
Berbeda dengan Stefa yang sudah terlelap, justru Revaldo malah berdiam diri di ruang kerja yang
temaram. Pandangannya sulit di artikan, kedua tangannya saling terjalin dan
meremas. Revaldo sedang menahan sesuatu. Sampai saat ini, Hendrick belum juga
mengirimkan informasi mengenai kejadian yang menimpa Stefa di Hotel salah satu
miliknya.
Dengan tidak sabarannya, Revaldo langsung meraih handphone dan mendial nomor Hendrick. Tak perlu menunggu lama, karena baru saja
dering pertama panggilan itu sudah tersambung.
“Hallo, tuan?” sapa Hendrick saat panggilannya sudah terhubung.
“Hendrick, mana informasi yang aku minta?” dengan tidak sabarannya Revaldo langsung melontarkan
kalimat pertanyaannya.
“Maaf, tuan. Aku sudah berusaha menyelidiki masalah ini. Tapi sampai saat ini tidak ada informasi yang
belum aku dapatkan. Bahkan CCTV pun tidak bisa memberikan petunjuk. Sepertinya
orang yang mencari Ms. Stefa bukanlah orang biasa.”
“Bahkan dari CCTV pun kau tidak bisa mendapatkannya? Apa yang terjadi dengan semua CCTV di Hotel itu?
Sialan!” umpat Revaldo kasar dengan menyugar rambutnya ke belakang.
“Sepertinya CCTV kita telah dibajak, sehingga saat kejadian itu tidak tertangkap oleh kamera CCTV.
Aku sudah menanyakan ke pihak resepsionis perihal siapa yang mencari Ms. Stefa
sebelumnya, bahkan dia tidak menyebutkan namanya. Di jam saat orang itu mencari
Ms. Stefa pun, tidak ada jejak rekamannya, tuan.” Ucap Hendrick menjelaskan.
“Sialan! Lakukan semua yang kau bisa, bila perlu suruh semua anak buahmu untuk mencari orang itu! Aku
yakin, orang itu masih tidak jauh dari Hotel itu.”
“Baik, tuan. Akan saya usahakan.”
Revaldo langsung menutup panggilan teleponnya. Tangannya merasakan ngilu saat ia menggebrak meja
kerjanya sangat keras. Jika saja ruangan itu tidak kedap suara, sudah
dipastikan semua orang yang ada di tempat tinggalnya akan bangun karena
terkejut mendengar suara gebrakkan yang cukup keras.
Bulan berganti tugas dengan matahari. Sinar matahari pagi menembus melalui sela-sela tirai. Mengusik
ketenangan Stefa yang masih berada di alam mimpinya. Matanya mengerjap beberapa
kali untuk menyesuaikan matanya.
“Aah, rupanya matahari sudah terbit.” Ucap Stefa lirih dengan satu tangan mencoba menghalau matahari
agar tidak menyilaukan matanya.
Stefa segera bangkit dari posisi tidurnya, menyenderkan tubuhnya ke kepala tempat tidur. Matanya
belum terbuka sepenuhnya, perlu menyesuaikan beberapa menit untuk benar-benar
menarik kesadaran dirinya.
Sampai suara seorang pria mampu menarik kesadaran Stefa ke permukaan sepenuhnya.
“Kau sudah bangun?”
Stefa langsung membuka matanya sekaligus karena mendengar seorang pria berada di dalam kamarnya saat
ini.
“Astaga.” Pekik Stefa terkejut.
“Mandilah! Setelah itu turun, kita akan sarapan!” ucap pria itu yang tak lain adalah Revaldo.
“Emh. Aku akan mandi dan turun. Tapi, untuk apa kau disini? Ah, maksudku. Untuk apa anda berada di
__ADS_1
kamarku?” Stefa meralat kalimatnya karena berlaku tidak sopan.
Revaldo hanya menggidikkan bahunya tak acuh. Ia tak menjawab kalimat pertanyaan Stefa dan malah
melenggang pergi meninggalkan Stefa. Stefa langsung bangkit dari tempat
tidurnya, berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Tak memerlukan waktu lama untuk Stefa melakukan ritual mandinya. Stefa sudah kembali ke kamar, namun
ia melihat sesuatu yang mengganggu indera penglihatannya. Sebuah dress sederhana tapi terlihat sangat
cantik, sudah berada di atas tempat tidur.
Bahkan kamarnya sudah terlihat rapih. Kapan mereka membersihkan kamar Stefa? Bahkan Stefa
meninggalkan kamar itu tidak terlalu lama, tapi kondisi kamarnya sudah
benar-benar rapih.
Rupanya si pria kaya itu benar-benar mempekerjakan orang-orang dengan gerak cepat. Buktinya saja,
kamar sudah rapih sempurna bahkan hanya ditinggalkan beberapa menit saja untuk
mandi.
“Apa dia menyiapkan ini untukku?” ucap Stefa pelan saat ia mengambil dress itu dari atas tempat tidur.
“Sepertinya ini memang disiapkan untukku. Ukurannya pun pas di tubuhku. Tapi bagaimana bisa dia tahu
ukuran bajuku?” Stefa bertanya pada dirinya sendiri dengan raut wajah bingung.
Segera Stefa memakai pakaian yang sudah disiapkan untuknya. Tak perlu menggunakan make up, Stefa sudah terlihat cantik sempurna. Ia bergegas keluar dan menuruni anak tangga untuk menemui si pemilik
rumah itu dan sarapan bersama.
Revaldo yang sudah tahu Stefa sedang menuruni anak tangga, malah pura-pura sibuk dengan hal lain.
Padahal matanya terasa sangat gatal untuk menatap Stefa lebih lama. Stefa
benar-benar terlihat cantik menggunakan pakaian yang telah disiapkan untuknya.
tersenyum bahagia dan penuh kebanggaan karena tidak salah memilihkan pakaian
itu untuknya.
“Ehhmm..” Stefa berdeham saat ia sudah berada di depan Revaldo.
Tatapan mereka berdua kini bertemu. Revaldo benar-benar sudah terhipnotis dengan mata Stefa. Ia tidak
bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk diucapkan dan menyapa Stefa.
“Mr. Revaldo?” sapa Stefa
“Y-ya.” Jawab Revaldo gugup karena ketahuan melamun.
“Maaf, aku sedikit lama. Terima kasih untuk pakaiannya.”
“Tidak masalah. Mari kita sarapan terlebih dahulu!” ajak Revaldo.
Mereka berdua menikmati menu sarapan yang sudah dibuatkan oleh koki. Menikmati makanan dalam diam
membuat Stefa sedikit merasa berbeda, biasanya ia akan menikmati makanannya
dengan berceloteh. Tapi itu dulu, saat dirinya masih Stefa yang ceria.
“Mr. Revaldo?”
Merasa namanya di panggil, Revaldo pun melirik ke arah Stefa. Sepertinya Stefa akan mengatakan
sesuatu.
“Ya.” Jawab Revaldo singkat.
Stefa tampak tak enak hati untuk mengatakannya. Tapi ia benar-benar harus mengatakannya.
“Emh, begini. Atas kejadian semalam, aku ingin meminta maaf karena sudah menyusahkan anda. Dan
saya juga berterima kasih kepada anda karena sudah banyak membantu saya, jika
bukan karena anda yang menolong saya. Mungkin saat ini saya masih berada di
__ADS_1
jalanan.” Papar Stefa panjang lebar.
“Aku tidak merasa kesusahan hanya karena menolongmu.” Balas Revaldo.
Stefa menghela nafas. “Aku sudah mengirimkan pesan kepada sekretarisku, sebentar lagi dia akan menjemputku
kesini. Aku tidak tahu lokasi pastinya, tapi aku sudah mengirimkan lokasi
melalui handphone. Aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus mengurus
kepindahan Hotel kami ke Hotel lainnya.”
Revaldo menatap Stefa tajam. Baru kali ini Stefa melihat tatapan Revaldo yang tak biasanya. Biasanya
pria itu akan menatap Stefa dengan tatapan biasa atau lembut, tapi tidak kali
ini. Tatapan tajam yang di dapat dari Revaldo membuat Stefa sedikit gugup.
“Jadi kau menolak tawaranku yang semalam?” tanya Revaldo dengan tatapannya yang masih tajam.
Stefa segera mengangguk mengiyakan pertanyaan Revaldo dan menelan salivanya berat. Bisa saja Stefa dan
Judith tinggal di rumah itu, tapi itu mustahil bagi seorang Stefani Agatha. Mau
ditaruh dimana harga dirinya?
“Baiklah. Aku akan ikut mengantarmu kembali ke Hotel dan menyiapkan kepindahan tempat tinggal kalian yang
baru.”
“Ti-tidak perlu. Anda tidak perlu mengantarku, Judith akan menjemput. Mungkin sebentar lagi dia akan
sampai disini.” Tolak Stefa.
“Tidak ada penolakkan!”
Stefa menganga dengan kalimat terakhir Revaldo. Dirinya tidak boleh menolak tawaran Revaldo. Yang
benar saja? Memang dia siapa berani-beraninya mengatakan itu? Katakanlah jika
Revaldo memang malaikat penyelamat Stefa, tapi bukankah Stefa masih memiliki
hak untuk menolak tawaran Revaldo?
“Shit! Aku bahkan tidak bisa menolak karena mukanya yang terlalu tampan.”Guman Stefa dalam hatinya
“Bisakah aku menolak?” balas Stefa bersedekap.
Revaldo langsung memicing ‘kan matanya ke arah Stefa. Bahkan belum lama dia mengatakan bahwa
tidak ada penolakkan sama sekali dan sekarang wanita yang ada di depannya malah
bertanya. Yang benar saja!
“Bukankah barusan aku mengatakan kalau tidak ada penolakkan?!”
Stefa mengangguk membenarkan. “Tentu saja aku mendengarnya juga. Tapi bukankah aku memiliki hak
untuk menolak?”
Revaldo meletakkan garpu dan sendok di atas piring kemudian menatap Stefa kembali dengan tatapan
yang masih sama tajamnya. Dan itu membuat Stefa kembali gugup, namun ia
berhasil menyembunyikan kegugupannya.
“Aku berikan dua pilihan. Kau tinggal disini atau aku yang akan mengantarmu kembali ke Hotel?”
“Are you crazy, sir? Kau memberikan dua pilihan seperti itu padaku?! Yang benar saja.”
“Kau tinggal memilih!” ucap Revaldo dengan mengedikkan bahunya.
“No, no, no. Aku tidak akan memilih keduanya, aku akan kembalin sendiri kesana tanpa harus anda yang mengantar!”
“Berarti kau memang berniat tinggal disini!” balas Revaldo dengan senyum smirknya.
Stefa tak salah dengar ‘kan? Barusan dia mengatakan kalau dia tidak ingin memilih kedua pilihan itu. Dan si
pria tampan yang sialan itu malah mengatakan bahwa dia harus tinggal di rumah
nya.
__ADS_1