
Dan....? wanita itu tak berontak? Apa wanita itu juga mabuk? Heran Rafael. Akal sehatnya bertanya seperti itu- namun seolah akal sehat dan tubuhnya berlawanan- pria itu mulai memainkan bibir Diana. Merasakan manisnya saliva wanita itu.
Rafael dapat merasakan jika Diana berusaha membalas alur ciuman yang di berikan pria itu, bahkan tanpa di suruh wanita itu membuka mulutnya dan memberi akses untuk lidah Rafael mengabsen setiap rongga di mulut wanta itu. Bahkan Diana ikut menautkan lidahnya di lidah Rafael- berusaha membalas apa yang di lakukan Rafael meski pria itu merasa jika Diana masih terasa kaku dalam membalas alur ciuman Rafael.
Ergh! Pria itu menggeram kala merasakan tangan Diana mulai memainkan milik Rafael yang mulai mengeras di balik celana panjangnya. Rafael menjauhkan wajahnya untuk menelisik wajah Diana. Wajahnya sama sekali tak memerah dan seingat Rafael bahkan wanita itu tak meminum seteguk pun alcohol yang di sediakan- karena Rafael lah yang selalu meminum alcohol yang di berikan untuk Diana.
Tangan Diana yang awalnya di gunakan untuk memanjakan milik Rafael kini wanita itu gunakan untuk meraih wajah pria itu untuk kembali menciumnya dan menautkan bibir satu sama lain.
Tangan Rafael mulai dengan nakal membelai setiap kulit Diana membuat wanita itu menggeliat meski bibirnya masih menyatu dengan bibir Rafael. Tangan Diana pun tak tinggal diam. Wanita itu mulai membuka setiap kancing kemeja milik Rafael dan mulai membelai dada bidang Rafael.
Entah bagaimana setiap pakaian yang mereka gunakan sudah terjatuh ke lantai. Tak ada lagi di antara mereka yang tertutup oleh kain, sehelai benang pun tidak. Di sisa keadaran yang ada Rafael masih berusaha menatap ke wajah Diana yang juga menatapnya.
Dengan jelas Rafael yakin jika jika wanita itu masih dalam keadaan sadar, tak mabuk, dan Rafael juga yakin jika tak tercium bau obat dari tubuh dan mulut Diana, namun mengapa sedari awal permainan mereka seolah Diana lah yang menuntun pria itu melakukan segalanya. Bahkan wanita itu juga yang kini mulai mengarahkan milik Rafael di miliknya yang telah basah.
“ apakah kau mau aku memasukimu?” tanya Rafael.
“ ya, i want it.” ucap Diana. Satu- satunya yang Rafael lihat adalah api gairah di mata Diana. Dengan sekali hentakan pria itu memasuki wanita yang di yakini Rafael masih gadis itu. Dan Rafael sudah membuktikan opini nya, wanita itu memang masihlah seorang gadis. Rafael lah pria pertama yang memasuki Diana. Tampak terlihat dari reaksi kesakitan juga darah pertama yang mengalir ketika milik Rafael masuk ke inti Diana. Dan permainan panas mereka akhirnya terjadi dan baru berakhir hingga tengah malam dan di akhiri dengan lenguhan dan pekikan dari mereka berdua.
*
Setelah mengingat segalanya, Rafael menyugar rambutnya dengan kasar. Apa yang di takutkannya selama ini terjadi. Ia bercumbu dengan anak dari sahabat kakaknya. Di singkapnya selimut yang menyelimuti tubuhnya dan mata Rafael tertuju pada noda merah yang mengotori kasurnya.
“ apa kau sudah bangun?” tanya sebuah suara wanita.
“KAU!” geram Rafael mencekal kedua lengan Diana.
“apa yang kau lakukan?” heran Diana meringis karena kesakitan.
__ADS_1
“ aku yang seharusnya bertanya! Apa yang kau lakukan pada tubuhku?” geram Rafael.
“ apa maksudmu?” heran Diana.
“ kau pikir aku tak tahu? Aku di beri obat perangsang hingga aku.. hingga kita..” ucap Rafael menggantung.
“ aku tak tahu apa- apa.” ucap Diana berontak namun cekalan pada lengannya semakin di pererat oleh Rafael.
“ kau tak tahu apa- apa? Jangan kau kira aku tak tahu! Kau terus menuntunku meski aku tahu kau tidak mabuk!” bentak Rafael karena geram.
“Aku tak tahu kau berada di bawah pengaruh perangsang! “Ucap Diana jujur.
“Lalu KE NA PA!” Ucap Rafael penuh dengan tekanan.
“Karena aku..” ucap Diana ragu.
“Aku.. “
“Katakan!” Bentak Rafael.
“Karena aku menyukaimu! “Ucap Diana meninggikan suaranya. Rafael melepas cekalannya seketika itu juga air mata bening menetes dari mata indah Diana.
“Kau!” Ucap Rafael menunjuk Diana yang terus menangis.
“Kita tak bisa, Diana! “ ucap Rafael menyugar rambutnya.
“Kenapa?” Isak Diana.
__ADS_1
“Kau tahu kan peraturan keluargaku yang ketat.”
“Lalu kenapa? Sis Kyara saja bisa melaluinya. Aku juga telah di ajari beladiri oleh sis Kyara juga kak Mick!” Ucap Diana terisak.
“Kita tetap tak bisa bersama.”
“Kenapa?”
“Karena kau ini anak angkat dari sahabat kakak ku.”
“Itu alasan yang konyol!” Ucapan Diana memuat Rafael terbungkam. Sementara Diana terdiam sambil terus menangis.
“Katakan sejujurnya jika kau tak menyukaiku, Rafael!” Kilah Diana. Ia terus terisak melihat Rafael yang terdiam.
“Salah aku berharap adamu! Aku pikir kau berbeda dengan pria kebanyakan, aku pikir kau.. berbeda, tidak seperti ayahku yang bisa berkhianat pada ibuku.” Ucap Diana beranjak pergi sambil menghapus air matanya.
“Diana.” cegah Rafael.
“Aku pulang, uncle Rafael. Anggap saja kemarin tidak terjadi apa- apa! Aku akan meminta penggugur S****a pada uncle Gabe.” Isak Diana meninggalkan kamar apartement Rafael.
“Diana!” Rafael hendak menyusul Diana namun ia menyadari jika ia masih belum memakai apa- apa. Dan ketika pria itu telah memakai celana nya, ia mendapati jika sosok Diana tak lagi di apartement itu. Pria itu sekali lagi menyugar rambutnya.
‘Sudahlah! Tak mungkin juga wanita itu benar- benar minum penggugur S****a. sebagai dokter tentu ia tahu resiko terbesar meminumnya.’ Batin Rafael memilih masuk kembali ke Flatnya. Kebetulan, hari ini ia libur karena memang tak ada jadwal operasi.
0o0
maaf ya kalo kurang seru ^_^ takutnya ada bocil nyelip baca karya author
__ADS_1