My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 6 Mengambil Kesempatan


__ADS_3

Ketiga orang itu sedang menikmati obrolan-obrolan ringan. Tidak luput dari pembahasan


dunia pekerjaan dan bisnis. Untung saja Stefa memahami dunia bisnis, karena ia


sudah terbiasa menghandle urusan bisnis.


Dan jangan lupakan Lianne yang memberikan saran untuk Stefa, agar ia mengambil


kesempatan mengurus proyek yang ada di Indonesia. Menurut Johannes, ini adalah


kesempatan emas untuk Stefa. Karena jarang sekali perusahaan menugaskan


seseorang yang bukan di bagiannya.


Menurut Lianne, ini kesempatan bagus juga untuk melupakan semua kejadian buruk yang


menimpanya. Anggap saja ini sebuah liburan secara tidak langsung. Dan jika


Stefa pergi, dengan senang hati Lianne menawarkan diri untuk menempati


apartment milik Stefa.


“Baiklah, Stefa. Ini sudah malam, aku pamit pulang. Aku harap saranku bisa kamu


pertimbangkan dengan baik tentang menerima tawaran mengurus proyek itu.“


“Terima kasih Mr. Johannes sudah memberikan saran yang baik!“ jawab Stefa.


“You’re welcome.“ jawab Johannes dengan tersenyum


Sepeninggalnya Johannes dan juga Lianne, Stefa langsung masuk ke dalam kamarnya. Segera ia


langkahkan kaki menuju kamar mandi. Rencananya, ia ingin berendam di dalam


bathtub. Menghilangkan rasa lelah dan penat yang bersarang di dalam otaknya.


Hari yang begitu berat, menrutnya.


Butuh menghabiskan 20 menit lebih untuk menyelesaikan mandi dan acara berendamnya.


Stefa sudah mengganti pakaiannya menggunakan piyama tidurnya. Ia bersiap untuk


memejamkan matanya. Biarkan Lianne masuk dengan sendirinya nanti, karena Lianna


sudah tahu nomor password unit apartment milik Stefa.


Bip..Bip.. Bip..


Suara bunyi dari pintu apartmentpun terdengar. Siapa lagi jika bukan sahabatnya,


Lianne. Baru saja ia ingin memejamkan matanya. Lianne sudah membuat kehebohan


di dalam kamar Stefa. Masih saja membahas tentang tugas yang akan di ambil oleh


Stefa. Padahal sudah jelas-jelas tadi mereka membahas itu bersama dengan


Johannes. Sepertinya Lianne masih ingin bergosip.


“Lianne, biarkan aku tidur. Aku lelah, hari ini sangat buruk untukku.“


“Aaah baiklah baiklah baiklah. Kau tidur saja, aku akan pergi mandi dan ikut


berbaring bersamamu nanti. Tidurlah yang nyenyak, jangan terlalu memikirkan


yang tidak-tidak!“


Lianne meninggalkan Stefa yang mungkin saja sudah terlelap ke alam mimpinya.


Membiarkan sahabatnya itu untuk istirahat. Lianne tahu apa yang terjadi pada


Stefa sepanjang hari ini. Tentu saja Lianne tahu, karena Judith memberitahunya.


Ya memang Judith dan Lianne cukup dekat karena mereka sering bertemu saat


Lianne datang menemui Stefa di kantornya ataupun sebaliknya.


Tepat pukul 12 malam, handphone milik Stefa terus saja berbunyi. Membuat Stefa


tertarik dari dunia mimpinya. Berbeda dengan Lianne yang tetap tidak terusik


sama sekali, padahal bunyi nyaring dari handphone milik Stefa cukup mengganggu.


Stefa bangkit dari tidurnya, ia meraih handphone miliknya yang berada di atas nakas

__ADS_1


samping tempat tidurnya. Ia melihat ada panggilan dari nomor yang tidak ia


kenal sama sekali. Tunggu! Bukankah itu nomor yang tadi siang mengiriminya


sebuah pesan? Lalu untuk apa orang itu menelpon di tengah malam begini?


Stefa mengerutkan dahinya. Diabaikan nya panggilan telephone itu. Baru saja Stefa


akan kembali berbaring, handphonenya kembali nyala karena ada panggilan masuk


lagi.


“Astagaaa. Siapa yang berani-beraninya menelpon ku malam-malam begini?“ gerutu


Stefa.


Stefa meraih handphonenya kembali, dan menggeser tombol berwarna hijau.


Ditempelkannya handphone ke telinga sebelah kanan.


“Halo?“


“.....”


“Siapa ini?“


“.....”


Stefa memandangi handphone nya, takut-takut jika panggilan itu sudah terputus sedari


tadi karena tidak sahutan dari seberang sana.


“Halo? Jika tidak ada yang penting maka aku akan mematikan panggilan ini!“ cerca


Stefa pada si penelpon yang menurutnya kurang kerjaan.


Stefa langsung mematikan panggilan itu. Ia kesal sekali, sungguh orang itu tidak ada


kerjaan sama sekali. Berani-beraninya mengganggu dirinya saat tengah malam


begini. Jika saja Stefa tahu siapa orang yang sudah berani mengganggunya. Maka


akan Stefa pastikan, orang itu akan mendapatkan hukumannya.


ia merasa terganggu. Sungguh, Stefa adalah sosok wanita yang pemberani. Yaa


meskipun dia memang wanita yang ceria, ramah, dan penyayang. Tapi jika sudah


menyentil egonya, atau merasa terganggu bahkan terancam. Stefa tidak


segan-segan untuk melawan orang itu.


Stefa menyimpan kembali handphone miliknya di atas nakas dengan sedikit kasar. Ia


masih kesal rupanya. Sementara orang yang barusan menelpon nya, malah tersenyum


penuh arti. Tidak ada yang tahu siapa orang itu.


Pagi harinya, Stefa dan Lianne sedang menikmati sarapan bersama. Dengan ditemani


segelas susu hangat dan segelas teh hangat. Keduanya nampak sedang mengunyah


roti dengan dibaluri selai coklat.


“Aku akan mengantarkan-mu ke kantor, setelah itu aku akan ke kantorku.“


“Tidak perlu! Aku akan membawa mobilku sendiri. Kau berangkatlah ke kantor, kau akan


terlambat jika mengantarkan ku dulu.“ tolak Stefa halus.


“Baiklah. Kalau begitu aku berangkat duluan, aku ada meeting hari ini dengan Mr.


Johannes.“


“Hati-hati!“


Setelah menyelesaikan sarapannya, Stefa segera meninggalkan apartment nya dan berangkat


ke kantor. Ia sudah memutuskan untuk mengambil kesempatan mengurus proyek yang ada


di Indonesia.


Dengan syarat, ia ingin Judith ikut bersamanya. Karena bagaimanpun juga, ia

__ADS_1


membutuhkan sekretarisnya nanti.


“Selamat pagi Mr. Lincoln?“ sapa Stefa saat sudah berada di lantai khusus ruangan untuk


CEO


“Selamat pagi Ms. Agatha. Silahkan masuk, Mr. David sudah menunggu anda.“


Michael menghela Stefa untuk segera bertemu dengan David.


Michael mengetuk pintu ruangan David untuk memberitahukan bahwa Stefa sudah tiba.


“Mr. David, Ms. Agatha sudah sampai.“


“Baik. Terima kasih Michael.“


Stefa langsung masuk ke dalam ruangan David setelah Michael memberitahunya bahwa


David memperbolehkan-nya masuk.


“Morning Mr. David?“ sapa Stefa saat sudah berada di dalam.


“Oh, Morning Stefa.“


Seperti sebelumnya, David mengajak Stefa untuk duduk di sofa yang nyaman itu. Tanpa


basa basi, David langsung menanyakan perihal keputusan apa yang akan Stefa


ambil mengenai proyek yang ada di Indonesia.


“Saya menerima kesempatan yang Mr. David tawarkan. Tapi saya menginginkan sekretaris


saya untuk ikut saya.“ dengan mimik wajah yang serius dan tatapan yang tajam.


“Emmhh...” David seolah sedang berpikir, menimang persyaratan yang Stefa ajukan.


Di luar dugaan Stefa, ternyata David menyetujui persyaratan yang Stefa ajukan. Stefa


pikir, David akan menolak mentah-mentah persyaratan yang akan Stefa ajukan


tersebut. Namun salah. David ternyata menyetujui persyaratan itu.


Mereka mengakhiri sesi obrolan dan kesepakatan itu dengan saling berjabat tangan. Dan


mulai nanti malam, Stefa dan Judith harus mempersiapkan segala kebutuhan yang


akan dibawa ke Indonesia untuk 6 bulan ke depan.


Fasilitas dan biaya akomodasi akan di tanggung oleh perusahaan nantinya. Stefa dan Judith


hanya perlu melaksanakan segala prosedur proyek dan menyelesaikannya.


Stefa menganggap keputusan semua ini adalah sebuah kesempatan untuk dirinya


mengembangkan kemampuannya. Dan anggap saja ia juga ingin melarikan diri dari


kenyataan percintaan nya yang menyakitkan. Ia ingin membuktikan kepada Marshal


dan Deborah, bahwa ia baik-baik saja.


Bahwa ia bisa tetap hidup bahagia, bahkan jauh lebih bahagia tanpa adanya Marshal di


kehidupannya. Bahkan jauh sebelum mengenal Marshal, Stefa sudah bahagia. Stefa


tidak menggantungkan hidupnya kepada siapapun. Semua yang ia dapatkan sekarang,


bahkan gaji yang ia terima setiap bulanpun ia raih dengan hasil kerja kerasnya.


Tidak sia-sia ia mengenyam pendidikan dengan biaya yang tidak murah. Tapi hasilnya


terbukti sekarang, bahwa ia cukup dibilang sukses dalam karirnya.


Ucapkanlah pada orang-orang yang selalu meremehkan dan menganggap Stefa sebelah mata.


Stefa berjanji pada dirinya sendiri, setelah ia kembali dari Indonesia nanti.


Stefa ingin merubah semuanya dengan sesuatu yang baru.


Dan jangan lupakan untuk mengucapkan kepada David dan juga orang-orang perusahaan yang telah memberikan


kesempatan ini. Selamat tinggal Marshal, selamat tinggal kenangan yang pernah


menemaninya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2