
Akhirnya berada di penghujung cerita tapi bukan akhir dari segalanya.. Karena di bab terakhir ini akan menunjukan akhir perjalan dan perjuangan dari tokoh utamanya.. Namun, jika kalian team readers pandai2 nebak apa yang akan terjadi setelahnya, pasti bakalan penasaran banget kan kelanjutannya gimana.. Nah, biar gk ngegantung ceritanya, jangan lupa nantikan terus info terupdatenya di sini.. Sisihkan uang untuk ikut Pre Order novel ini versi cetaknya ya !!!
***
David begitu gugup ketika menunggu Stefa masuk ke aula pernikahan itu melewati pintu ganda berukuran besar. Sang pendeta sudah menunggu di tempatnya dan bersiap untuk menikahkan David dan Stefa. Kursi sudah terisi penuh oleh para tamu undangan yang hadir, mereka sama gugupnya menantikan kehadiran sang mempelai wanita dengan gaun indahnya. Suara pintu dibuka mengalihkan tatapan semua orang tertuju ke arah pintu itu, menunggu siapa yang datang dari sana.
Degup jantung David tidak bisa dikontrol ketika melihat calon istrinya-lah yang berdiri di sana dengan
tangannya yang menggamit di lengan Ken. Kegugupan juga dirasakan oleh Stefa, semua mata menuju padanya. Ken menoleh menatap Stefa memberikan senyuman yang jika diartikan adalah semuanya akan baik-baik saja dan berjalan lancar. Stefa membalas senyuman itu kemudian kembali menatap ke depan. Melihat bagaimana calon suaminya sudah berdiri di sana menunggu dirinya berjalan ke arahnya.
Gaun pernikahan yang harganya tak sembarang itu begitu terlihat sangat-sangat cantik dan sangat-sangat sempurna, bahkan kata sempurna saja rasanya tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana kecantikan gaun dan si pemakainya sendiri. Decak kagum terdengar, memuji kecantikan Stefa dan keindahan gaun yang bernilai tinggi itu. Renee Strauss dan Martin Katz turut menghadiri pernikahan itu dan sudah duduk di deretan kursi tamu VVIP.
“Ini saatnya Paman menyerahkanmu pada pria yang lebih berhak memiliki hidupmu.” Bisik Ken pelan seraya mereka berjalan di atas altar, perkataan Ken membuat pipi Stefa merona tetapi ia mencoba untuk terlihat biasa saja karena semua mata tertuju padanya.
“Aku masih tidak percaya semua ini, Paman.” Jawabnya terdengar gugup.
Ken tersenyum kembali menatap Stefa, mengusap tangan Stefa menenangkan yang mungkin bisa sedikit membantu menghilangkan kegugupan yang dirasakan oleh Stefa.
Langkahnya terhenti saat mereka sudah berdiri di hadapan David, Ken menyerahkan Stefa dan segera disambut tak sabar oleh David.
“Aku mempercayakan hidup keponakanku padamu, David. Jangan pernah sakiti hatinya barang sedetik pun!” amanat Ken sebelum ia benar-benar menyerahkannya pada pria yang tepat. David mengangguk mengamini amanat yang Ken berikan.
“Kau sangat cantik, sweety!” bisik David seraya mengambil tangan Stefa dan membawanya ke hadapan sang pendeta.
Acara pembukaan sudah dimulai, pendeta sudah memulai mengucapkan kalimat-kalimat yang biasa diucapkan saat akan menikahkan sepasang kekasih di hadapan Tuhan. Tak henti-hentinya mereka berdua saling melirik, melempar senyuman. Melihat kecantikan itu, David rasanya sudah tidak sabar ingin mencium bibir Stefa dan ********** sampai bibir itu membengkak karena ulahnya.
Tiba saatnya David dan Stefa saling mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan dengan seluruh tamu yang hadir termasuk sang pendeta sebagai saksinya.
“Stefani Agatha, I take you to be my wife, to have one another and to take care of you from now until forever, in times of distress or pleasure, in times of abundance or in shortages, in times of health and sickness, to love and respect one another, until death separates us, according to God's holy law, and this is my sincere faithful promise.” David dengan lancar mengucapkan janji sucinya di hadapan Tuhan.
Stefa tersenyum mendengar janji yang diucapkan calon suami yang sebentar lagi sah menjadi suaminya. Giliran Stefa yang mengucapkan janji itu.
“David Fritz, I take you to be my husband, to have one another and to take care of you from now until forever, in times of distress or pleasure, in times of abundance or in shortages, in times of health and sickness, to love and respect one another, until death separates us, according to God's holy law, and this is my sincere faithful promise.”
Setelah janji pernikahan itu diucapkan oleh keduanya, kedua mempelai pengantin itu saling memasangkan cincin pernikahan mereka yang menjadi bukti bahwa mereka kini sudah saling memiliki seutuhnya. Pendeta meneguhkan dan memberkati keduanya di hadapan para saksi.
“Mempelai pria, dipersilakan untuk mencium mempelai wanita untuk yang pertama kalinya dalam ikatan pernikahan!” kembali pendeta itu mengucapkan kalimat-kalimatnya.
David menghadap Stefa kembali, menatapnya lamat-lamat dan bibirnya tidak berhenti untuk tidak tersenyum pada istirnya, Stefani Agatha.
__ADS_1
“Ini yang aku inginkan dari tadi, sweety.” Ucapnya pelan yang hanya mampu di dengar oleh Stefa.
“Aku juga menantikan ciuman pertama kita setelah resmi menikah di hadapan Tuhan.” Balasnya tak mau kalah.
David mendekat, menghilangkan jarak di antara keduanya. Telapak tangan besarnya menangkup sisi wajah Stefa dan bibirnya mulai mengecup bibir Stefa perlahan. Suara riuh tepuk tangan memenuhi aula pernikahan itu, sebagiannya lagi ada yang bersiul menggoda kedua mempelai pengantin itu. Dengan tidak sabarannya tetapi begitu lembut, David ******* bibir Stefa dengan lahapnya seolah itu adalah permen yang tidak akan pernah habis rasanya.
Kepala mereka memiring, dan ciumannya semakin dalam. Bahkan telapak tangan David yang besar itu pindah ke tengkuk leher Stefa, menekannya lebih dalam menikmati sensasi ciuman dengan ditonton ribuan pasang mata. Stefa meremas pakaian David, meminta tubuhnya agar tak jatuh ke bawah karena lemas menikmati ciuman indah yang diberikan oleh David. Pria itu menurunkan satu tangannya, berhenti di pinggul Stefa dan sedikit meremasnya.
“Mmhh...” desah Stefa semakin memacu David untuk tak melepaskan ciuman itu.
“Lanjutkan nanti di dalam kamar wahai sepasang suami istri!” teriak seseorang yang bersambut gelak tawa para tamu undangan.
David melepaskan pagutan itu, kedua napasnya memburu dan terengah. Benar saja, bibir Stefa membengkak karena ulah David dan itu membuatnya malu untuk menatap setiap pasang mata yang menyaksikannya. Rona merah menyembul di kedua pipi Stefa, ia menunduk malu dengan sedikit meremas lengan David yang terkekeh di sampingnya.
Pesta pun berlanjut. Semua orang mengucapkan kata selamat untuk keduanya, dan tiba di acara di mana orang-orang dipersilakan untuk memberikan kata-katanya yang berkesan atau memberikan nasihat untuk kedua mempelai pengantin itu.
“Ehmm, ehmm...” seseorang berdiri di atas panggung dengan mikrofon menarik perhatian semua orang.
“Aku berdiri di sini untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kedua mempelai pengantin kita.” Semua orang bertepuk tangan.
“Brother, kau beruntung mendapatkan wanita yang hebat sebagai istrimu. Seperti yang kau selalu banggakan, istri seksimu itu sejujurnya tidak pantas mendapatkan pria berengsek sepertimu.” Gelak tawa memenuhi aula pernikahan itu.
“Aku tidak bisa banyak berkata, intinya aku ingin kau menjaga istrimu dan anak-anakmu kelak. Jangan biarkan keluargamu hancur karena kesalahan yang kau perbuat. Jika itu terjadi, aku tidak akan segan-segan untuk menjadikan istrimu sebagai istriku.” Pria itu terkekeh diikuti semua orang.
Ia melanjutkan kembali. “Dan untuk mempelai wanita, aku ucapkan selamat karena semua pengorbanan dan rasa sakitmu sudah berakhir. Bersambut dengan kebahagiaan yang kita semua harapkan tidak pernah usai. Aku menanti keponakan-keponakan yang lucu itu hadir dan berharap merecoki kehidupan kalian juga. Aku akan sangat senang menantinya.”
“Thank you, Revaldo.” Balas Stefa dengan melemparkan senyuman hangatnya, David meremas tangan Stefa dan mencium punggung tangan istrinya itu.
Revaldo turun dari panggung itu, digantikan oleh Renee Strauss dan Martin Katz, menarik perhatian semua orang. Mereka tidak sabar menunggu apa yang akan diucapkan oleh kedua orang hebat itu.
“Hi, everyone! Aku rasa sebagian tamu undangan yang hadir di sini mungkin sudah mengenalku, Martin Katz. Dan di sampingku ada sosok yang begitu hebat, Renee Strauss. Kalian tahu kenapa aku berdiri di sini dengan orang hebat ini. Ya, betul. Seperti yang ada di otak kalian, kami berdua hadir di sini karena undangan spesial dari kedua mempelai pengantin kita. Asal kalian tahu, aku dan Renee dibayar mahal hanya untuk menyelesaikan satu gaun pernikahan milik istrinya, Mrs. Stefani Agatha yang kini menyandang nama suaminya. David, aku benar-benar kesal padamu karena menyuruh kami berdua membuat gaun pernikahan dengan waktu kurang dari satu minggu.” Renee Strauss tertawa bersambut tawa yang lainnya. David tidak tersinggung sama sekali, justru ia tersenyum miring penuh kemenangan dan mengangkat gelas wine-nya.
“Tapi dengan begitu, aku bangga karena ini adalah rekor pencapaianku dalam membuat karya. Dan aku begitu bangga karena David membuatku bertemu dengan perancang busana terhebat, Renee Strauss.” Martin Katz melempar senyum pada Renee di sampingnya.
“Dan ku peringatkan kau, David. Jangan membuatku dan Renee melakukan hal serupa lagi untuk kedua kalinya, terkecuali kau membayarnya lebih mahal dari harga gaun pernikahan yang istrimu pakai saat ini.” gelak tawa kembali terdengar.
Stefa memukul lengan David. “Kau memang menyebalkan, Dave. Kau menyusahkan semua orang.” David membungkam bibir istrinya dengan sebuah kecupan yang mendapatkan sorakkan dari para tamu undangan dan mulai kembali digoda.
Silih berganti orang menaiki panggung itu, dan menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan untuk Stefa dan David. Tiba saatnya, David dan Stefa memperkenalkan keluarga kecil mereka sesungguhnya di hadapan publik. Tak banyak orang yang mengetahui kehadiran Alice di dunia ini. Saat acara lamaran yang diadakan oleh David, memang Alice turut hadir di sana. Namun David tidak secara langsung memperkenalkannya, karena ini adalah momen yang ia nantikan.
David dan Stefa berdiri di atas panggung dengan tangan mereka yang tidak saling melepas satu sama lain, terus saling menggandeng dengan mesra membuat yang lainnya terlihat begitu iri sekaligus rasa haru bahagia.
__ADS_1
“Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang ingin aku dan istriku lakukan. Aku ingin memperkenalkan seseorang pada seluruh dunia, bahwa kami memiliki keluarga yang lengkap.” Para tamu undangan itu saling berbisik, mereka dibuat bingung dengan pernyataan David.
Sosok Brianna yang menaiki panggung menjadi pusat perhatian, bahkan bisikan-bisikan itu kembali memenuhi aula itu. Sebenarnya, yang menjadi pusat perhatian bukanlah Brianna, lebih tepatnya sosok mungil yang menggemaskan yang hadir di sana dalam gendongan Brianna. Stefa mengambil alih sosok mungil menggemaskan itu dan mengucapkan kata terima kasih pada Brianna.
“Perkenalkan, dia adalah putri pertama kami.” Suara riuh kembali terdengar, ada yang mencela dan ada pula yang memuji.
“Alice Agatha Fritz, putri pertama kami yang telah lahir ke dunia melalui proses perjuangan yang dilakukan oleh istriku.” David mengecup kening Stefa.
Ia kembali menghadap pada para tamu undangan, menghela napasnya begitu berat. “Mungkin kalian banyak yang mempertanyakan kenapa Alice ada di antara kami. Jujur, aku telah banyak menyakiti istriku di masa lalu. Aku diam-diam menyukai istriku sekarang, yang dulunya adalah karyawan di kantor pusat perusahaanku. Betapa bahagianya saat istriku baru saja di campakkan kekasihnya saat itu, itu aku jadikan sebagai kesempatan untuk mendapatkannya. Tetapi, semua langkah yang kuambil adalah salah. Saat itu aku bertunangan dengan Caitlin, tetapi aku juga telah menikmati setiap kesempatan dan waktu yang kuhabiskan bersama Stefa saat itu.”
Stefa mengelus rahang suaminya dan memberikan semangat untuk menjelaskan pada semua orang tentang proses kehidupan mereka.
“Aku menyakitinya dengan sangat banyak, dan aku juga mempermalukan keluarga Caitlin dan kerajaan. Orang pertama yang merenggut kehormatan Stefa saat itu adalah aku, tidak hanya sampai di situ. Aku juga melakukannya berulang kali membuat Stefa membenciku saat itu. Aku memutuskan untuk membatalkan pertunanganku setelah aku mengetahui bahwa istriku saat itu mengandung Alice, putri kecil menggemaskan pertama kami. Aku berkata jujur pada Caitlin, memintanya untuk membatalkan pertunangan itu. Jika kalian bertanya-tanya, apakah Stefa merupakan dalang putusnya hubunganku dengan Caitlin. Maka jawabannya ya dan tidak.”
“Aku dan Caitlin tidak memiliki perasaan yang spesial satu sama lain, bahkan Caitlin selalu mengataiku bahwa aku bukanlah tipenya. Padahal aku jelas-jelas pria kaya yang tampan. Dan sialnya, aku memang bukan tipenya.” Kini kata-kata cela untuk mereka berdua tergantikan dengan gelak tawa mendengar kisah hidup David dan Stefa.
“Intinya aku dan istriku mengalami banyak sekali drama kehidupan dan pengorbanan, bahkan aku hampir kehilangan istri dan anakku saat itu. Sweety, aku sangat beruntung mendapatkanmu dan memilikimu. Kau dan putri kecil kita adalah segalanya bagiku, bahkan aku tidak bisa membayangkan jika saat itu aku kehilangan kalian berdua.” Semua terharu, kerabat terdekat turut menangis haru akan kisah cinta mereka berdua.
“I love you so much, my wife.” David mengecup bibir Stefa begitu dalam, Alice masih berada di dalam gendongan Stefa turut merasakan bahagia dengan melakukan kebiasaannya. Menepuk-nepukkan kedua tangannya dengan tertawa renyah.
Stefa yang terlebih dulu melepaskan ciuman itu, menatap iris mata suaminya yang berkaca-kaca karena telah melepaskan beban yang masih tertinggal di dalam dadanya. “Aku lebih-lebih mencintaimu, Dave. Kau dan Alice adalah kehidupanku.”
***
Gantung bangetkan endingnya? Yaiyalaaah, enak aja dooong klo ditamatinnya pke ekstra bab.. Nanti novel cetaknya gak laku. Hahahah
Ohya, author minta buat team readers tulis komentar terbaik kalian di kolom komentar karena nanti, author akan masukkan komentar terbaik kalian di versi cetaknya sebagai rasa terima kasih author atas dukungan kalian selama ini..
Author juga berharap, dengan adanya cerita ini bisa sedikit banyaknya menghibur kalian.. Buat kalian yang sering mengeluh tentang hubungan pernikahan atau percintaan kalian yang terasa sulit alias berat lebih berat ngangkut 10kg beras karung, author sedikit memberi nasihat. Perjalan hidup tidak ada yang mudah, kadang kala kita melihat si A, B, dan C sampai seterusnya keliatan baik2 aja. Tapi kita gak pernah tahu kehidupan seperti apa yang telah mereka jalani dan lalui. Mungkin sedikit banyaknya kalian juga mengira author hidupnya enak bangeeett.. Ya, kalo author sih dikira begitu ya Alhamdulillah aja..
Masih banyak kehidupan yang lebih sulit dari pada yang kita alami selama ini. Kunci dalam sebuah hubungan adalah saling terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi dari suami ke istri atau sebaliknya. Saling percaya meskipun sebenarnya di dalam hati kalian ada rasa curiga sama pasangan. Intinya, transparan dalam memiliki hubungan adalah kunci utamanya. Jangan biarkan karena keegoisan kita sebagai orang dewasa, anaklah yang menjadi korbannya.
Ngomong2 ini author pinter banget dah ngomongnya, dah kyak dapet hidayah dari mana gituuuh.. Wkwkwkw...
Jangan lupa buat selalu dukung author, Vote dan Komentarnya di tunggu. Sekali lagi, berikan komentar terbaik kalian di kolom komentar karena komentar terbaik kalian akan author naik cetakkan di dalam novel versi cetaknya !!!!
Yang mau baca cerita lainnya silakan mampir ke WP dengan kata kunci @RhesiKim !!!
Much Love,
Rhesi Kim
__ADS_1