My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 42 News


__ADS_3

            Ke esokan harinya, Stefa dibangun ‘kan oleh dering handphone yang tak henti-hentinya sejak beberapa menit yang lalu. Sampai ia terbangun dan mengerjap ‘kan matanya berulang kali. Ia membenar ‘kan posisi tubuhnya dan bersandar ke kepala ranjang sebelum meraih benda tipis itu dari atas nakas.


            Lianne Calling...


            “Yak, Stefa!!” teriak wanita di seberang sana saat panggilannya tersambung. Suara yang terdengar melengking itu membuat Stefa menjauh ‘kan tangan yang sedang memegang handphone-nya dari telinga.


            “Jangan teriak-teriak, aku masih bisa mendengarmu dengan baik!” gerutu Stefa.


            “Lihatlat berita di televisi! Wajahmu memenuhi seluruh stasiun televisi, sosial media, koran dan masih banyak lagi. Bahkan billboard-billboard hampir menampilkan wajahmu itu dengan pakaian yang seksi. Apa yang kau tutupi dariku, huh?” wanita itu terus saja menyerocos tanpa ada titik atau pun koma untuk pemisah kata perkatanya membuat Stefa mengurut pelipisnya.


            “Apa yang kau bicarakan aku tak mengerti.” Keluh Stefa.


            Wanita itu berdecak karena ketololan Stefa. “Buka handphone-mu atau nyalakan televisimu wanita bodoh!”


            Stefa langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja dan menuruti apa kata Lianne dan langsung menyalakan televisi yang ada di dalam kamar. Wanita itu terkejut melihat wajahnya memenuhi layar televisi sesuai dengan yang dikatakan Lianne.


            Ia mengganti-ganti saluran televisi yang hampir kesemuanya memasang wajah Stefa. Ia langsung mengecek sosial media miliknya dan benar saja. Ia menjadi berita utama di pagi hari. Hampir seluruh penjuru negeri memasang foto dirinya, foto yang kemarin diambil saat latihan pemotretan.


            Buru-buru Stefa bangun dan mengenakan jubah tidurnya turun ke bawah mencari Paman dan Tantenya untuk meminta penjelasan apa yang terjadi. Ia berlari menuruni anak tangga hampir membuatnya tersungkur beberapa kali karena terburu-buru ingin mewawancarai Pamannya itu.


            “Hei, hei. Jangan lari-lari!” teriak Charlote yang baru saja ke luar dari kamar tidurnya.


            “Paman di mana?” Stefa langsung memburu Charlote dengan pertanyaannya.


            “Dia sudah pergi ke kantor. Ada apa?” tanyanya sekali lagi.


            Melihat Stefa yang seperti sedang kalang kabut membuat Charlote sedikit khawatir. Pasalnya, ia juga tidak tahu mengenai wajah Stefa yang sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia itu. Hanya Ken yang bisa dimintai keterangan olehnya.

__ADS_1


            Stefa langsung berlari kembali menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Buru-buru ia masuk ke dalam kamar mandi, ia berniat untuk menemui Ken di kantornya. Setelah semuanya selesai, ia langsung meraih tas kecil miliknya dan berlalu begitu saja tanpa meminta izin pada Charlote.


            Selama di perjalanan, ia mencoba menghubungi Pamannya namun tak kunjung ada jawaban. Ia sibuk menggigiti kuku ibu jarinya sendiri dan terlihat sedikit resah.


            “Nona, apa Nona seorang artis? Kulihat sepanjang jalan wajahmu memenui papan iklan.” Ucapan sang sopir taksi membuat Stefa menatap pria itu.


            “Bukan. Aku tidak.” jawabnya singkat dan kembali menggigiti kuku ibu jarinya.


            “Tapi aku rasa Nona memang seorang artis.” Gumam sopir taksi itu yang masih bisa di dengar oleh Stefa.


            Setelah taksi itu berhenti tepat di Lobby perusahaan agensi model yang akan menaungi Stefa, ia langsung membayar tagihan taksi dan langsung berlari. Tak perlu ia menanyakan kepada resepsionis perihal keberadaan Pamannya. Ia langsung melesak naik menuju ruang kerja pribadi Ken.


            Beruntung saja di sana, Ken sedang duduk menghadap laptop saat ia tiba di ruang kerja milik Ken.


            “Paman, kenapa seluruh mukaku ada di papan iklan, bahkan sosial media pun penuh dengan wajahku.” Cecar Stefa tanpa mau berbasa-basi lagi dengan Pamannya.


            “Paman hanya mengatakan pada pihak wartawan bahwa perusahaan Paman memiliki seorang model yang akan segera hadir. Dan BOOM, semua media langsung bekerja cepat. Lihatlah, tangan-tangan para pencari berita bekerja begitu cepat!”


            “Tapi, Paman. Ini tidak sesuai dengan kesepakatan kita.” Keluh Stefa lagi.


            “Tak ada yang salah, karena setiap model yang bekerja sama denganku cepat atau lambat akan terjun ke dunia yang sesungguhnya.”


            “Oh ya, ada perusahaan yang ingin mengontrakmu menjadi salah satu model pakaian bikini mereka. Kebetulan perusahaan itu ada di London, kau mau mengambilnya atau tidak?” belum juga Stefa bernapas dengan lega, kini ia di kejutkan dengan berita bahwa ia ditawari kontrak sebuah perusahaan bikini.


            Ken menjelaskan hal apa saja yang akan ia lakukan nantinya. Menjelaskan perihal perusahaan pembuat pakaian bikini itu. Perusahaan itu cukup terkenal dengan model-model bikini yang laris di kalangan kaum hawa. Bahkan bikini yang mereka pasar ‘kan pun sudah masuk ke beberapa negara penggemar bikini seksi.


            Stefa menimang-nimang tawaran itu sampai ia kembali ke rumah. Sesampainya di sana, ia mulai menceritakan pada Tantenya untuk meminta saran atas sikap apa yang harus ia ambil. Ia merasa ini terlalu cepat, seluruh wajahnya benar-benar memenuhi papan iklan dan sebagainya.

__ADS_1


            Tak henti sampai di situ, ia kini di berondong seribu pertanyaan oleh Lianne dan juga Judith sebagai sekretarisnya. Kabar menghebohkan tentang dirinya yang menjadi sorotan publik kini sudah menyebar luas di seluruh penjuru kantornya yang ada di London. Berulang kali pula Judith menjadi sumber jawaban para wartawan yang datang ke sana mencoba mencari keterangan dari Stefa atau pun orang yang dekat dengannya.


            Sudah dari pagi para wartawan itu memenuhi jalanan menuju Lobby kantor The Fritz Group. Bahkan kini, di balik gerbang berwarna pekat milik Tantenya pun ikut diserbu oleh para wartawan yang ingin mewawancarainya.


            “Astaga. Aku pikir hidupku sebentar lagi akan semakin berantakan.” Keluhnya cemas mengintip ke luar rumah dari balik tirai kamarnya. Ia melihat di luar sana banyak sekali wartawan.


            “Kau akan terbiasa dengan itu.” Charlote masuk ke dalam kamar Stefa dan mengusap pundak Stefa untuk memberikan dukungan padanya. Stefa hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ini begitu di luar dugaannya, ia pikir ia hanya melakukan pemotretan biasa.


            Namun, Pamannya yang masih terlihat tampan itu malah membuat ulah dan menghebohkan seluruh negeri dengan memasang mukanya di papan iklan, sosial media, koran dan lain sebagainya.


            Ya, anggap saja ini sebagai awal permulaan untuknya. Sebagai gambaran bahwa di masa yang akan datang cepat atau lambat kehidupannya akan sama persis seperti sekarang. Langkah kakinya tak akan lagi menjadi miliknya, rahasia hidupnya tak akan lagi tersimpan dengan baik, bahkan untuk bernapas pun bukan lagi hal yang bisa dengan leluasanya ia lakukan.


            Mulai saat ini kehidupan pribadinya bukan lagi miliknya, tapi akan menjadi milik semua orang. Para pencari berita akan memburu berita tentang dirinya, baik kehidupan pribadi, karir, bahkan tak luput kisah percintaannya pun tak akan lagi menjadi miliknya.


            Benarkah semua ini yang terbaik untuk dirinya atau malah sebaliknya? Untuk saat ini ia merasa ragu atas


keputusan yang telah ia ambil dengan menanda tangani kontrak di bawah perusahaan milik Pamannya itu. Ken yang sudah tahu bahwa para pencari berita sudah mengerubungi rumahnya, hanya memberikan instruksi agar mereka tak ke luar rumah untuk sementara waktu sampai keadaan kembali tenang.


            Ken berencana untuk mengadakan konferensi pers mengenai kehadiran Stefa yang kini statusnya sudah berganti menjadi calon seorang model. Tiga hari ke depan, konferensi pers itu pun akan di gelar di perusahaannya.


            Yoshida Models adalah perusahaan yang bergerak di bidang permodelan, terdiri dari model pria dan model wanita. Perusahaan itu sudah cukup lama bergerak di bidangnya, dan sudah melahirkan model-model berbakat. Sebagian besar model yang bekerja di sana sudah menembus ke jenjang Go International.


            Kebanyakan pula, Yoshida Models bekerja sama dengan beberapa perusahaan pakaian dengan merk terkenal dan perusahaan-perusahaan make up. Sejak pemberitaan mengenai Stefa, Yoshida Model dibanjiri dengan tawaran kerja sama untuk produk kecantikan yang berasal dari negeri ginseng.


            Korea Selatan yang terkenal dengan berbagai jenis make up dan skincare-nya itu, menawarkan kerja sama yang menguntungkan untuk Yoshida Models dan juga Stefa yang ingin mereka kontrak. Wajah bulenya yang


bersih dan terlihat sangat sehat itu, semakin menguatkan mereka untuk mendapatkan kontrak dengan Stefa

__ADS_1


__ADS_2