
Tidak terasa Stefa dan Judith sudah berada di Indonesia selama 3 bulan lebih. Setiap harinya Stefa dan
Judith tidak lepas dari mengunjungi lokasi proyek berlangsung. Di lokasi
proyek, sudah terlihat bahan-bahan bangunan yang akan digunakan nanti pada saat
pembangunan Hotel berlangsung.
Terlihat Stefa sedang berbincang dengan pak Bambang dan Revaldo, pembicaraan mereka tak jauh-jauh
dari urusan pekerjaan. Mereka tampak sangat serius membahas pekerjaan,
sedangkan Judith sedang pergi untuk mengambil handphone milik Stefa yang
sepertinya tertinggal di dalam mobil.
Saat Judith sudah sampai di area parkir mobil, dan menemukan tas Stefa di dalam mobil itu. Judith
langsung mencari benda yang sedang ia cari saat ini, saat Judith menemukan
benda itu. Sebuah nomor lokal menelepon handphone milik Stefa, nomor itu tidak
dikenal karena memang nomor itu tidak ada dalam daftar kontak handphone milik
Stefa.
Karena nomor tidak dikenal itu terus saja menelepon handphone milik Stefa, terpaksa Judith harus
menjawab panggilan itu. Takutnya itu adalah sebuah panggilan penting. Buru-buru
Judith menggeser tombol warna hijau untuk menjawab panggilan itu.
“Halo?” ucap Judith.
“.....” tidak ada jawaban dari sana.
Judith sedikit menjauhkan handphonenya untuk memastikan apakah panggilan itu masih tersambung
atau tidak. Dan memang panggilan itu masih tersambung, namun saat dia kembali mengucapkan
sesuatu. Dari sana tidak ada jawaban lagi, karena merasa itu tidak penting dan
tidak ada jawaban. Judith langsung memutuskan panggilan telepon itu. Judith
segera kembali ke area lokasi proyek untuk menyerahkan handphone milik Stefa.
“Stefa, tadi ada yang meneleponmu. Nomor Indonesia, tapi saat aku menjawab panggilan itu. Tidak ada
yang menjawab dari si penelepon. Itu mungkin panggilan penting atau bisa jadi
hanya orang iseng belaka.” ucap Judith memberitahu Stefa saat sudah kembali ke
lokasi proyek.
“Baiklah. Terima kasih! Aku akan mencoba menghubunginya lagi nanti.” Stefa langsung memasukkan
handphone miliknya ke dalam saku celana.
Waktu sudah sore, mereka membubarkan diri dari lokasi proyek. Stefa dan Judith diantar sampai
Hotel dengan selamat oleh Revaldo. Selama di lokasi proyek tadi, handphone
milik Stefa terus saja berbunyi. Nomor yang dimaksud oleh Judith, berulang kali
menelepon Stefa. Namun karena Stefa sedang sibuk dengan urusannya, ia tidak
sempat menjawab panggilan tersebut.
“Kalian beristirahatlah! Jika kalian membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk
menghubungiku!” ucap Revaldo saat dia sudah sampai di Hotel mengantarkan Stefa
dan Judith.
Stefa mengangguk.”Terima kasih!”
“Kalau begitu aku harus segera pulang, ini sudah hampir malam. Selamat beristirahat!” Revaldo langsung
membalikkan tubuhnya dan meninggalkan mereka di Hotel itu.
Stefa dan Judith langsung berjalan masuk ke dalam Lobby. Namun salah satu resepsionis
memberhentikan langkah keduanya karena ada sesuatu hal yang ingin ia sampaikan.
“Permisi Ms. Stefa! Ada seseorang yang mencari anda sedari siang.” Ucap si resepsionis itu.
Stefa dan Judith tampak kebingungan. Mereka tidak mengenal siapapun disana, selain beberapa orang yang
sudah sering ia temui karena urusan pekerjaannya selama di Indonesia.
“Siapa?” tanya Stefa dengan wajah datarnya.
“Dia tidak memberitahu siapa namanya. Tapi dia seorang laki-laki, dan dia sedikit memaksa saya untuk
memberitahukan nomor kamar Ms. Stefa.” Resepsionis itu menunduk karena takut
jika Stefa akan marah.
“Laki-laki? Dan kau memberitahu nomor kamarku?” tanya Stefa lagi yang di balas anggukkan oleh si
resepsionis.
Stefa menghela nafasnya. Ya bagaimanapun itu sudah terlanjur.
“Baiklah. Tak apa, kau bisa kembali bekerja! Aku akan ke kamar.” Ucap Stefa yang membuat si
resepsionis menghembuskan nafas leganya karena tidak mendapatkan amukan dari
Stefa.
Stefa dan Judith kembali melangkah menuju lift. Di dalam lift, Judith tampak sedang berpikir
keras. Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan, tapi tidak dengan Stefa yang
terlihat biasa saja meskipun ia baru saja mendengar ada seorang laki-laki yang
mencarinya.
“Stefa, kau tidak curiga dengan orang yang mencarimu itu?” tanya Judith pada Stefa yang masih
berada di dalam lift saat ini.
“Tidak.” Jawab Stefa singkat.
Judith menghela nafasnya sebelum kembali berucap.
“Perasaanku tak enak. Sebaiknya kau jangan dulu kembali ke kamarmu. Aku takut orang yang mencarimu
berniat tidak baik, bahkan dia sampai menanyakan nomor kamar Hotelmu. Kau tahu?
Kita disini tidak mengenal siapapun ‘kan, jadi siapa orang itu?” jelas Judith
mengutarakan segala isi yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
“Ya, aku tahu. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.” Balas Stefa.
Judith hanya menghela nafas beratnya. Pasalnya, Stefa benar-benar seperti tidak perduli dengan sosok
laki-laki yang mencarinya. Kini mereka tiba di lantai dimana mereka menginap,
Judith masuk ke dalam kamarnya begitu pula dengan Stefa yang ikut menyusul
masuk ke dalam kamarnya.
Baru saja Stefa menaruh tasnya di atas meja rias, suara bel di kamarnya berbunyi. Stefa berjalan ke
arah pintu, dan siap membuka pintu kamarnya.
“Ya. Sia...?” ucapan Stefa terpotong saat melihat sosok yang sedang berada di depannya saat ini.
“Hai, sayang?” ucap orang itu.
Stefa membelalakkan matanya, buru-buru Stefa ingin menutup pintu kamarnya. Tapi kaki orang itu
menahan pintunya dan di susul dengan tangan yang mencoba membuka paksa kamar
itu.
Dengan sekuat tenaga Stefa menahan pintu itu agar tertutup, dia tidak mengijinkan orang itu masuk ke
dalam kamarnya. Bagaimanapun ia membenci orang itu.
Brukk.
Stefa tersungkur karena dorongan keras dari orang itu yang memaksa masuk ke dalam kamar Stefa.
Mengabaikan rasa sakit di pantatnya karena tersungkur ke belakang sekaligus,
buru-buru Stefa bangkit berdiri.
“Kau? Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Stefa sinis.
Orang itu terkekeh, kemudian menutup pintu kamar Stefa dan menguncinya. Kartu akses untuk membuka
pintu itupun dimasukkan ke dalam saku celana yang orang itu pakai. Orang itu
berjalan mendekati Stefa, dan Stefa bergerak mundur saat orang itu terus
berjalan mendekatinya.
“Stop! Berhenti disana! Jangan mendekatiku, brengsek!” teriak Stefa
dan memajukan satu tangannya untuk memberikan kode bahwa orang itu tidak
diperbolehkan mendekat ke arahnya.
“Kau tidak merindukanku?” ucap pria itu saat berhenti beberapa langkah dari jarak Stefa
saat ini.
“Cuiih.. aku tidak sudi merindukanmu, bajingan. Untuk apa kau kesini?”
“Waaah, kau sangat kejam sayang. Padahal aku sangat merindukanmu.. Tentu saja aku kesini untuk
menemuimu, sudah lama aku tidak melihatmu dan aku rindu aroma tubuhmu yang
masih perawan itu.”
“Kau...”
Orang itu kembali mendekati Stefa, dan mengikis jarak diantara keduanya. Stefa yang sudah
tersudut dengan tempat tidur pun, tak berkutik sama sekali. Debar jantungnya
macam-macam dengannya.
“Aku bilang jangan mendekat!” teriak Stefa lagi.
Sialnya, ia berteriak sekencang apapun tetap tidak akan ada yang mendengarnya. Bahkan jika dirinya
dibunuh pun, mungkin tidak akan ada orang yang mendengar jeritan minta
tolongnya. Kamar itu kedap suara, bahkan Judith yang tidur di kamar
sebelahnya pun tidak bisa mendengar teriakan Stefa saat ini.
“Kau semakin seksi, sayang! Aahh, aku tidak sabar untuk menyentuh tubuhmu. Menyatukan tubuh kita di
dalam kehangatan dan kenikmatan yang memabukkan.” Ucap orang itu dengan
frontalnya.
Stefa sudah geram dengan segala ucapan orang itu. Jujur, Stefa sudah sangat sangat sangat
membenci orang yang kini berada di depannya. Meskipun sempat Stefa merasakan
rindu pada orang itu, tapi rasa benci yang dirasakannya lebih dominan.
Orang itu mendorong tubuh Stefa ke atas tempat tidur, mengurung kedua tangan Stefa di atas kepala
Stefa dan **** tubuhnya. Stefa menendang-nendang ke segala arah agar
tubuhnya bisa terlepas dari kurungan orang itu.
“Brengsek, Marshal lepaskan aku!” teriak Stefa lagi.
“Tidak, sayang. Aku merindukanmu dan menginginkanmu.” Ucap Marshal.
Marshal. Ya Marshal, pria yang saat ini tengah mengunci pergerakan Stefa adalah pria brengsek
bernama Marshal. Entah pria itu tahu dari mana keberadaan Stefa saat ini, yang
jelas pria ini memiliki niat tidak baik dengan Stefa.
Stefa merutuki kebodohannya yang tidak percaya dengan kekhawatiran Judith. Benar apa kata
sekretarisnya itu, bahwa laki-laki yang mencarinya memiliki niat tidak baik.
Terbukti sekarang, dirinya berada di dalam kuasa laki-laki itu.
“Marshal, apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku!” Stefa tak berhenti untuk memberontak.
“Diamlah! Aku tidak akan melukaimu.” Geram Marshal, ia kesal karena Stefa tidak bisa diam sedari
tadi.
Marshal semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Stefa yang berada di bawahnya. Satu tangannya
di pakai untuk menahan kedua tangan Stefa, dan yang satunya lagi untuk
menggerayangi tubuh Stefa.
“Tidak, Marshal. Hentikan! Jangan lakukan itu, kumohon!” mohon Stefa agar Marshal tidak
melakukan hal lebih pada tubuhnya.
Marshal menyeringai licik saat mendengar Stefa memohon agar dirinya tidak melakukan hal lebih.
__ADS_1
Tangan Marshal yang bebas, menyentuh titik-titik sensitif tubuh Stefa. Mulai
dari menyentuh sisi wajahnya, bibirnya, telinga, leher, bahkan buah dada pun tak
luput dari sentuhan ringan Marshal.
Marshal mendekatkan wajahnya dengan wajah Stefa, menggesekkan bibirnya dengan bibir Stefa. Marshal
mulai mengecup bibir Stefa dan melumatnya dengan kasar. Stefa yang masih tidak
bisa menerima begitu saja, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk
menghindari ciuman kasar Marshal.
Air matanya sudah tidak bisa dibendung. Jika saja status mereka masih sepasang kekasih, mungkin ciuman
itu akan disambut dengan antusias oleh Stefa. Tapi kini berbeda, dirinya yang
sudah di khianati oleh Marshal tidak bisa menerima semua pelecehan ini.
“Arrgghhh..” teriak Marshal.
Marshal melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan kedua tangan Stefa. Ciumannya pun ikut
terlepas, tangan Marshal menyentuh bibirnya yang terasa sakit dan perih karena
Stefa yang menggigitnya sebagai bentuk perlawanan.
Saat tangan Marshal memperlihatkan noda darah dari bibirnya, ia sangat marah bercampur kesal. Ia
kembali mengurung tubuh Stefa, menjambak rambut Stefa dengan kasar. Membuat
Stefa harus meringis kesakitan karena jambakan di rambutnya.
“Kau... berani-beraninya menggigit bibirku, huh? Kau harus merasakan hukumannya!”
Plaakk.
Marshal menampar pipi kiri Stefa dengan cukup keras. Membuat Stefa merasakan kebas dan perih di pipi
kirinya. Seketika pipi yang baru saja di tampar Marshal mengeluarkan guratan
merah bekas tamparan. Sudut bibir Stefa robek dan berdarah.
Melihat Stefa yang diam saja tidak melawan, Marshal kembali melumat bibir Stefa dengan kasar.
Benar-benar kasar, ia menggigit bibir Stefa sampai berdarah dan melepaskan
pagutan ciumannya.
Marshal menyeringai saat melihat bibir Stefa berdarah karena gigitannya. Marshal kembali melepaskan
tangannya yang digunakan untuk menjambak rambut Stefa, ia menjauhkan tubuhnya
dari tubuh Stefa.
Di tatapnya wanita yang kini tengah menangis dalam diam di atas tempat tidur. Menahan rasa perih dan
sakit yang tak terperi. Air matanya sudah membasahi pipi Stefa, baju kerjanya
yang masih melekat di tubuhnya terlihat kusut acak-acakkan. Kepalanya terasa
berdenyut karena jambakan di kepalanya sangat kuat.
“Berhentilah menangis! Kali ini aku akan membiarkanmu lolos, tapi tidak dengan lain kali saat aku
kembali bertemu denganmu.” Ucap Marshal.
Marshal membiarkan Stefa menangis dan merasakan kesakitan di tubuhnya. Marshal berbalik, dan
berjalan ke arah pintu. Ia berniat meninggalkan dan melepaskan Stefa kali ini.
Entah dosa apa yang diperbuat Stefa di kehidupan sebelumnya sehingga ia
diperlakukan seperti itu oleh Marshal.
Stefa buru-buru bangun dari posisi berbaringnya, ia mengambil handphonenya. Marshal tidak menyadari
jika Stefa sedang merencanakan sesuatu untuk dirinya. Saat handphone sudah
berada di genggamannya, Stefa melihat gelas yang terbuat dari keramik
dan menggenggamnya kuat.
Saat Marshal berhasil membuka pintu kamar, Stefa buru-buru berlari ke arah Marshal dan memukul kepala
Marshal dengan keras. Gelas keramik itu langsung pecah, Marshal tersungkur ke
lantai. Merasakan kepalanya berdenyut, kepala bagian belakangnya mengeluarkan
darah akibat pukulan keras dari Stefa.
Melihat ketidak berdayaan Marshal, Stefa mengambil kesempatan itu untuk kabur dari pria
brengsek itu. Namun pergerakkan kakinya tertahan oleh tangan Marshal, dengan
sekuat tenaga Marshal menarik kaki Stefa.
Stefa kembali tersungkur ke lantai karena tarikan di kakinya yang mendadak. Marshal langsung
**** tubuh Stefa yang sedang berusaha untuk bangkit dari lantai.
“Kau.. berani-beraninya memukul kepalaku? Aku akan membalasnya.” Amarah Marshal sudah tidak bisa
dibendung lagi.
“Rasakan itu pria brengsek! Kau pantas mendapatkannya.” Teriak Stefa.
Marshal benar-benar murka dengan tingkah Stefa. Ditarik dan dirobeknya baju Stefa, membuat bahu
sampai dadanya terekspos. Stefa menjerit saat bajunya dirobek begitu saja oleh
Marshal.
Duug.
“Arrgghh.. ***!” pekik kesakitan dari Marshal.
Alat vitalnya ditendang oleh Stefa, dan membuat si pemiliknya merasakan kesakitan. Dan kesempatan itu
dipakai Stefa untuk kabur dan melarikan dirinya. Stefa berniat berlari ke kamar
Judith, namun karena kamar mereka bersebelahan sudah pasti Stefa akan tertangkap
lagi jika Marshal sudah bangkit dari kesakitannya.
Stefa berlari ke arah lift dengan menggunakan baju yang sudah robek. Dadanya hampir terlihat sempurna
yang hanya terbungkus bra berwarna hitam. Nafasnya terengah-engah karena
pegulatannya dengan Marshal.
Beberapa orang yang berada di lorong lantai itu, tampak menatap Stefa penuh tanya. Namun, ia tidak
__ADS_1
perduli dengan tatapan orang-orang itu. Yang terpenting dirinya saat ini bisa
kabur dari Marshal.