
Marshal yang sudah kembali mendapatkan kesadarannya dari rasa sakit di area alat vitalnya, segera
meninggalkan kamar Stefa. Dia tahu jika Judith berada di sebelah kamar Stefa,
tapi dia yakin bahwa Stefa tidak mungkin melarikan diri ke kamar Judith.
Marshal berjalan terseok-seok ka arah lift, alat vitalnya masih merasakan berdenyut akibat
tendangan Stefa. Buru-buru ia menekan tombol lantai dasar, ia harus mendapatkan
kembali Stefa-nya.
Stefa yang sudah berada di lantai dasar, buru-buru berlari keluar area Hotel itu. Stefa tidak tahu
tujuannya kemana, yang terpenting adalah dirinya harus kabur dari kejaran
Marshal. Orang-orang yang berada di Lobby melihat Stefa dengan aneh dan
mencibir.
“Ms. Stefa! Ms. Stefa!” teriak resepsionis yang melihat Stefa berlari keluar dengan pakaiannya yang
sudah tidak pantas.
Teriakkan resepsionispun Stefa abaikan, ia tidak ingin menyahuti teriakkan wanita itu.
Jika dirinya menyahuti teriakkan itu, Marshal akan segera menemukannya. Ia
terus berlari keluar untuk menyelematkan dirinya.
“Hubungi pak Revaldo, sekarang! Tamu penting kita sepertinya sedang mendapatkan masalah, cepat!”
titah salah satu resepsionis lainnya.
Resepsionis itu menelepon Revaldo, mencoba untuk memberitahukan bahwa tamu penting mereka terlihat
sedang tidak baik-baik saja. Namun panggilan itu tidak terjawab sama sekali,
semua orang yang ada di area resepsionis tampak terlihat gusar dan cemas.
Stefa terus berlari menjauh dari area Hotel tanpa menengok ke belakang sedikitpun. Merasa sudah
cukup jauh dan aman, Stefa menghentikkan langkahnya. Nafasnya tersengal-sengal
akibat lari tanpa henti untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran mantan
brengseknya.
Stefa duduk di pinggiran jalan, meluruskan kakinya yang terasa pegal. Stefa menyalakan
handphonenya, untung saja handphonenya sempat ia bawa tadi. Stefa mencari nomor
Judith dan segera menghubunginya.
“Halo, Stefa?” ucap Judith yang sudah menjawab panggilan dari Stefa.
“Judith. A-aku.. aku..” isak tangispun pecah kembali.
__ADS_1
Judith yang mendengar suara Stefa yang seperti sedang menangispun menjadi panik.
“Stefa, ada apa? Kau dimana?” tanya Judith dengan nada paniknya.
“Aku di luar.. Kumohon, kemarilah!” ucap Stefa dengan suara seraknya akibat menangis.
“Kau dimana sekarang? Aku akan kesana?”
“Aku tidak tahu, aku tadi lari dari Hotel. Dia, dia datang Judith. Dia datang menemuiku, dan..dan
dia.. dia..” Stefa tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Terasa sakit di dadanya.
“Tunggu aku, aku akan mencarimu. Aktifkan GPSmu, aku akan menyuruh seseorang untuk melacak
keberadaanmu!” seru Judith.
Panggilan teleponpun terputus. Segera Stefa menyalakan GPSnya untuk mempermudah Judith mencari
keberadaannya. Stefa memeluk lututnya sambil menangis, ia ketakutan sekarang.
Tak henti-hentinya Stefa memperhatikan ke sekelilingnya, takut jika Marshal
menemukannya secepatnya. Tangan Stefa berusaha menutupi bagian tubuhnya yang
terbuka akibat bajunya yang dirobek Marshal tadi.
Sebuah lampu mobil menyorot tubuh Stefa yang masih duduk di pinggiran jalan. Stefa menghalangi
sorot lampu itu dengan tangannya agar tidak terlalu silau. Sebuah langkah kaki
terdengar di telinga Stefa.
Mendengar suara seorang pria, otak Stefa seolah mengirimkan sinyal bahaya. Dan secara refleks Stefa
memundurkan tubuhnya yang sedang duduk, Mencoba menjauh dari pria yang mencoba
mendekatinya. Tubuh Stefa kembali menggigil ketakutan saat suara pria itu menyebut
kembali namanya dan langkahnya seolah semakin mendekat.
“Stefa? Kau kah itu?” suara pria itu semakin dekat dengan Stefa.
“Tidak. Kumohon jangan mendekat! Pergi! Pergi!” teriak Stefa histeris saat langkah pria itu semakin
mendekat.
Stefa langsung bangkit dari posisi duduknya. Ia sudah siap untuk lari sekencang-kencangnya jika pria
itu akan menyakitinya seperti Marshal yang menyakitinya. Melihat ketakutan yang Stefa
alami, pria itu semakin mendekat mencoba meraih Stefa.
Greebb.
Pria itu memeluk tubuh Stefa yang menegang. Stefa langsung meronta-ronta dan berteriak meminta tolong,
ia tidak ingin diperlakukan kasar apalagi dilecehkan. Air matanya tak
__ADS_1
henti-hentinya mengalir.
“Stefa , tenanglah! Ini aku, Revaldo.” Ucap pria itu menenangkan.
Mendengar nama Revaldo, Stefa mulai berhenti meronta-ronta dan menghentikkan tangisannya. Ia mulai
mengangkat wajahnya untuk menatap pria yang menyebutkan nama Revaldo.
“Re-Revaldo?” ucap Stefa terbata.
“Ya. Ini aku. Tenanglah!” Revaldo mencoba menenangkan Stefa kembali, memeluk tubuh Stefa
semakin erat dan mengelus kepalanya supaya Stefa merasa aman di dalam
pelukannya.
Tangis Stefa pecah kembali. Kali ini tangisannya karena merasa lega, karena seseorang yang ia
kenal telah ada di hadapannya memberikan perlindungan dengan memeluknya. Stefa
mengeratkan pelukannya di pinggang Revaldo. Air matanya membuat baju Revaldo
basah.
“Tolong aku! Aku takut.” Ucap Stefa dengan suara gemetarnya.
“Tenanglah! Kau akan baik-baik saja. Kau ingin kembali ke Hotel?” tanya Revaldo.
Stefa menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin kembali lagi ke Hotel itu, tidak untuk saat ini.
Revaldo mengangguk mengerti, ia langsung membawa Stefa masuk ke dalam mobilnya.
Mengarahkan sopirnya untuk mengantar mereka ke rumah milik Revaldo yang tak
jauh dari lokasi mereka saat ini.
Revaldo masih setia memeluk tubuh Stefa, mengusap-usap lengan Stefa untuk memberikan kenyamanan
agar Stefa tidak lagi ketakutan. Sebelumnya, Judith menelepon Revaldo untuk
meminta tolong. Menceritakan apa yang terjadi dengan Stefa saat Stefa meneleponnya,
mengatakan bahwa seseorang yang tidak sempat disebutkan namanya oleh Stefa
telah datang menemuinya.
Revaldo langsung menyuruh seseorang untuk melacak keberadaan Stefa. Dan akhirnya, Revaldo
berhasil menemukan Stefa yang sedang duduk di pinggiran jalan sambil memeluk
lututnya dan menangis.
Rahang Revaldo mengetat, hatinya terasa sakit saat menemukan Stefa dalam keadaan seperti itu.
Jas yang ia kenakan, digunakan untuk menutupi tubuh bagian atas Stefa yang
terbuka. Tubuh Stefa terasa lelah dan letih, ia tidak mampu lagi untuk bergerak
__ADS_1
terlalu banyak. Seluruh badannya terasa sakit, dan matanya mulai mengantuk.