
Akhirnya Stefa bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang lebih awal dari biasanya. Ia tiba di Hotel sebelum
matahari benar-benar terbenam. Ia harus segera memesan makan malam ke bagian layanan Hotel dan mengantarkannya ke kamar Stefa, ia hampir saja melupakan kalau ia harus meminum obat dan vitamin dari dokter.
Sebelum pelayan Hotel datang ia lebih baik membersihkan tubuh terlebih dulu. Sekitar 15 menit Stefa keluar dari dalam kamar mandi. Tepat saat ia selesai membersihkan tubuhnya, bunyi bel berbunyi. Mungkin itu si pelayan Hotel yang mengantarkan pesananannya.
Kalian pasti bertanya-tanya ke mana Lianne selama hampir satu minggu ini, tentu saja wanita itu sedang menikmati masa liburannya dengan baik. Bahkan ia menghabiskan waktu berliburnya di beberapa pantai yang indah yang ada di Jakarta dan berkenalan dengan turis-turis asing lainnya yang kebetulan juga datang ke Indonesia. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang paling digemari oleh turis asing untuk menikmati berlibur. Sesekali Lianne akan datang ke kelab malam untuk menari di atas lantai dansa. Ia benar-benar tahu bagaimana cara menikmati waktu berlibur dengan baik.
Stefa bergegas membuka ‘kan pintu agar pelayan itu masuk dan menata makanannya di atas meja. Kali ini Stefa harus memakan makanan yang layak untuk pemulihan tubuhnya, ia tak ingin hanya memakan salad sayur atau buah. Jika pun nanti berat badannya naik, ia hanya perlu kembali diet ‘kan.
“Makanan sudah siap, Nona. Anda perlu yang lainnya?” tanya si pelayan itu setelah selesai menata makanan di atas meja makan.
“Tidak, terima kasih. Aku akan memanggil kalian lagi jika aku membutuhkan yang lainnya.” Seperti biasa Stefa akan memberikan sedikit uang tips pada pelayan Hotel. Pelayan itu menundukkan kepalanya dan berbalik meninggalkan kamar Stefa.
Stefa menatap makanan itu seperti orang kelaparan saja, matanya berbinar kesenangan karena pada akhirnya ia bisa menikmati kembali yang namanya surga dunia. Makanan dengan cita rasa rempah-rempah yang khas dari Indonesia. Seharusnya ia melakukan itu dari kemarin-kemarin kalau ia tidak ingat akan peraturan diet demi tubuh idealnya. Hah, seribet itu kalau mengingat ia harus kembali diet.
“Oh, ayo kita makan sayang.” Teriak Stefa seraya menepuk kedua tangannya kegirangan. Ia menarik kursi dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Umh, makanan yang terasa pas di lidah langsung membuat Stefa mendengus nikmat. Matanya terpejam sesaat menyiratkan bahwa makanan itu layak untuk mengenyangkan perutnya yang sudah keroncongan.
“Oh Tuhan, aku benar-benar tidak peduli dengan berat badanku lagi, aku hanya perlu menghabiskan seluruh makanan ini.” Stefa kembali menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan perasaan yang tentu saja senang.
Setelah menghabiskan seluruh makanan yang akhirnya membuat perutnya terasa begah, Stefa mendudukkan dirinya tepat di depan televisi dan menyalakannya. Mencari saluran luar negeri yang biasa ia tonton saat di kampung halamannya. Sialnya, saat ia menekan salah satu saluran luar negeri.
Di sana sedang memberitakan bahwa seorang model terkenal akan melangsungkan pertunangannya satu bulan lagi dengan salah satu pengusaha sukses di London. Siapa lagi kalau bukan Deborah dan Marshal. Di layar televisi memperlihatkan sepasang kekasih itu sedang menghadap kamera yang menyorotnya.
Deborah tersenyum lebar, bahkan ia dengan bangganya mengatakan bahwa saat ini ia sedang mengandung anak Marshal. Namun melihat ekspresi Marshal, pria itu hanya berwajah datar dan hanya beberapa kali menjawab pertanyaan dari wartawan. Lihat pria itu! Baru saja beberapa hari yang lalu pria itu meminta Stefa untuk kembali ke sisinya dan mengatakan akan mengakhiri hubungannya dengan Deborah. Justru malah berita seperti ini yang ada di hadapannya.
“Dasar sepasang kekasih idiot!” celetuk Stefa dengan nada mencemooh. Ia langsung mematikan layar televisi karena malas kalau harus melihat berita seperti itu.
Stefa kembali ke kamar tidurnya. Ia hampir saja kelupaan untuk meminum obat dan vitamin jika saja obat-obat itu tidak ia letakkan di atas nakas samping ranjangnya. Stefa mengeluarkan beberapa butir obat dan vitamin dan memasukkannya ke dalam mulut dibantu oleh air untuk mendorong obat itu melewati kerongkongannya dengan lancar. Setelahnya Stefa langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa menit kemudian, pengaruh obat yang Stefa telan mulai bereaksi.
Rasa kantuk mulai menyerang mata Stefa dan tak butuh waktu lama untuk benar-benar terlelap. Ia tidur seperti orang mati saja. Tepat pukul 10 malam, pintu kamar Stefa terbuka. Di sana sosok seorang pria masuk dengan mengenakan setelan jas yang rapi dan tampak masih mengkilat. Cahaya kamar tidur yang hanya tersinari remang-remang lampu tidur, memperlihatkan siluet tubuh pria itu yang tak terlalu jelas.
Pria itu mendekat ke arah ranjang dan duduk di samping tubuh Stefa dan memperhatikan Stefa yang tertidur seperti orang mati dengan seksama. Tangannya terulur untuk membelai kepala Stefa. Pria itu masih bisa melihat wajah Stefa dengan jelas hanya dengan bantuan cahaya lampu tidur di atas nakas.
Pria itu bangkit untuk berdiri dan membuka jas yang terasa menyesakkan. Membuka dua kancing teratas kemejanya dan menggulung lengan kemeja sampai sebatas siku. Ikat pinggang pun turut ia lepas. Pria itu kembali duduk di samping tubuh Stefa. Matanya menatap tajam Stefa yang sedang terlelap.
__ADS_1
“Seharusnya kau mengatakan padaku kalau kau datang ke dokter kandungan.” Gumam pria itu yang jelas Stefa tak akan mampu mendengarnya sama sekali.
“Untung saja aku menyuruh seseorang untuk mengawasimu tanpa kau sadari.” Gumam pria itu lagi.
Stefa yang tidurnya terlentang pun hanya diam membisu seperti patung, hanya deru napas teraturnya yang mampu menjawab ucapan pria itu. Stefa tidur dengan mengenakan piyama tidur berbahan satin tipis, dengan dua tali tipis yang menyangga di bahu Stefa. Panjang piyama itu hanya sebatas setengah paha Stefa, menonjolkan lekuk tubuh Stefa yang begitu menggoda kaum adam.
Stefa tak pernah tidur dengan menggunakan bra, menurutnya itu penyiksaan diri. Dadanya penuh kebebasan saat tidur, jadi ia terbiasa tidur tanpa mengenakan bra. Puncak dada Stefa yang mencuat membangkitkan gairah pria itu. Memanggil-manggilnya untuk segera mengeksekusinya sesegera mungkin.
“Shit! Kenapa kau begitu menggoda.” Ucap pria itu seraya membuka kemejanya dan melemparkan ke bawah. Pria itu langsung bergerak untuk menindih tubuh Stefa. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuh Stefa sampai batas pinggang wanita itu.
Gairahnya tak bisa lagi dibendung lebih lama, pria itu langsung mengecup bibir Stefa. Menelusuri garis rahang Stefa sampai ke leher, turun ke bawah untuk mencium gundukan kenyal dari balik baju piyama Stefa. Wanita itu benar-benar seperti mayat, bahkan ia sama sekali tak terusik oleh sentuhan pria itu.
Pria itu langsung melepas piyama Stefa, menariknya ke atas melewati kepala sampai lolos. Membuka celana dalam Stefa melewati kaki jenjangnya. Ia terpana dengan area terlarang Stefa di antara kedua pahanya itu. Napasnya semakin terburu-buru saat melihat area terlarang itu lebih dekat. Wajahnya terbenam di bawah sana seperti bayi yang sedang mendesakkan wajahnya ke pelukan terhangat ibunya sendiri.
Saat pria itu sedang melancarkan aksinya demi memuaskan hasrat yang sudah tak bisa lagi ia bendung lebih lama, memanjakan tubuhnya dengan menyentuh Stefa. Stefa hanya mengeluarkan suara desahan dari sela-sela bibirnya yang masih terkatup. Pria itu melepaskan dirinya sedikit memberi jarak dari keindahan tubuh Stefa saat mendengar desahan kenikmatan yang tak disadari oleh Stefa.
Tangannya tak bisa diam saja, tangan itu bergerak untuk bergerilya menjelajahi dua gundukan kenyal milik Stefa. Pria itu benar-benar sudah berada dalam batas gairahnya, dengan buru-buru pria itu melepaskan celana bahannya dan melemparkan entah ke mana. Pria itu memposisikan tubuhnya tepat di hadapan area terlarang Stefa bersiap untuk mereguk kenikmatan dari Stefa yang masih saja tidak terganggu sama sekali.
“Kali ini aku harus menanamkan benih terbaik berkualitasku di dalam rahimmu, menjadikan kau milikku seutuhnya.” Bisik pria itu sebelum mengarahkan benda pusaka ke area terlarang Stefa.
Napasnya memburu seiring dorongannya dibagian area terlarang Stefa. Pria itu merasakan kenikmatan yang tiada tandingannya, area terlarang Stefa benar-benar terasa nikmat saat ia masuki. Perbedaan yang begitu kentara saat ia melakukan percintaan dengan wanita-wanita lainnya.
Ia sering kali bercinta dengan berbagai macam wanita, namun tak ada yang senikmat Stefa, menurutnya. Wanita ini benar-benar luar biasa, ia bisa menjaga dirinya sampai pada akhirnya keperawanannya direnggut olehnya. Ia adalah pria pertama untuk Stefa, pria yang berhasil mengambil keperawanan Stefa meskipun dengan sedikit paksaan.
Pria yang menginginkan keturunan terbaik dari Stefa. Pria itu menghujamkan benda pusakanya semakin dalam dan keras membuat tubuh Stefa terguncang ke atas dan ke bawah, bagusnya untuk pria itu. Stefa hanya mendesah kenikmatan, sepertinya wanita itu sedang berpikir kalau saat ini ia sedang bermimpi erotis dengan seorang pria.
Pria itu akhirnya mendapatkan puncaknya dan menyemburkan benih terbaiknya di dalam rahim Stefa. Memenuhi rahim Stefa dengan bibit-bibit unggulnya, bibit berkualitas yang akan menghasilkan keturunan berkualitas juga.
Namun tak berselang lama, ia merasakan gairahnya kembali bangkit. Pria itu mengubah posisinya dan sedikit menggeser tubuh Stefa agar lebih mudah dalam proses mereguk kenikmatan duniawi. Tanpa sadar Stefa malah menjamah tubuhnya sendiri seolah ingin menantang dan memberi sinyal untuk David. Dengan itu pula, wanita itu telah semakin membangkitkan gairah pria itu.
Mimpi erotis yang Stefa pikirkan terasa begitu nyata untuknya, maka dari itu kedua tangannya benar-benar tidak bisa diam
Wajahnya menengadah ke atas menikmati sensai yang begitu asing untuknya. Sialnya, pria itu semakin merasa tertantang sampai pada akhirnya ia mendapatkan kembali puncaknya untuk yang kedua kalinya.
Pria itu ambruk di atas tubuh Stefa, ia menggeser tubuhnya ke samping seraya memeluk tubuh Stefa yang masih terlelap. Pria itu mengecup kening Stefa dengan lembut serata berbisik.
__ADS_1
“Aku jamin jika kau terbangun, kau akan terkejut melihatku berada di sampingmu.” Pria itu tersenyum miring. Entah pikiran dari mana, pria itu merasakan ingin sekali menyetubuhi Stefa tanpa henti sampai matahari kembali muncul di upuk timur. Dengan sekali gerakan, pria itu membalikkan posisi tidur Stefa menjadi miring dan memunggunginya. Pria itu kembali memosisikan tubuhnya dan tubuh Stefa untuk melanjutkan sesi berikutnya.
Pria itu langsung melancarkan aksinya tanpa niatan untuk berhenti. Kembali Stefa mengeluh nikmat saat merasakan sensasi luar biasa yang membangkitkan gairahnya, perlahan mata Stefa terbuka dan mengerjap berulang kali sebelum ia menyadari apa yang terjadi pada dirinya.
Ia merasakan desakan kuat di bagian bawahnya dan merasa nyeri bercampur nikmat.
“Akh.. apa yang.. terjadi?” kalimatnya tersendat-sendat karena desakan di bawah sana yang terasa begitu
nikmat.
“Sttt! Ini aku, aku benar-benar tak bisa membiarkanmu begitu saja. Kau begitu nikmat, sayang.” Bisik pria itu dari belakang membuat Stefa mau tak mau harus sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.
Mata Stefa melotot mendapati David yang berada di belakang tubuhnya. Pria itulah yang saat ini sedang mendesak Stefa habis-habisan. Napas mereka berdua begitu memburu dan terasa berat namun nikmat. Keringat membasahi tubuh mereka, ah lebih tepatnya tubuh David karena pria itulah yang saat ini sedang berusaha memuaskan Stefa dan dirinya sendiri.
“Aakh, hentik.. aakh.. Kau menyakiti..akh-ku.” Stefa benar-benar tak bisa mengatakan sesuatu dengan benar karena David menghujamkan benda pusakanya berulang kali dengan keras. Membuat Stefa merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya. David dapat merasakan bahwa sebentar lagi ia akan mendapatkan puncaknya, ia membalikkan tubuh Stefa agar menghadapnya tanpa harus melepaskan penyatuan mereka.
Pria itu menatap Stefa dengan mata yang dipenuhi kabut gairah begitu juga Stefa yang napasnya mulai terengah-engah karena desakan David yang luar biasa. David segera menyergah bibir Stefa dan melumatnya, mendesakkan lidahnya untuk saling membelit satu sama lain.
“Aku ingin mendapatkan puncakku dengan melihat wajahmu.” Bisik pria itu disela-sela desakkannya yang semakin cepat.
“Pelan-pelan, kau benar-benar menyakitiku!” ucap Stefa memperingati David yang sedang menyeringai puas karena Stefa tak lagi menolak, tidak seperti pertama kali. Lagipula tak ada kesempatan bagi Stefa untuk bisa menolak, karena untuk menolak pun percuma.
David menghentak lebih dalam sampai menyentuh dinding rahim Stefa yang berujung menyemburkan kembali benih unggulnya di dalam rahim Stefa. Napas mereka berdua memburu dan saling berkejaran. David mengusap kening Stefa karena bulir-bulir keringat. David kembali ******* bibir Stefa, namun kali ini lebih lembut dan terasa manis untuk Stefa tolak.
David begitu enggan untuk menjauhkan tubuhnya dengan Steta meskipun api gairah percintaannya untuk saat ini sudah kembali surut.
“Tidurlah! Aku akan memelukmu dan menemanimu.” Bisik David. Tangannya merengkuh tubuh Stefa dan merapatkan kedua tubuh mereka untuk saling menempel satu sama lain, kaki David membelit kaki Stefa dengan tangan yang memeluk Stefa. Wajahnya terbenam di antara ceruk leher Stefa, tangannya tidak bisa dibiarkan menganggur lebih lama. Karena itu lah kedua tangan David masih bekerja aktif menyentuh titik sensitif tubuh Stefa.
“Aku tidak bisa tidur jika kau terus seperti ini.” sentak Stefa pada David, namun pria itu hanya menyeringai lagi. Di gigitnya puncak dada Stefa dengan gemas membuat Stefa memekik terkejut.
“Sstt! Kau akan membangunkan orang lain kalau seperti itu.”
Kedua tangan David tak bisa tinggal diam meskipun ia menyuruh Stefa untuk tidur. Stefa yang teramat lelah dan mengantuk tak bisa berkutik sama sekali, pengaruh obat masih menyelimutinya. Ia membiarkan David seperti itu. Kalau boleh jujur, Stefa merasa ini masih berada di dalam mimpi erotisnya. Jadi ia benar-benar menganggap semua ini adalah mimpinya saja, tidak benar-benar nyata.
Jika benar ini adalah mimpi, kenapa harus bermimpi erotis bersama David? Ini lucu. Stefa tersenyum dengan mata yang kembali terpejam. David pun menyusul Stefa untuk tidur dengan mulut yang masih menghisap puncak dada Stefa.
__ADS_1