
Deborah sudah sampai di perusahaan milik kekasihnya, Marshal. Sebenarnya kekasih hasil dari kerja
kerasnya menjadi pengganggu hubungan orang lain.
Dengan angkuhnya, Deborah melewati Lobby perusahaan. Hampir seluruh karyawan di perusahaan itu
mengetahui siapa Deborah. Dan hampir semuanya tahu bahwa wanita itu baru saja
menggeser Stefa dari posisi kekasih bosnya.
Deborah masuk ke dalam lift khusus, dan langsung menekan tombol angka yang menunjukkan lantai kantor
Marshal.
Saat tiba disana, Deborah langsung keluar dari lift. Berjalan seolah sedang di atas red carpet, meliuk-liukkan tubuhnya seperti sedang melakukan pertunjukan fashion show.
Deborah langsung membuka pintu ruangan Marshal. Membuat si pemilik ruangan itu langsung mengalihkan
pandangannya dari komputer pada dirinya. Dengan santainya ia duduk di atas
pangkuan Marshal yang masih setia berada di atas kursi kebanggaannya.
“Aku merindukanmu, sayang.” ucap Deborah dengan nada menggodanya serta tangan yang sedang menyentuh
rahang Marshal.
“Aku juga merindukanmu.” balas Marshal sambil melingkarkan lengannya di pinggang ramping
milik Deborah.
Mereka melakukan ciuman panas yang singkat. Deborah mengusap perutnya yang kini tengah mengandung.
Rahimnya kini sedang menampung sebuah janin hasil dari benih bercintanya.
Marshal menyusul untuk mengusap perut itu yang masih terlihat rata.
“Oh baby, cepatlah lahir ke dunia ini.. Mom dan dad sudah tidak sabar bertemu denganmu..”
Mendengar itu, Marshal langsung menjauhkan tangannya dari perut Deborah. Seolah ada sesuatu yang
membuat dirinya tidak suka dengan kalimat yang baru saja Deborah ucapkan.
“Kenapa?” tanya Deborah saat Marshal melepaskan tangannya dari perutnya.
__ADS_1
Marshal langsung berdiri, membuat Deborah yang berada di atas pangkuannya hampir tersungkur
jatuh ke bawah karena tindakan Marshal yang tiba-tiba saja berdiri tanpa
aba-aba.
“Kau ingin aku keguguran, huh?” pekik Deborah.
“Pulanglah!” ucap Marshal yang tidak menghiraukan ucapan kekasihnya.
Deborah terbelalak mendengar kalimat yang menunjukkan bahwa Marshal baru saja mengusirnya dari
sana.
“Kau mengusirku?”
“Aku bukan mengusirmu.. aku hanya ingin kau pulang!”
“Kenapa? Bukankah kau juga merindukanku?” Deborah melunak, ia kembali mendekati kekasihnya dan mulai
membuat lingkaran-lingkaran abstrak di dada bidang milik Marshal.
Marshal menghempaskan tangan milik kekasihnya dengan sedikit kasar. Ia tidak suka, entah kenapa kini
ada perasaan tidak suka dan tidak nyaman saat Deborah ada di sampingnya. Tak
Membuat amarah Deborah kembali tersulut yang sempat mereda. Putaran adegan saat mereka tengah bercinta
dan tidur bersama saat Marshal berulang kali menyebut nama Stefa membuatnya
semakin marah.
Pertengkaranpun tak terhindarkan. Segala caci maki dan berbagai kalimat pedas di layangkan oleh
Deborah. Marshal memijit pelipisnya, kepalanya mendadak terasa pening karena
mendengar amukkan kekasihnya itu.
“Aku sedang mengandung anakmu, dan kau masih saja menginginkan wanita sialan itu hah?”
“Aku tidak menginginkannya! Tapi kau terus saja menyudutkan dan menuduhku kalau aku terus
saja menginginkannya. Bahkan saat bercinta pun, kita menikmatinya berdua.”
__ADS_1
“Ya kau memang menikmatinya. Menikmati dengan membayangkan kau sedang bercinta dengan mantan
kekasih sialanmu itu kan?” sinis Deborah.
“Kau! Sudahlah. Kamu sebaiknya pulang. Aku sibuk..” Marshal meninggalkan Deborah sendirian di dalam
ruang kerjanya.
Perubahan sikap Marshal membuat Deborah sedikit ketakutan. Ia takut jika Marshal berubah dan pergi
meninggalkannya dan mulai berbalik arah kembali pada wanita yang bernama Stefa.
Dengan berat hati, Deborah meninggalkan ruangan Marshal yang sudah di dahului
oleh si pemilik ruangan.
Tidak ada salahnya kita mencintai seseorang, bahkan jika orang itu pun telah memiliki pasangan. Tapi
semua itu akan salah jika kita berani mengusik milik orang lain. Jangan
salahkan takdir yang akan datang menghanpirimu, membalaskan apa yang sebelumnya
kita perbuat kepada orang lain.
Itulah yang dirasakan Deborah, ia tidak salah mencintai dan ingin memiliki Marshal yang sebelumnya
memiliki kekasih, Stefa. Tapi merebut Marshal dan merusak hubungannya dengan
kekasihnya sudah jelas salah.
Dan kini takdir seolah sedang membalaskannya kepada dirinya sendiri. Dulu, jauh sebelum Deborah
menjadi kekasih Marshal. Ia begitu yakin akan bersanding selamanya dengan
pujaan hatinya. Tapi kini, ia kembali menyalahkan Stefa sebagai pengganggu
hubungannya.
Padahal sudah jelas bahwa pengganggu sekaligus perusak hubungan orang lain adalah dirinya. Bahkan
Stefa pun, tidak tahu menahu sejak kapan dan dimana Deborah dan Marshal
mengenal dan menjalin hubungan gelap di belakangnya.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan wanita jalang itu merebut kembali priaku..” gumam Deborah dengan
seringai menakutkan.