My Police Is My Step Brother

My Police Is My Step Brother
S2 pengakuan Yudha


__ADS_3

Yudha terbangun bahkan sebelum matahari memaksa masuk ke ruangannya- atau bisa di bilang, ia tak tidur sama sekali. Ia ingin sekali terbangun sebelum Emma terbangun dan melihat wanita itu terbangun.


Dan di saat pria itu mendapatkan pegerakan kecil dari wanita Itu, Yudha hanya terdiam dan melihat Emma yang hanya menatap dada bidang Yudha.


‘ imutnya.’ batin Yudha yang melihat Emma belum menyadari jika yang bersama nya adalah dirinya.


“ aku bukan papa mu.” ucap Yudha awalnya, ia ingin menggoda Emma, siapa yang menyangka jika apa yang di lakukannya malam membuat wanita itu terkejut dan terjatuh karenanya.


“ kau tak apa?” ucap Yudha yang terkejut melihat Emma terjatuh dan langsung menuju wanita itu.


“ aku.., aku tak apa- apa. Aku hanya mau buang air kecil.” ucap Emma menolak uluran tangan Yudha.


“ oh? Setelah keluar dari kamar ini ke kanan toilet, ke kiri kamar mandi.” ucap Yudha yang tak sadar jika dirinya masih polos tanpa menggenakan sehelai benang pun, setelah Emma beranjak dari ruangannya, barulah pria itu melihat jika tubuhnya masih polos dan belum mengenakan pakaianya sehelai pun untuk menutupi tubuhnya. Ia bahkan tak menutupi tubuh polosnya dengan selimut atau apapun itu karena terkejut saat melihat Emma yang tiba- tiba terjatuh itu.


‘ jadi wajahnya memerah bukan kaena kesakitan? Ia pasti terkejut melihat milikku.’ batin Yudha menutupi miliknya yang menggantung bebas dan mencari kembali pakaiannya.


😊😊😊


Yudha yan mendengar suara gemericik air dari kamar mandinya hanya tersenyum. Ia kemudian mengingat pakaian Emma yang sudah di keringkan nya.


Di saat Yudha selesai melipat baju Emma- saat itulah wanita itu selesai membersihkan dirinya.


“ kau sudah selesai mandi?” tanya Yudha begitu Emma keluar dari kamar mandi. tampak Emma yang terdiam sambil menatap Yudha dengan wajah bingung.


“ aku sudah mengeringkan bajumu.” ucap Yudha menunjukkan pakaian Emma.


“ e..eem.” ucap Emma ragu.


“ setelah ganti makanlah dulu, aku sudah membelikanmu bubur telur.” ucap Yudha sibuk dengan masakan yang di beli nya.


“ iya.” ucap Emma memilih mengganti bajunya.


*


“ makanlah selagi hangat.” ucap Yudha memberikan semangkok bubur telur untuk Emma.


“ y..a.” ucap Emma ragu. Setelah menimbang beberapa kali. Barulah Emma memilih bersuara.


“ pa.., pak yudha.”


“ Ya?”


“ maafkan saya.”


” maaf? Untuk?" heran Yudha.


"Ka.., karena saya sudah memaksa anda." tampak jika Emma memilin tangannya saat mengatakan hal itu.


"Memaksa? " ucap Yudha yang menahan tawanya, ia tak menyangka jika wanita itu berpikir dirinyalah yang memaksa Yudha.


"Ya. Soal kejadian semalam hingga anda dan saya.. "


"Kenapa kau bisa berpiki begitu." ucap Yudha.

__ADS_1


"Sebelum tidak sadar- saya merasa tidak nyaman. Saya yakin itu adalah efek dari perangsang." ucapan Emma membuat Yudha tersenyum.


"Kau benar."


"I., it sebabnya maafkan saya."


"Kau memang berada di bawah pengaruh perangsang namun kau tidak memaksaku." ucap Yudha menyingkirkan anak sulur Emma agar leluasa melihat wajah cantik wanita itu.


"Kenapa anda bisa seyakin itu?" heran Emma.


"Karena akulah yang memberi perangsang kepadamu."


"Apa..? maksud saya kenapa?" ucap Emma tak percaya.


"Aku tak suka melihatmu menyerah akan aku, Emma." Ucap Yudha menangkup tangan Emma.


"Apa? Maksudku kenapa? Bukankah anda tak menyukai saya?" heran Emma.


"Apa kau tahu alasan kenapa aku tak bisa menerimamu?" tanya Yudha.


"Karena anda menyukai mama saya." Ucap Emma memilin kembali baju nya.


"Bisa di bilang begitu." Ucapan Yudha membuat Emma terdiam.


"Namun itu bukan satu- satunya alasan aku tak bisa menerimamu." ungkap Yudha.


"Apa?"


"Kau tahukan? Aku dan kamu memiliki perbedaan umur yang sangat jauh, 17 tahun. Menurutmu apa pandangan orang- oang pada kita. seorang dosen berkencan dengan mahasiswi nya yang masih gadis?"


" Lalu kenapa sekarang.." heran Emma setelah melihat Yudha tersenyum mendengar kata- kata wanita itu.


"Karena.., rasanya lebih menyakitkan kehilangan orang yang mencintai kita. Rasanya bahkan berkali- kali lipat lebih menyakitan dari pada di tolak orang yang kita cintai" ucap Yudha mempererat kukungan tangannya. bahkan pria itu mulai menautkan jari- jarinya dengan jari- jari wanita itu.


" Pak."


"Kenapa kau menyebutku dengan embel- embel, pak? Bukankah kita sekarang sepasang kekasih?" ucap Yudha tak suka. pria itu bahkab langsung duduk di sebelah Emma.


Mendengarnya Ema hanya menangis.


"Tapi itu kalau kau mau aku bertanggung jawab." ucap Yudha menunjukkan smirk smile nya.


"Tanggung jawab apa?" heran Emma.


"Kau adalah wanita dewasa pasti tahu maksudku." Ucap Yudha. mendengarnya, Emma langsung mengerti maksud dari perkataan pria itu.


"Aku akan menghajarmu jika kau tak mau bertanggung jawab." Ucap Emma menepuk dada Yudha. Sementara pria itu hanya tertawa melihat kelakuan Emma dan memeluk wanita itu.


"Apa kau tahu alasan lain mengapa aku masih ragu menerimamu." ungkap Yudha.


"Alasan apa?"


"Alasan lainnya karena aku tahu sendiri bagaimana kerasnya peraturan keluargamu."

__ADS_1


"Semua menantu di keluargaku juga semuanya berasal dari nol. Bahkan mama ku dulu juga tak bisa beladiri."


"Aku tahu." ucap Yudha.


"Kau tahu?"


"Ya. Papa mu yang mengatakan hal itu padaku."


"Papa?" ucap Emma tak percaya Gabriel telah merestui hubungan Emma dengan Yudha, seingatnya, terakhir kali Emma menceritakan soal Yudha tampak jika pria yang tak lagi muda itu hendak akan menghajar Yudha.


"Ya, dari dia juga aku mendapatkan perangsang dengan dosisi lumayan tinggi itu. Karena ia tahu kau ini keras kepala. Kata cinta saja takkan membuatmu kembali menerimaku."


"Kau bertemu papaku?" Heran Emma. Yudha hanya tersenyum sambil menggendong Emma dan meletakkan wanita itu ke meja makan.


"Aku bertemu dengan papa mu, bersimpuh agar dia mau menerimaku sebagai menantunya."


"Apa papa setuju?"


"Kalau tidak setuju aku takkan mendapatkan perangsang itu. Itu di buat oleh uncle mu sendiri."


"Uncle Lucifer?"


"Ya." Ucap Yudha memajukan wajahnya.


"Jadi.., apa masih sakit aku sudah menghubungi papamu untuk membiarkanmu menginap disini dua atau tiga hari lagi." bisik Yudha tepat di telinga Emma.


"Dasar pak tua." Ucap Emma tertawa geli.


"Kau sudah tahu aku tua kenapa masih menyukai ku."


"Kau juga menyukai mama ku padahal jarak umur kalian sangat jauh."


"Itu sudah berlalu."


"Kau tahukan aku sudah menyerah padamu." ucap Emma mengingatkan.


"Aku tahu. Itu sebabnya,Sekarang, biarkan orang tua ini mengejarmu young girl." Ucap Yudha mulai menciumi kekasihnya.


🌸🌸🌸


"apakah keputusan kta ini sudah benar? Aku takut putri ita malah marah pada kita." ungkap Lily kepada Gabriel.


"Aku harap ini keputusan yang tepat benar. Kau tahu sendiri jika ia sangat menyukai mu.


Namun begitu tahu Emma yang menyerah padanya ia dengan berani datang ke hadapan kita dan bersimpuh di depan kita untuk merestui hubungannya dengan Emma. Ia bahkan mengatakan alasan mengapa ia tak bisa mencintai Emma." Ungkap Gabe mengingat saat pria yang diketahui Gabe menyukai istri nya itu malah datang dan meminta restu kepafa Gabe juga Lily.


Benar, sehari sebelum Yudha meminta ujian pribadi dengan Emma- pria itu datang ke mansion Gabe juga Lily. Ia lantas mengatakan alasan mengapa ia tak bisa menerima Emma.


Terutama soal perbedaan umurnya atau karena tahu kebiasaan kelarga Willis yang keras.


"Aku tak menyangka jika kau akan merestui Yudha. Padahal aku masih ingat saat kau marah dan ingin menghajar pria itu."


"Aku dapat melihat jika ia memang sudah mencintai putri kita. Itu terbukti dari dia yang mau berlulud di hadapanku- saingan cintanya juga dirimu- wanita yang dulu dia cintai. Aku rasa dengan perasaan cinta itu ia layak menjadi bagian dari keluarga Willis." Ungkap Gabe. Berharap apa yang di lakukan ini adalah benar.

__ADS_1


...suka ga?...


...like dan live donk biar author merasa afa yang mendukung author😊😊...


__ADS_2