
Yukk ikutan Pre-Order
My Love Story by Rhesikim
(357 halaman)
Rp. 96.000
Dijamin ceritanya sama bikin bapernya dengan cerita ini. Kalian bakalan dibuat jatuh cinta, marah, frustasi, sedih dan menangis saat kalian baca novel ini. Di sana kalian bisa menemukan babang-babang tamvan, ada bang Frans sama bang Leo. Kalian tinggal pilih deh mau yang mana! Hehehe
Format pemesanan bisa langsung kirim ke +62818331696
Nama
Alamat
Kota
Kelurahan
Kecamatan
Kode pos
Nomer hp
Judul buku
Transfer ke rek 0560368836 an Diana bank bca
Kalian yang mau tahu dan penasaran trailernya novel **My Love Story ** bisa langsung lihat di Instagramku ya @rhesirahaku !!!
***
Selama di perjalanan menuju rumah, tak ada satu orang pun yang mengeluarkan suaranya. Mereka lebih memilih diam membisu. Stefa yang merasa tak suka jika Tantenya seolah-olah memaksakan dirinya untuk dekat dengan Revaldo. Charlote yang merasa bersalah dan bingung harus seperti apa.
Ia hanya ingin keponakannya melupakan masa lalunya yang menyakitkan dengan mencoba membuka hatinya untuk pria lain. Meskipun ia tak tahu sifat Revaldo yang sesungguhnya, setidaknya ia harus memberikan kesempatan untuk mereka berdua untuk saling mengenal.
Meskipun pada akhirnya Stefa tidak memilih Revaldo, setidaknya keponakannya itu harus belajar membuka hati untuk pria lain yang mungkin saja Tuhan kirimkan untuknya. Membahagiakan dirinya sampai akhir. Ia tahu, luka yang telah ditorehkan oleh Marshal tidak mudah untuk dilupakan.
Apalagi Stefa dan Marshal telah menjalin hubungan cukup lama. Dengan saling membagi suka duka bersama, kebahagiaan dan kesedihan bersama, luka dan perih bersama. Ia tahu semua itu tak mudah untuk dilupakan. Namun, ia sebagai keluarga Stefa yang tersisa setelah kedua orang tuanya meninggal.
Menginginkan yang terbaik untuk keponakannya itu. Mungkin tindakannya ini sangatlah salah, seolah memaksa Stefa untuk dekat dengan Revaldo. Tapi ia harus memberikan pencerahan dan sedikit dorongan pada keponakannya itu.
“Sayang, maafkan Tante.” Charlote menggenggam sebelah tangan Stefa yang duduk di sampingnya.
Stefa pun menoleh setelah menatap tangan yang sedang menggenggamnya itu.
“Sudahlah, Tante. Lagi pula itu bukan masalah besar.”
“Dengar, Nak! Tante hanya ingin kau untuk mencoba membuka hatimu kembali sedikit demi sedikit. Masa lalu biarlah berlalu, jadikan itu sebagai motivasimu untuk meraih kebahagiaanmu untuk saat ini dan masa depan. Jangan terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan!” nasihat Charlote.
Stefa menghela napas sesaat. “Tante, aku hanya belum siap untuk berdekatan dengan pria lain. Dan lagi pula, aku tak sedang dekat dengan Revaldo. Dia hanya sebatas rekanan bisnis bos di perusahaanku. Aku hanya menganggap nya sebagai mitra bisnis perusahaan dimana aku bekerja, dan menganggapnya sebagai teman biasa jika kami tak ada di dalam ruang lingkup pekerjaan.”
“Kau tak bisa seperti ini, kau berubah. Kau bukan lagi anak nakal Tante yang dulu, kau tak seramah dan sehangat dulu. Tante tahu, lukamu-lah yang telah membuatmu seperti itu. Maka dari itu, biarkan seseorang untuk membuatmu kembali hangat dan menutup luka di dalam hatimu.”
“Hentikan ini, Tante! Aku tak ingin membahasnya sekarang.” Stefa terpaksa melepaskan genggaman tangan milik Tantenya dari tangannya. Ia menatap jalanan dari jendela kaca mobil di sampingnya.
Charlote hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Suasana kembali hening, bahkan sampai mereka tiba di pekarangan rumah pun. Mereka masih saling mendiamkan satu sama lain.
Stefa langsung turun dari mobil dan berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Charlote di belakang yang menatapnya dengan sendu. Barang-barang yang sempat ia beli pun, ia lupakan begitu saja.
“Nyonya, barang-barang ini mau disimpan di mana?” tanya salah satu bodyguard yang sedang menenteng kantong belanjaan milik Stefa.
“Simpan saja di ruang keluarga dulu! Nanti aku akan menyimpannya ke kamar Stefa.” Perintah Charlote yang kemudian dituruti oleh bodyguard itu.
Stefa berjalan masuk melewati ruang keluarga begitu saja. Bahkan Ken yang sedang duduk pun di sana, tak ia sapa sama sekali. Menyadari seseorang masuk ke dalam rumah, Ken mengalihkan pandangannya dari laptop yang ia pangku dan menoleh ke belakang mendapati Stefa yang akan menaiki tangga menuju kamarnya.
“Kau sudah pulang, Nak?” tanya Ken melihat Stefa naik tangga.
“Ya, aku sudah pulang Paman.” Jawabnya singkat kemudian berjalan kembali menaiki tangga.
“Di mana Tantemu itu?” tanyanya lagi karena tak melihat istrinya masuk bersama Stefa.
“Aku di sini, sayang.” Jawab Charlote saat ia sudah menginjakkan kaki di dalam rumah.
Stefa masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar itu dengan kencang membuat suara bedebum yang terdengar sampai ke bawah.
“Ada apa dengan Stefa?” tanya Ken pada istrinya.
“Nanti akan aku jelaskan.” Jawabnya seraya tersenyum terpaksa pada suaminya.
“Kau sudah makan?” tanya Charlote pada suaminya yang kembali menatap layar laptop.
“Belum. Kau pergilah istirahat dikamar! Biarkan pelayan yang menyiapkan makanan untuk makan malam nanti.” Charlote pergi ke kamarnya setelah ia diperintahkan untuk beristirahat oleh suaminya.
Di dalam kamar, ia termenung. Apakah tindakannya salah? Berbagai macam pertanyaan pada dirinya sendiri terus berlalu lalang. Ia tak bisa memejamkan matanya begitu saja, berulang kali ia membalik dan mengganti posisi tidurnya yang terasa tak nyaman.
Ken masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang gelisah di atas ranjang. Ia duduk di dekat kaki Charlote.
“Ada apa, hm?” tanyanya membuat Charlote meninggalkan lamunannya.
“Sepertinya aku membuat kesalahan pada Stefa.” Sesalnya yang mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
“Bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi?” tanya Ken lagi.
Sejenak Charlote menarik napas sebelum ia mulai menceritakan kronologi yang terjadi selama di luar rumah. Cerita pun mengalir begitu saja, Ken hanya mendengarkan tak memberi komentar apapun. Ia akan berkomentar atau memberikan saran jika istrinya sudah selesai dengan ceritanya.
“Begini, dari yang aku dengar dari ceritamu. Kau hanya berusaha untuk mendekatkan Stefa dengan pria lain. Kau juga terlalu cepat bertindak, sayang. Mungkin Stefa tak bermaksud bersikap seperti itu padamu, dia hanya belum siap untuk memulai kisah barunya dengan pria lain. Berikan dia sedikit waktu untuk mempersiapkan hatinya untuk pria lain! Dan mengenai pria yang kau ceritakan, sepertinya aku mengenal orang itu. Tapi entahlah, aku belum melihat langsung orang itu.”
__ADS_1
“Kau harus memberikan Stefa kesempatan untuk menata kembali hati dan perasaannya. Jangan terlalu memaksanya untuk dekat dengan pria lain, jika pun pria yang kau ceritakan tadi adalah sosok yang bisa membahagiakan Stefa. Biarkan mereka menjalaninya seperti biasa, seperi air yang mengalir di sungai.” lanjut Ken menceramahi istrinya itu.
Ia tak bisa menyalahkan istrinya maupun Stefa. Tak ada yang salah dari mereka berdua, hanya saja mereka terlalu cepat mengambil keputusan dan tindakan. Charlote yang terlalu terburu-buru mengambil tindakan, dan Stefa yang belum siap menerika kembali hadirnya seorang pria di kehidupannya merasa di pojokkan oleh Tantenya sendiri.
“Istirahatlah, jangan terlalu dipikirkan!” Ken membantu Charlote untuk kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Membelai kepalanya penuh sayang sampai Charlote memejamkan matanya karena kelembutan yang suaminya berikan.
Perasaannya sedikit lega setelah menceritakan semuanya pada Ken. Meskipun masih ada rasa gelisah dalam dirinya, tapi setidaknya berkurang sedikit karena suaminya yang menjadi pendengar dan pemberi nasihat yang baik.
***
Di kamar. Stefa sedang menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan yang ia simpan di atas perut ratanya. Pandangannya menerawang ke masa lalu di mana ia masih menjalin hubungan dengan Marshal. Kenangan bahagia yang mereka ciptakan berdua terputas otomatis di dalam otaknya.
Namun, ia ingat dengan rasa sakit yang Marshal berikan padanya saat di hari pertunangan yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk mereka berdua. Tak terasa, buliran bening keluar dari sudut matanya. Stefa terisak merasakan sakit di dalam dadanya, ia meremas baju yang menutupi dadanya membuat baju itu kusut karena remasan tangannya.
“Kenapa kau tega melakukan itu padaku? Apa salahku padamu sehingga kau menyakitiku sedalam ini? Jika saja kau tak melakukannya padaku, dan mengatakan baik-baik apa salahku. Mungkin aku bisa melepasmu tanpa harus merasakan sakit seperti ini.” gumam Stefa masih dengan isakkan tangisnya.
Ia teringat dengan kontrak yang diberikan oleh Pamannya. Ia langsung bangkit dari atas ranjang dan mengambil map merah yang sempat Pamannya berikan padanya. Di bukanya lembaran kertas yang ada di dalam map itu, membaca ulang setiap kata yang tertera di dalam kertas putih yang di bungkus oleh map merah itu.
Benar apa yang dikatakan Pamannya. Ia harus memikirkan karir yang cemerlang, membuktikan pada orang-orang yang telah menyakitinya bahwa ia baik-baik saja meskipun tanpa adanya mereka di sampingnya.
Ia akan menunjukkan betapa bahagiannya dan bisa meraih kesuksesan pada orang-orang yang telah menorehkan luka padanya.
Langsung ia bergegas ke luar kamar dan menuju kamar pasangan suami istri itu. Diketuknya pintu berwarna coklat dengan tergesa-gesa. Sampai pada akhirnya Charlote-lah yang membuka ‘kan pintu kamar itu.
“Ada apa sayang? Kenapa matamu sembab, hm? Kemarilah, masuk dulu!” Charlote mengajak Stefa masuk ke dalam kamarnya dan menggiringnya untuk duduk di atas ranjang besar nan empuk miliknya.
“Ada apa sayang?” tanyanya lagi setelah duduk di samping Stefa dengan tangan yang menggenggam kedua tangan Stefa.
“Tante, maafkan atas sikap kasarku padamu tadi. Aku tak bermaksud menyakiti perasaan dan niat baikmu. Tapi untuk saat ini, kumohon jangan memaksaku untuk berdekatan dengan pria manapun!” sebelum mengucapkan niatan awalnya, Stefa mengutarakan permintaan maaf pada Tantenya yang mungkin saja telah menyinggung perasaan Tantenya itu.
“Tak apa, sayang. Seharusnya Tante yang meminta maaf padamu karena telah bersikap memaksa. Tante hanya ingin kau membuka hatimu kembali, tapi sepertinya Tante terlalu terburu-buru dan memaksamu.” Charlote memaklumi sikap Stefa sebelumnya, itu juga salahnya karena telah memaksa Stefa.
“Dan apa ini?” Charlote bertanya karena melihat map yang diletakkan Stefa di samping tubuhnya.
“Oh ini. Aku ingin membicarakan ini dengan Paman Ken. Di mana Paman Ken, Tante?” tanyanya karena menyadari tak ada Ken di dalam kamar itu, hanya mereka berdua saja.
“Pamanmu ada di ruang kerjanya. Kau pergilah ke sana! Tante akan membawakan teh hangat untuk kalian.” Mereka pun keluar dari kamar. Stefa langsung menuju ruang kerja pribadi milik pamannya yang berada di lantai satu.
Charlote langsung menuju dapur dan membuatkan tiga gelas teh hangat untuk di bawanya ke ruang kerja milik suaminya. Dengan sepiring biskuit yang ia letakkan di atas nampan.
“Paman?” sapa Stefa saat masuk ke dalam ruang kerja Ken.
“Oh, kemarilah, Nak!” Ken langsung bangkit dari kursi kerjanya dan meninggalkan lembaran dokumen yang sedang ia kerjakan. Mengajak Stefa untuk duduk di atas sofa berwarna coklat tua yang ada di dalam ruangan itu.
“Ada apa kau mencari Paman?” tanya Ken yang tak biasanya Stefa mencari Ken di dalam ruang kerjanya.
“Aku ingin membicarakan ini pada Paman.” Stefa menyodorkan map merah yang ia bawa. Ken langsung mengambilnya kemudian membuka, setelahnya ia letakkan di atas meja.
“Kau sudah mengambil keputusanmu, Nak?” tanya Ken.
Stefa mengangguk. “Aku mau menerima tawaran kontrak itu Paman. Kapan aku bisa bergabung di perusahaanmu itu?”
Ken tersenyum mendengar keputusan yang Stefa ambil. “Besok kau bisa datang ke perusahaan Paman dan melihat-lihat dulu seluruh isi kantor yang akan menjadi tempat di mana kau akan dibimbing di sana selama menjadi model.”
“Besok kau akan menanda tanganinya di kantor.”
Obrolan mereka disela dengan kehadiran Charlote yang masuk membawa nampan berisikan tiga gelas teh hangat dan sepiring biskuit. Ken membantu istrinya itu meletakkan nampan di atas meja.
“Apa yang kalian bicarakan sepertinya seru sekali?” tanya Charlote yang langsung duduk di samping
suaminya.
“Keponakanmu akan masuk di agensi modelku. Besok dia akan kuajak ke perusahaan untuk melihat seluruh isi kantor, dan setelahnya ia akan menanda tangani kontrak.” Ken memberitahu istrinya itu yang sedang penasaran.
“Benarkah? Kau mau bergabung menjadi salah satu model Pamanmu yang sudah tua ini?” seru Charlote dan menatap penuh harap pada Stefa.
Stefa mengangguk seraya terkekeh kecil.
“Hei, aku tak setua yang kau katakan, sayang. Aku masih muda dan masih tampan.” Ken tak terima dikatai tua oleh istrinya. Charlote dan Stefa langsung mendelik kesal mendengar Pamannya yang begitu percaya diri akan kadar ketampanannya itu.
“Oh ayolah, sayang, kau memang sudah tua. Tapi kau memang tampan.” Ken langsung mencium bibir istrinya dengan lembut membuat Stefa memutar kedua matanya malas melihat pemandangan Paman dan Tantenya yang sedang bermesraan.
“Hei ingat umur kalian! Masih ada aku di sini.” Protes Stefa yang berhasil memisahkan kedua manusia itu dari aksi mesranya.
“Astaga anak nakal ini. Kau membuat Pamanmu melepaskan ciuman kami, Paman tak rela.” Pamannya membalas protesan Stefa dengan protesannya.
“Sudah sudah. Kenapa kalian jadi berdebat. Oh, iya. Besok ‘kan Revaldo akan datang berkunjung ke sini. Bisakah kalian pergi ke kantornya lusa saja?” ucap Charlote.
“Ayolah, Tanteee. Karirku lebih penting dari pada kedatangan pria itu. Lagi pula aku tak ada hubungan apapun dengannya, kenapa dia harus datang ke rumah.” Stefa kembali melayangkan protesannya.
Ken menyentil kening Stefa cukup keras membuatnya mengaduh kesakitan. “Dasar anak nakal. Akan ada tamu berkunjung ke rumah kau malah mengucapkan kalimat seperti itu. Lagi pula benar apa kata istriku, kita bisa pergi ke kantor lusa. Aku ingin melihat pria yang sedang mendekatimu itu.” goda Ken yang membuat Stefa mendelik.
“Kalian memang pasangan menyebalkan yang sayangnya kalian sangat romantis dan aku sayangi.” Balas Stefa membuat sepasang suami istri itu tertawa terbahak-bahak.
***
Makan malam pun tiba. Beberapa jenis makanan sudah terhidang di atas meja. Ken, Charlote, dan Stefa sudah duduk di atas kursi makan masing-masing. Mereka mulai mengambil nasi dan lauk-pauk yang sudah tersedia.
Mereka mulai menyantap makanan yang terasa lezat di mulut dan terasa begitu nikmat. Seorang pelayan datang menghampiri mereka bertiga di ruang makan dan mengatakan bahwa ada seseorang yang menunggu di depan pintu.
“Suruh dia masuk saja, Bi!” titah Charlote pada pelayan yang membawa kabar itu.
Tak lama dua orang datang menghampiri mereka beriga. Salah satunya adalah si pelayan tadi yang membawa kabar bahwa ada tamu yang berkunjung. Dan yang satunya lagi adalah si tamu yang ia maksud tadi.
“Selamat malam. Maaf mengganggu waktu makan malam kalian.” Suara seorang pria itu membuat Ken dan Charlote menolehkan pandangan mereka dan melihat sumber suara. Stefa yang mendengar suara itu dan merasa kenal, langsung tersedak begitu saja.
Tangannya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak karena tersedak. Benar saja saat ia menatap pria yang datang itu. Sesuai dugaannya, pria itu adalah Revaldo. Pria itu sedang menyengir meledek Stefa yang tersedak.
“Oh, kau datang.” Seru Charlote seraya berdiri.
__ADS_1
“Bergabunglah bersama kami, kami baru saja menikmati makan malam kami. Kau pasti belum makan ‘kan?” tanya Charlote dan menyuruh Revaldo duduk di samping Stefa.
Charlote membantu mengambilkan nasi dan beberapa lauk-pauk ke atas piring Revaldo dan di balas dengan ucapan terima kasih. Ken tak mengeluarkan suara sedikit pun, ia hanya jadi pemerhati yang baik.
“Kenapa kau datang kesini? Bukankah kau akan datang besok?” ketus Stefa dan menatap tajam ke arah samping kirinya karena Revaldo duduk tepat di samping kirinya.
“Tentu saja aku ingin bertemu dengan calon keluargaku. Memang kenapa?” jawabnya dibuat sepolos mungkin.
“Kau terlihat seksi dan lucu memakai baju itu.” bisik Revaldo seraya mengerlingkan matanya nakal.
Stefa langsung bersemu merah. Ia merasa malu karena saat ini Stefa hanya mengenakan kaos warna putih, berlengan panjang dan panjang kaus itu hanya menutup setengah pahanya saja.
Kaus itu sedikit tipis bahannya, sehingga bra hitam yang ia kenakkan membuatnya tembus pandang begitu saja.
“Jadi kau yang bernama Revaldo itu?” tanya Ken setelah sekian lama membiarkan mulutnya diam.
Revaldo mengangguk. “Benar.” jawab Revaldo singkat tapi dengan senyuman.
“Kau yang sedang dekat dengan keponakanku?” tanyanya lagi.
“Emh... Bisa dibilang aku sedang berusaha mendekati keponakan anda.” Revaldo lantas terkekeh sendiri mendengar perkataan konyolnya.
“Makanlah dulu, kita bisa mengobrol nanti!” tegur Charlote.
Setelah acara makan malam selesai, semuanya berkumpul di ruang keluarga. Ken bertanya banyak hal mengenai Revaldo. Ah lebih tepatnya menginterogasi Revaldo. Setelah mengetahui siapa Revaldo sebenarnya, yang ternyata salah satu pengusaha terkenal di Indoensia. Ken langsung menjadi lebih akrab dan terbuka padanya.
“Lihatlah Pamanmu itu, ia berubah dari ****** pemburu menjadi ****** yang manis setelah tahu siapa calon keluarga baru kita.” Bisik Charlote pada Stefa yang sedang duduk di sampingnya yang sedari tadi mereka hanya memperhatikan interaksi kedua pria itu.
“Tante, suamimu itu tadi saja memasang wajah sok serius dan sok galak dan tak bersahabat. Sekarang dia malah tersenyum bangga dan mengumbar senyuman bodohnya itu.” balas Stefa membisikkan pada Tantenya.
“Aduh. Sakit Tante.” Gerutu Stefa karena mendapat jitakan dari Tantenya itu.
“Sopanlah pada Paman tampanmu itu! Dasar anak nakal.” Stefa bergumam tak jelas setelah mendengar ucapan Tantenya itu.
Stefa lebih memilih pergi ke kamarnya karena merasa bosan mendengarkan kedua pria yang sedari tadi malah membahas urusan bisnis. Awalnya sih iya membahas mengapa bisa kenal dengan Stefa, kemudian membahas masalah pendekatan Revaldo dan Stefa.
Namun ujung-ujungnya mereka malah membahas bisnis yang membosankan menurut Stefa. Wanita itu masuk ke dalam kamar dan mulai mengambil piyama tidurnya.
Namun seseorang masuk begitu saja seraya bersiul menggoda karena melihat pemandangan menyegarkan secara gratis.
“Wow, kau seksi sekali.” Ucap Revaldo yang sedang menyandarkan tubuhnya di daun pintu.
Stefa langsung berbalik dan berteriak histeris mendapati Revaldo sedang memandangi tubuhnya. Stefa
buru-buru menutupi bagian dadanya yang hanya mengenakan bra berwarna hitam itu dengan piyama yang akan ia kenakan tadinya.
“Kau... Kenapa kau di sini?” tanyanya sarkas.
“Aku mau pulang, tadinya aku mau berpamitan padamu. Tapi setelah melihat kau yang seksi seperti itu, aku mengurungkan niatku dan mungkin akan meminta ijin untuk menginap di sini.” Godanya.
“Keluar dari kamarku, dasar pria mesum!” teriak Stefa dan mengusir Revaldo. Bukannya menurut, pria itu malah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Ia berjalan ke arah Stefa yang sudah berjalan mundur ke belakang. Kedua tangannya masih memegang piyama untuk menutupi tubuhnya. Meskipun Stefa sering menggunakan bikini saat pergi berenang atau ke pantai, tetap saja kalau di hadapkan pada situasi seperti ini ia akan merasa malu juga.
“Kau.. Kau mau apa?” tanya Stefa dengan gugup.
“Kenapa pipimu merona?” tanya Revaldo masih menggoda dengan seringai nakalnya.
“Bukan urusanmu. Cepat keluarlah, aku mau berganti pakaian!” usirnya lagi.
Revaldo semakin memangkas jarak di antara mereka membuat Stefa terpojokkan dan pada akhirnya ia terjatuh terduduk di atas ranjang. Pria itu semakin menyeringai nakal melihat Stefa sudah terpojokkan olehnya.
Pria itu mengulurkan tangannya untuk meraih rambut Stefa, namun Stefa tepis begitu saja.
“Jaga kesopananmu itu!” desisnya tajam.
“Bagaimana bisa aku menjaga kesopananku kalau di hadapanku ada kau yang sedang menggodaku.” Jawab Revaldo membuat Stefa jengah.
“Siapa yang sedang menggoda siapa? Kau yang tiba-tiba datang ke kamarku disaat aku akan berganti pakaian. Dasar pria mesum!” cemoohnya.
Revaldo langsung mendorong Stefa agar terlentang di atas ranjang. Pria itu langsung menghimpit tubuh seksi Stefa di atas ranjang. Pria itu sengaja menghembuskan napasnya di depan telinga Stefa yang membuat wanita itu bergidik. Tanpa disadari, Stefa malah menahan napasnya sendiri.
Revaldo tersenyum melihat Stefa menahan napasnya sendiri. Ia langsung menggigit daun telinga Stefa dan kemudian bangkit berdiri.
“Bernapaslah! Kau akan mati jika kau menahan napasmu terlalu lama.” Ledek pria itu kemudian meninggalkan kamar Stefa.
Spontan Stefa langsung meraup oksigen sepuas-puasnya dan sebanyak-banyaknya. Pipinya terasa panas karena ulah Revaldo yang datang merangsek masuk ke dalam kamarnya secara tiba-tiba seperti maling tak diundang. Menggodanya sedemikian rupa sampai ia harus menahan napasnya sendiri.
Wanita itu memegang daun telinga yang sempat digigit oleh Revaldo. “Dasar pria mesum tak tahu sopan santun.” Gumamnya pelan.
Stefa langsung memakai piyamanya terburu-buru takut jika pria mesum itu kembali merangsek masuk ke dalam kamarnya lagi. Setelah selesai, ia turun ke bawah untuk menemui sepasang suami istri yang tengah berdiri di ambang pintu untuk mengantarkan Revaldo sampai depan.
“Kau tak mau menginap di sini?” tawar Charlote.
“Tidak perlu! Dia tak perlu menginap di sini.” Teriak Stefa dari belakang kemudian berjalan mendekati ketiga orang itu.
“Dia bahkan menginap di Hotel dekat sini, untuk apa dia menginap di rumah orang.” Stefa melanjutkan kalimatnya.
“Dasar anak nakal, bersikap baiklah pada calon keluarga baru masa depanmu ini!” tegur Ken yang mendapat cebikkan dari Stefa.
“Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Kapan-kapan aku akan kembali mampir lagi ke sini jika kalian tak sibuk.” Ucap Revaldo.
“Baiklah. Hati-hati di perjalanan, kau bisa datang kapan saja yang kau mau.” Balas Charlote membuat Stefa memelototkan matanya tak percaya.
Hell! Bisa-bisanya Tantenya mengatakan hal seperti itu. Itu sama saja memberikan ikan yang lezat pada seekor kucing nakal nan mesum. Tanpa diundang pun, pria mesum itu sudah pasti akan datang ke rumahnya setelah kedatangannya sekarang. Apalagi dengan undangan dari pemilik rumah itu sendiri, bisa-bisa pria mesum itu setiap hari akan datang ke rumah itu.
Tak mau berlama-lama dan membuat si pemilik rumah itu istirahat terlalu malam karena kehadiran Revaldo. Pria yang memiliki julukan pria mesum dari Stefa pun segera pergi meninggalkan halaman rumah mereka.
Mereka kembali masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar tidur masing-masing. Stefa mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan siap untuk menjemput alam mimpinya. Namun niatnya harus ia urungkan karena handphone miliknya terus saja berbunyi nada notifikasi pesan masuk.
‘Aku sudah sampai di Hotel. Kau tidurlah, ini sudah malam. Dan jangan lupakan aku untuk hadir di dalam mimpimu itu! Malam ini aku untung banyak, selain mendapatkan dukungan dari Paman dan Tantemu. Aku juga bisa melihat kau hampir bertelanjang, itu bonus yang menarik dan menyegarkan mata. Selamat malam wanita seksiku.’**
__ADS_1
Stefa membaca pesan yang ia yakini bahwa itu nomor si pria mesum yang beberapa waktu lalu menumpang makan malam di rumah Tantenya. Entah dari mana pria itu mendapatkan nomor Stefa, yang pasti pria mesum itu bisa mendapatkannya dengan mudah.
“Cch. Dasar pria mesum tak tahu diri. Siapa pula yang mau memimpikannya. Dasar pria mesum sinting.” Stefa langsung mematikan handphone-nya tanpa berniat membalas pesan Revaldo. Ia lantas memejamkan matanya dan mulai terlelap.