
Saat membuka pintu kamar utama Hotel, Stefa dibuat terkejut dengan sosok pria tampan
dan gagah yang saat ini sedang berdiri tepat di depan pintu kamar Hotelnya.
Stefa masih dibuat tak percaya olehnya, dia terlalu fokus untuk menikmati maha
karya yang Tuhan ciptakan di muka bumi ini.
“Bolehkah aku masuk?” tanya pria itu saat mendapati Stefa bergeming seperti patung dengan mulut yang sedikit terbuka karena terpesona dengan ketampanan pria itu.
Stefa terhenyak dari lamunannya dan sedikit menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan pria itu masuk ke dalam.
“Anda membutuhkan sesuatu, sir?!” tanya Stefa saat menyadari bahwa
pria tampan yang berstatus ‘kan bos besarnya sudah masuk ke dalam.
“Tidak. Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar. Kau tidak keberatan?” Stefa menggeleng ‘kan kepalanya bahwa dia tidak keberatan dengan kehadiran David saat ini.
Stefa menggiring David untuk masuk ke ruang televisi dimana disana ada Judith yang sedang asyik menonton televisi. Judith belum menyadari bahwa kini David sudah berada satu ruangan dengannya.
“Kau sudah menemuinya, Stefa?” tanya Judith tanpa menengok ke lawan bicaranya.
“Ya.” Jawab Stefa singkat. Dia terlalu kikuk dengan keberadaan David saat ini.
Stefa mempersilahkan David untuk duduk di sofa, bahkan sampai David duduk pun, Judith masih belum menyadarinya.
“Judith, besikap sopanlah! Aku akan mengambil minuman dulu.” Stefa berbisik di telinga Judith dan hanya di tanggapi anggukkan kepala saja.
Stefa buru-buru pergi ke area dapur untuk membuatkan kopi untuk David. Sekembalinya dari dapur, Stefa langsung meletakan secangkir kopi panas di hadapan David dan langsung di minum oleh
David.
“Turun ‘kan kakimu Judith, astaga!” desis Stefa tepat di telinga Judith. Seketika langsung menurunkan kakinya dan menoleh ke samping dan menatap Stefa heran.
“Kenapa?” tanyanya seolah tak berdosa.
“Kau tak menyadari kalau David ada disini?!” Stefa menggerakan matanya memberi kode bahwa disana ada David yang sedang duduk dan meminum kopi buatan Stefa. Barulah saat itu Judith sadar bahwa
bos besarnya yang tampan itu sudah duduk disana.
“Astagaa! Kau tak memberi tahuku kalau Pak David ada disini.”
Stefa memutar bola mata malas. Tidakkah Judith menyadarinya sedari tadi padahal Stefa sudah mengingatkan sejak awal? Bodoh.
Judith buru-buru membenarkan posisi duduknya saat ini dan sedikit gugup karena sedari tadi dia sudah mengabaikan David dan mungkin di anggap tidak sopan karena duduk dengan menaikkan kakinya
ke atas sofa.
Mereka masih terdiam sampai David selesai menenggak kopi itu sampai habis.
“Jadi, apa yang membawa anda kesini, sir?” todong Stefa langsung ke inti.
“Aku hanya ingin bertanya, kau sudah memiliki pasangan untuk besok datang ke pesta penyambutan untuk kita?”
Stefa menggeleng lemah. “Ah syukurlah kalau kau memang belum memiliki pasangan.”
“Maukah kamu besok datang ke pesta penyambutan itu denganku?” lanjut David.
__ADS_1
Stefa dan Judith langsung terbengong kemudian saling melempar tatapan satu sama lain. Mereka tidak salah dengar bahwa David memang mengajak Stefa menjadi Partner untuk datang ke pesta besok malam.
“Dengan saya?” tanya Stefa dengan menunjuk dirinya sendiri.
“Ya.”
Stefa berpikir sejenak dan memikirkan apakah dia akan mengambil tawaran David untuk pergi bersama atau
tidak. Jika dia mengambil tawaran David, lantas bagaimana dengan Judith? Dia akan pergi sendirian ke pesta itu, dan Stefa tidak setega itu untuk meninggalkan sekretarisnya itu pergi sendirian. Setidaknya harus ada yang
menemani Judith juga.
“Tentu saja Stefa mau, Mr. David.” Tiba-tiba Judith menginterupsi obrolan mereka dan mendapat senggolan dari lengan Stefa seraya memelototkan matanya untuk memperingati.
“Benarkah?!” tanya David memastikan.
“Tentu saja. Ya ‘kan, Stefa?!” mau tidak mau Stefa harus mengiyakan ucapan Judith tanpa persetujuannya itu. Stefa yang di ajak datang ke pesta bersama David, kenapa jadi Judith yang heboh
sendiri sampai harus mewakili jawaban yang akan Stefa berikan.
Bahkan Stefa saja masih memikirkan jawaban apa yang pas yang akan Stefa berikan kepada David. Tapi, sekretaris pintarnya itu tiba-tiba saja mengatakan bahwa Stefa bersedia untuk datang ke pesta itu
bersama dengan David.
Setelah mendapat jawaban dari Stefa, ah lebih tepatnya dari Judith. David langsung pergi meninggalkan kedua wanita itu dan kembali ke kamar Hotelnya. Sebelumnya David mengatakan bahwa dia akan
menjemput Stefa 30 menit sebelum acara dimulai.
Tidak perlu mengatakan untuk menjemput, pada dasarnya kamar Hotel mereka hanya tinggal melangkah beberapa langkah kaki saja.
“Kalau aku pergi dengannya, kau akan pergi dengan siapa?” ucap Stefa lagi.
“Kau seperti orang kolot saja. Tentu saja aku akan pergi kesana sendiri, siapa tahu saja disana aku menemukan mangsa untuk kubawa pulang ke London.” Jawabnya enteng.
“Astaga, Ya Tuhan. Setidaknya biarkan aku untuk berpikir dan memberikan jawaban yang tepat untuknya.”
“Kalau kau memikirkan jawaban itu, yang ada kau hanya akan memberikan jawaban bahwa kau menolak tawarannya.”
Setelah mengatakan itu Judith langsung pergi dan kembali ke lantai dimana kamar yang disewanya berada. Stefa langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan menutup matanya dengan
punggung tangan.
Helaan napas berat terdengar. Stefa tidak siap jika dia harus pergi dengan David. Melihat David yang mengenakan pakaian seperti tadi saja membuat Stefa hampir jantungan karena melihat
ketampanan David yang luar biasa.
Stefa tidak ingin jika jantungnya harus rusak sebelum waktunya karena melihat kesempurnaan David. Stefa sudah membayangkan seberapa tampannya David saat besok mereka bertemu dan pergi ke
pesta bersama.
“Sepertinya aku harus datang ke rumah sakit khusus jantung, dan meminta cadangan jantung untukku. Sebagai jaga-jaga kalau saja besok jantungku mendadak rusak karena ketampanan David.”
Gumam Stefa.
Malam pun tiba. Perbedaan waktu dengan London memang cukup jauh, jika saat ini Stefa menikmati langit yang gelap. Maka di London saat ini sedang disinari cahaya matahari. Stefa mengambil
handphone miliknya dan mencari-cari nomor sahabatnya itu.
__ADS_1
Nada tunggu masih terdengar di seberang sana, dan tak lama suara wanita menyapa Stefa terlebih dahulu.
“Stefa?!” sapa wanita di telepon.
“Ya, ini aku.” Jawab Stefa pelan.
“Ya. Tuhan. Kau kemana saja baru menghubungiku, huh?” maki wanita yang ada di telepon.
“Aku sibuk disini dan aku takut mengganggumu karena perbedaan waktu.” Stefa memberikan alasan yang setidaknya masih masuk akal.
“Setidaknya kau mengirimiku pesan, bodoh!”
“Baiklah, baiklah. Aku mengaku aku salah.”
“Tumben kau meneleponku, ada apa? Apa disana terjadi sesuatu?” terdengar suara yang sedikit khawatir dari suara wanita yang sedang Stefa telepon.
“Tidak.” Jawab Stefa sedikit malas. Ia malas jika ia harus menceritakan kejadian apa yang saja yang ia dapatkan selama di Indonesia.
“Kau yakin? Kau tak ingin mengatakannya kepadaku?!”
Stefa menghela napas sebentar. “Kau tahu, Marshal datang ke Indonesia dan dia menemukanku. Dia hampir meleceh ‘kanku.”
Terdengar wanita itu mengumpat di dalam telepon. Segala caci maki ia keluarkan saat mendengar mantan kekasih sahabatnya datang ke Indonesia dan hampir melecahkan sahabatnya. Lianne
mengatakan bahwa dia akan meminta hak cutinya kepada Johannes untuk menemui
Stefa di Indonesia.
Itulah kenapa Stefa enggan untuk memberi tahu sahabatnya, karena Lianne akan begitu mengkhawatirkan dirinya dan pasti akan melakukan berbagai cara untuk menemuinya di Indonesia.
“Kau tak perlu datang kesini! Disini aku sudah aman.” Stefa mencoba menahan Lianne agar tak memaksa untuk datang ke Indonesia.
“Bagaimana aku bisa tenang kalau aku mendengar si brengsek itu datang menemuimu?!”
“Sudahlah. Intinya aku sudah aman disini. Dan aku memiliki kabar lain yang ingin kuberi tahukan kepadamu.”
“Apa itu?” suara frustasi Lianne masih terdengar.
“Besok aku akan pergi ke pesta penyambutan yang diselenggarakan oleh pihak Star Company. Dan kau tahu, atasanku mengajakku untuk datang bersamanya.”
“Itu bagus untukmu, setidaknya kau harus bersenang-senang disana! Tapi, atasanmu yang mana yang kau maksud?” tanya Lianne sedikit bingung dengan atasan yang Stefa maksud ‘kan.
Stefa memutar bola matanya malas. “Siapa lagi kalau bukan pemilik perusahaan The Fritz Group?!”
Lianne memekik terkejut sekaligus senang dan tak percaya mendengar pemilik perusahaan dimana Stefa bekerja mengajaknya untuk datang ke pesta bersama. Itu suatu kehormatan untuk seorang
karyawan seperti mereka.
Namun, Lianne harus dipaksa kecewa setelah mendengar Stefa enggan untuk pergi bersama David. Stefa beralasan kalau dia begitu mengkhawatirkan sekretarisnya jika dia harus menerima tawaran David.
Lianne mengumpat dan mencerca Stefa karena bodoh memiliki pikiran seperti itu. Tentu saja Lianne mendukung penuh atas keputusan Judith karena telah membantu Stefa untuk menjawab bahwa Stefa
setuju pergi ke pesta bersama dengan David.
Akhirnya malam itu Stefa habiskan untuk mengobrol dengan sahabatnya yang berada di London. Stefa jadi merindukan kampung halamannya dan ingin segera menyelesaikan tugasnya di Indonesia. Ia
ingin kembali berkumpul dengan sahabat seperjuangannya, Lianne.
__ADS_1