My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 14 Kemunculannya


__ADS_3

Tidak terasa Stefa dan Judith sudah berada di Indonesia selama 3 bulan lebih. Setiap harinya Stefa dan


Judith tidak lepas dari mengunjungi lokasi proyek berlangsung. Di lokasi


proyek, sudah terlihat bahan-bahan bangunan yang akan digunakan nanti pada saat


pembangunan Hotel berlangsung.


Terlihat Stefa sedang berbincang dengan pak Bambang dan Revaldo, pembicaraan mereka tak jauh-jauh


dari urusan pekerjaan. Mereka tampak sangat serius membahas pekerjaan,


sedangkan Judith sedang pergi untuk mengambil handphone milik Stefa yang


sepertinya tertinggal di dalam mobil.


Saat Judith sudah sampai di area parkir mobil, dan menemukan tas Stefa di dalam mobil itu. Judith


langsung mencari benda yang sedang ia cari saat ini, saat Judith menemukan


benda itu. Sebuah nomor lokal menelepon handphone milik Stefa, nomor itu tidak


dikenal karena memang nomor itu tidak ada dalam daftar kontak handphone milik


Stefa.


Karena nomor tidak dikenal itu terus saja menelepon handphone milik Stefa, terpaksa Judith harus


menjawab panggilan itu. Takutnya itu adalah sebuah panggilan penting. Buru-buru


Judith menggeser tombol warna hijau untuk menjawab panggilan itu.


“Halo?” ucap Judith.


“.....” tidak ada jawaban dari sana.


Judith sedikit menjauhkan handphonenya untuk memastikan apakah panggilan itu masih tersambung


atau tidak. Dan memang panggilan itu masih tersambung, namun saat dia kembali mengucapkan


sesuatu. Dari sana tidak ada jawaban lagi, karena merasa itu tidak penting dan


tidak ada jawaban. Judith langsung memutuskan panggilan telepon itu. Judith


segera kembali ke area lokasi proyek untuk menyerahkan handphone milik Stefa.


“Stefa, tadi ada yang meneleponmu. Nomor Indonesia, tapi saat aku menjawab panggilan itu. Tidak ada


yang menjawab dari si penelepon. Itu mungkin panggilan penting atau bisa jadi


hanya orang iseng belaka.” ucap Judith memberitahu Stefa saat sudah kembali ke


lokasi proyek.


“Baiklah. Terima kasih! Aku akan mencoba menghubunginya lagi nanti.” Stefa langsung memasukkan


handphone miliknya ke dalam saku celana.


Waktu sudah sore, mereka membubarkan diri dari lokasi proyek. Stefa dan Judith diantar sampai


Hotel dengan selamat oleh Revaldo. Selama di lokasi proyek tadi, handphone


milik Stefa terus saja berbunyi. Nomor yang dimaksud oleh Judith, berulang kali


menelepon Stefa. Namun karena Stefa sedang sibuk dengan urusannya, ia tidak


sempat menjawab panggilan tersebut.


“Kalian beristirahatlah! Jika kalian membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk


menghubungiku!” ucap Revaldo saat dia sudah sampai di Hotel mengantarkan Stefa


dan Judith.


Stefa mengangguk.”Terima kasih!”


“Kalau begitu aku harus segera pulang, ini sudah hampir malam. Selamat beristirahat!” Revaldo langsung


membalikkan tubuhnya dan meninggalkan mereka di Hotel itu.


Stefa dan Judith langsung berjalan masuk ke dalam Lobby. Namun salah satu resepsionis


memberhentikan langkah keduanya karena ada sesuatu hal yang ingin ia sampaikan.


“Permisi Ms. Stefa! Ada seseorang yang mencari anda sedari siang.” Ucap si resepsionis itu.


Stefa dan Judith tampak kebingungan. Mereka tidak mengenal siapapun disana, selain beberapa orang yang


sudah sering ia temui karena urusan pekerjaannya selama di Indonesia.


“Siapa?” tanya Stefa dengan wajah datarnya.


“Dia tidak memberitahu siapa namanya. Tapi dia seorang laki-laki, dan dia sedikit memaksa saya untuk


memberitahukan nomor kamar Ms. Stefa.” Resepsionis itu menunduk karena takut


jika Stefa akan marah.


“Laki-laki? Dan kau memberitahu nomor kamarku?” tanya Stefa lagi yang di balas anggukkan oleh si


resepsionis.


Stefa menghela nafasnya. Ya bagaimanapun itu sudah terlanjur.


“Baiklah. Tak apa, kau bisa kembali bekerja! Aku akan ke kamar.” Ucap Stefa yang membuat si


resepsionis menghembuskan nafas leganya karena tidak mendapatkan amukan dari


Stefa.


Stefa dan Judith kembali melangkah menuju lift. Di dalam lift, Judith tampak sedang berpikir


keras. Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan, tapi tidak dengan Stefa yang


terlihat biasa saja meskipun ia baru saja mendengar ada seorang laki-laki yang


mencarinya.


“Stefa, kau tidak curiga dengan orang yang mencarimu itu?” tanya Judith pada Stefa yang masih


berada di dalam lift saat ini.


“Tidak.” Jawab Stefa singkat.


Judith menghela nafasnya sebelum kembali berucap.


“Perasaanku tak enak. Sebaiknya kau jangan dulu kembali ke kamarmu. Aku takut orang yang mencarimu


berniat tidak baik, bahkan dia sampai menanyakan nomor kamar Hotelmu. Kau tahu?


Kita disini tidak mengenal siapapun ‘kan, jadi siapa orang itu?” jelas Judith


mengutarakan segala isi yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


“Ya, aku tahu. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.” Balas Stefa.


Judith hanya menghela nafas beratnya. Pasalnya, Stefa benar-benar seperti tidak perduli dengan sosok


laki-laki yang mencarinya. Kini mereka tiba di lantai dimana mereka menginap,


Judith masuk ke dalam kamarnya begitu pula dengan Stefa yang ikut menyusul


masuk ke dalam kamarnya.


Baru saja Stefa menaruh tasnya di atas meja rias, suara bel di kamarnya berbunyi. Stefa berjalan ke


arah pintu, dan siap membuka pintu kamarnya.


“Ya. Sia...?” ucapan Stefa terpotong saat melihat sosok yang sedang berada di depannya saat ini.


“Hai, sayang?” ucap orang itu.


Stefa membelalakkan matanya, buru-buru Stefa ingin menutup pintu kamarnya. Tapi kaki orang itu


menahan pintunya dan di susul dengan tangan yang mencoba membuka paksa kamar


itu.


Dengan sekuat tenaga Stefa menahan pintu itu agar tertutup, dia tidak mengijinkan orang itu masuk ke


dalam kamarnya. Bagaimanapun ia membenci orang itu.


Brukk.


Stefa tersungkur karena dorongan keras dari orang itu yang memaksa masuk ke dalam kamar Stefa.


Mengabaikan rasa sakit di pantatnya karena tersungkur ke belakang sekaligus,


buru-buru Stefa bangkit berdiri.


“Kau? Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Stefa sinis.


Orang itu terkekeh, kemudian menutup pintu kamar Stefa dan menguncinya. Kartu akses untuk membuka


pintu itupun dimasukkan ke dalam saku celana yang orang itu pakai. Orang itu


berjalan mendekati Stefa, dan Stefa bergerak mundur saat orang itu terus


berjalan mendekatinya.


“Stop! Berhenti disana! Jangan mendekatiku, brengsek!” teriak Stefa


dan memajukan satu tangannya untuk memberikan kode bahwa orang itu tidak


diperbolehkan mendekat ke arahnya.


“Kau tidak merindukanku?” ucap pria itu saat berhenti beberapa langkah dari jarak Stefa


saat ini.


“Cuiih.. aku tidak sudi merindukanmu, bajingan. Untuk apa kau kesini?”


“Waaah, kau sangat kejam sayang. Padahal aku sangat merindukanmu.. Tentu saja aku kesini untuk


menemuimu, sudah lama aku tidak melihatmu dan aku rindu aroma tubuhmu yang


masih perawan itu.”


“Kau...”


Orang itu kembali mendekati Stefa, dan mengikis jarak diantara keduanya. Stefa yang sudah


tersudut dengan tempat tidur pun, tak berkutik sama sekali. Debar jantungnya


macam-macam dengannya.


“Aku bilang jangan mendekat!” teriak Stefa lagi.


Sialnya, ia berteriak sekencang apapun tetap tidak akan ada yang mendengarnya. Bahkan jika dirinya


dibunuh pun, mungkin tidak akan ada orang yang mendengar jeritan minta


tolongnya. Kamar itu kedap suara, bahkan Judith yang tidur di kamar


sebelahnya pun tidak bisa mendengar teriakan Stefa saat ini.


“Kau semakin seksi, sayang! Aahh, aku tidak sabar untuk menyentuh tubuhmu. Menyatukan tubuh kita di


dalam kehangatan dan kenikmatan yang memabukkan.” Ucap orang itu dengan


frontalnya.


Stefa sudah geram dengan segala ucapan orang itu. Jujur, Stefa sudah sangat sangat sangat


membenci orang yang kini berada di depannya. Meskipun sempat Stefa merasakan


rindu pada orang itu, tapi rasa benci yang dirasakannya lebih dominan.


Orang itu mendorong tubuh Stefa ke atas tempat tidur, mengurung kedua tangan Stefa di atas kepala


Stefa dan **** tubuhnya. Stefa menendang-nendang ke segala arah agar


tubuhnya bisa terlepas dari kurungan orang itu.


“Brengsek, Marshal lepaskan aku!” teriak Stefa lagi.


“Tidak, sayang. Aku merindukanmu dan menginginkanmu.” Ucap Marshal.


Marshal. Ya Marshal, pria yang saat ini tengah mengunci pergerakan Stefa adalah pria brengsek


bernama Marshal. Entah pria itu tahu dari mana keberadaan Stefa saat ini, yang


jelas pria ini memiliki niat tidak baik dengan Stefa.


Stefa merutuki kebodohannya yang tidak percaya dengan kekhawatiran Judith. Benar apa kata


sekretarisnya itu, bahwa laki-laki yang mencarinya memiliki niat tidak baik.


Terbukti sekarang, dirinya berada di dalam kuasa laki-laki itu.


“Marshal, apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku!” Stefa tak berhenti untuk memberontak.


“Diamlah! Aku tidak akan melukaimu.” Geram Marshal, ia kesal karena Stefa tidak bisa diam sedari


tadi.


Marshal semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Stefa yang berada di bawahnya. Satu tangannya


di pakai untuk menahan kedua tangan Stefa, dan yang satunya lagi untuk


menggerayangi tubuh Stefa.


“Tidak, Marshal. Hentikan! Jangan lakukan itu, kumohon!” mohon Stefa agar Marshal tidak


melakukan hal lebih pada tubuhnya.


Marshal menyeringai licik saat mendengar Stefa memohon agar dirinya tidak melakukan hal lebih.

__ADS_1


Tangan Marshal yang bebas, menyentuh titik-titik sensitif tubuh Stefa. Mulai


dari menyentuh sisi wajahnya, bibirnya, telinga, leher, bahkan buah dada pun tak


luput dari sentuhan ringan Marshal.


Marshal mendekatkan wajahnya dengan wajah Stefa, menggesekkan bibirnya dengan bibir Stefa. Marshal


mulai mengecup bibir Stefa dan melumatnya dengan kasar. Stefa yang masih tidak


bisa menerima begitu saja, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk


menghindari ciuman kasar Marshal.


Air matanya sudah tidak bisa dibendung. Jika saja status mereka masih sepasang kekasih, mungkin ciuman


itu akan disambut dengan antusias oleh Stefa. Tapi kini berbeda, dirinya yang


sudah di khianati oleh Marshal tidak bisa menerima semua pelecehan ini.


“Arrgghhh..” teriak Marshal.


Marshal melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan kedua tangan Stefa. Ciumannya pun ikut


terlepas, tangan Marshal menyentuh bibirnya yang terasa sakit dan perih karena


Stefa yang menggigitnya sebagai bentuk perlawanan.


Saat tangan Marshal memperlihatkan noda darah dari bibirnya, ia sangat marah bercampur kesal. Ia


kembali mengurung tubuh Stefa, menjambak rambut Stefa dengan kasar. Membuat


Stefa harus meringis kesakitan karena jambakan di rambutnya.


“Kau... berani-beraninya menggigit bibirku, huh? Kau harus merasakan hukumannya!”


Plaakk.


Marshal menampar pipi kiri Stefa dengan cukup keras. Membuat Stefa merasakan kebas dan perih di pipi


kirinya. Seketika pipi yang baru saja di tampar Marshal mengeluarkan guratan


merah bekas tamparan. Sudut bibir Stefa robek dan berdarah.


Melihat Stefa yang diam saja tidak melawan, Marshal kembali melumat bibir Stefa dengan kasar.


Benar-benar kasar, ia menggigit bibir Stefa sampai berdarah dan melepaskan


pagutan ciumannya.


Marshal menyeringai saat melihat bibir Stefa berdarah karena gigitannya. Marshal kembali melepaskan


tangannya yang digunakan untuk menjambak rambut Stefa, ia menjauhkan tubuhnya


dari tubuh Stefa.


Di tatapnya wanita yang kini tengah menangis dalam diam di atas tempat tidur. Menahan rasa perih dan


sakit yang tak terperi. Air matanya sudah membasahi pipi Stefa, baju kerjanya


yang masih melekat di tubuhnya terlihat kusut acak-acakkan. Kepalanya terasa


berdenyut karena jambakan di kepalanya sangat kuat.


“Berhentilah menangis! Kali ini aku akan membiarkanmu lolos, tapi tidak dengan lain kali saat aku


kembali bertemu denganmu.” Ucap Marshal.


Marshal membiarkan Stefa menangis dan merasakan kesakitan di tubuhnya. Marshal berbalik, dan


berjalan ke arah pintu. Ia berniat meninggalkan dan melepaskan Stefa kali ini.


Entah dosa apa yang diperbuat Stefa di kehidupan sebelumnya sehingga ia


diperlakukan seperti itu oleh Marshal.


Stefa buru-buru bangun dari posisi berbaringnya, ia mengambil handphonenya. Marshal tidak menyadari


jika Stefa sedang merencanakan sesuatu untuk dirinya. Saat handphone sudah


berada di genggamannya, Stefa melihat gelas  yang terbuat dari keramik


dan menggenggamnya kuat.


Saat Marshal berhasil membuka pintu kamar, Stefa buru-buru berlari ke arah Marshal dan memukul kepala


Marshal dengan keras. Gelas keramik itu langsung pecah, Marshal tersungkur ke


lantai. Merasakan kepalanya berdenyut, kepala bagian belakangnya mengeluarkan


darah akibat pukulan keras dari Stefa.


Melihat ketidak berdayaan Marshal, Stefa mengambil kesempatan itu untuk kabur dari pria


brengsek itu. Namun pergerakkan kakinya tertahan oleh tangan Marshal, dengan


sekuat tenaga Marshal menarik kaki Stefa.


Stefa kembali tersungkur ke lantai karena tarikan di kakinya yang mendadak. Marshal langsung


**** tubuh Stefa yang sedang berusaha untuk bangkit dari lantai.


“Kau.. berani-beraninya memukul kepalaku? Aku akan membalasnya.” Amarah Marshal sudah tidak bisa


dibendung lagi.


“Rasakan itu pria brengsek! Kau pantas mendapatkannya.” Teriak Stefa.


Marshal benar-benar murka dengan tingkah Stefa. Ditarik dan dirobeknya baju Stefa, membuat bahu


sampai dadanya terekspos. Stefa menjerit saat bajunya dirobek begitu saja oleh


Marshal.


Duug.


“Arrgghh.. ***!” pekik kesakitan dari Marshal.


Alat vitalnya ditendang oleh Stefa, dan membuat si pemiliknya merasakan kesakitan. Dan kesempatan itu


dipakai Stefa untuk kabur dan melarikan dirinya. Stefa berniat berlari ke kamar


Judith, namun karena kamar mereka bersebelahan sudah pasti Stefa akan tertangkap


lagi jika Marshal sudah bangkit dari kesakitannya.


Stefa berlari ke arah lift dengan menggunakan baju yang sudah robek. Dadanya hampir terlihat sempurna


yang hanya terbungkus bra berwarna hitam. Nafasnya terengah-engah karena


pegulatannya dengan Marshal.


Beberapa orang yang berada di lorong lantai itu, tampak menatap Stefa penuh tanya. Namun, ia tidak

__ADS_1


perduli dengan tatapan orang-orang itu. Yang terpenting dirinya saat ini bisa


kabur dari Marshal.


__ADS_2