
Rafael terbangun dengan kepala yang terasa berat. Dibukanya matanya perlahan. Matanya tampak belum mengerjap sempurna karena perbedaan cahaya yang di terimanya. Ia mendapati pemandangan pertama yang di lihatnya adalah langit- langit flat apartement yang sudah sengaja di belinya di dekat rumah sakitnya agar memudahkan ia langsung beristirahat ketika ia lembur dengan urusan rumah sakit atau ketika secara tiba- tia ada pasien darurat yang membutuhkan pertolongannya.
Rafael terduduk dan menyadari jika ia dalam keadaan tubuh yang polos hanya tertutupi sebuah selimut. Pria itu berusaha mengingat- ingat apa yang terjadi- atau bagamana ia isa berada di kamarnya dalam keadaan kepala yang terasa berat tanpa mengenakan sehelaipun kain.
Benar, malam kemarin adalah ulang tahun rumah sakit yang sudah ia bangun beberapa tahun yang lalu. Karena kebetulan saat itu rumah sakit sedang lenggang, mereka mengadakan perayaan kecil- kecilan, berupa pesta sederhana di rooftop rumah sakit- dengan kue, makanan ringan dan yang pasti, alcohol tak pernah luput dari pesta orang dewasa. Rafael sudah mengingatkan mereka agar tak terlalu banyak minum karena esok harinya mereka masih harus bekerja. Namun tak ada orang yang dapat mengalahkan godaan alcohol.
Akhirnya pesta semakin meriah dan di adakan permainan kartu dan bagi yang kalah- mereka harus meminum alcohol. Rafael masih ingat, banyak para pria yang mengincar Diana dan memaksanya untuk minum karena memang wanita itu tak pernah pandai dalam permainan kartu atau mereka saja yang bermain curang. Dengan alasan jika Diana as2 antadalah asistennya- Rafael selalu merebut minuman yang seharusnya di tujukan pada Diana.
Entah sudah berapa kali Rafael meneguk alcohol yang seharusnya di tujukan pada wanita itu. Tampak terlihat jika pia itu berusaha keras menahan mabuknya karena tak ingin hal tak terduga terjadi pada anak angkat dari sahabat kakaknya tersebut.
Pesta berlangsung sampai tengah malam dan saat Diana merasa sudah waktunya pulang, wanita itu ijin untuk pulang. Tentu saja banyak para pria yang mengajukan diri ingin mengantar wanita itu pulang, kali ini, Rafael tanpa pikir panjang langsung menarik tangan Diana dan membuat para pria itu menggeram kesal- tapi tak juga bisa membantah karena yang di hadapinya bukan hanya direktur rumah sakit namun juga pemilik dari rumah sakit tempat mereka bekerja. Di satu sisi para wanita yang selalu mengidolakan Rafael pun menggeram kesal karena melihat kedekatan antara Diana dengan Rafael.
“Kau ini bodoh ya?” Bentak Rafael begitu sampai dalam mobil.
“Kenapa kau memarahiku?” Ucap Diana yang terkejut- karena baru mau menaruh pantatnya di kursi penumpang di sebelah Rafael- pria itu langsung membentaknya.
“Kau tidak lihat jika para pria itu menyukaimu? Mereka itu mengincarmu dan kau selau mengiyakan permintaan mereka?”
“Ap.., apa boleh buat! Biar bagaimana pun mereka senior sekaligus rekan kerjaku! Aku tak ingin membangun suasana yang buruk antara rekan kerjaku dengan menolak permintaan mereka di pesta sesama rekan rumah sakit.” Ucap Diana.
Tampak nafaas Rafael yang memerah dengan nafas memberat.
“Kau.., kau kenapa? Wajahmu memerah!” Ucap Diana mau mengecek suhu Rafael. Namun pria yang tak lagi muda itu mengelak tangan Diana.
“Jangan sentuh aku!” Bentak Rafael yang mulai merasa tidak nyaman. Dapat di pastkan jika minuman ang seharusnya tertuju pada Diana itu telah di masukkan sesuatu.
__ADS_1
“Rafael! Kau tak lihat wajahmu yang memerah!” Bentak Diana mulai kesal akan sifat Rafael.
“Kau memanggilku apa? Aku selalu memintamu menyebut Uncle!” Ucap Rafael tak terima.
Masa bodoh dengan sebutan! Hentikan moilnya!” Ucap Diana beranjak keluar dari mobil.
“Kau mau apa?” Heran Rafael menghentikan moilnya di pinggir jalan.
“Mengantarmu pulang!” Ucap Diana keluar dari mobil dan menuju kursi pengemudi.
“Ap? Memangnya kau bisa menyetir?” Heran Rafael.
“Tentu saja bisa daddy Simon mengajariku.” Ucap Diana bersiap mengendarai mobil Rafael. Namun sialnya- bahkan wanita itu tak membiarkan Rafael untuk berpindah tempat duduk. Memang wanita itu mungil tapi tempat duduk mereka juga tak besar di tambah pengaruh alcohol dan obat perangsang? Rafael sungguh menderita menahan gejolak yang selama ini selalu di tahannya.
Ya, gejolak yang selalu muncul bukan hanya malam ini saja atau karena pegaruh perangsang!
“Apa kau sakit?” Heran Diana.
“Aku.., aku baik- baik saja! Pulanglah!” bentak Rafael mengibaskan tangannya sekali lagi.
“Bagaiamana aku bisa pulang? Aku seorang dokter! Aku tak bisa membiarkan seseorang yang sedang sakit dan meninggalkannya sendirian.” ucap Diana hendak membopong Rafael.
“Aku tidak sakit!” Bentak rafael.
“Kau sakit! Lihatlah wajahmu memerah!” Sanggah Diana.
__ADS_1
“Aku baik- baik saja! “Rafael berusaha melawan keras kepala Diana namun itu percuma karena selain keras Kepala Diana memang sangat polos. Ia tak tahu jika reaksi yang terjadi pada Rafael adalah karena obat perangsang, bahkan pria itu mati- matian menahan gejolak tersebut namun wanita itu malah selalu berusaha menyentuh Rafael.
Sama seperti yang di lakukannya saat ini, ia mencoba membopong tubuh pria itu dan membantu Rafael berjalan.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Rafael karena Diana berusaha menuntun pria itu keluar dari mobilnya menuju ke lift apartement itu.
“Menuntunmu bejalan. Kau terlihat kepayahan.” Ucap Diana menekan tombol Lift. Lantai kamar Rafael tepat di atas gedung apartement ini- lebih tepatnya satu lantai paling atas.
“Apa pasword kamarmu?” Ucap Diana. Karena ia sudah berada di lantainya, rafael memilih memijit pasword flat apartementnya.
Setelah terbuka, Diana langsung membawa pria itu sampai kesalah satu kamar yang terdekat dari sana.
“Fyuh! Kau terlihat besar tapi kau sangat ringan!” Goda Diana.
“Kau harus lebih banyak makan, pekerjaan memang penting tapi jika kau tidak makan- kau juga akan sakit. Kau ini dokter, tapi juga manusia! Ada saat nya kau akan ambruk juga dan butuh pertolongan orang lain.” Ucap Diana beranjak keluar. Sungguh Rafael merasa lega dan berharap wanita itu meninggalkannya. Ia tak ingin melampiaskan apa yang di tahannya pada wanita seperti Diana yang Rafael yakin masihlah seorang gadis.
Rafael ingin membuka bajunya karena tubuhnya terasa semakin panas namun matanya kembali tertuju pada sosok Diana yang datang membawa seember air dan handuk kecil. Yang mungkin ditemukan wanita itu di dapur apartement Rafael, sementara handuk yang di bawa Diana- Rafael yakin itu adalah kebutuhan rumah sakit yang memang sengaja di simpan Diana untuk keadaan darurat.
“Kau.., kau mau apa? Bentak Rafael.
“Membilas tubuhmu, kau pasti tidak nyaman saat terbangun dan tubuhmu penuh akan bau alcohol.” Ucap Diana meletakkan embernya di lantai kamar tempat Rafael berbaring.
“Ti.., tidak perlu.” Ucap Rafael memberontak.
“Ya ya ya.” Ucap Diana malas namun tangannya mulai membuka setiap kancing baju Rafael.
__ADS_1
Sial! Rafael tak dapat lagi menahan hasratnya. Ia menarik Diana dan mulai mencium wanita itu. Dan....?