
Bab 5
Sebuah Kesempatan
Ke esokan harinya, Stefa seperti biasa berangkat ke tempat kerjanya. Make up tipis
yang di ulaskan ke seluruh wajahnya menjadi teman seperti biasanya. Stefa
berencana mengendarai mobilnya sendiri, ia tidak ingin menyulitkan Lianne.
Stefani memasuki mobilnya, mengendarai mobil Audi
** 2.0 T FSI Sport Quattro sudah menjadi kebanggaan tersendiri. Stefa
mendapatkan mobil itu dengan hasil mengumpulkan uang dari setiap ia menerima
gaji bulanannya.
Memang harga mobil itu sangat fantastis. Stefa mulai mamacu mobilnya, membelah jalanan
di London yang tidak terlalu padat saat ini.
Ting.
Stefa mendapatkan satu notifikasi pesan dari nomor yang ia kenal. Siapa lagi kalau
bukan Judith sang sekretaris andalannya. Judith mengirimkan pesan bahwa Stefa
harus menghadap David. Entah apa yang akan pria itu lakukan kepada Stefa.
Stefa hanya membalas singkat pesan itu. Ia menyetujui untuk menemui David di ruangan
kerjanya nanti.
35 menit berlalu, dan kini Stefa sudah memasuki lobby. Dan seperti kemarin, seluruh
karyawan yang mengetahui acara pertunangan yang batal itu tampak sibuk sedang
bergosip kembali. Tapi stefa mengabaikannya dan terus berjalan dengan percaya
dirinya.
Stefa menekan tombol lift yang mengarahkan langsung ke lantai dimana sang pemilik
perusahaan yang tengah mencarinya.
Stefa berjalan di lorong yang sangat mewah, ciri khas untuk lantai yang khusus dihuni
oleh si pemilik perusahaan itu saja. Ia disambut baik oleh seorang pria yang
bertugas sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi David.
“Silahkan sebelah sini Ms. Agatha! Mr. David sudah menunggu anda.“
“Terima kasih Mr. Lincoln.“
Tok.. tok.. tok..
“Permisi Mr. David, Ms. Agatha sudah datang.“
“Biarkan dia masuk.“ jawab David tanpa mengalihkan pandangannya dari setumpuk
dokumen di atas meja kerjanya.
“Selamat pagi Mr. David. Anda mencari saya?“ tanya Stefa yang sudah berada di
dalam ruangan itu.
David langsung mengalihkan pandangannya ke arah Stefa. Kemudian ia tersenyum dan
mulai berjalan ke arah Stefa.
“Silahkan duduk sebelah sini Ms. Agatha!“ David menghela Stefa untuk duduk di
__ADS_1
sofa yang sepertinya sangat empuk dan nyaman dan membuat betah untuk
berlama-lama duduk di atas sofa itu.
Stefa mengikuti David, dan mulai mendudukkan bokongnya di atas sofa itu. Dia
memandang ke sekeliling ruangan milik David. Pandangan Stefa memancarkan rasa
kagum saat meneliti seluruh isi ruangan David. Rapih, bersih dan tentu saja
sangat elegant.
“Jadi ada hal penting apa sampai Mr. David mencari saya?“ tanya Stefa to the point.
“Sungguh tidak sabaran.“ David terkekeh. Stefa hanya memutar bola matanya malas
mendengar kekehan dari David.
“Aku ingin menawarkan kesempatan yang bagus untuk anda Ms. Agatha.“
“Stefa. Panggil saja, Stefa!“ sela Stefa. Sungguh ia tidak suka dengan panggilan atau
sebutan Ms. Agatha. Padahal itukan nama Stefa juga.
“Baiklah, Stefa. Aku ingin menawarkan kesempatan yang bagus untukmu. Ada proyek
yang harus kamu kerjakan di Indonesia. Dan perusahaan membutuhkan orang yang
hebat sepertimu.“
Stefa mengernyitkan dahinya. Proyek? Indonesia? Itu negara yang cukup jauh. Bahkan
benuanya saja sudah jelas berbeda. Proyek seperti apa yang membuat perusahaan
membutuhkan dirinya untuk menangani proyek itu ?
David menjelaskan semua prosedur mengenai proyek yang akan ditangani oleh Stefa, ia
perusahaan mempercayakan Stefa untuk mengurus proyek itu.
Terlebih, Stefa bekerja di bagian yang mengurus urusan Hubungan Internasional. Stefa juga sudah mahir dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Proyek yang akan Stefa tangani adalah proyek pembangunan
Hotel.
Stefa disana akan langsung berhubungan dengan para petinggi dari perusahaan yang akan
menjadi partner dalam mengerjakan
proyek itu. Stefa akan berada di Indonesia selama kurang lebih 6 bulan.
Stefa tidak langsung mengambil keputusan pada detik itu juga, ia perlu memikirkan
segala resiko atau kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Dan dia
membuthkan saran dari sahabatnya,Lianne.
Stefa meraih handphone miliknya, dan mengetikkan sebuah pesan kepada Lianne bahwa
dirinya membutuhkan Lianne malam ini untuk memberikan saran. Dan menyuruh
Lianne untuk menginap di apartment nya.
“Jadi apa yang Mr. David katakan?“ tanya Judith dengan antusias.
“Dia memintaku untuk mengurus proyek pembangunan Hotel yang ada di Indonesia. Karena
aku menangani bagian Hubungan Internasional dan aku pasih dalam menggunakan Bahasa Indonesia.“
“Itu bagus untukmu. Berapa lama kamu akan ditugaskan disana?“
“6 bulan.“ jawab santai Stefa.
Judith langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak salah dengar bukan? 6
__ADS_1
bulan? Itu cukup lama untuk mengurus sebuah proyek di negara yang sudah jelas
berbeda benua itu.
“Apa kau tidak salah Stefa? 6 bulan? Itu terlalu lama untuk sebuah proyek.“
“Aku tahu. Dan aku pikir itu sebuah kesempatan yang bagus untukku.“
“Apa kau gila, Stefa? Ini 6 bulan. Bukan 6 hari, bukan 6 minggu. Tapi 6 bulan,
Stefa. Pikirkan baik-baik. Kau tahu, aku tidak bisa ikut kesana. Mr. David
memberitahuku kalau aku tidak ikut andil dalam proyek ini bersamamu. Kau
benar-benar akan sendirian disana, tanpa ada satu orangpun yang kau kenal
Stefa.“
Judith kesal sekali mendengarnya. Bukan karena ia tidak ikut dengan Stefa ke Indonesia.
Melainkan karena David membiarkan seorang wanita datang ke negara orang lain
untuk mengurus proyek seorang diri. Benar-benar gila.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Waktunya Stefa untuk pulang dan kembali ke
apartmentnya.
“Judith, aku pulang duluan. Kau siap-siap dan segeralah pulang!“ titah Stefa.
Judith pun mengiyakan titah Stefa.
Di perjalanan, Lianne menelpon Stefa untuk menanyakan keberadaannya.
“ Halo?“
“Stefa, kau dimana?“
“Aku sudah di dalam perjalanan. Sebentar lagi aku akan sampai di apartment. Kau
dimana?“
“Aku sudah hampir sampai.“
“Baiklah.“ Stefa memutuskan panggilan telephone itu. Kemudian menambah
kecepatan laju mobilnya. Ia tak ingin jika Lianne terlalu lama menunggu
nantinya.
Sesampainya di apartment, Stefa dikejutkan dengan sosok seorang pria yang tidak ia kenali
sama sekali. Stefa menatap Lianne untuk meminta penjelasan mengenai sesosok
pria yang kini tengah berdiri di hadapannya.
“Stefa, kenalkan ini Mr. Johannes. Dia adalah atasanku langsung, dia pemilik Diamond
Corporation.“ Lianne memperkenalkan Johannes kepada Stefa.
Stefa pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan pria yang bernama Johannes
itu. Dan dengan senang hatinya, Johannes menerima uluran tangan Stefa.
“Johannes.“
“Stefani.“
Stefa memasukkan password apartment nya dan
menghela Lianne dan juga Johannes untuk masuk ke dalam apartmentnya. Mereka
segera duduk di ruang tv yang cukup rapih itu. Karena Stefa menyukai kerapihan.
__ADS_1