My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 66 Sweet Taste


__ADS_3

Yang mau baca Novel My Love Story kini sudah bisa ada di Google Playbook ya, atau kalau mau koleksi versi cetaknya bisa langsung kirim WA ke nomor admin 0818331696 !!!




Baca juga "BRENDA HEATHER" di sebelah, yang mau tau update di mana bisa tanya di komentar atau masuk group chat ya !!


Jangan lupa Vote, Like, dan Komentarnya !!!


Happy Reading, guys... Muuaahh


***


            Betapa bahagianya David saat terbangun dari tidurnya kini menemukan sosok yang telah berhasil merebut perhatian serta cintanya berada tepat dipelukannya. Menyandarkan kepalanya ke dada David dengan cara termanis. Debaran jantungnya kini terdengar semakin cepat tetapi menyenangkan, rasa bahagia yang tiada tandingannya membuat David tersenyum tiada henti seraya memerhatikan Stefa yang masih terlelap dipelukannya.


            Tangannya meraih rambut-rambut panjang Stefa yang terasa begitu lembut dan halus di genggamannya. Stefa membuka matanya perlahan dan mendapati David sedang menatapnya penuh cinta dengan bibir yang menyunggingkan senyuman hangat di pagi harinya.


            “Kau sudah bangun?” tanya David lebih dulu kemudian mengecup kening Stefa.


            “Uhm...” jawab Stefa dengan suara seraknya. Dan sialnya, David malah membayangkan suara serak itu akibat percintaan mereka seperti semalam.


            “Kau ingin sarapan atau mandi terlebih dulu?” tanya David mencoba menahan gairah yang mungkin saja akan mendominasi dirinya pagi ini.


            Stefa menggeleng. “Biarkan dulu seperti ini, Dave. Aku masih lelah. Kau saja yang mandi duluan dan pergilah sarapan!”


            “Baiklah. Kalau begitu aku juga ingin tetap seperti ini.” balas David dan kembali mengeratkan pelukannya dan tak ingin memberi jarak di antara mereka berdua.


            Keduanya sama-sama terdiam menikmati momen-momen seperti sekarang yang begitu jarang sekali terjadi. David mengelus-elus punggung Stefa yang masih telanjang, hanya selimut tebal yang menutupi ketelanjangan mereka saat ini. Stefa semakin menyandarkan kepalanya di dada David dengan menghirup aroma David yang terasa lembut dan manis tetapi tidak menyembunyikan aroma khas kegagahannya, terasa hangat dan menenangkan untuk dirinya dan juga bayinya.


            “Dave?” panggil Stefa pelan tanpa ingin menatap David.


            “Hmm...” gumam David masih mengelus-elus punggung Stefa secara beraturan.


            “Kau ingin anak perempuan atau laki-laki?” tanya Stefa tiba-tiba.


            David memberi jarak sedikit yang mengharuskan Stefa mendongakkan kepalanya menatap wajah David saat ini.


            “Bagiku tidak masalah jika kau melahirkan anak perempuan atau anak laki-laki. Yang terpenting itu adalah anak kita, sweety. Dan mereka harus tumbuh dengan sehat dan dalam keadaan baik-baik saja. Termasuk kau. Kau adalah ibunya yang telah mengandung mereka nantinya, jadi kau juga harus tetap sehat dan dalam keadaan baik-baik saja.”


            Ya Tuhan. Mendengar penuturan David begitu terasa membahagiakan bagi Stefa. Wanita itu tersipu dan tersenyum bahagia. Kali ini ia seolah benar-benar merasakan cinta yang begitu besar dari David, merasakan kehangatan yang sesungguhnya dari pria yang telah ia cintai itu. Memang selama kehamilan ini, Stefa memutuskan untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya, dan setiap kali datang memeriksakan kehamilannya. Stefa selalu melarang dokter untuk tidak mengatakan perihal jenis kelamin bayinya.


            Ia ingin jenis kelamin dari bayinya itu menjadi sebuah hadiah saat ia melahirkannya. Tentu saja David hanya mampu mengikuti keinginan Stefa, nyatanya David begitu menginginkan untuk mengetahui jenis kelamin bayinya itu. Ya, mau bagaimana lagi. Semua yang diinginkan Stefa harus ia turuti sebagai bentuk pemenuhan janji akan syarat yang Ken berikan kepadanya.


            “Kalau anak kita perempuan, kau mau memberinya nama apa?” tanya Stefa lagi.


            David terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir.


            “Sayang, sejujurnya aku belum memikirkan nama untuk anak kita. Bagiku, nama apa pun untuk anak kita akan terdengar bagus dan indah.” Jawab David terdengar ragu.


            “Dave?” panggil Stefa lagi. Kali ini suaranya terdengar seperti sedang merasakan kesedihan. Dave yang menyadari perubahan suara Stefa langsung menangkup wajah wanita itu, dan mengecup bibirnya dengan penuh kelembutan tak terkira.

__ADS_1


            “Ada apa? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan, hm?”


            “Tidak ada.” Jawab Stefa masih dengan suara sedihnya.


            Dave menggeser tubuhnya semakin merapat dan memeluk erat Stefa. Menumpukan dagunya di atas puncak kepala Stefa dan memberikan kenyamanan bagi Stefa agar lebih leluasa bergelung di dalam pelukannya.


            “Sweety, kau bisa mengatakan apa pun kepadaku. Aku tidak senang jika melihat kau seperti sedang memiliki banyak beban di pundakmu. Jadi katakan padaku, apa yang sedang mengganggu pikiranmu itu?”


            Tiba-tiba Stefa terisak membuat David khawatir. Apakah mungkin Stefa kesakitan atau apa?


            “Hei, sayang. Kenapa kau menangis, hm?” David memgusap air mata Stefa dengan ibu jarinya. Mengecup kelopak mata Stefa.


            “Aku merindukan orang tuaku, Dave.”


            David terdiam, tetapi kemudian ia bernapas lega. Rupanya hal yang telah membuat Stefa terisak bukanlah karena kehamilannya yang menyakitkan, atau hal-hal lainnya yang menyangkut kehamilan serta dirinya.


            “Kau ingin mengunjungi orang tuamu?” tanya David dengan tersenyum lembut.


            Stefa terpaku akan senyuman David yang begitu lembut, pria itu mendadak terlihat semakin tampan saja saat sedang tersenyum seperti itu. Stefa menyukai senyuman yang seperti itu, apalagi jika yang tersenyum adalah David. Dan senyuman itu disuguhkan hanya untuk dirinya saja.


            “Apa boleh?”


            Dave mengangguk yakin.


            “Berarti kita harus kembali ke London, Dave. Makam kedua orang tuaku ‘kan ada di London. Lalu setelahnya kita akan kembali ke sini. Itu akan membuatmu lelah, Dave.”


            David merasa gemas sekarang. Stefa begitu terasa manis dan menggemaskan saat sedang bermanjaan seperti ini. David jadi menginginkan pergulatan yang seperti semalam lagi. Astaga. Lagi-lagi otak mesumnya mulai merayapi serta mengotori akal sehatnya.


            “Tidak masalah, sweety. Selama kau bahagia, aku juga bahagia. Apa pun yang kau inginkan, aku pasti akan mengabulkannya. Sama seperti saat janjiku dulu, semuanya akan aku kabulkan. Dan sampai saat ini pun, kau belum meminta apa pun kepadaku.”


           “Kau yakin ingin mengabulkan permintaanku, Dave?” Stefa memastikannya kembali yang sebenarnya, Stefa yakin jika David akan sangat senang hati mengabulkan permintaannya yang satu ini.


            “Sure. Jadi apa yang kau inginkan?”


            Stefa tidak langsung menjawab pertanyaan David. Ia menempelkan tubuhnya ke tubuh David. Kulit tubuh mereka yang masih telanjang dan bersentuhan itu menghantarkan gelombang gairah, meminta untuk saling memuaskan kembali satu sama lainnya.


            Bibir Stefa berhenti tepat di depan bibir David nyaris mereka seperti akan berciuman. Mata Stefa berkilat nakal menatap dan menantang mata David. Sedangkan pria itu hanya mengangkat satu alisnya dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Stefa.


            “Aku ingin kau selalu menyentuhku. Dengan ini.” Stefa menyentuh little David dengan tangannya. Membuat David merasakan sensasi menyenangkan dan matanya turut terpejam menikmati sentuhan Stefa di bawah sana.


            Sepertinya kehamilan yang dialami Stefa telah merubah wanita itu menjadi sangat nakal dan bergairah. Buktinya saja, tangannya dengan nakal menyentuh milik David begitu saja tanpa peringatan terlebih dahulu. Sekuat tenaga David mencoba untuk menahan erangan kenikmatannya karena sentuhan dan sensasi yang diberikan oleh Stefa. Ia tak tahu jika kehamilan seseorang mampu merubah sifat dan mengubah seseorang menjadi sangat nakal. Seperti Stefa saat ini.


            “Kau sangat nakal, sweety.” David menggeram rendah kemudian menahan tangan Stefa agar menjauh dari bagian bawah sana.


            “Kenapa? Bukannya kau juga menginginkan aku? Menyentuhku di sini.” Stefa membimbing tangan David untuk menyentuh bagiannya. Tentu saja dengan senang hati David akan menurutinya.


            “Astaga. Kau benar-benar nakal, sayang.”


            David tak bisa tinggal diam saja. Ia langsung memagut bibir itu, bagian kesukaannya saat bersama dengan Stefa. Bibir yang terasa manis yang selalu ia rindukan dilumatnya habis-habisan. Lenguhan Stefa seperti sebuah alunan musik yang begitu menyenangkan dan indah. David menyukainya. David selalu menyukai apa yang Stefa lakukan, terutama kegiatan mereka di atas ranjang.


            “Sepertinya kita akan menghabiskan waktu seharian ini di atas ranjang.” Bisik David setelah melepaskan ciuman itu.

__ADS_1


            “Maka lakukanlah, Dave!” Stefa menyeringai saat David menatapnya dengan kilatan menggoda penuh gairah.


            Maka yang terjadi selanjutnya adalah mereka kembali melakukan aktivitas ranjang tak kalah panasnya dengan kegiatan yang semalam. Sedangkan di bawah, pelayan sudah repot-repot menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Kenyataannya, orang yang seharusnya menghabiskan sarapan itu malah melakukan kegiatan lain di dalam kamar.


            Tidak ada yang tahu apa yang sedang mereka lakukan saat ini, baik malam maupun sekarang, tidak ada yang mengetahuinya. Yang mereka tahu adalah bahwa David tidur di dalam kamarnya sendiri, begitu pula dengan Stefa. Astaga. Mereka seperti sedang menipu semua orang yang ada di rumah itu.


            Akhirnya mereka keluar dari kamar itu setelah jam hampir menunjukan pukul 2 siang. Alasan mengapa mereka baru keluar dari kamar pada pukul 2 siang karena Stefa yang tidak ingin kegiatan itu berhenti. Permintaan yang satu itu tentu saja akan David turuti jika ia tidak ingat bahwa saat ini Stefa sedang hamil dan juga bayi yang membutuhkan asupan makanan melalui ibunya.


            David bisa saja bertindak egois dan menggempur Stefa habis-habisan, bahkan bila perlu mereka akan melakukannya sampai menjemput pagi keesokan harinya lagi. Tetapi yang terjadi, David menolak permintaan Stefa yang satu itu. Membujuk wanita itu agar mau memberikan jeda untuk keduanya, yang mana membuat wanita itu malah memberengut kesal karena permintaan yang ditolak oleh David. Pria itu tetap sabar dan terus menerus mencoba membujuk, merayu agar wanita itu mau keluar dari kamar.


            Beberapa pelayan tanpa sengaja melihat David dan Stefa keluar dari kamar yang sama secara bersamaan membuang mereka memiliki spekulasi masing-masing, tetapi mereka mengabaikannya begitu saja setelah menepis kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Nyatanya, apa yang para pelayan itu pikirkan memang sudah terjadi. David hanya tersenyum tipis saat ia bertemu dengan pelayan, sedangkan wanita hamil itu berlaku seperti biasanya.


            Makanan sudah tersaji di atas meja makan. Karena jam makan siang sudah terlewat, terpaksa para pelayan yang bertugas mengurusi makanan harus menghangatkan kembali makanan itu. Stefa melarang para pelayan untuk memasak makanan baru dan menyuruh mereka menghangatkan makanan yang ada saja. Stefa merasa jika para pelayan memasak ulang, maka makanan sebelumnya akan dibuang begitu saja. Sedangkan di dunia ini masih banyak orang-orang yang kekurangan makanan bahkan harus rela memungut makanan dari tempat sampah.


            Selama ini Stefa selalu meminta kepada seluruh pelayannya untuk tidak membung-buang makanan seenaknya. Jika makanan itu tidak habis, maka mereka bisa memasukkannya ke dalam lemari pendingin dan memanaskannya kembali jika akan makan. Para pelayan berdecak kagum akan sikap Stefa yang terlihat bijaksana itu.


            David menarik kursi untuk Stefa dan setelahnya ia juga menarik kursi untuk ia duduki. Para pelayan mengambil jarak beberapa langkah dari meja makan, hanya berjaga-jaga jika David dan Stefa memerlukan bantuan mereka.


            “Kau harus makan yang banyak! Karena bayi kita membutuhkan asupan gizi yang cukup.” David mengusap puncak kepala Stefa dan dibalas dengan anggukkan kepala. Para pelayan yang melihat tindakan manis itu, hanya tersenyum-senyum saja.


            “Kau juga harus makan yang banyak, Dave. Kau juga memerlukan asupan gizi agar tenagamu terkumpul kembali.” Balas Stefa dengan sedikit mengerlingkan matanya menggoda. David tertawa melihat Stefa yang berubah menjadi nakal itu.


            “Kenapa aku harus mengumpulkan tenagaku lagi?” tanya David dengan tersenyum menggoda.


            Stefa memutar bola matanya mendengar pertanyaan bodoh dari David. Jelas pria itu tahu apa yang dimaksud ucapan Stefa tadi, hanya saja pria itu sepertinya senang sekali menggoda Stefa.


            “Kau tahu maksudku, Dave!” seru Stefa.


            “Sungguh. Aku tidak mengerti maksudmu itu, sweety.” David benar-benar tidak ingin berhenti untuk tidak menggoda Stefa.


            “Kalau begitu aku akan memberi tahumu nanti setelah kita makan siang yang terlambat ini. Kau harus menyiapkan tenagamu, jangan sampai kau kelelahan nantinya!”


            David tersenyum miring. Stefa tidak mempedulikan lagi ucapan David yang selanjutnya, karena sedari tadi ia hanya berfokus pada makanan yang ada di atas piringnya. Wanita hamil itu makan dengan lahapnya, bahkan ia sudah dua kali menambah porsi makannya. David hanya tersenyum melihat Stefa begitu bernafsu dengan makanan.


            “Astaga, Dave. Aku bisa gendut sekarang. Ini gila, benar-benar gila. Aku menghabiskan tiga piring makanan.” Stefa mengeluh seraya mengusap perutnya yang baru mulai merasakan kekenyangan setelah ia berhasil menghabiskan tiga porsi makanan.


            “Kau akan semakin seksi jika tubuhmu berisi, sayang.” David mengelus-elus pipi Stefa dengan jari-jemarinya.


            “Jika aku gendut maka kau akan dengan mudahnya berpaling dariku.” Stefa berucap sinis dan terdengar tak suka dengan apa yang baru saja ia ucapkan sendiri.


            David menghela napanya. “Sayang. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu hanya karena tubuhmu berubah. Dengan susah payah aku mendapatkanmu, dan aku akan menyia-nyiakan dirimu, begitu? Tidak sayang. Aku tidak akan melakukan itu. Justru aku merasa senang jika tubuhmu berubah sedikit berisi karena semua itu demi anak kita yang ada di dalam perutmu. Jadi jangan pernah berpikiran seperti itu, okay?”


            Uurghh. Manisnya. Stefa tersenyum bangga mendengar pengakuan dan kejujuran David. Biasanya, pria-pria hanya menginginkan wanitanya tetap memiliki bentuk tubuh yang bagus dan tetap sama indahnya meskipun wanita itu telah melahirkan beberapa anak. Kebanyakan mereka tidak ingin melihat tubuh wanitanya berubah. Berbeda dengan David, justru pria itu terlihat senang melihat tubuh Stefa yang mulai berisi.


            “Awas saja kalau kau berpaling dariku hanya karena tubuhku mulai menggendut, Dave!” ancam Stefa dengan menunjukkan telunjuknya di depan wajah David. Pria itu menyeringai nakal kemudian mengecup bibir Stefa dengan para pelayan yang masih berada di sekitaran mereka.


            Stefa memukul David memperingati bahwa di sana bukan hanya mereka berdua saja, melainkan masih ada orang lain lagi.


            “Aduh. Ini sakit, sweety.” Keluh David mendramatisir, kenyatannya pukulan Stefa tidak terasa sama sekali.


            “Di sini masih ada orang lain, Dave!” desis Stefa dengan matanya yang memperingati David.

__ADS_1


            Pria itu malah menyengir tanpa dosa.


            “Baiklah. Sepertinya kita bisa melanjutkan sesuatu yang sempat terjeda karena makan siang kita yang terlambat. Tolong kalian bersihkan meja ini, setelahnya kalian boleh istirahat!” David memerintah para pelayan itu kemudian menggendong Stefa dengan erat.


__ADS_2