My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 17 Tidak Ada Penolakkan


__ADS_3

Berbeda dengan Stefa yang sudah terlelap, justru Revaldo malah berdiam diri di ruang kerja yang


temaram. Pandangannya sulit di artikan, kedua tangannya saling terjalin dan


meremas. Revaldo sedang menahan sesuatu. Sampai saat ini, Hendrick belum juga


mengirimkan informasi mengenai kejadian yang menimpa Stefa di Hotel salah satu


miliknya.


Dengan tidak sabarannya, Revaldo langsung meraih handphone dan mendial nomor Hendrick. Tak perlu menunggu lama, karena baru saja


dering pertama panggilan itu sudah tersambung.


“Hallo, tuan?” sapa Hendrick saat panggilannya sudah terhubung.


“Hendrick, mana informasi yang aku minta?” dengan tidak sabarannya Revaldo langsung melontarkan


kalimat pertanyaannya.


“Maaf, tuan. Aku sudah berusaha menyelidiki masalah ini. Tapi sampai saat ini tidak ada informasi yang


belum aku dapatkan. Bahkan CCTV pun tidak bisa memberikan petunjuk. Sepertinya


orang yang mencari Ms. Stefa bukanlah orang biasa.”


“Bahkan dari CCTV pun kau tidak bisa mendapatkannya? Apa yang terjadi dengan semua CCTV di Hotel itu?


Sialan!” umpat Revaldo kasar dengan menyugar rambutnya ke belakang.


“Sepertinya CCTV kita telah dibajak, sehingga saat kejadian itu tidak tertangkap oleh kamera CCTV.


Aku sudah menanyakan ke pihak resepsionis perihal siapa yang mencari Ms. Stefa


sebelumnya, bahkan dia tidak menyebutkan namanya. Di jam saat orang itu mencari


Ms. Stefa pun, tidak ada jejak rekamannya, tuan.” Ucap Hendrick menjelaskan.


“Sialan! Lakukan semua yang kau bisa, bila perlu suruh semua anak buahmu untuk mencari orang itu! Aku


yakin, orang itu masih tidak jauh dari Hotel itu.”


“Baik, tuan. Akan saya usahakan.”


Revaldo langsung menutup panggilan teleponnya. Tangannya merasakan ngilu saat ia menggebrak meja


kerjanya sangat keras. Jika saja ruangan itu tidak kedap suara, sudah


dipastikan semua orang yang ada di tempat tinggalnya akan bangun karena


terkejut mendengar suara gebrakkan yang cukup keras.


Bulan berganti tugas dengan matahari. Sinar matahari pagi menembus melalui sela-sela tirai. Mengusik


ketenangan Stefa yang masih berada di alam mimpinya. Matanya mengerjap beberapa


kali untuk menyesuaikan matanya.


“Aah, rupanya matahari sudah terbit.” Ucap Stefa lirih dengan satu tangan mencoba menghalau matahari


agar tidak menyilaukan matanya.


Stefa segera bangkit dari posisi tidurnya, menyenderkan tubuhnya ke kepala tempat tidur. Matanya


belum terbuka sepenuhnya, perlu menyesuaikan beberapa menit untuk benar-benar


menarik kesadaran dirinya.


Sampai suara seorang pria mampu menarik kesadaran Stefa ke permukaan sepenuhnya.


“Kau sudah bangun?”


Stefa langsung membuka matanya sekaligus karena mendengar seorang pria berada di dalam kamarnya saat


ini.


“Astaga.” Pekik Stefa terkejut.


“Mandilah! Setelah itu turun, kita akan sarapan!” ucap pria itu yang tak lain adalah Revaldo.


“Emh. Aku akan mandi dan turun. Tapi, untuk apa kau disini? Ah, maksudku. Untuk apa anda berada di

__ADS_1


kamarku?” Stefa meralat kalimatnya karena berlaku tidak sopan.


Revaldo hanya menggidikkan bahunya tak acuh. Ia tak menjawab kalimat pertanyaan Stefa dan malah


melenggang pergi meninggalkan Stefa. Stefa langsung bangkit dari tempat


tidurnya, berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Tak memerlukan waktu lama untuk Stefa melakukan ritual mandinya. Stefa sudah kembali ke kamar, namun


ia melihat sesuatu yang mengganggu indera penglihatannya. Sebuah dress sederhana tapi terlihat sangat


cantik, sudah berada di atas tempat tidur.


Bahkan kamarnya sudah terlihat rapih. Kapan mereka membersihkan kamar Stefa? Bahkan Stefa


meninggalkan kamar itu tidak terlalu lama, tapi kondisi kamarnya sudah


benar-benar rapih.


Rupanya si pria kaya itu benar-benar mempekerjakan orang-orang dengan gerak cepat. Buktinya saja,


kamar sudah rapih sempurna bahkan hanya ditinggalkan beberapa menit saja untuk


mandi.


“Apa dia menyiapkan ini untukku?” ucap Stefa pelan saat ia mengambil dress itu dari atas tempat tidur.


“Sepertinya ini memang disiapkan untukku. Ukurannya pun pas di tubuhku. Tapi bagaimana bisa dia tahu


ukuran bajuku?” Stefa bertanya pada dirinya sendiri dengan raut wajah bingung.


Segera Stefa memakai pakaian yang sudah disiapkan untuknya. Tak perlu menggunakan make up, Stefa sudah terlihat cantik sempurna. Ia bergegas keluar dan menuruni anak tangga untuk menemui si pemilik


rumah itu dan sarapan bersama.


Revaldo yang sudah tahu Stefa sedang menuruni anak tangga, malah pura-pura sibuk dengan hal lain.


Padahal matanya terasa sangat gatal untuk menatap Stefa lebih lama. Stefa


benar-benar terlihat cantik menggunakan pakaian yang telah disiapkan untuknya.


tersenyum bahagia dan penuh kebanggaan karena tidak salah memilihkan pakaian


itu untuknya.


“Ehhmm..” Stefa berdeham saat ia sudah berada di depan Revaldo.


Tatapan mereka berdua kini bertemu. Revaldo benar-benar sudah terhipnotis dengan mata Stefa. Ia tidak


bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk diucapkan dan menyapa Stefa.


“Mr. Revaldo?” sapa Stefa


“Y-ya.” Jawab Revaldo gugup karena ketahuan melamun.


“Maaf, aku sedikit lama. Terima kasih untuk pakaiannya.”


“Tidak masalah. Mari kita sarapan terlebih dahulu!” ajak Revaldo.


Mereka berdua menikmati menu sarapan yang sudah dibuatkan oleh koki. Menikmati makanan dalam diam


membuat Stefa sedikit merasa berbeda, biasanya ia akan menikmati makanannya


dengan berceloteh. Tapi itu dulu, saat dirinya masih Stefa yang ceria.


“Mr. Revaldo?”


Merasa namanya di panggil, Revaldo pun melirik ke arah Stefa. Sepertinya Stefa akan mengatakan


sesuatu.


“Ya.” Jawab Revaldo singkat.


Stefa tampak tak enak hati untuk mengatakannya. Tapi ia benar-benar harus mengatakannya.


“Emh, begini. Atas kejadian semalam, aku ingin meminta maaf karena sudah menyusahkan anda. Dan


saya juga berterima kasih kepada anda karena sudah banyak membantu saya, jika


bukan karena anda yang menolong saya. Mungkin saat ini saya masih berada di

__ADS_1


jalanan.” Papar Stefa panjang lebar.


“Aku tidak merasa kesusahan hanya karena menolongmu.” Balas Revaldo.


Stefa menghela nafas. “Aku sudah mengirimkan pesan kepada sekretarisku, sebentar lagi dia akan menjemputku


kesini. Aku tidak tahu lokasi pastinya, tapi aku sudah mengirimkan lokasi


melalui handphone. Aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus mengurus


kepindahan Hotel kami ke Hotel lainnya.”


Revaldo menatap Stefa tajam. Baru kali ini Stefa melihat tatapan Revaldo yang tak biasanya. Biasanya


pria itu akan menatap Stefa dengan tatapan biasa atau lembut, tapi tidak kali


ini. Tatapan tajam yang di dapat dari Revaldo membuat Stefa sedikit gugup.


“Jadi kau menolak tawaranku yang semalam?” tanya Revaldo dengan tatapannya yang masih tajam.


Stefa segera mengangguk mengiyakan pertanyaan Revaldo dan menelan salivanya berat. Bisa saja Stefa dan


Judith tinggal di rumah itu, tapi itu mustahil bagi seorang Stefani Agatha. Mau


ditaruh dimana harga dirinya?


“Baiklah. Aku akan ikut mengantarmu kembali ke Hotel dan menyiapkan kepindahan tempat tinggal kalian yang


baru.”


“Ti-tidak perlu. Anda tidak perlu mengantarku, Judith akan menjemput. Mungkin sebentar lagi dia akan


sampai disini.” Tolak Stefa.


“Tidak ada penolakkan!”


Stefa menganga dengan kalimat terakhir Revaldo. Dirinya tidak boleh menolak tawaran Revaldo. Yang


benar saja? Memang dia siapa berani-beraninya mengatakan itu? Katakanlah jika


Revaldo memang malaikat penyelamat Stefa, tapi bukankah Stefa masih memiliki


hak untuk menolak tawaran Revaldo?


“Shit! Aku bahkan tidak bisa menolak karena mukanya yang terlalu tampan.”Guman Stefa dalam hatinya


“Bisakah aku menolak?” balas Stefa bersedekap.


Revaldo langsung memicing ‘kan matanya ke arah Stefa. Bahkan belum lama dia mengatakan bahwa


tidak ada penolakkan sama sekali dan sekarang wanita yang ada di depannya malah


bertanya. Yang benar saja!


“Bukankah barusan aku mengatakan kalau tidak ada penolakkan?!”


Stefa mengangguk membenarkan. “Tentu saja aku mendengarnya juga. Tapi bukankah aku memiliki hak


untuk menolak?”


Revaldo meletakkan garpu dan sendok di atas piring kemudian menatap Stefa kembali dengan tatapan


yang masih sama tajamnya. Dan itu membuat Stefa kembali gugup, namun ia


berhasil menyembunyikan kegugupannya.


“Aku berikan dua pilihan. Kau tinggal disini atau aku yang akan mengantarmu kembali ke Hotel?”


“Are you crazy, sir? Kau memberikan dua pilihan seperti itu padaku?! Yang benar saja.”


“Kau tinggal memilih!” ucap Revaldo dengan mengedikkan bahunya.


“No, no, no. Aku tidak akan memilih keduanya, aku akan kembalin sendiri kesana tanpa harus anda yang mengantar!”


“Berarti kau memang berniat tinggal disini!” balas Revaldo dengan senyum smirknya.


Stefa tak salah dengar ‘kan? Barusan dia mengatakan kalau dia tidak ingin memilih kedua pilihan itu. Dan si


pria tampan yang sialan itu malah mengatakan bahwa dia harus tinggal di rumah


nya.

__ADS_1


__ADS_2