
Sementara police itu telah kabur meninggalkan kliennya- setelah di pindah tugaskan ke pedalaman Papua selama hampir satu tahun lamanya, para pria yang dibawa Dyah juga telah kabur entah kemana meninggalkan Dyah juga Indra berdiri dengan badan bergetar.
Baru mau melangkah kakinya untuk beranjak, suara Gabe menghentikan mereka.
“ siapa yang memperbolehkan kalian untuk beranjak pergi?” ucapan Gabe membuat kedua insan yang tak lagi muda itu terjenggit kaget.
“ aku tidak menyangka jika kalian benar- benar memanggil aparat hukum tidak berguna itu.” ungkap Mick, menggunakan kaos tangannya.
“ sebelum hitungan ketiga kemari, dan bersimpuh.” ungkap Gabe.
“ satu..” ucap Mick memulai namun belum sampai hitungan ketiga kedua orang itu langsung berada di depan Mick juga Gabe dan langsung bersimpung dengan posisi tangan di belakang kepala.
Gabe juga Mick hanya menyunggingkan senyum mengejek, sementara Kyara memilih duduk menonton di kursi yang ada di teras rumah keluarga besar Nath.
“ jadi katakan kepadaku, berapa banyak kau membayar pria berseragam tadi.” ungkap Gabe. Namun tak ada jawaban sama sekali dari kedua insan karena bergetar melihat pistol yang di keluarkan Gabe.
“ tu.., tuan pa.. pasti senjata itu palsu.., kan? Tidak mungkin seorang aktivis sosial yang namanya sudah di kenal di dunia sosial seperti anda bisa memegang pistol.” ungkap Dyah sopan dan terdengar bergetar.
“ huh? Palsu?” ucap Gabe menyunggingkan smirk smile nya.
“ Prakk!!” suara dahan patah terkena sasaran pistol dari Gabe yang telah di pasang peredam suara.
__ADS_1
“ aku memang memasang peredam suara, bukankah ini akhir yang cocok untuk kalian? Bahkan orang tidak akan tahu kapan kisah kalian akan berakhir, tidak akan ada yang mengenangnya- tidak tahu jika kalian sebenarnya telah berakhir.” ungkap gabe dengan nada santai. Sementara tampak sang pria telah basah celananya.
“ ooo, kau teryata bukan hanya pria tak bertanggung jawab yang suka bermain wanita dan tidak gentleman namun juga pengecut, ya?” ucap Gabe mengejek.
“ Kyara..” ucap Gabe memanggil Kyara.
“ yes, brother?” ucap Kyara mendekat.
“ kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?” ucap Gabe memberi pistol itu untuk Kyara.
“ sure.” ucap Kyara.
Brukk!! suara terjatuh datang dari Indra lantaran peluru itu langsung mengenai kedua paha nya.
“ sekarang giliranmu nyonya.” ucap Kyara kepada Dyah.
“ aku dengar kau ini memiliki suami buta ya?” ungkap Mick merebut pistol yang di bawa Kyara.
“ ap.., apa masalahmu?” ungkap Dyah dengan suara bergetar.
“ untuk menebus kesalahamu, bagaimana jika aku mengganti mata mu ini untuk suami mu?” ucap Mick dengan seringai menakutkan.
__ADS_1
Tampak badan Dyah bergetar.
“ tunggu! Bukankah dia bilang kalian berdua saling mencintai, bagaimana jika aku juga mengambil salah satu mata pria ini, kau yang kiri dan pria ini yang kanan. Bukankah itu impas? Untuk para orang- orang yang telah kalian khianati.” ungkap Gabe ikut menimpali. Lalu Mick mengarahkan pistol itu ke mata Dyah dan…
“ Bang!!” teriak Mick. Membuat wanita itu terjinggit kaget hingga pingsan karenanya.
HA HA HA.. tawa terlontar dengan membahana.
“ misi berhasil.” ucap Gabe men toss Mick.
“ tapi aku masih tidak mengerti bagaimana bisa para warga ini tidak ada yang keluar meski ada keramaian perkelahian seperti ini?” heran Kyara.
“ sebelumnya aku sudah memprediksi ini akan terjadi jadi yah, aku sudah menghimbau para warga dan mengatakan ini hanya sandiwara untuk main film.” ungkap Gabe.
“ ya ampun ayah.” ucap Enny yang keluar dari rumah setela di beri tanda oleh Mick.
“ tenang lah, ini hanya peluru palsu.” ungkap Gabe mengambil pin berdarah itu, yap, pistol itu berisi peluru palsu yang akan meliat membentuk sebuah luka tembakan yang berisi cairan merah serupa darah.
“ sekarang apa rencana kalian.” ungkap Nath.
“ sekarang kita bawa kedua orang ini. Kau ikutlah.” ungkap Mick, menggendong pria juga wanita menuju tempat yang sudah mereka rencanakan.
__ADS_1
***