My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 52 Possitive


__ADS_3

Jangan lupa mampir dan baca novel terbaru auhtor ya!! Dijamin ceritanya tak kalah bikin baper sebaper-bapernya. Hehehe


Oh iya, para readers yang mau kekepin babang Leo sama mbak Amanda boleh langsung chat admin via wa di 0818331696, atau kalian yang mau download eBOOk-nya.. Bisa langsung download di playstore ya.,


Makasih buat para readersku yang selama ini setia kasih dukungan buat auhtor, makasih juga yang udah kasih like, komen dan masukin ke cerita favorit kalian.. Jangan pelit-pelit setor koinnya ya.. Hohoho


Kok lama-lama author gak tahu diri gini ya?!!! 



***


2 bulan berikutnya..


            Matahari yang menyinari bumi dengan cahayanya di siang hari, memberikan kehangatan untuk semua makhluk hidup yang ada di muka bumi sampai merasuk ke dalam jiwa. Memberikan kenyamanan tersendiri untuk makhluk hidup yang ada di dalamnya. Tetapi tidak untuk Stefa, matahari yang bersinar terang benderang di luar sana tak memberikan kenyamanan untuk Stefa. Tak mampu menghangatkan hati Stefa yang sedang bersedih dan berada di atas kebimbangan yang nyata.


            Tentu saja ia harus bersedih karena pagi hari ia harus dihantam kenyataan bahwa kini ia sedang berbadan dua. Ia sempat membeli test pack di apotek yang dekat di sekitaran area apartemennya. Beruntung ia tak menemukan penguntit atau wartawan yang biasanya mengikuti Stefa secara diam-diam.


            Alat tes kehamilan itu mengeluarkan dua garis merah tanda bahwa Stefa benar-benar positif mengandung. Dengan masih diliputi rasa sedih dan bimbangnya Stefa akhirnya datang ke dokter kandungan untuk yang kedua kalinya di negara yang berbeda. Dokter mengatakan bahwa Stefa benar-benar sedang mengandung dengan usia kandungan satu setengah bulan.


            Rupanya alat tes kehamilan itu tidak berbohong dan hasilnya akurat, bahkan pernyataan dokter semakin menguatkan bahwa alat tes kehamilan itu tidak bermasalah. Lalu sekarang ia harus bagaimana? Tidak mungkin ia menggugurkan kandungannya itu, bayi mungil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya tidak berdosa sama sekali.


            Ia akan membesarkan bayi mungil itu dengan baik, menjadikan bayi itu tumbuh besar menjadi anak yang berkualitas. Ah, berkualitas ya? Ia jadi teringat perkataan ayah biologis dari si bayi yang ada di dalam rahimnya saat pria itu menanamkan benih berkualitas di dalam rahimnya. Pria itu pernah mengatakan bahkan terlampau sering mengatakan pada Stefa, jika Stefa telah mengandung bayi mungil yang akan tumbuh menjadi anak berkualitasnya maka ia akan bertanggung jawab.


            Lantas, Stefa harus mengatakan hal ini pada pria itu atau tidak? Tidak mungkin ia tiba-tiba datang ke hadapan pria itu lalu mengatakan “Hei, aku mengandung bayi berkualitasmu. Kau berhasil menanamkan benih berkualitasmu di dalam rahimku, maka dari itu. Kau harus menikahiku!” Ckk. Membayangkannya saja Stefa sudah mual duluan karena membayangkan wajah pria itu yang kegirangan mendapatkan apa yang dia inginkan.


            Well, well, well. Lupakan bagian wajah kegirangan pria itu. Sekarang pikirkan bagaimana ia memberi tahu ayah dari bayi berkualitas ini? Atau setidaknya bagaimana cara dia mengatakan yang sebenarnya dari awal sampai akhir pada Ken, Charlote dan juga Brianna? Dan tentunya pada sahabatnya, Lianne.


            Stefa pulang dari rumah sakit dengan membawa hasil pemeriksaannya dan foto hasil USG. Malam ini ia harus memikirkan cara dan merangkai kata sebelum bertemu dan berhadapan dengan ayah biologis benih unggul yang David tanamkan di dalam rahimnya. Ya, baiklah. Begitu saja dulu untuk sekarang.


***


            Hari minggu yang tenang membuat Stefa bermalas-malasan di atas ranjang empuk dan nyamannya, tubuhnya masih bergelung di dalam selimut tebal dan lembutnya. Bahkan sinar matahari yang menyelinap masuk dari celah-celah tirai tak membuat Stefa terganggung sama sekali. Ia begitu pulas dan terlelap di bawah selimutnya dengan suara dengkuran halus.


            Dering handphone yang terus berbunyi tanppa henti itu akhirnya mampu mengusik tidur pulas Stefa. Wanita itu mendengus kesal kemudian menggeliatkan tubuhnya, menarik tangannya ke atas dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena berada dalam posisi yang sama selama beberapa jam.

__ADS_1


            “Tidak bisakah aku mendapatkan libur berkualitasku selain mendapatkan bayi berkualitas, huh?” keluhnya dengan tangan yang bergerak mencoba meraih benda yang terus berbunyi.


            “Hol...”


            “OMG, kau lama sekali menjawab teleponku!” teriak si penelepon di seberang sana memotong sapaan yang belum sempat Stefa ucapkan sampai selesai.


            Stefa menjauhkan handphone-nya sesaat dan mengucek telinganya karena berdenging akibat mendengar suara teriakan si penelepon.


            “Ada berita besaaarr!!!” teriak si penelepon itu lagi.


            “Apa?” tanya Stefa singkat.


            Si penelepon itu berdecak kesal karena Stefa hanya mengeluarkan kata-kata yang tidak ia harapkan.


            “Apanya yang apa?” tanya si penelepon itu pada akhirnya.


            “Tentu saja yang barusan kau katakan tentang berita besar. Nah, jadi berita besarnya apa?” kali ini Stefa membuat si penelepon itu berdecak girang karena Stefa memberikan respon yang baik akan bahan gosip yang akan ia gosipkan dengan Stefa.


            “Kuberi tahu hal yang mampu membuatmu tertawa senang. Jadi berita besarnya adalah...” si penelepon itu sengaja menggantungkan kalimatnya.


            “Jadi berita besarnya adalah... Marshal dan Deborah BATAL BERTUNANGAAANN!” si penelepon itu berteriak histeris dengan tertawa terbahak-bahak merasa kesenangan saat mengatakan berita yang menurutnya itu berita besar.


            Stefa terdiam untuk sesaat setelah mendengar berita itu dari si penelepon yang tak lain adalah sahabatnya, Lianne. Lagipula kenapa wanita itu harus berteriak kegirangan seperti kesetanan? Jadi apa yang dikatakan oleh Lianne itu benarkah, atau hanya gosip yang numpang lewat dan bertujuan untuk menaikkan pamor Deborah saja?! Masa bodoh.


            “Kau mendengarku tidak, sih?” gerutu Lianne karena Stefa hanya diam saja.


            “Uhm.” Stefa berdeham pelan.


            “Bagaimana menurutmu tentang berita besar ini, huh? Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? Biar kutebak, kau pasti saat ini sedang bahagia dan ingin melompat-lompat dan memuntahkan ejekkan pada mantan sialanmu itu ‘kan?!”


            “Ckk, kau memang senang sekali menebak-nebak. Dasar biang gosip. By the way, kenapa mereka batal mengadakan acara pertunangan? Apa acaranya di undur atau bagaimana, aku sungguh tidak paham?!”


            “Hell! Memang kau tinggal di bumi bagian belahan mananya sampai kau tidak tahu berita besar ini. Bahkan batalnya pertunangan mereka sudah menyebar dan meluas ke seluruh dunia. Kau ‘kan punya televisi besar di tampatmu, kau punya handphone canggih untuk mencari berita itu di papan ketik pencari, kau juga punya laptop. Lantas apa gunanya itu kalau kau tidak tahu berita sebesar ini?! Lupakan saja! Jadi, dari berita yang ku tonton di televisi, Marshal membatalkan pertunangan itu karena masalah bayi yang di kandung Deborah. Rupanya wanita ular licik itu mengandung anak pria lain, wanita itu sering melakukan tidur bersama dengan banyak pria yang bahkan hampir semua yang ia ajak tidur memiliki bidang profesi yang sama dengannya.” Dengan panjang lebar dan sabarnya Lianne menjelaskan perihal batalnya pertunangan Marshal.


            Berita itu menjadi berita utama di seluruh media, dimulai dari media cetak, online, dan lain sebagainya sedang ramai-ramainya memberitakan berita besar yang sempat disebutkan oleh Lianne. Beberapa media menginginkan Marshal atau Deborah mengadakan konferensi pers dan mengklarifikasi akan berita tersebut benar atau tidaknya untuk meredam dan menenangkan hati para penggemar dari keduanya.

__ADS_1


            Setelah Lianne bergosip yang menghabiskan waktu setengah jam lamanya, akhirnya panggilan itu pun berakhir dengan alasan kalau Johannes, atasannya Lianne meminta wanita itu untuk datang ke tempat tinggalnya entah karena ada urusan apa. Berterima kasihlah pada Mr. Jo karena telah membuat Lianne memutuskan panggilan telepon itu. Kalau tidak, ia harus mendengarkan segala ocehan Lianne berjam-jam lamanya.


            Stefa tidak menyangka bahwa Marshal akan membatalkan pertunangannya, bahkan ia lebih tidak menyangka lagi jika anak yang Deborah kandung bukanlah anaknya Marshal. Karma tetaplah karma, ia akan datang dan membalaskan perbuatan buruk terhadap si pengundangnya itu sendiri.


            Tanpa Stefa minta pun, karma memang selalu ada. Bukannya Stefa ingin menari di atas derita yang saat ini Deborah rasakan karena skandal dan berita buruknya satu persatu terkuak begitu saja terangkat ke bumi. Mungkin para penggemarnya akan kecewa jika skandal itu benar adanya. Lagi pula itu bukan urusan Stefa, toh ia memang tak perduli lagi dengan mereka berdua.


***


            Sebelum Stefa berangkat ke kantornya, ia menyempatkan diri datang ke kantor pos. Ia berencana untuk


mengirimkan hasil pemeriksaan dan foto USG itu pada David melalui pos. Ia masih tak berani untuk mengatakannya secara langsung pada David, sebisa mungkin ia akan menjaga jarak dengan David untuk sementara. Menyiapkan hatinya kalau-kalau David tidak mau bertanggung jawab atas benih berkualitas yang ia tanamkan di rahimnya.


            Ia menuliskan alamat serta penerima dari paket tersebut dan menyerahkannya ke bagian petugas yang biasa menginput data pelanggannya saat akan mengirimkan paket. Paket itu dipastikan akan diterima oleh David sekitar 3 sampai 4 hari ke depan. Dengan sengaja Stefa tak menuliskan nama serta alamat pengirimnya di bagian depan amplop yang membungkus paket itu. Ia melakukan itu untuk mengindari desas-desus yang begitu mudahnya


menyebar luas di perusahaan nantinya. Barulah Stefa merasa tenang ketika ia ke luar dari kantor pos itu.


            Tepat pukul 07.30 Stefa tiba di gedung pencakar langit itu, tempat biasa ia bekerja. Untuk sesaat Stefa


berulang kali menarik napas dan membuangnya kemudian sebelum ia melangkahkan kakinya ke pintu masuk Lobby. Setelah perdebatan alot bersama Kepala HRD waktu itu, ia memutuskan untuk tak keluar dari perusahaan itu.


            Untungnya, selama dua bulan terakhir ini pekerjaan keduanya dilakukan di London dengan bekerja sama dengan perusahaan lokal. Sehingga memudahkan Brianna dan Stefa dalam membagi waktu antara pekerjaan utama dan pekerjaan keduanya itu.


***


            Setelah Judith melangsungkan pernikahannya di Indonesia dengan Cordy, ia memutuskan untuk menetap di Indonesia mengikuti sang suami. Ia datang ke London hanya untuk mengadakan acara resepsi keduanya itu mengingat banyak sekali rekan-rekan dan kenalan lainnya yang kebanyakan berada di London.


            Sampai saat ini Stefa belum memiliki sekretaris pengganti posisi Judith di perusahaan itu. Ada satu orang yang saat ini duduk di meja kerja yang biasa ditempati oleh Judith, namun orang itu bukanlah sekretaris tetapnya. Orang itu di datangkan dari bagian lain untuk membantu meringankan pekerjaan Stefa, untungnya orang yang diperbantukan untuk Stefa memiliki pengalaman sebagai sekretaris juga.


            Stefa tak terburu-buru untuk mencari pengganti Judith karena pekerjaannya selama ini bisa terhandle oleh sekretaris sementaranya itu. Perusahaan mengatakan jika Stefa tak berencana untuk mencari pengganti Judith, besar kemungkinan orang yang diperbantukan untuknya akan di angkat menjadi sekretaris tetap untuk Stefa.


            Pada dasarnya memang orang itu bekerjanya sama bagusnya dengan Judith, hanya saja kekurangannya yaitu ia harus sering diingatkan mengenai deadline laporan yang diminta berulang kali. Selebihnya pekerjaan orang itu cukup bagus dan rapih sejauh ini. Stefa hanya perlu memberi sedikit dorongan dan harus sering mengingatkan orang itu agar pekerjaannya jauh lebih sempurna lagi.


            Sekretaris sementaranya itu memiliki sifat yang berbeda jauh dengan Judith, orang itu lebih pendiam dari pada Judith. Ia tak banyak bicara jika itu bukanlah urusan pekerjaannya, entah itu karena rasa segannya terhadap Stefa takut berlaku tak sopan atau memang pada dasarnya itu memang kepribadian orang itu.


            Postur tubuhnya yang mungil membuat Stefa gemas sendiri melihatnya, memang postur tubuhnya tak setinggi Judith. Karena postur tubuhnya yang mungil itulah, Stefa menyukai orang itu. Serta pakaian yang ia kenakan pun terlihat sopan namun tetap terlihat profesional sebagai seorang sekretaris. Tidak seperti sekretaris-sekretaris pada umumnya yang sering menonjolkan lekuk tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2