My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 15 Kabur


__ADS_3

Marshal yang sudah kembali mendapatkan kesadarannya dari rasa sakit di area alat vitalnya, segera


meninggalkan kamar Stefa. Dia tahu jika Judith berada di sebelah kamar Stefa,


tapi dia yakin bahwa Stefa tidak mungkin melarikan diri ke kamar Judith.


Marshal berjalan terseok-seok ka arah lift, alat vitalnya masih merasakan berdenyut akibat


tendangan Stefa. Buru-buru ia menekan tombol lantai dasar, ia harus mendapatkan


kembali Stefa-nya.


Stefa yang sudah berada di lantai dasar, buru-buru berlari keluar area Hotel itu. Stefa tidak tahu


tujuannya kemana, yang terpenting adalah dirinya harus kabur dari kejaran


Marshal. Orang-orang yang berada di Lobby melihat Stefa dengan aneh dan


mencibir.


“Ms. Stefa! Ms. Stefa!” teriak resepsionis yang melihat Stefa berlari keluar dengan pakaiannya yang


sudah tidak pantas.


Teriakkan resepsionispun Stefa abaikan, ia tidak ingin menyahuti teriakkan wanita itu.


Jika dirinya menyahuti teriakkan itu, Marshal akan segera menemukannya. Ia


terus berlari keluar untuk menyelematkan dirinya.


“Hubungi pak Revaldo, sekarang! Tamu penting kita sepertinya sedang mendapatkan masalah, cepat!”


titah salah satu resepsionis lainnya.


Resepsionis itu menelepon Revaldo, mencoba untuk memberitahukan bahwa tamu penting mereka terlihat


sedang tidak baik-baik saja. Namun panggilan itu tidak terjawab sama sekali,


semua orang yang ada di area resepsionis tampak terlihat gusar dan cemas.


Stefa terus berlari menjauh dari area Hotel tanpa menengok ke belakang sedikitpun. Merasa sudah


cukup jauh dan aman, Stefa menghentikkan langkahnya. Nafasnya tersengal-sengal


akibat lari tanpa henti untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran mantan


brengseknya.


Stefa duduk di pinggiran jalan, meluruskan kakinya yang terasa pegal. Stefa menyalakan


handphonenya, untung saja handphonenya sempat ia bawa tadi. Stefa mencari nomor


Judith dan segera menghubunginya.


“Halo, Stefa?” ucap Judith yang sudah menjawab panggilan dari Stefa.


“Judith. A-aku.. aku..” isak tangispun pecah kembali.

__ADS_1


Judith yang mendengar suara Stefa yang seperti sedang menangispun menjadi panik.


“Stefa, ada apa? Kau dimana?” tanya Judith dengan nada paniknya.


“Aku di luar.. Kumohon, kemarilah!” ucap Stefa dengan suara seraknya akibat menangis.


“Kau dimana sekarang? Aku akan kesana?”


“Aku tidak tahu, aku tadi lari dari Hotel. Dia, dia datang Judith. Dia datang menemuiku, dan..dan


dia.. dia..” Stefa tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Terasa sakit di dadanya.


“Tunggu aku, aku akan mencarimu. Aktifkan GPSmu, aku akan menyuruh seseorang untuk melacak


keberadaanmu!” seru Judith.


Panggilan teleponpun terputus. Segera Stefa menyalakan GPSnya untuk mempermudah Judith mencari


keberadaannya. Stefa memeluk lututnya sambil menangis, ia ketakutan sekarang.


Tak henti-hentinya Stefa memperhatikan ke sekelilingnya, takut jika Marshal


menemukannya secepatnya. Tangan Stefa berusaha menutupi bagian tubuhnya yang


terbuka akibat bajunya yang dirobek Marshal tadi.


Sebuah lampu mobil menyorot tubuh Stefa yang masih duduk di pinggiran jalan. Stefa menghalangi


sorot lampu itu dengan tangannya agar tidak terlalu silau. Sebuah langkah kaki


terdengar di telinga Stefa.


Mendengar suara seorang pria, otak Stefa seolah mengirimkan sinyal bahaya. Dan secara refleks Stefa


memundurkan tubuhnya yang sedang duduk, Mencoba menjauh dari pria yang mencoba


mendekatinya. Tubuh Stefa kembali menggigil ketakutan saat suara pria itu menyebut


kembali namanya dan langkahnya seolah semakin mendekat.


“Stefa? Kau kah itu?” suara pria itu semakin dekat dengan Stefa.


“Tidak. Kumohon jangan mendekat! Pergi! Pergi!” teriak Stefa histeris saat langkah pria itu semakin


mendekat.


Stefa langsung bangkit dari posisi duduknya. Ia sudah siap untuk lari sekencang-kencangnya jika pria


itu akan menyakitinya seperti Marshal yang menyakitinya. Melihat ketakutan yang Stefa


alami, pria itu semakin mendekat mencoba meraih Stefa.


Greebb.


Pria itu memeluk tubuh Stefa yang menegang. Stefa langsung meronta-ronta dan berteriak meminta tolong,


ia tidak ingin diperlakukan kasar apalagi dilecehkan. Air matanya tak

__ADS_1


henti-hentinya mengalir.


“Stefa , tenanglah! Ini aku, Revaldo.” Ucap pria itu menenangkan.


Mendengar nama Revaldo, Stefa mulai berhenti meronta-ronta dan menghentikkan tangisannya. Ia mulai


mengangkat wajahnya untuk menatap pria yang menyebutkan nama Revaldo.


“Re-Revaldo?” ucap Stefa terbata.


“Ya. Ini aku. Tenanglah!” Revaldo mencoba menenangkan Stefa kembali, memeluk tubuh Stefa


semakin erat dan mengelus kepalanya supaya Stefa merasa aman di dalam


pelukannya.


Tangis Stefa pecah kembali. Kali ini tangisannya karena merasa lega, karena seseorang yang ia


kenal telah ada di hadapannya memberikan perlindungan dengan memeluknya. Stefa


mengeratkan pelukannya di pinggang Revaldo. Air matanya membuat baju Revaldo


basah.


“Tolong aku! Aku takut.” Ucap Stefa dengan suara gemetarnya.


“Tenanglah! Kau akan baik-baik saja. Kau ingin kembali ke Hotel?” tanya Revaldo.


Stefa menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin kembali lagi ke Hotel itu, tidak untuk saat ini.


Revaldo mengangguk mengerti, ia langsung membawa Stefa masuk ke dalam mobilnya.


Mengarahkan sopirnya untuk mengantar mereka ke rumah milik Revaldo yang tak


jauh dari lokasi mereka saat ini.


Revaldo masih setia memeluk tubuh Stefa, mengusap-usap lengan Stefa untuk memberikan kenyamanan


agar Stefa tidak lagi ketakutan. Sebelumnya, Judith menelepon Revaldo untuk


meminta tolong. Menceritakan apa yang terjadi dengan Stefa saat Stefa meneleponnya,


mengatakan bahwa seseorang yang tidak sempat disebutkan namanya oleh Stefa


telah datang menemuinya.


Revaldo langsung menyuruh seseorang untuk melacak keberadaan Stefa. Dan akhirnya, Revaldo


berhasil menemukan Stefa yang sedang duduk di pinggiran jalan sambil memeluk


lututnya dan menangis.


Rahang Revaldo mengetat, hatinya terasa sakit saat menemukan Stefa dalam keadaan seperti itu.


Jas yang ia kenakan, digunakan untuk menutupi tubuh bagian atas Stefa yang


terbuka. Tubuh Stefa terasa lelah dan letih, ia tidak mampu lagi untuk bergerak

__ADS_1


terlalu banyak. Seluruh badannya terasa sakit, dan matanya mulai mengantuk.


__ADS_2