
Bab 4
Hari Yang Menyebalkan
“ Ms.
Agatha, ini sudah jam makan siang. Apa anda ingin makan bersama di kantin? “
ajak Judith
“ Oh
astaga, Judith. Aku hampir saja melupakan jam makan siangku. Baiklah, ayo kita
makan bersama. Rasanya hari ini aku membutuhkan asupan makanan yang banyak. “
Judith
terkekeh mendengar ucapan Stefa, menurutnya itu sangat lucu. Sebenarnya, Judith
sempat mendengar sedikit pembicaraan atasannya itu dengan wanita yang mengaku
sebagai Deborah Anastasia.
Dan
tentu saja Judith tercengang mendengar itu, betapa kasihannya Stefa saat ini.
Tapi Judith lebih kesal dengan wanita yang bernama Deborah itu. ‘ Dasar wanita
ulang’ batin Judith.
Mereka
pergi ke area kantin karyawan. Di perusahaan The Fritz Group, yang dinamakan
kantin karyawan adalah surganya makanan. Tidak seperti kantin karyawan
kebanyakan, disana semua jenis makanan dan minuman tersedia.
Cukup
menunjukkan ID Karyawan maka mereka
bisa memakan sepuasnya setelah pembelian pertama. Mereka diperbolehkan untuk
mencicipi atau memakan semua yang ada disana. Memang perusahaan itu lebih
mengutamakan kesejahteraan karyawan nya.
“ Ms.
Agatha sepertinya disana tinggal sisa satu meja yang kosong. Saya akan
mengambilkan beberapa makanan dan minuman untuk kita, sebaiknya anda segera
duduk disana! “
“
Baiklah, aku akan kesana. Dan jangan lupa, panggil aku Stefa saat kita berada
di luar jam kerja! “
Stefa
selalu tidak suka di panggil dengan embel-embel Ms. Atau tanda hormat lainnya.
Ia lebih senang di panggil dengan sebutan Stefa. Menurutnya itu lebih
memudahkan dirinya dekat atau akrab dengan orang lain.
Stefa
segera duduk di meja kosong yang sebelumnya ditunjuk oleh Judith. Ia mengambil
handphone nya dari dalam saku rok span yang ia kenakan. Saat ini, Stefa sudah
menggunakan nomor yang baru. Memang sekretarisnya itu selalu bisa di andalkan.
Saat
membuka handphone nya, Stefa mendapati sebuah pesan dari nomor yang tidak ia
kenal. Apakah itu pesan dari orang yang semalam mengirimkan bukti-bukti
menjijikan itu?
Dengan
hati yang penasaran, ia segera membuka pesan itu.
‘ Kau sendirian? Jika kau mau, aku akan
menemanimu makan siang. ‘
Stefa
mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti maksud dari pesan itu. Lebih tepatnya
tidak mengerti maksud dan tujuan si pengirim pesan. Konyol.
Stefa mengabaikan
pesan singkat itu. Baru saja Stefa ingin mematikan handphone nya, sebuah pesan
kembali masuk ke handphone miliknya.
‘ Kau yakin tidak mau aku temani?
Sepertinya kau memang butuh teman mengobrol. ‘
“
Astagaaaa. Siapa yang mengirim pesan konyol seperti ini? Apa dia tidak memiliki
kerjaan lain? “ gerutu Stefa
Tak lama
seseorang datang menghampirinya, dan membuat Stefa mengalihkan pandangan nya
__ADS_1
dari handphone ke seseorang yang baru saja menarik kursi di depannya.
“
Bolehkah saya duduk disini ? “ tanya orang itu
“ Oh
tentu. Anda makan siang sendirian ? “ tanya Stefa
“ Ya
begitulah. “ jawab singkat orang itu
Stefa
hanya mengangguk. Dan segera memasukkan handphone nya kembali ke dalam rok span
nya.
Tak
lama, Judith datang dengan membawa beberapa makanan dan minuman. Judith hanya
mengambil beberapa makanan ringan dan manis.
“ Mr.
David ? “ tanya Judith tak percaya
“ Ya.
Anda memanggil saya ? “ tanya orang itu yang dipanggil dengan sebutan David
“ A-apa
yang anda lakukan disini? Ah, maksud saya anda duduk bersama kami? “ tanya
Judith lagi masih tak percaya bahwa si pemilik perusahaan tengan duduk satu
meja dengan dirinya dan juga Stefa.
Sungguh
ini moment yang sangat langka, dan
sangat sangat sangat jarang sekali terjadi. Seorang pemilik perusahaan mau
makan di kantin karyawan. Terlebih lagi, pemilik perusahaan itu mau duduk satu
meja dengan bawahannya.
Stefa
menikmati makanan yang dibawakan oleh Judith, ia mengabaikan si pemilik
perusahaan. Berbeda dengan Judith, ia nampak gugup karena kini di depannya si
pemilik perusahaan nampak memperhatikan mereka makan.
“ Anda
yang sedari tadi dirinya menyadari bahwa David sedang memperhatikannya.
“ Tidak.
Saya masih kenyang. “ jawabnya singkat
Stefa
hanya beroh-ria mendengar jawaban
singkat dari bosnya itu.
“
Judith, aku pergi duluan. Kau bisa menyelesaikan makan siangmu terlebih dahulu.
Mr. David, permisi! “ Stefa meninggalkan kedua makhluk yang kini tengah
menatapnya pergi menjauh dari area kantin.
“ Kalau
begitu saya juga permisi Mr. David. “ Judithpun berdri, menyusul Stefa yang
sudah beberapa menit yang lalu meninggalkannya seorang diri di kantin dengan si
pemilik perusahaan.
David hanya
memperhatikan Judith yang tengah meninggalkannya. Seringaiannya muncul di
bibirnya. David segera berdiri dan ikut meninggalkan kantin karyawan.
Di dalam
ruangan kerja Stefa, Stefa terlihat sedang murka. Pasalnya, manusia tidak tahu
malu dan menjijikan itu tengah hadir di hadapannya saat ini. Siapa lagi kalau
bukan pria yang bernama Marshal Elouis Baraq.
Pria
yang telah menyakitinya di hari pertunangannya kemarin malam. Pria yang tengah
bercumbu panas dengan wanita yang bernama Deborah Anastasia. Tidak sadarkah
jika semua adegannya tengah direkam? Atau itu memang atas keinginan Marshal?
“
Bisakah kamu pergi dari ruanganku Mr. Baraq? “ ketus Stefa
Marshal
hanya terkekeh mendengar nada tak bersahabat dari kekasihnya itu. Ah ralat.
Mantan kekasih sekaligus mantan tunangan yang baru saja kemarin malam tengah ia
__ADS_1
campakkan begitu saja karena lebih mengutamakan selingkuhannya itu.
“ Calm
babe! Aku hanya ingin memberi tahumu, jika aku akan menjadi seorang hot daddy, segera. “
“ Chh.
Menjijikan. Tidak tahu malu.
Yaaah,
selamat untuk anda Mr. Baraq. Sebentar lagi anda akan menjadi seorang HOT
DADDY. “ dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Dan lagi-lagi
Marshal terkekeh mendengarnya. Ia begitu senang mendengar nada tak bersahabat
dari Stefa. Ia merasa menang karena berhasil mematahkan hati Stefa. Dulu,
pernah beberapa kali Marshal meminta untuk melakukan kuda-kudaan kepada Stefa.
Namun Stefa mengabaikan semua keinginan Marshal.
Berulang
kali Stefa menjelaskan bahwa ia hanya ingin memberikan maskotanya saat sudah
resmi menjadi sepasang suami istri di mata hukum dan agama. Tapi tidak untuk
Marshal. Dan kali ini, mendengar Deborah sang kekasih tengah mengandung
benihnya. Marshal merasa menang.
Marshal
tidak tahu benih siapa yang tumbuh di dalam rahim Deborah. Bisa sajakan, jika
benih itu adakah benih orang lain bukan miliknya?
“ Mr.
Baraq, aku mohon pergilah dari ruanganku! “ Stefa sudah lelah dengan segala
kalimat provokasi yang dilontarkan oleh Marshal. Tidak tahukah Marshal, jika
saat ini Stefa begitu sakit hati? Begitu hancur saat pria yang ia cintai tengah
membanggakan perselingkuhannya?
“
Baiklah-baiklah. Aku akan pergi, jangan lupa untuk datang ke acara pernikahanku
dengan Deborah! Aku akan mengirimkan undangannya nanti. Sampai jumpa, sayang! “
Marshal pergi meninggalkan Stefa yang sedang mematung disana.
Stefa
menggebrak meja kerjanya. Ia benar-benar sudah murka dengan semuanya.
“ Dasar pria
sialan. Brengsek. “ umpat Stefa
Judith
segera masuk ke dalam ruangan Stefa saat Judith melihat seorang pria yang sudah
tidak asing baginya pergi meninggalkan ruangan Stefa dengan bahagianya. Judith
tahu, Stefa sedang tidak baik-baik saja. Pastinya.
“ Stefa,
are you okay? “ tanya Judith khawatir
“ I’m
okay, Judith. “
Stefa
mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya. Sedangkan Judith, ia lebih memilih
diam seribu bahasa dan meperhatikan tampang dinginnya Stefa.
“ Ada
apa Judith? “
“ Tidak
ada. Jika kau membutuhkan tempat curhat, kau bisa bercerita kepadaku. Itu akan
mengurangi bebanmu. “
“ Aku
baik-baik saja. Terima kasih. “
Judith
melupakan kesopanan nya saat mengetahui bahwa Stefa sedang tidak baik-baik
saja. Rupanya hari ini adalah hari yang menyebalkan untuk Stefa. Di hari yang
sama, wanita yang bernama Deborah datang ke ruangan itu dengan mengaku bahwa
dirinya tengah mengandung anak dari pria yang berhasil ia rebut dari Stefa.
Siangnya,
pria sialan itu datang menemui Stefa guna untuk menambah luka di hati Stefa.
Tidakkah mereka sangat keterlaluan? Tidak cukupkah Marshal meninggalkan bahkan
tidak hadir di acara pertunangannya dengan Stefa kemarin malam?
__ADS_1