
Lampu dari ruangan Operasi yang semula menyala- kini meredup, tanda Operasi telah selesai. Seorang wanita yang memimpin jalannya operasi baru saja keluar untuk memberitahu hasil dari operasi. Senyuman yang menghiasi dokter yang tak lagi muda itu benar- benar membuat orang- orang yang menunggu dengan gelisah kini bernafas lega. Setelah menyerahkan kepada perawat untuk membereskan kekacauan setelah Operasi- dokter wanita itu bergegas menuju ruangannya untuk membersihkan dirinya dari segala darah dan keringat yang menempel.
“ bagaimana operasinya?” tanya Rafael kepada Diana.
Ya, dokter yang memimpin jalannya Operasi adalah Diana. Tampak jika wanita itu tak menjawabnya dan memilih mendekati Rafael sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya pada Rafael dan memeluk pria yang terpaut 7 tahun lebih tua dengannya itu. Rafael yang terkejut hendak berontak sebelum akhirnya menyadari jika tubuh Diana gemetar. Rafael menghela nafasnya sebelum akhirnya mengelus kepala Diana untuk menenangkan wanita itu.
“ sampai kapanpun aku takkan terbiasa dengan darah.” ucap Diana setelah tenang.
“ aku sudah memberimu kesempatan untuk hanya menjadi asistenku namun memiliki bayaran yang sama dan kau lebih memilih untuk turun ke meja operasi dan berperang dengan alat- alat bedah itu.” ungkap Rafael tak habis pikir.
“Tapi aku ingin menjadi sepertimu.” ungkap Diana.
“Sepertiku?” Heran Rafael.
“Ya, aku selalu ingin sepertimu, menolong orang bukan karena uang namun karena tanggung jawabmu sebagai dokter.” Ucap Diana antusias. Melihatnya- Rafael hanya tersenyum.
“Lagi pula meski menakutkan tapi begitu melihat wajah bahagia ketika berhasil melakukan operasi sungguh mengobati ketakutanku.” Lanjut Diana lagi.
“Jadi..., nona Diana.” Panggil Rafael.
“Ya?” heran Diana.
__ADS_1
“Sampai kapan kau mau duduk di pangkuanku?” Ucapan Rafael membuat Diana melihat ke arah dimana ia duduk. Dan benar saja, sekarang ini ia duduk di pangkuan Rafael. Dengan segera ia beranjank dari pangkuan Rafael dan berdiri sambil tertunduk agar Rafael tak dapat melihat wajahnya yang memerah.
“Maafkan aku.” Ucap Diana tertunduk malu. Jika biasanya Rafael akan marah bahkan menghempaskan para perempuan yang berusaha menggodanya, kali ini Rafael hanya tersenyum melihat tingkah Diana yang menurutnya sangat imut.
‘ dia benar- benar mirip Kyara- pintar tapi sangat polos dan lemot.’ batin Rafael.
Sementara di tempat lain- seseorang yang baru saja di pikirkan entah mengapa terbesin tiba- tiba.
Hatsyi!! suara bersin Kyara memenuhi ruangan kala sedang bersama suaminya.
“Apa kau masuk angin?” Tanya Mick.
“Tidak! Aku merasa ada yang sedang membicarakanku. Hidungku terasa panas.” ungkap Kyara menggosok hidungnya.
“Memangnya kenapa?” heran Kyara.
“Mau aku hajar.” ucap Mick.
Sementara itu entah mengapa Rafael merasa merinding seolah merasa nyawanya dalam bahaya.
“ kenapa?” tanya Diana.
__ADS_1
“ tidak! Ngomong- ngomong..” ucap Rafael mengantung.
“ ngomong- ngomong apa?” heran Diana.
“ lagi- lagi kau tak memanggilku Uncle.” ucap Rafael.
“ ayolah, kau dan aku hanya bertaut 7 tahun, jika biasanya orang tak suka terlihat tua mengapa kau mau aku mengakuimu jka kau itu tua?” tanya Diana.
‘ untuk apa? Tentu saja agar aku tahu batasan diriku.’ batin Rafael.
Sejujurnya, untuk pertama kali selain dengan Kyara- Rafael tak membenci wanita. Namun mengingat jika wanita ini merupakan anak angkat dari sahabat kakaknya membuat Rafael membatasi dirinya. Meski harus Rafael akui jika Diana juga mempesona tak kalah dengan Kyara- ahkan saat wanita itu berontak dari pangkuannya membuat milik Rafael hampir saja terbangun.
0o0
hai hai
author cuma mua ucapin selamat Idul Fitri 1442 H
mohon maaf lahir dan batin
serta
__ADS_1
selamat hari raya paskah bagi yang merayakan
Tuhan selalu beserta kita