
Emma melihat kebelakang, menatap pada sosok yang selama ini di kaguminya. Sungguh, sebenarnya apa salah Emma? Wanita itu melihat dengan jelas jika Yudha bahkan bersikap ramah meski tetap menolak ajakan para Mahasiswi dan mahasiswa lain, namun mengapa kepada Emma hanya ada penolakan dengan tegas? Bahkan terkesan menyakitkan.
Masih lekat dalam ingatan saat itu siang hari dan Emma kesekian kalinya menyatakan perasaan pada Yudha.
“ apa kau tak paham arti; aku tak suka padamu? Merepotkan saja.” ucap pria itu meninggalkan Emma setelah mendesah kasar.
‘ sebenarnya apa salahku?’
‘Karena aku tidak cantik?’
‘ aku cerewet?
‘Aku yang terlalu agresif?
‘Tapi meski begitu dia tak perlu mengatakan hal itu sejelas itu kan?’ Batin Emma. Emma mengepalkan tangannya, sebelum akhinya memilih untuk berlari, kemanapun asal ia dapat menumpahkan tangisnya.
‘ mungkin aku saja yang terlalu tidak sadar diri.’ Batin Emma lagi.
ia berlari ke pojokan gedung kampusnya dan menangis disana. Lagi dan lagi ia memilih menangis dalam diam. Ini adalah kebiasaannya, ia tak ingin siapapun melihat dirinya menangis.
Bahkan sang ibu sekalipun tak pernah melihat seorang Emma menangis. Kala sedih wanita itu memilih untuk berdiam di kamar dan menumpahkan semuanya dalam sepi sebelum akhirnya berubah lagi jadi seorang Emma yang ceria.
Sesungguhnya ia tahu jika Yudha dulu menyukai mama nya, itu tampak terlihat ketika Emma di jemput oleh Lily beberapa waktu yang lalu. Namun Emma berusaha mengingkarinya karena bagaimana pun mama nya telah berkeluarga dan Emma yakin alasan Yudha menolaknya bukan karena mamanya pernah menolak pria yang menjadi pengajar di kelasnya tersebut.
Emma mengambil nafas kasar dan memandng langit yang sudah mulai gelap.
__ADS_1
‘ ya sudah. Mungkin memang pilihan yang paling tepat adalah menyerah.’ batin Emma.
**
di lain tempat.
Arah ekor mata Rafael melirik ke arah seorang wanita yang hanya terpaut 7 tahun darinya itu. Melihat sosok Diana mengingatkannya pada sosok Kyara. Ia jadi ingat bagaimana awal pertemuannya dengan seseorang yang menjadi kakak sepupu iparnya tersebut.
Ya, setelah kepulangannya dari swiss untuk melanjutkan kuliah s2 nya sekaligus mengesahkan janji dokternya di sana, ia di kejutkan akan sosok Kyara yang saat itu bermain kerumah keluarga besarnya. Bukan terkejut karena takut namun terkejut akan pesona Kyara. Manis dan cantik dengan tubuh berisi di beberapa bagian namun tampak polos. Rafael merasa bukan hanya tampak Polos namun memang polos, jika tidak, tak mungkin keluarga besar Leonard bisa menyukai seorang Kyara- mengingat keras nya peraturan keluarga Leonard.
Rafael kembali melirik Diana yang sedang merapikan beberapa peralatan setelah Operasi yang telah di gunakan Rafael. Diana sama- sama tampak polos namun pintar, meski ia menyelesaikan S1 sepuluh tahun dan S2 dua tahun, Rafael merasa itu hal biasa mengingat masalah yang di alami keluarganya di tambah kedokteran adalah sesuatu di luar bidangnya.
Tampak terlihat jika sebenarnya wanita yang hanya terpaut 7 tahun darinya itu lebih menyukai berbagai hal seperti Tari dan music. Namun demi membalas apa yang sudah di keluarkan Gabe kepada keluarganya membuat wanita itu mengalahkan ego nya dan menggeluti apa yang di yakin terbaik buat keluarganya.
“ selama aku di rumah sakit ini mengapa kau tak pernah memberiku kesempatan untuk operasi?” geram Diana.
“ kenapa? Bukankah harusna kau senang menjadi asisten pribadiku?” ucap Rafael tanpa melihat Diana.
“ tapi jika aku hanya membantumu aku bukan dokter namanya hanya suster! Jika kau hanya membutuhkan asisten, pekerjakan saja suster!” geram Diana.
Tampak jika Rafael tak melihat ke arah Diana meski ekor matanya menatap wanita itu sekarang. Rafael tahu jika sebenarnya dokter bukanlah bidang Diana- namun wanita muda itu lebih suka benar- benar merawat orang daripada hanya membantu Rafael. Padahal Rafael menjanjikan bayaran yang cukup untuk Diana menjadi asisten Rafael namun wanita itu lebih memilih loyalitas nya dan menepati sumpah dokter nya.
Rafael tersenyum samar sebelum akhirnya berucap.
“ baiklah.” ucap Rafael.
__ADS_1
“ ha?” heran Diana.
“ operasi jam 3 nanti kau bisa menghandle nya menggantikan aku.” ucap Rafael.
“ ingat! Jangan membuat namaku tercoreng karena kesalahan operasi!” ucap Rafael menyentil dahi Diana.
Harusnya Diana kesal, namun mendengar ia akhirnya dapat menunjukkan kemampuannya membuat wanita itu segera menerbitkan senyumnya meski tangannya mengelus dahinya yang terasa sakit di sentil Rafael.
Sebelum pergi meninggalkan Diana sekali lagi ekor mata Rafael menatap ke arah wanita itu.
‘ dia benar- benar seperti Kyara.’ batin Rafael.
Polos, manis- meski ia tak terlalu berisi di banding Kyara, namun Diana memiliki tinggi yang lebih tinggi dari Kyara dengan kulit kuning langsat dan rambut ikal bergelomang dengan rambut keemasan, senyum yang sama- sama indah seperti Kyara dan hidung yang sama- sama tidak terlalu mancung dan bentuk wajah yang semi bulat. Dan yang pasti adalah wanita itu tak terlalu suka pada uang sama seperti Kyara. Jika tidak, wanita itu pasti lebih memilih menjadi asisten pribadi Rafael yang bahkan bayarannya yang di janjikan Rafael lumayan cukup tinggi dari pada menjadi dokter yang harus berhadapan dengan darah dan hidup mati seseorang- meski bayarannya juga menjanjikan namun Diana juga di hadapkan pada amarah para keluarga Pasien jika Pasien tak terselamatkan.
‘ wanita itu tak ingin menjadi asistenku yang tugasnya hanya membantuku namun memiliki bayaran yang cukup tinggi dan lebih memilih ingin mengoprasi pasien, dia benar- benar berdedikasi tinggi pada sumpah dokternya.’ batin Rafael meninggalkan Diana karena harus melihat kondisi para pasiennya.
‘ ngomong- ngomong tadi, lagi- lagi ia tak memanggilku uncle.’ ucap Rafel bermonoloq.
0o0
hai hai hai
author tumben up ya
lagi ga ada yang bisa di kerjakan jadi ya berkarya ajh dulu lalu up deh ^_^
__ADS_1