
Sesuai dengan janjinya, Ken benar-benar mengadakan acara konferensi pers di mana di acara tersebut ia mengklarifikasi tentang kabar yang memuat berita kemunculan seorang model baru di bawah naungan perusahaannya. Ia menjelaskan siapa Stefa dan memiliki hubungan apa antara Ken dan juga Stefa. Serta alasan mengapa ia memilih keponakannya untuk dijadikan salah satu model di perusahaannya.
Berita tentang Stefa semakin merebak ke seluruh penjuru negeri setelah acara konferensi pers itu digelar. Dan itu sudah berlalu sekitar 9 hari. Saat ini, di sinilah ia berada, Paris. Sudah 7 hari Stefa berada di Paris untuk menjalani pemotretan di salah satu perusahaan fashion ternama di Paris.
Ia mengambil kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan fashion terkenal di Paris. Tentu saja semua itu tidak luput dari pengawasan Pamannya, semua sudah di atur sedemikian rupa oleh Pamannya itu. Bahkan Ken telah memberikan Stefa seorang manajer pribadi untuknya.
Brianna Goldcorna. Wanita berusia 27 tahun dengan rambut pirang serta bermata biru cerah dipercayakan oleh Ken untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan Stefa. Brianna sudah lama mengenal Ken dan juga Charlote, sehingga ia tidak perlu lagi menimbang segala sesuatunya.
Brianna langsung menyetujui permintaan Ken dan juga istrinya itu. Selama satu minggu itu pula Brianna
benar-benar menjaga Stefa dengan baik. Memperhatikan jam makannya di sela-sela kesibukannya, memperhatikan kesehatan Stefa, menyeleksi tawaran kontrak kerja sama dari perusahaan lainnya, dan masih banyak hal yang Brianna kerjakan dengan sangat baik.
Wanita itu begitu hangat dan terlihat ramah. Namun ia tak suka jika ada seseorang yang akan menyinggung
perasaan Stefa. Ia bertindak seperti seorang kakak perempuan yang menjaga adik kecil kesayangannya. Tentu saja di luar konteks seorang manajer.
Semenjak pertemuan terakhir antara Stefa dan Revaldo, pria itu seolah menghilang ditelan bumi karena tak ada kabar sama sekali. Bukan berarti Stefa merindukan pria itu, hanya saja pria itu telah membuat Stefa penasaran karena menghilangnya pria itu. Bahkan di saat planet bumi sedang di hebohkan dengan berita tentang Stefa yang terjun ke dunia permodelan.
Pria itu tak ada menghubunginya sama sekali meskipun itu hanya sekadar menanyakan apa yang terjadi atau lebih singkatnya hanya untuk menanyakan kabar. Untuk mengetahui apakah pria itu masih berada di Jepang atau pun tidak, Stefa sama sekali tidak mengetahuinya. Ia memang memiliki nomor handphone Revaldo, tapi tak mungkin ia harus menghubungi pria terlebih dulu.
Matahari sudah hampir tenggelam dan Stefa belum juga menyelesaikan pemotretannya. Brianna selalu memantau perkembangan mengenai pekerjaan Stefa. Di ruangan yang sama, Brianna ikut memperhatikan kegiatan pemotretan itu. Tinggal mengambil beberapa foto lagi dan pemotretan pun akan selesai.
Sesuai dengan perkiraannya, Stefa sudah menyelesaikan semuanya hari ini dengan baik. Semua kru merasa puas dengan kerja keras Stefa selama seminggu ini. Brianna buru-buru menghampiri Stefa dan memberikan sebotol air mineral untuknya. Mereka duduk di kursi yang sudah disediakan di ruangan untuk sebelumnya.
“Kau sudah bekerja keras hari ini.” ucap Brianna setelah menghampiri sang fotografer untuk mengecek hasil
jepretannya.
“Tentu.” balas Stefa singkat.
“Oh ya, besok terakhir kau akan melakukan pemotretan di Paris. Setelahnya kau akan kembali ke London, masa cutimu sudah hampir habis. Kau akan mengambil dua pekerjaan sekaligus, itu tak masalah untukmu?” Brianna tampak khawatir dengan Stefa karena berani mengambil dua pekerjaan sekaligus. Ia tak yakin jika mereka akan mampu mengatur dan membagi waktu antara pekerjaan utama Stefa dengan pekerjaan lainnya sebagai model.
“Baiklah, tolong bantu aku mengemas semua barang-barangku! Aku juga tak yakin dengan itu. Jika aku tak sanggup, maka aku akan mengambil pekerjaan modelku. Tak mengapa, bukan?!” Setidaknya semuanya harus ia jalani terlebih dulu keduanya baru ia akan memutuskan mana yang lebih penting untuknya.
Brianna mulai mengemas semua barang-barang milik Stefa di ruang ganti. Mereka sudah siap kembali ke Hotel yang perusahaan itu sediakan untuk menampung Stefa dan Brianna. Mereka di tempatkan di dalam satu kamar Hotel yang sama, itu adalah pilihan dan keputusan yang Stefa ambil.
Ia tak ingin repot-repot mencari manajernya itu jika ia sedang memerlukan Brianna. Jadi pilihan tinggal dalam satu kamar Hotel yang sama adalah hal tepat untuknya. Brianna akan mudah mengurusinya, dan ia akan mudah membutuhkan pertolongan Brianna dengan cepat tanpa harus berlama-lama menunggu atau mencari manajernya itu bila sedang tak ada di tempat.
Dengan rutinnya, Brianna akan melaporkan segala bentuk aktivitas yang dijalani Stefa kepada Ken. Sepasang suami istri itu selalu mengawasi Stefa dari kejauhan. Mereka tak akan membiarkan hal buruk terjadi kembali pada keponakan kesayangan mereka. Setelah sekian lama badai terus menerjang Stefa, dan Ken serta Charlote tak ingin ada badai lain lagi yang menghantam Stefa.
Maka dari itu, ia menempatkan dan meminta Brianna sebagai manajer Stefa. Dengan begitula Ken dan Charlote mampu mengawasi Stefa dengan mudah. Tentu saja semua itu Stefa juga tahu, tak perlu mereka menjelaskan. Karena dengan menempatkan seorang Brianna di sisinya sebagai manjernya, seorang kenalan Paman dan juga Tantenya. Tentu semua itu tak lain adalah untuk mengawasi Stefa.
Tepat pada pukul 7 malam Brianna dan Stefa tiba di Hotel tempat mereka menginap. Seperti biasa Brianna akan menyuruh Stefa untuk beristirahat dan akan membangun ‘kannya jika pesanan makanan mereka sudah tiba.
Tubuhnya begitu terasa lelah karena seharian ini ia melakukan pemotretan di depan kamera dengan lampu sorot yang begitu mencolok matanya yang tidak terbiasa dengan cahaya lampu seperti itu. Berendam adalah pilihan yang tepat untuk saat ini, setidaknya semua rasa lelah bisa sedikit berkurang karenanya.
Ia mulai masuk ke dalam bathtub dan hampir seluruh tubuhnya terendam oleh air hangat yang mengisi penuh bathtub tersebut. Matanya terpejam seolah sedang menikmati kenikmatan yang jarang ia dapatkan lagi setelah ia menjadi seorang model. Kemana pun ia pergi, pasti matanya akan menangkap orang-orang yang sedang mencari berita tentangnya.
Ia hanya perlu mengabaikan mereka dan pura-pura tak melihatnya. Matanya kemudian terbuka, mengambil handphone miliknya yang terletak di atas keramik yang menjadi tempat penyimpanan shampoo atau pun perlengkapan mandi lainnya tepat berada di atas kepalanya.
Tangannya tergerak untuk membuka aplikasi sosial media yang sudah satu minggu ini hampir tak ia buka sama sekali selain aplikasi penerima pesan. Pengikutnya di sosial media mendadak naik tinggi bahkan hampir menyentuh angka 7 juta orang yang mengikutinya.
Secepat itulah Stefa menjadi terkenal, bahkan untuk akun sosial medianya pun kini di berondongi oleh sejuta umat yang mengikutinya. Ribuan lebih like memenuhi setiap foto yang ia unggah di sosial media sebelumnya. Ribuan komentar memenuhi kolom komentar di setiap unggahan foto sebelumnya.
Untuk saat ini kebanyakan orang-orang memuji dirinya. Setidaknya untuk saat ini ia belum menemukan
seorang haters di kolom komentarnya yang mengucapkan Stefa beginlah, Stefa begitulah dan semacamnya. Posisinya masih dalam kendali aman sentosa.
__ADS_1
“Stefa kau di dalam?” suara seruan dari balik pintu kamar mandi membuat Stefa harus mengalihkan pandangannya.
“Ya, aku di dalam.” Stefa membalas seruan itu.
“Selesaikan mandimu dengan cepat, makanan sudah tiba!” suara itu menjadi yang terakhir Stefa dengar. Sesuai dengan seruan Brianna tadi, Stefa langsung membersihkan tubuhnya dengan air dan mengenakan jubah mandi dengan cepat.
Saat ia ke luar, sederet jenis makanan sudah di tata sedemikian rupa di atas meja makan berukuran sedang di ruangan itu. Kebanyakan dari makanan yang tersaji adalah makanan sehat, semua jenis kalorinya sudah dipertimbangkan dengan baik oleh Brianna.
Ia tak ingin Stefa mendadak gemuk karena salah mengonsumsi makanan atau minuman, jadi sebisa mungkin ia akan menyeimbangkan jenis asupan makanan yang akan masuk ke dalam tubuh Stefa.
“Sayuran lagi?!” Stefa menatap makanan itu dengan tak berminat sama sekali.
“Oh ayolah. Itu bagus untuk tubuhmu, sayuran tak akan membunuhmu, okay!” balas Brianna dengan kedua tangannya menarik kursi untuk Stefa duduki.
“Dari sekian makanan yang tersaji hanya sayuran yang boleh aku makan lagi?” tanyanya tak percaya. Ia menelas ludahnya dengan susah payah karena harus menahan hasrat saat melihat makanan lezat tersaji di depan matanya namun tak bisa masuk ke dalam perutnya.
“Jangan mengeluh, makanan ini tak seburuk yang kau pikirkan, Stefa! Kau cicipi saja dulu rasanya, tak segetir yang kau bayangkan. Aku jamin kau akan menyukainya.” Brianna tersenyum sembari menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
Hampir saja Stefa meneteskan air liurnya melihat makanan lezat masuk ke dalam mulut Brianna. Akhirnya, ia terpaksa memakan sayuran yang sudah tersaji khusus untuknya. Dengan ragu ia menyuapkan sesendok sayuran yang terlihat getir itu ke dalam mulutnya. Saat ia mengunyah, matanya berbinar terang.
Menatap makanan yang ada di piring berulang kali kemudian menatap Brianna yang sedang tersenyum mengejek padanya.
“Wah, ini enak sekali. Kenapa bisa seperti ini?” tanyanya tak percaya dengan menyuapkan lagi dan lagi makanan ke dalam mulutnya.
“Tentu saja itu enak. Aku meminta kokinya untuk menyiapkan sayuran itu agar tak terlalu getir rasanya. Aku tahu masa dietmu begitu menyiksa, dengan begitulah aku meminta koki itu membuat sayuran getir menjadi lebih enak.” Brianna merasa bangga dengan dirinya sendiri. Stefa hanya mendecih mendengar ucapan Brianna yang membanggakan dirinya sendiri.
Koki memang mencampurkan beberapa bahan lainnya ke dalam sayuran itu, menambah perasan air lemon membuat sayuran itu memiliki rasa yang lain. Sebenarnya, bukan hanya sayuran saja yang koki itu masukkan ke dalamnya. Ada potongan ikan salmon yang sudah di bumbui sedemikian rupa.
Tak terasa Stefa benar-benar menghabiskan seluruh makanannya itu dengan lahap. Brianna tersenyum melihatnya, setidaknya usahanya kali ini membuat Stefa makan dengan baik. Tidak seperti di awal-awal, Brianna belum menemukan ide seperti saat ini yang membuat Stefa merasa enggan untuk makan sayuran.
Sebenarnya tidak sendirian. Hanya saja ia tak mengawasinya secara langsung seperti biasanya.
Di dering pertama dan kedua sampai ketiga, Judith belum menjawab panggilan telepon itu. Namun di dering selanjutnya, panggilan itu benar-benar tersambung.
“Ohoo, sang model akhirnya menghubungiku di jam seperti ini.” sapaan menjengkelkan malah terucap lebih cepat dari dugaan Stefa.
“Diamlah! Aku tak ingin mendengar ejekkanmu itu.” ketus Stefa yang tidak berpengaruh sama sekali pada Judith dan malah membuat wanita itu semakin ingin menggodanya dan membuat Stefa jengkel.
“Jadi kenapa kau meneleponku Nona model?!” Judith cekikikan sendiri di seberang sana dengan menunggu jawaban Stefa.
“Lusa aku akan kembali ke London. Aku tak ingin ada pekerjaan menumpuk di atas mejaku saat aku kembali masuk bekerja. Kau paham?!”
“Benarkah? Kau akan kembali secepat itu? Bagaimana pekerjaanmu di Paris? Tenang saja, semua pekerjaan sudah aku selesaikan dan saat kau kembali. Semuanya sudah aman.”
“Besok aku masih harus menjalani pemotretan terakhirku di sini, setelahnya aku akan kembali ke London. Apa ada kesulitan selama aku tak ada di sana?” mendengar pertanyaan itu, Judith langsung terdiam sebelum ia mengatakan hal yang membuat Stefa kesal karenanya.
“Tentu saja ada, kau pikir pekerjaanmu lebih mudah dari pekerjaanku?! Kau pulang, dan aku akan meminta bonus tambahan yang banyak karena telah membuatku kesusahan.”
“Baiklah, baiklah. Aku akan memberikan bonus tambahan untukmu sebagai kompensasi.”
Setelahnya Stefa langsung memutuskan panggilan tersebut sepihak. Di tempat lain, Judith menggerutu sebal karena ia belum selesai berbicara dan malah langsung di putuskan begitu saja oleh Stefa. Jika saja ia tak mengingat bahwa Stefa adalah bos langsungnya. Mungkin sudah lama ia akan menculik Stefa dan membuangnya ke sungai yang jauh dari peradaban manusia.
Untung saja hati nuraninya masih bekerja. Terdengar jahat memang, tapi itu semua hanya candaannya saja. Ia tak benar-benar ingin melakukan itu pada Stefa. Selama bekerja langsung menjadi sekretaris Stefa, tak luput ia kena amarah Stefa. Apalagi mengenai pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan Stefa.
Namun, ia memakluminya. Di dalam ruang lingkup pekerjaan, Stefa memang sangat profesional. Amat profesional sekali. Berbeda di luar ruang lingkup pekerjaan, ia akan jadi orang yang menyenangkan sesama rekan kerjanya. Itu dulu, sebelum ia berubah jadi wanita dingin. Si ratu es.
***
__ADS_1
Mengikuti agenda sehari-harinya, Stefa mengikutinya dengan baik. Pagi sekali ia bangun dari tidur nyenyaknya dan melakukan olahraga ke tempat kebugaran yang menjadi salah satu fasilitas dari Hotel tersebut.
Stefa menghabiskan selama 3 jam lebih untuk membakar lemak di dalam tubuhnya. Saat ia kembali ke kamar Hotel, Brianna sudah duduk manis sambil menonton televisi dengan memangku setoples kue coklat.
“Kau sudah kembali?” tanya Brianna tanpa melihat ke arah Stefa.
“Uhum.” Stefa hanya berdeham dan mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin. Meneguknya sampai habis dengan cepat.
“Kau sudah sarapan?” tanya Stefa.
“Tentu saja sudah. Kau ingin sarapan dulu atau nanti saja di tempat pemotretan?” tanyanya lagi tanpa mengalihkan pandangannya dan tangan yang sibuk memasukkan kue coklat ke dalam mulutnya.
“Nanti saja, aku belum ingin makan. Jam berapa kita berangkat?” Stefa berjalan mendekati pintu kamarnya.
Barulah Brianna mengalihkan pandangannya dari televisi dan melirik jam di lengannya. “Satu jam lagi kita
berangkat.”
Stefa mengangguk yang tak yakin Brianna akan melihatnya. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil handuk, berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Brianna langsung mematikan televisi dan menyiapkan semua kebutuhan Stefa selama di lokasi pemotretan.
30 menit berlalu dan Stefa ke luar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi dan mereka siap untuk berangkat ke lokasi. Masih tersisa 30 menit lagi tapi Stefa memaksa Brianna untuk langsung berangkat lebih awal agar pekerjaannya cepat terselesaikan.
Brianna mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang seperti biasa. Menyalakan radio untuk memberikan sedikit penghiburan untuk dirinya dan juga Stefa yang mungkin akan merasa jenuh dengan pekerjaannya itu.
Tiba di lokasi pemotretan, mereka di sambut baik seperti biasanya. Seorang penata busana dan make up langsung membimbing Stefa masuk ke dalam ruang ganti. Brianna langsung menuju tempat pemotretan dan menghampiri sang fotografer.
“Hari ini terakhir Stefa melakukan pemotretan ‘kan?” tanyanya saat sudah di hadapan sang fotografer itu.
“Hari ini terkahir. Aku akan mengabari kalian jika hasilnya akan segera naik dan tayang. Kalian akan kembali ke London?”
Brianna mengangguk. “Dia akan kembali besok.”
“Kudengar dia memiliki pekerjaan tetap di London.” Fotografer itu terdengar penasaran dengan kehidupan pribadi Stefa. Brianna tak menjawab pastinya, ia hanya tersenyum dan kembali menuju ruangan ganti di mana di sana ada Stefa.
Untuk pemotretan kali ini, mengusung tema sepasang kekasih dengan adegan yang sedikit intim. Stefa yang mengenakan gaun hitam dengan bahan sedikit menerawang kulit tubuhnya, dengan belahan dada yang hampir menampakkan seluruh dua benda kenyal milik Stefa.
Sedangkan si model pria hanya mengenakan celana pendek dengan kemeja yang sengaja seluruh kancingnya tak ia kait ‘kan sama sekali. Memperontonkan seluruh otot perut dan dada bidang si
pria model itu.
Fotografer mengarahkan mereka untuk berpose untuk lebih sedikit intim lagi. Satu tangan Stefa berumpu pada leher si model pria, satu tangannya lagi di letakkan di dada bidang pria itu. Sebelah kakinya ia angkat dan sedikit di tekuk, sebagian beban tubuhnya di tahan oleh tangan pria itu.
Satu kaki yang terangkat sebatas pinggul pria itu di tahan oleh tangan si model pria, wajah pria itu sedikit
condong dibuat seperti mereka akan berciuman. Namun berbeda dengan Stefa, wajahnya berpaling ke arah mereka seolah membuat pria itu akan menciumnya dari samping.
Berbagai pose intim lainnya terus berganti. Di dalam hati Stefa merutuki adegan intim seperti ini. Pria gagah itu membuat bagian bawah tubuhnya berkedut saja. Ia jadi merindukan sentuhan seorang pria.
Astaga wanita dewasa yang sayangnya masih perawan ini mendadak memiliki otak mesum. Padahal saat ini ia sedang berada di hadapan banyak orang. Bisa-bisanya otaknya memikirkan hal semesum
itu. Mungkin ini efek dari masa keperawanannya yang sudah hampir mendarah daging dengan dirinya.
“Semuanya kerja bagus. Terima kasih atas kerja kalian semua.” Seru si fotografer itu tanda pemotretan telah
selesai. Stefa langsung menjauhkan tubuhnya dari si model pria bertubuh gagah yang menggiurkan untuk di tarik ke atas ranjang dan segera di terkam.
Namun semua itu hanya sebatas imajinasi si wanita perawan. Brianna seperti biasa langsung menyerahkan sebotol air mineral. Mereka harus kembali ke Hotel lebih cepat untuk mengistirahatkan tubuhnya, karena mereka akan kembali ke London besok pagi.
__ADS_1