jangan mengusiknya, dia milikku.’


Aku mengenyitkan dahiku, bingung. “Dasar kurang kerjaan.” umpatku.


Aku mengabaikan pesan itu, dan aku tidak terlalu berminat berurusan ataupun membalas pesan itu.


Menurutku itu tidak penting. Yang terpenting adalah aku harus mendapatkan


informasi tentang Stefa secara lengkap dan menyeluruh.


Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Kepalaku sedikit pening, dan mencoba menutup


mataku. Beberapa minggu terakhir ini, pekerjaanku sangat menumpuk dan membuatku


lelah.


Aku belum sempat untuk mengganti baju, bahkan sepatuku masih menempel di kakiku. Terlalu malas untuk


mengganti atau membukanya. Yang aku inginkan hanyalah istirahat lebih awal.


Pagi harinya, saat aku terbangun. Aku mendapatkan sebuah pesan yang berisikan informasi mengenai


wanita itu. Aku membacanya dengan teliti, agar tidak ada satupun yang


terlewatkan olehku.


“Rupanya kamu dikhianati.” gumamku.


Ada sedikit rasa iba saat aku membaca riwayat percintaannya yang kandas karena di khianati


kekasihnya. Tapi rasa senangku lebih mendominasi, itu artinya aku bebas untuk


mendekatinya.


Tanpa berpikir lama. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan berendam. Aku sudah tidak sabar


untuk bertemu kembali dengannya. Hari ini adalah jadwal dimana aku dan dia akan

__ADS_1


bertemu secara resmi dalam ikatan pekerjaan.


“Reaksi apa yang akan kamu tunjukkan saat bertemu lagi denganku?” ucapku pelan sambil tersenyum.


__ADS_2