
Di belahan dunia yang lainnya. Seorang wanita cantik tengah membuat keributan di perusahaan yang tak
lain adalah perusahaan dimana Stefa dan Judith bekerja. Wanita itu dengan tidak
tahu malu dan tidak tahu aturan berteriak-teriak mengundang seluruh karyawan
dan beberapa orang lainnya yang sedang ada kepentingan menjadi mengalihkan
atensinya kepada wanita itu.
Dengan melontarkan kata-kata kasar, sungguh itu menujukkan bahwa dia berasal dari kelas rendahan.
Ya semua orang tahu, mungkin jika wanita itu adalah seorang model terkenal
berkelas Internasional. Tapi tidak dengan sikapnya, jelas sekali itu
menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang wanita rendahan.
Tidak semua orang menilai seseorang lainnya dari segi penampilan saja, status, atau bahkan dari
segi pandang lainnya. Beberapa orang yang mengerti cara menilai orang lain,
pasti akan menilai dari segi dimana dia berperilaku atas sikap yang mereka
tunjukkan.
Dan disinilah wanita itu menunjukkan bahwa sekali lagi dia berasal dari kelas rendahan. Semua orang
mulai berbisik-bisik membicarakan kelakuan memalukan dan tak tahu sopan santun
dari wanita yang sedang membuat kehebohan.
Seorang security mencoba untuk menenangkan wanita itu agar tidak membuat kehebohan di Lobby. Sudah jelas Lobby merupakan wajah dari sebuah perusahaan. Dimana orang akan berlalu lalang keluar masuk
melewati Lobby.
“Cepat panggilkan aku wanita jalang itu! Beraninya dia mengganggu kekasihku.” teriak wanita itu.
Bahkan ia berani memerintahkan salah satu resepsionis yang
bertugas menyambut dan memberikan informasi pada para tamu di Lobby.
“Maaf nyonya. Kami tidak bisa membantu anda jika anda terus saja membuat keributan disini.” ucap
salah satu resepsionis itu masih dengan senyum ramahnya.
“Tak usah banyak bicara! Cepat panggilkan saja wanita jalang itu.. atau aku akan menuntut
perusahaanmu karena telah membantu menyembunyikan seseorang.” teriak wanita itu
lagi dengan emosi yang meledak-ledak seperti bom atom.
Saat resepsionis itu akan menjawab kembali serentetan kalimat yang di layangkan wanita pembuat
keributan itu. David datang memasuki Lobby dan menyadari disana telah terjadi
sebuah keributan. David berjalan mendekat ke area dimana telah terjadi
keributan itu.
“Ada apa ini?” tanya David dengan tatapan mengintimidasinya. Semua karyawan yang mengetahui bos nya
sudah ada disana, tak berani untuk menjawab sepatah kata pun. Mereka tahu jika
saja mereka salah berucap, maka bos nya akan sangat murka.
“Kau siapa?” tanya wanita itu saat sudah membalikkan posisi tubuhnya jadi menghadap ke arah David.
Masih dengan tatapan mengintimidasinya, dengan santai David menjawab kalimat tanya dari wanita si
__ADS_1
pembuat keributan.
“Aku David.. Dan kau, kau siapa?” tanya David sambil mengedarkan pandangannya guna untuk menilai
penampilan wanita yang ada di hadapannya.
“Kau tidak tahu siapa aku? Keterlaluan.. Aku Deborah, Deborah Anastasia. Kau mengenal wanita yang
bernama Stefani Agatha?”
“Ya.”
“Baguslah.. Rupanya disini ada orang yang mengenal wanita jalang itu. Cepat kamu panggil dia, suruh
temui aku disini atau aku yang akan menemuinya!” perintah Deborah dengan
angkuhnya bak seorang pemimpin diktator.
David mengangkat satu alisnya. Ia tidak mengerti maksud Deborah. Lebih tepatnya, tidak mengerti
kenapa wanita itu berani-beraninya memerintahkan dirinya.
Disusul oleh Michael, dan membisikkan sesuatu ke salah satu telinga David. Barulah setelah Michael
selesai membisikkan sesuatu. David tampak seolah mengingat sesuatu dan mulai
terkekeh.
“Apa yang kau tertawakan? Cepat panggilkan wanita itu.. Perempuan itu bilang, kalau wanita
jalang itu tidak ada disini.. aku tidak percaya!”
“Tidak ada. Hanya saja kelakuanmu begitu sangat rendahan.. kau berkata jika dirimu adalah seorang
Deborah Anastasia.. seorang model Internasional dan juga terkenal. Siapa sangka
salah satu karyawan terbaikku..” David kembali terkekeh. Kali ini kekehan itu
terdengar benar-benar merendahkan lawan bicaranya.
Deborah geram mendengar penghinaan yang dilontarkan David padanya. Merasa dipermalukan di depan banyak
orang. Sejujurnya disini David tidaklah bersalah, ia hanya mengatakan yang
sebenarnya. Tapi berbeda dengan Deborah yang merasa direndahkan dan
dipermalukan.
“Kau... Kau berani-beraninya merendahkanku? Kau tidak tahu betul siapa aku, jika kau tahu.
Kau tidak akan berani merendahkan dan mempermalukanku di depan banyak orang.”
“Justru karena aku terlalu tahu siapa dirimu.. Aku begitu mengasihani dirimu yang jelas-jelas
sedang merendahkan diri sendiri. Ah,,, kau harus tahu.. Yang di katakan salah
satu resepsionisku memang benar adanya. Wanita yang kau cari tidak ada disini.”
Sejurus kemudian, David memberikan sebuah kode kepada salah satu security untuk membawa sekaligus mengusir Deborah dari kantor itu. David tidak menyukai
jika ada orang yang membuat keributan di area perusahaannya.
Deborah tidak menerima seluruh perkataan yang menghina dirinya. Ia ingin melayangkan sebuah tamparan
keras untuk David. Namun sayangnya, security langsung menyeretnya secara paksa untuk pergi menjauh dari perusahaan itu.
Michael membubarkan seluruh orang yang tadinya berekerumun disana. Menyuruh mereka untuk kembali
bekerja dan melupakan kejadian yang baru saja terjadi di Lobby utama
__ADS_1
perusahaan.
David dan Michael berjalan memasuki lift khusus eksekutif dan menekan tombol menuju lantai khusus
milik David. Aura menyeramkan nampak menguar, Michael tahu jika bosnya itu
pasti sedang menahan kemurkaannya.
Sesampainya di lantai yang dituju, barulah Michael berani menyerukan kalimat pertanyaannya.
“Jadi, apa yang akan anda lakukan Mr. David?” tanya Michael penuh dengan kehati-hatian.
“Tidak ada. Biarkan saja semuanya berjalan dengan semestinya.. dan pastikan jika hal ini tidak
menyebar keluar!” perintah David.
“Baik.”
David masuk ke dalam ruangannya. Dan mulai memfokuskan dirinya pada setumpuk dokumen di atas
mejanya. Bersiap untuk memeriksa seluruh dokumen-dokumen itu.
Setelah Deborah di usir secara terang-terangan oleh pihak security,
ia melajukan mobilnya ke perusahaan dimana Marshal berada.
Ya pria itu. Pria yang terus saja menyebutkan nama Stefa, bahkan saat mereka sedang tidur bersama pun.
Marshal terus saja menyebut nama Stefa. Itulah mengapa Deborah membuat
keributan di perusahaan dimana Stefa bekerja.
Beruntungnya, orang yang dicari sedang ditugaskan di belahan dunia lainnya. Dengan kecepatan di
atas batas normal, Deborah melajukan mobilnya. Ia sudah tidak sabar untuk
bertemu dengan kekasihnya itu.
Marshal yang baru saja mendapat kabar jika Deborah sudah membuat kehebohan di perusahaan The Fritz
Group. Tampak begitu menahan amarahnya. Ia tidak habis pikir dengan Deborah.
Bisa-bisanya wanita itu membuat kehebohan yang memalukan itu.
“Cari informasi tentang Stefa! Aku ingin tahu dimana dia sekarang.” perintah Marshal pada salah satu
orang suruhannya melalui telepon dan memutuskan sambungan telepon secara
sepihak.
Braakk
“Siaaall.. Gara-gara wanita sialana itu, Deborah sampai mempermalukan dirinya sendiri..” umpat
Marshal setelah ia berhasil menggebrak meja kerjanya.
Seolah Stefanilah yang salah. Yang membuat Deborah bertindak seperti itu. Padahal sudah jelas bahwa
ini berawal dari kesalahannya. Saat bercinta dengan Deborah pun, tak
henti-hentinya dia menyebutkan nama Stefa.
Bahkan saat sedang tidur bersama pun, ia masih saja menyebut nama Stefani. Jelas ini bukanlah
kesalahan dari Stefa. Tujuan mengapa dia memerintahkan orang kepercayaannya
untuk mencari informasi tentang keberadaan Stefa, yaitu hanyalah untuk
mengganggunya kembali.
__ADS_1