
Pukul 8 malam
Malam ini Stefa terlihat sangat cantik. Tak seperti biasanya, Stefa mengenakan
pakaian yang begitu minim dan sangat seksi. Dress yang hanya mampu menutupi
setengah pahanya, dan belahan dada yang begitu sangat rendah melekat di tubuh
Stefa.
Malam ini Stefa berniat untuk datang ke kelab malam dan berniat untuk menghentakkan tubuhnya di lantai dansa. Tak ingin terlalu pusing dengan masalahnya, Stefa memilih untuk datang ke kelab malam.
Stefa mengirimkan pesan kepada Judith bahwa dia akan datang ke kelab malam dan memberi tahu lokasinya pada Judith. Siapa tahu sekretarisnya itu mau menyusulnya disana. Setelah pesannya terkirim, Stefa langsung meluncur ke kelab malam yang terkenal di Jakarta.
Hanya orang-orang yang memiliki dompet tebal dan kalangan atas yang mampu masuk ke kelab malam itu. Beruntung, Stefa memiliki uang yang dibilang cukup di dalam dompet dan juga kartu ATMnya hanya untuk menghabiskan satu malam di kelab malam seperti ini. Saat memasuki kelab malam itu, Stefa di suguhkan dengan musik yang membuat tubuhnya ingin segera meliuk-liuk di lantai dansa.
“Anda ingin memesan apa, Nona?” tanya si bartender setelah Stefa duduk di salah satu kursi bar.
“Margarita, please!” jawab Stefa.
Bartender itu hanya mengangguk seraya tersenyum dan segera meracik minuman yang di pesan Stefa. Tak butuh waktu lama, minuman yang Stefa inginkan sudah berada di hadapannya.
Stefa langsung menenggak habis minuman itu. Minuman itu sedikit asam dan segar, efek campuran bahan dari buah limau yang di racik dengan dua jenis bahan lainnya. Kembali Stefa memesan minuman yang sama.
“Anda datang sendiri, Nona?” akhirnya si bartender itu bertanya karena melihat tak ada seorang pun yang
__ADS_1
datang bersama Stefa.
“Yups.” Jawab Stefa singkat. Setelah menghabiskan tiga gelas Margarita, Stefa langsung meninggalkan bar itu dan berjalan menuju lantai dansa.
Disana sudah dipenuhi dengan lautan manusia yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya. Pria dan wanita menjadi satu. Mereka berlomba-lomba untuk membakar lemak dengan cara menari di atas lantai dansa.
Beberapa pria tampan dan gagah mengajak Stefa untuk menari bersama. Tidak perlu menolak, toh niatnya datang ke kelab malam adalah untuk bersenang-senang dan melupakan segala kemelut malasahnya. Seorang pria melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Stefa dari belakang. Menikmati tubuh Stefa yang sedang meliuk-liuk begitu indahnya.
Disana, Stefa sudah tak perduli lagi jika ada seorang pria yang mengajak untuk melakukan hubungan **** semalam. Dia sudah dewasa untuk melakukan ****, tidak lagi berniat memberikan keperawanannya
untuk suami masa depannya.
Karena sampai saat ini, hanya pria brengsek yang selalu datang di kehidupannya. Termasuk Marshal dan juga David. Kedua pria itu harus di blacklist ke dalam daftar pria yang patut dikencani. Dengan jarak waktu yang tidak lama, hati Stefa sudah di patahkan oleh dua orang pria brengsek yang sialannya tampan.
Stefa semakin di buat bergairah dan semangat saat DJ memutar musik yang mampu menggetarkan lantai dansa. Peluh sudah mengucur dan membasahi tubuh Stefa dan pria yang sedang asik melingkarkan lengannya di pinggang Stefa.
Di pojokan sana. David sedang memperhatikan Stefa yang sedang menari dengan beberapa orang pria. Wajah Stefa sudah terlihat memerah karena terlalu heboh menari. David melihat Stefa pergi meninggalkan kerumunan pria itu dan kembali ke meja bar.
“Kau sudah selesai menari, Nona?” tanya si bartender yang tadi sempat meracik minuman untuk Stefa.
Stefa mengangguk dengan napas yang sedikit terengah-engah karena habis menari.
“Kau ingin memesan Margarita lagi, Nona?” tanya si bartender itu lagi.
“No, aku ingin sebotol Whiskey.” Pinta Stefa yang langsung di ambilkan oleh bartender itu.
__ADS_1
Stefa menuangkan beberapa kali ke dalam gelas itu sampai kepalanya pada akhirnya terasa sangat berat dan pusing. Ini kali pertamanya dia merasakan mabuk. Di London, dia tak pernah yang namanya sampai mabuk. Dia tahu batasan alkoholnya, hanya saja. Untuk malam ini biarkan dia minum sampai tak sadarkan diri.
David yang sedari tadi memperhatikan Stefa sudah mengepalkan tangannya karena kesal melihat Stefa yang tak mau berhenti menenggak minuman beralkohol itu. Pada akhirnya David berjalan ke arah Stefa dan duduk di sampingnya tanpa Stefa sadari.
Stefa sudah menempelkan kepalanya di atas meja bar. Kepalanya begitu berat untuk di angkat, kepalanya terasa berdenyut hebat karena minuman beralkohol itu.
“Apa yang kau lakukan disini sampai mabuk seperti ini?” tanya David dengan sedikit mengguncang tubuh Stefa agar tetap tersadar.
“Lepaskan tanganmu! Enyahlah!”
“Ayo, kita kembali ke Hotel.” David tak mau menyerah saat Stefa menolak sentuhan tangannya.
“Dia kekasihmu, Tuan?” tanya bartender itu penasaran. David hanya tersenyum kecil menanggapi bartender yang terlihat penasaran.
David meraih tubuh Stefa dan membopong Stefa menuju arah pintu keluar kelab malam itu. Untuk mencapai pintu keluar pun, David merasa membutuhkan waktu berjam-jam. Stefa yang benar-benar sudah mabuk menghambat langkah David untuk segera meraih pintu keluar.
Normalnya, mereka hanya perlu beberapa menit saja untuk sampai di pintu keluar. Beberapa kali pula Stefa hampir tersungkur karena sudah benar-benar tak sadarkan diri. Akhirnya, David menggendong tubuh Stefa dan segera meninggalkan kelab malam itu.
Di perjalanan menuju Hotel, dalam ke adaan tidak sadar. Stefa terus meracau dan bergumam tidak jelas. David mengabaikan racauan tak jelas Stefa dan berfokus pada jalanan yang terasa sepi malam itu.
Sesampainya di Hotel, David meminta salah satu petugas Hotel untuk memarkirkan mobilnya. Hampir semua orang disana memperhatikan David yang sedang menggendong Stefa yang sudah tak sadarkan diri itu.
Dengan susah payah David harus menekan tombol angka untuk menuju di lantai kamar yang mereka tempati. Saat sampai di lantai yang di tuju, David tidak membawa Stefa masuk ke dalam kamar wanita itu. David membawa Stefa ke kamarnya dan meletakkan Stefa di atas ranjang David.
Membantu Stefa untuk melepaskan heels yang dipakai Stefa dan membantunya membersihkan peluh yang aromanya begitu tak sedap saat menyeruak masuk ke dalam indera penciuman David. Peluh dan bau alkohol memenuhi kamar David.
__ADS_1
David meninggalkan Stefa sendirian di dalam kamar, dia perlu menenangkan diri sendiri. Entah apa yang membuat Stefa melakukan hal seberani itu. Yang David tahu, Stefa sangatlah tidak menyukai minuman dengan kadar alkohol yang terlalu tinggi. Sepertinya David salah, karena pada nyatanya malam ini Stefa telah menenggak hampir setengah botol Whiskey.