My Bastard Ex Boyfriend

My Bastard Ex Boyfriend
Bab 12 London


__ADS_3

Di belahan dunia yang lainnya. Seorang wanita cantik tengah membuat keributan di perusahaan yang tak


lain adalah perusahaan dimana Stefa dan Judith bekerja. Wanita itu dengan tidak


tahu malu dan tidak tahu aturan berteriak-teriak mengundang seluruh karyawan


dan beberapa orang lainnya yang sedang ada kepentingan menjadi mengalihkan


atensinya kepada wanita itu.


Dengan melontarkan kata-kata kasar, sungguh itu menujukkan bahwa dia berasal dari kelas rendahan.


Ya semua orang tahu, mungkin jika wanita itu adalah seorang model terkenal


berkelas Internasional. Tapi tidak dengan sikapnya, jelas sekali itu


menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang wanita rendahan.


Tidak semua orang menilai seseorang lainnya dari segi penampilan saja, status, atau bahkan dari


segi pandang lainnya. Beberapa orang yang mengerti cara menilai orang lain,


pasti akan menilai dari segi dimana dia berperilaku atas sikap yang mereka


tunjukkan.


Dan disinilah wanita itu menunjukkan bahwa sekali lagi dia berasal dari kelas rendahan. Semua orang


mulai berbisik-bisik membicarakan kelakuan memalukan dan tak tahu sopan santun


dari wanita yang sedang membuat kehebohan.


Seorang security mencoba untuk menenangkan wanita itu agar tidak membuat kehebohan di Lobby. Sudah jelas Lobby merupakan wajah dari sebuah perusahaan. Dimana orang akan berlalu lalang keluar masuk


melewati Lobby.


“Cepat panggilkan aku wanita jalang itu! Beraninya dia mengganggu kekasihku.” teriak wanita itu.


Bahkan  ia berani  memerintahkan salah satu resepsionis yang


bertugas menyambut dan memberikan informasi pada para tamu di Lobby.


“Maaf nyonya. Kami tidak bisa membantu anda jika anda terus saja membuat keributan disini.” ucap


salah satu resepsionis itu masih dengan senyum ramahnya.


“Tak usah banyak bicara! Cepat panggilkan saja wanita jalang itu.. atau aku akan menuntut


perusahaanmu karena telah membantu menyembunyikan seseorang.” teriak wanita itu


lagi dengan emosi yang meledak-ledak seperti bom atom.


Saat resepsionis itu akan menjawab kembali serentetan kalimat yang di layangkan wanita pembuat


keributan itu. David datang memasuki Lobby dan menyadari disana telah terjadi


sebuah keributan. David berjalan mendekat ke area dimana telah terjadi


keributan itu.


“Ada apa ini?” tanya David dengan tatapan mengintimidasinya. Semua karyawan yang mengetahui bos nya


sudah ada disana, tak berani untuk menjawab sepatah kata pun. Mereka tahu jika


saja mereka salah berucap, maka bos nya akan sangat murka.


“Kau siapa?” tanya wanita itu saat sudah membalikkan posisi tubuhnya jadi menghadap ke arah David.


Masih dengan tatapan mengintimidasinya, dengan santai David menjawab kalimat tanya dari wanita si

__ADS_1


pembuat keributan.


“Aku David.. Dan kau, kau siapa?” tanya David sambil mengedarkan pandangannya guna untuk menilai


penampilan wanita yang ada di hadapannya.


“Kau tidak tahu siapa aku? Keterlaluan.. Aku Deborah, Deborah Anastasia. Kau mengenal wanita yang


bernama Stefani Agatha?”


“Ya.”


“Baguslah.. Rupanya disini ada orang yang mengenal wanita jalang itu. Cepat kamu panggil dia, suruh


temui aku disini atau aku yang akan menemuinya!” perintah Deborah dengan


angkuhnya bak seorang pemimpin diktator.


David mengangkat satu alisnya. Ia tidak mengerti maksud Deborah. Lebih tepatnya, tidak mengerti


kenapa wanita itu berani-beraninya memerintahkan dirinya.


Disusul oleh Michael, dan membisikkan sesuatu ke salah satu telinga David. Barulah setelah Michael


selesai membisikkan sesuatu. David tampak seolah mengingat sesuatu dan mulai


terkekeh.


“Apa yang kau tertawakan? Cepat panggilkan wanita itu.. Perempuan itu bilang, kalau wanita


jalang itu tidak ada disini.. aku tidak percaya!”


“Tidak ada. Hanya saja kelakuanmu begitu sangat rendahan.. kau berkata jika dirimu adalah seorang


Deborah Anastasia.. seorang model Internasional dan juga terkenal. Siapa sangka


salah satu karyawan terbaikku..” David kembali terkekeh. Kali ini kekehan itu


terdengar benar-benar merendahkan lawan bicaranya.


Deborah geram mendengar penghinaan yang dilontarkan David padanya. Merasa dipermalukan di depan banyak


orang. Sejujurnya disini David tidaklah bersalah, ia hanya mengatakan yang


sebenarnya. Tapi berbeda dengan Deborah yang merasa direndahkan dan


dipermalukan.


“Kau... Kau berani-beraninya merendahkanku? Kau tidak tahu betul siapa aku, jika kau tahu.


Kau tidak akan berani merendahkan dan mempermalukanku di depan banyak orang.”


“Justru karena aku terlalu tahu siapa dirimu.. Aku begitu mengasihani dirimu yang jelas-jelas


sedang merendahkan diri sendiri. Ah,,, kau harus tahu.. Yang di katakan salah


satu resepsionisku memang benar adanya. Wanita yang kau cari tidak ada disini.”


Sejurus kemudian, David memberikan sebuah kode kepada salah satu security untuk membawa sekaligus mengusir Deborah dari kantor itu. David tidak menyukai


jika ada orang yang membuat keributan di area perusahaannya.


Deborah tidak menerima seluruh perkataan yang menghina dirinya. Ia ingin melayangkan sebuah tamparan


keras untuk David. Namun sayangnya, security langsung menyeretnya secara paksa untuk pergi menjauh dari perusahaan itu.


Michael membubarkan seluruh orang yang tadinya berekerumun disana. Menyuruh mereka untuk kembali


bekerja dan melupakan kejadian yang baru saja terjadi di Lobby utama

__ADS_1


perusahaan.


David dan Michael berjalan memasuki lift khusus eksekutif dan menekan tombol menuju lantai khusus


milik David. Aura menyeramkan nampak menguar, Michael tahu jika bosnya itu


pasti sedang menahan kemurkaannya.


Sesampainya di lantai yang dituju, barulah Michael berani menyerukan kalimat pertanyaannya.


“Jadi, apa yang akan anda lakukan Mr. David?” tanya Michael penuh dengan kehati-hatian.


“Tidak ada. Biarkan saja semuanya berjalan dengan semestinya.. dan pastikan jika hal ini tidak


menyebar keluar!” perintah David.


“Baik.”


David masuk ke dalam ruangannya. Dan mulai memfokuskan dirinya pada setumpuk dokumen di atas


mejanya. Bersiap untuk memeriksa seluruh dokumen-dokumen itu.


Setelah Deborah di usir secara terang-terangan oleh pihak security,


ia melajukan mobilnya ke perusahaan dimana Marshal berada.


Ya pria itu. Pria yang terus saja menyebutkan nama Stefa, bahkan saat mereka sedang tidur bersama pun.


Marshal terus saja menyebut nama Stefa. Itulah mengapa Deborah membuat


keributan di perusahaan dimana Stefa bekerja.


Beruntungnya, orang yang dicari sedang ditugaskan di belahan dunia lainnya. Dengan kecepatan di


atas batas normal, Deborah melajukan mobilnya. Ia sudah tidak sabar untuk


bertemu dengan kekasihnya itu.


Marshal yang baru saja mendapat kabar jika Deborah sudah membuat kehebohan di perusahaan The Fritz


Group. Tampak begitu menahan amarahnya. Ia tidak habis pikir dengan Deborah.


Bisa-bisanya wanita itu membuat kehebohan yang memalukan itu.


“Cari informasi tentang Stefa! Aku ingin tahu dimana dia sekarang.” perintah Marshal pada salah satu


orang suruhannya melalui telepon dan memutuskan sambungan telepon secara


sepihak.


Braakk


“Siaaall.. Gara-gara wanita sialana itu, Deborah sampai mempermalukan dirinya sendiri..” umpat


Marshal setelah ia berhasil menggebrak meja kerjanya.


Seolah Stefanilah yang salah. Yang membuat Deborah bertindak seperti itu. Padahal sudah jelas bahwa


ini berawal dari kesalahannya. Saat bercinta dengan Deborah pun, tak


henti-hentinya dia menyebutkan nama Stefa.


Bahkan saat sedang tidur bersama pun, ia masih saja menyebut nama Stefani. Jelas ini bukanlah


kesalahan dari Stefa. Tujuan mengapa dia memerintahkan orang kepercayaannya


untuk mencari informasi tentang keberadaan Stefa, yaitu hanyalah untuk


mengganggunya kembali.

__ADS_1


__ADS_2