My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 28 Your Punishment


__ADS_3

            “Sshh.” Marshal meringis menahan sakit karena Dokter yang di panggil Revaldo sedang


mengobati luka yang ada di sudut bibirnya. Mengolesnya dengan salep agar memarnya tak semakin parah, beberapa lebam lainnya pun ikut di olesi salep.


            “Sudah selesai. Anda harus sering menggunakan salep ini agar lebam-lebam ini cepat menghilang. Dan aku sudah menjaminnya, tidak akan ada bekas luka di wajah anda nantinya.” Dokter itu sedikit menjelaskan dan memberikan saran agar Marshal tak lupa untuk mengolesi salep itu.


            “Baiklah. Terima kasih!” balas Marshal sambil menyentuh suduh bibirnya yang terasa perih dan berdenyut.


            “Tuan Revaldo, saya sudah selesai. Saya akan kembali ke rumah sakit. Dan jika anda memerlukan bantuan saya, segera hubungi saya kembali! Saya juga sudah meninggalkan resep obat yang harus


ditebus.”


            “Terima kasih atas bantuan anda, Dok. Aku akan menghubungimu lagi jika aku membutuhkan bantuanmu kembali. Sekretarisku akan mengantarmu.” Revaldo menjabat tangan Dokter itu dan


membiarkan sekretarisnya mengantarkan Dokter itu sampai ke Lobby.


            Revaldo duduk tepat di depan Marshal yang sudah tak lagi meringis menahan sakit. Lebam-lebam begitu terlihat kontras dengan warna kulit wajah Marshal yang putih. Kerutan halus begitu terlihat


jelas di kening Revaldo. Dia sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi


kepada mereka bertiga.


            “Jadi, bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” Revaldo sudah tak sabar ingin mendengar penjelasan atas perkelahian yang melibatkan David dan juga Stefa. Dia sudah tak bisa lagi untuk


berbasa-basi dengan Marshal.


            Marshal terkekeh. Tatapan matanya menatap Revaldo tajam.


            “Tentu saja aku kesini untuk menjemput kekasihku kembali ke London. Tempatnya bukanlah disini. Tapi di


London, bersamaku.”


            Revaldo tersenyum sinis.


            “Kau bilang kekasihmu?! Maksudmu Stefani Agatha?” Marshal tak menjawab. Marshal yakin jika pria yang duduk di depannya tidaklah bodoh. Jadi Marshal tak perlu lagi menjelaskan yang dimaksud


dengan kekasihnya.


            “Aku rasa kekasihmu berada di London dan tengah mengandung anakmu. Kau tak lupa ‘kan, kalau kau telah memiliki wanita lain yang sedang mengandung benihmu?!”


            “Ya, kau benar. Aku memang memiliki wanita lain yang saat ini sedang mengandung. Tapi aku juga tak yakin kalau itu memang benihku. Jika kau mau, aku bisa memberikan wanita itu untukmu.”


            Revaldo mengepalkan tangannya menahan rasa kesal terhadap Marshal.


            “Jadi, kau sudah tahu bukan aku ini siapa?!” Marshal melanjutkan lagi kalimatnya.


            “Tentu saja aku tahu. Di dunia ini tak ada yang tak tahu siapa dirimu. Seorang pengusaha dengan berbagai prestasi dan yaaa... sedikit skandal beberapa waktu lalu.” Kali ini Revaldo tersenyum


mengejek.


            Marshal hanya terdiam tak menanggapi ucapan Revaldo. Benar adanya jika dia telah membuat skandal beberapa waktu lalu. Hanya tinggal menunggu media untuk membocorkan ke publik tentang skandal itu. Tentang dirinya yang telah menghamili wanita selingkuhannya, dan hampir memperkosa mantan kekasihnya sendiri.


            “Bagaimana bisa kau datang kesini dan masuk ke pestaku? Aku merasa, aku tak mengundang orang sepertimu.” Tanya Revaldo akhirnya karena melihat Marshal hanya terdiam.


            “Sudah aku katakan, aku kesini untuk menjemput kekasihku. Apapun akan aku lakukan agar dia kembali ke London bersamaku, kembali ke sisiku.” Jawab Marshal yang kini menyenderkan punggungnya ke sofa.


            “Dengar ini! Aku tak tahu apa niatmu yang sebenarnya, tentang kau yang menerobos masuk ke dalam pestaku tanpa di undang, dengan kehadiranmu disini dan membuat keributan di Hotel milikku. Aku


sungguh tak perduli semua itu. Tapi saranku, selesaikan masalahmu sampai tuntas. Dan jangan pernah menyakiti tamu pentingku! Kau tahu, disini negara kekuasaanku. Kau tak bisa berbuat banyak karena ini bukan di London.”


            “Kau tak perlu mengingat ‘kanku tentang bagaimana aku harus menyelesaikan masalahku. Aku akan mengurus semuanya sendiri tanpa harus kau ingatkan kembali!”


            “Baguslah.” Jawab Revaldo singkat.


            “Oh, dan ya. Terima kasih atas bantuanmu mengobati ini!” Marshal bangkit dari duduknya dan menunjuk luka lebam yang telah diolesi salep oleh Dokter. Marshal melangkah ke luar pintu dan


meninggalkan Revaldo yang hanya menatap datar Marshal.


            Revaldo kembali ke pesta dimana pesta tersebut masih berlangsung. Dia tak mungkin meninggalkan pesta itu terlalu lama, dia merasa tak enak jika harus meninggalkan orang-orang yang telah di undang ke pesta itu.


            Beberapa menit yang lalu, salah satu tamu yang di undang ke pesta itu melihat dan mendengar suara pertengkaran. Dengan rasa penasarannya itulah, membawa orang itu ke tempat dimana David dan


Marshal sedang berkelahi.


            Merasa kenal dengan David dan juga Stefa, memutuskan untuk memberi tahu si tuan rumah dari pesta itu untuk segera melerai perkelahian itu. Revaldo yang mendengar David sedang berkelahi, apalagi


disana ada Stefa. Segera pergi meninggalkan ballroom itu, disusul Judith yang memang pada saat itu sedang menemani Revaldo mengobrol dengan beberapa orang lainnya.


Kamar Stefa


            Stefa sedang membantu David mengobati luka lebam di wajahnya. David hanya menurut saja, bahkan tak terdengar ringisan atau rintihan karena menahan sakit. Pria itu seperti tidak merasakan


sakit sama sekali.


            “Apa ini sakit?” tanya Stefa sambil mengoles salep ke tulang pipi David yang benar-benar lebam dan sedikit robek mengeluarkan darah.


            “Tidak.” Jawab David singkat. Stefa menghela napas lalu melanjutkan kembali untuk mengolesi luka lainnya dengan salep yang sempat tertahan untuk melihat dan mendengar reaksi David atas pertanyaannya.


            “Kau boleh mengaduh jika memang ini sakit.” Ucap Stefa lagi.


            “Sudah aku bilang, ini tidak sak... Aawh.” David meringis merasakan sakit saat Stefa dengan sengaja menekan kencang luka lebam di wajahnya.


            “Jelas ini sakit, dan kau masih saja bilang ini tidak sakit. Aku tidak akan mengatakan kau kekanakan kalau pun kau mengaduh seperti barusan.” Omel Stefa dan kembali mengoleskan salep.


            Stefa kembali menutup salep itu dengan tutupnya. Membereskan kotak obat itu dan menyimpannya ke sudut ruang dimana kotak obat itu disimpan sebelumnya. Untung saja di kamar itu tersedia kotak obat yang memang sudah disediakan oleh pihak Hotel sebelumnya.


            “Silahkan diminum!” Judith menaruh gelas berisi teh hangat di atas meja. Menyodorkan gelas itu ke hadapan David. Stefa dan Judith duduk bersebelahan, dengan David yang duduk di depannya saat


ini.


            “Sir, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa anda bisa berkelahi dengan orang itu?” tanya Judith penasaran akan cerita yang sesungguhnya.


            “Judith!” tegur Stefa dan sedikit melotot ke arah Judith.


            “Kenapa?” tanya Judith dengan polosnya. Stefa hanya mendengus dengan kelakuan sekretarisnya itu. Entah sekretarisnya itu mendadak polos dan lugu, atau memang mendadak bodoh dan tak bisa membaca situasi saat ini.


            “Bisakah kau meninggalkan kami berdua Ms. Judith?!” tanya David yang lebih tepatnya seperti sedang memerintah Judith untuk segera meninggalkan kedua makhluk itu berdua saja.


            Judith langsung menatap Stefa bergantian menatap David.


            “Baiklah. Aku akan meninggalkan kalian berdua.” Judith langsung bangkit dan keluar dari kamar Stefa. Judith memutuskan untuk kembali ke pesta, ia berniat mencari pria single yang mapan dan tampan untuk di ajak berkencan malam ini.


            Melakukan One Night Stand dengan pria asing di negara orang membuat pikirannya membayangkan adegan-adegan erotis yang membuat bagian bawah tubuhnya berkedut. Judith masuk ke dalam ballroom,


dan disana dia melihat kalau Revaldo sudah berada disana juga.


            Judith duduk di salah satu meja yang kosong, dan mengambil segelas sampanye yang pelayan tawarkan saat melewati Judith yang sedang duduk. Seorang pria datang menghampiri Judith dan sedikit berbasa-basi untuk saling mengenal.


            Mereka terlihat seperti orang yang sudah saling mengenal sejak lama. Mengobrol dengan santainya dan menenggak sampanye bersama. Beberapa gelas yang tadinya berisikan sampanye sudah kosong.


Judith yang sudah mabuk pun, di bopong pria itu ke dalam kamar yang pria itu


sewa sebelumnya.


            Sudah bisa ditebak apa yang akan kedua manusia itu lakukan dalam keadaan seperti ini. Untung saja pria itu tak terlalu mabuk, jadi masih bisa membopong Judith untuk masuk ke dalam kamar miliknya.


***


            “Bisa kau jelaskan kenapa kau bisa bersama dengan pria brengsek itu?” suara David terdengar datar, namun mampu membuat Stefa bergidik ngeri.

__ADS_1


            “Aku tak tahu. Dia datang di pesta itu, dan mendekatiku. Aku hanya berusaha kabur darinya, dan malah membawaku ke kolam renang yang sepi.” Jelas Stefa.


            “Ya. Dan kau berakhir berciuman begitu panas dengan pria itu.” ada nada ejekan yang tak disukai Stefa saat


David mengatakan kalimat itu.


            “Itu bukan urusan anda, sir!” Stefa tak suka jika David terlalu mencampuri urusan pribadinya. Lagi pula, siapa David? Dia tak memiliki hubungan apapun dengannya. Hanya sebatas atasan dan bawahan di dunia kerja. Jadi, David tak ber-hak sama sekali untuk mencampuri urusan pribadinya.


            “Benarkah?” David duduk di samping Stefa. Buru-buru Stefa beringsut menggeser tubuhnya untuk tak terlalu dekat dengan David.


            “Sebaiknya anda segera beristirahat, sir!”


            “Kau mengusirku?” alis David terangkat dengan tatapan yang datar namun terasa menusuk.


            Enggan menjawab, Stefa malah bangkit dan berniat meninggalkan David sendirian disana.


            “Akkh...” Stefa memekik terkejut saat David tiba-tiba menarik tangannya dan membuat Stefa terduduk di atas pangkuan David.


            “Bisakah kau diam dan jangan bergerak?! Kau membuat juniorku bangun.” Ucap David dan langsung membuat mata Stefa melotot menatap David. Stefa merasakan ada sesuatu di bawah sana yang


menusuk pantatnya.


            “Oh My!” Stefa menutup mulutnya tak percaya dengan pemikirannya sendiri. Dia


tahu jika saat ini David sedang bergairah. Stefa merutuki kebodohannya karena


tak bisa diam dan terus saja bergerak di saat tubuhnya sedang duduk di atas


pangkuan David.


            David menyeringai saat Stefa menyadari bahwa juniornya sudah terbangun dari tidur lelapnya. Dia sudah tak bisa lagi menahan hasrat kelelakiannya. Melihat tubuh Stefa yang bersih dan


mulus, baju yang terlihat begitu seksi, membuat David tak kuasa untuk menahan


hasratnya lagi.


            Dengan sekali hentakkan, David langsung memagut bibir Stefa tanpa peringatan terlebih dahulu. Satu tangannya melingkari pinggang Stefa, dan yang satunya lagi menahan tengkuk leher Stefa


agar tak menjauh.


            “Hmmph..” Stefa memukul-mukul dada David yang terasa begitu keras. Stefa tak suka jika David berbuat seperti saat ini. Memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan apakah Stefa menyukainya


atau tidak.


            Ciuman itu telepas dan napas mereka memburu. Stefa mengelap bibirnya dengan punggung tangannya dan bangkit dari pangkuan David. David membiarkan Stefa melakukan itu. Dia tersenyum saat


melihat wajah Stefa memerah, antara malu dan marah.


            “Kau!” tunjuk Stefa tepat di hadapan David.


            “Ya, aku. Kenapa?” Seolah tidak berdosa, dengan santainya David menjawab Stefa dengan pertanyaan konyol. Menyilangkan kakinya di atas kakinya yang satu lagi, mencerminkan bahwa disini


David-lah yang berkuasa.


            Stefa tak bisa lagi melanjutkan kalimatnya. Dia buru-buru meninggalkan David sendirian dan masuk ke dalam kamar tidurnya dan membanting pintu kamarnya dengan cukup keras. Dengan gerakan


terburu-buru, Stefa langsung menyambar handuk yang menggantung dan masuk ke


dalam kamar mandi. Satu kesalahan Stefa, dia lupa tidak mengunci kamar tidurnya


dan berlalu begitu saja.


            Tubuh yang sudah polos itu segera berdiri di bawah pancuran. Tangannya bergerak memutar keran dan mengeluarkan air dingin membasahi tubuhnya. Stefa menikmati air dingin yang mengguyur


seluruh tubuhnya. Membuat tubuhnya sedikit rileks, pikirannya sudah tak sekacau


            Stefa tak habis pikir dengan David yang mencium bibirnya seenaknya seperti itu. Bukannya apa, Stefa tak ingin menaruh harapan pada David yang sudah jelas status sosialnya saja berbeda jauh


dengannya.


            Benar apa yang dikatakan Marshal, dirinya tak sebanding dengan wanita yang digadangkan sedang menjalin hubungan dengan David. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hati Stefa saat kembali


mengingat sebuah berita yang memuat tentang hubungan David dengan si anak


konglomerat itu.


            Terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri, membuat Stefa tak menyadari jika ada orang yang masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di belakangnya. Dengan susah payah, orang itu menahan diri


agar tak menerjang Stefa langsung. Satu kesalahan lagi yang Stefa lakukan, dia


lupa untuk mengunci pintu kamar mandinya.


            “Akkhh.” Stefa memekik dan langsung berbalik saat merasakan sebuah tangan menyentuh punggungnya.


            Stefa langsung menutupi kedua buah dadanya dengan satu tangan, dan tangan satunya lagi digunakan untuk menutup bagian bawah tubuhnya.


            “A-apa yang kau lakukan disini?” tanya Stefa terbata-bata seolah suaranya tersangkut di dalam kerongkongannya.


            “Tentu saja aku akan mandi bersamamu.” Jawabnya.


            “Keluar!” bentak Stefa yang hanya di jawab dengan kebisuan orang itu.


            “Aku bilang KELUAR!” sekali lagi Stefa membentak dengan sedikit berteriak.


            Niat hati ingin berteriak lagi, bibirnya malah dibungkam dengan ciuman yang menuntut. Mau tak mau Stefa


melepaskan tangan yang sempat dipakai untuk menutupi dadanya untuk menahan dada


orang itu agar tak menempel.


            Tenaganya yang kalah jauh dengan orang itu akhirnya mengalah dengan terpaksa. Ciuman mereka terlepas.


            “Aku menyukainya.” Ucap orang itu dengan mengapit dagu Stefa dan tersenyum.


            “Da-david. Keluarlah!”


            “Sudah kubilang, aku akan mandi bersamamu.” David menyeringai nakal dengan mata yang mengedip untuk menggoda Stefa.


            Wajah Stefa terasa panas saat ini, bahkan bukan hanya wajahnya saja. Seluruh tubuhnya terasa panas, padahal dia sedang berada di bawah guyuran air dingin dengan David. Kehadiran David yang


tak disangka itu, membuat detak jantung Stefa semakin tak beraturan. Seolah


memacu adrenalin berlebihan.


            Pandangan mereka saling mengunci, dan mereka disibukkan dengan pikiran masing-masing. Tangan David menyentuh rahang Stefa dan menelusuri seluruh sisi wajah Stefa. Sentuhan David membuat


Stefa memejamkan kedua matanya. Dia sudah tak ingat lagi dengan kondisi


tubuhnya yang telanjang di depan David.


            Dia sudah cukup umur untuk bertelanjang di depan pria. Hanya saja itu berlebihan. Mereka bukanlah sepasang kekasih atau pun suami. Tangan David turun ke leher Stefa. Tubuhnya dibuat


meremang saat David menyentuh lehernya dengan begitu lembut.


            *“**Oh God.*Jangan biarkan sisi liarku keluar karena godaan ini.” Stefa membatin


sambil menikmati sentuhan David yang lama kelamaan semakin turun ke area


dadanya.

__ADS_1


            Stefa tersentak saat David meremas salah satu buah dadanya.


            “Ini terasa pas untukku.” Ucap David dengan nada yang terdengar....nakal.


            “Dav... Akkhh..” Stefa kembali memekik terkejut. David dengan tiba-tiba mengangkat tubuh Stefa dan merapatkan tubuhnya ke dinding kamar mandi itu. Kedua kaki Stefa melingkar di pinggang


David dengan kedua lengan yang turut melingkar di bagian leher David.


            Stefa takut dirinya akan terjatuh jika tidak melingkarkan kedua kaki dan tangannya pada David. Tangan David yang nakal tak bisa berdiam hanya untuk beberapa detik saja. Kedua tangan David


meremas bokong Stefa yang begitu bulat dan kenyal.


            “David, turunkan aku!” rengek Stefa dengan masih ketakutan akan terjatuh.


            “Tidak sayang. Aku lebih menyukai posisi kita yang seperti ini.” jawab David dengan menghembuskan napasnya di leher Stefa membuat Stefa bergidik sekaligus meremang.


            “Aku akan menghukummu, sayang. Kau sudah nakal dengan pria lain.” Tanpa mau menunggu jawaban atau bantahan yang mungkin saja akan Stefa ucapkan. David buru-buru menyegel bibir seksi Stefa


yang sudah menjadi candu untuknya dengan bibirnya.


            Stefa dengan gelagapan tak bisa menyesuaikan apalagi mengimbangi ciuman David yang begitu cepat, menuntut, dan panas. Stefa benar-benar sudah melupakan tubuhnya yang telanjang. Mereka


menikmati ciuman itu, suara decapan-decapan yang dihasilkan karena ciuman


mereka begitu terdengar.


            Sesekali David meremas bokong Stefa dan membuat Stefa mengerang tertahan. Ciuman itu tak lepas sama sekali meskipun David membawa Stefa di dalam pangkuannya menuju kamar tidur dan menaruh Stefa


di atas ranjang.


            Merasa posisinya sudah pas dan nyaman, David menggerakkan tangannya untuk menelusuri tubuh Stefa yang begitu menggoda. Tangannya menemukan benda kenyal dan lembut, lalu meremasnya.


            Semua tindakan David membuat Stefa mengerang nikmat di bawah kurungan tubuh David. Merasa tak puas hanya bermain dengan buah dada Stefa, David menurunkan tangannya dan menemukan area terlarang


milik Stefa.


            David mengusap area terlarang itu penuh kehati-hatian dan kelembutan. Stefa langsung melepaskan pagutan ciuman mereka saat menyadari David telah menyentuh area terlarangnya.


            “David, apa yang kau lakukan?!” Stefa mencoba menepis tangan David dari area terlarang itu.


            “Diamlah, dan nikmatilah!” David kembali mengusap area itu yang mendapat penolakan dari Stefa.


            David yang merasa gemas dengan penolakan Stefa langsung mengikat kedua tangan Stefa dengan sabuk yang milik David dan meletak ‘kannya di atas kepala Stefa. Memang saat masuk ke dalam


kamar mandi, David hanya mengenakan celananya saja untuk menutupi bagian bawah


tubuhnya yang sudah mengeras.


            Stefa terus menggeliat untuk melepaskan diri dari David yang sedang di landa hasrat yang sudah tak tertahan lagi.


            “Hentikan itu, sayang! Kau membuatku semakin tak bisa mengontrol diriku jika kau masih menggeliat seperti itu. Atau kau sedang menggodaku, hm?” tatapan David tak lepas dari Stefa. Berbeda dengan


tangannya yang mencoba melepaskan celana yang terasa menyesakkan karena telah mengurung


si junior terlalu lama dan hanya menyisakan celana dalamnya saja.


            “Da-david, kenapa kau melepas celanamu?” Stefa bertanya dengan panik saat melihat David meloloskan celananya ke bawah dan hanya menyisakan celana dalam. Bisa di lihat, junior David


benar-benar sudah mengeras karena ereksi. Tonjolan itu begitu ketara dan hampir


membuat Stefa tersedak dengan air liurnya sendiri saking terkejutnya melihat


betapa besarnya tonjolan itu.


            “Ssstt! Aku tak akan menyakitimu, aku tak akan bercinta denganmu malam ini. Aku hanya ingin memberimu hukuman karena telah berciuman dengan mantan kekasihmu itu.” David kembali menindih


tubuh Stefa dan segera melumat habis bibir Stefa. Tangannya meremas benda


kenyal nan lembut, menghisap, menjilat, bahkan memilin puncak buah dada Stefa.


            Stefa kembali mengerang nikmat dibuatnya, tubuhnya meliuk-liuk kesana kemari saat David tak bisa diam dengan aksinya. David memainkan area terlarang Stefa dengan memasukan satu jarinya ke


dalam sana. Awalnya Stefa terkejut dan tak terima, namun David dengan pintarnya


membuat Stefa kembali menikmati setiap sentuhannya.


            Saat Stefa merasakan ada sesuatu yang akan meledak di bawah sana, dengan segera David mencabut dan melepaskan jarinya yang sempat berbuat nakal di area terlarang itu. Stefa mendengus kesal


karena tak bisa mengeluarkan dan meledakan sesuatu dari tubuhnya.


            “Kenapa ekspresimu seperti itu, huh?” ejek David melihat Stefa yang tampak kesal.


            “Kau menyebalkan.” Desis Stefa yang dibalas dengan kekehan David.


            “Itu hukuman untukmu, wanita nakalku!” David mengecup bibir Stefa berulang kali dan mengecup wajah Stefa dan membuat Stefa terkikik geli.


            “David hentikan! Kau membuatku geli.”


            David segera menghentikan aksinya dan menatap Stefa lamat-lamat.


            “Pakailah bajumu, dan segera tidur!” ucap David setelah melepaskan sabuk yang sempat mengikat kedua tangan Stefa. Stefa meringis menahan sakit karena David terlalu kencang mengikatkan sabuknya.


Pergelangan tangan Stefa terlihat sedikit memerah.


            Stefa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Stefa tak percaya bahwa barusan dia begitu menikmati setiap sentuhan David. Pipinya sudah merah merona seperti tomat yang siap di petik.


            David mencium kening Stefa. “Tidurlah! Aku akan kembali ke kamarku.”


            Stefa mencelos. Seolah ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Dia tak ingin David meninggalkannya sendirian di kamar ini. Tidak setelah apa yang mereka lakukan baru saja.


            “Tidak bisakah kau tinggal disini?” tangan Stefa menahan David untuk tak segera pergi.


            “Aku tak bisa, sayang, Aku takut jika aku tak bisa menahan diriku lagi jika aku terus berlama-lama disini.


Maafkan aku yang sudah menghukummu?!” Stefa menekuk wajahnya. David buru-buru


mengusap puncak kepala Stefa dan menciumnya.


            David benar-benar meninggalkan Stefa


sendirian di kamar yang besar itu setelah mengenakan kembali pakaiannya. Malam


itu terasa sangat dingin setelah David meninggalkan Stefa. Tangan Stefa


menyentuh dadanya yang terasa kosong.


            “Astaga. Aku ini kenapa?


Bisa-bisanya aku tadi menikmati sentuhan David. Hentikan pikiran gilamu, Stefa!


Kau bukan levelannya.” Stefa menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengenyahkan


pikiran tentang David.


            Stefa merutuki dirinya sendiri sepanjang malam. Matanya sulit sekali untuk di ajak kompromi agar bisa segera tidur dan menjemput alam mimpinya. Namun, matanya sulit sekali terpejam.


Pikirannya masih berkelana dan membayangkan kegiatan yang sedikit panas.


Sentuhan David masih membayangi di dalam otak Stefa.

__ADS_1


__ADS_2