
Alasan aku membenci police adalah karena perilaku mereka yang semena- mena. Dengan alasan menegakkan keadilan lantas mereka semena- mena bermain di belakang hukum.
Yang salah malah di bebaskan yang benar menjadi salah dan di hukum.
Jika saja saat itu aku bisa berbicara, aku pasti sudah menyuarakan bagaiamana para police itu mempermainkan keadilan dan merombak hukum seenak mereka.
Aku membenci ibuku. Namun melihat kelakuan para police itu aku jadi lebih membenci para police itu.
Aku memang tak bisa berbicara, namun aku bukanlah orang yang bodoh. Aku dapat mengerti sumpah serapah ibuku yang menyalahkan kekasihnya yang meninggalkannya saat dirinya hamil hingga lahir lah aku. Biasanya, setelah menyalahkan kekasihnya, ia akan menyalahkan aku. Mengapa aku harus ada di rahim ibuku hingga membuat ibuku di usir oleh keluarganya. Tak jarang setelahnya, ibu akan menjadi histeris dan menyakiti ku.
Aku membenci ibuku. Begitulah kata- kata yang selalu hadir di hatiku kala ibu menyakiti aku.
Aku masih ingat kala ibu yang selalu memaksa ku mengemis dari pagi hingga siang dan ketika malam tiba selalu memaksa ku mengais sampah, mencari barang yang bisa di jual lagi.
Satu- satunya yang aku suka dari sifat ibu adalah, ia tak suka mencuri apa lagi mengambil barang yang bukan menjadi hak nya. Ia bahkan pernah memarahi ku kala aku mengambil secara diam- diam makanan yang aku ambil dari penjual keliling saat penjual itu mengalihkan perhatiannya.
Mungkin sejujurnya, ibu ku adalah pribadi yang baik. Seandainya ibuku memiliki psychology yang sehat- akankah ia memberi ku kasih sayang yang layak? Seandainya aku tahu siapa yang sudah membuat ibuku menjadi seperti ini. Meski ia merupakan ayah kandungku- aku tetap akan memberi perhitungan kepada pria tak bertanggung jawab itu.
Dan satu hal lagi yang membuat aku membenci ibuku adalah saat aku tak membawa hasil. Ibu ku takkan segan- segan memarahi aku, menjambak rambutku, menjewer telingaku bahkan tak segan- segan memukul kepala ku.
__ADS_1
Pernah suatu kali ada orang yang melihat ibuku melampiaskan kegilannya padaku dan ada orang yang melihatnya. Ibuku kabur karena orang itu mengancam akan memanggil police. Dan kurasa dari sanalah aku bukan saja membenci ibuku namun juga mulai membenci para police itu.
πΈπΈπΈ
Saat itu aku yag sedang tertidur di sekitar emperan toko harus terbangun kala mendengar suara berisik. Dengan malas, aku membuka mataku sambil mengucek mata ku yang terasa perih akibat tidur ku yang terganggu. Aku begitu terkejut melihat ibu ku yang memberontak akibat ada yang hendak memperkosanya.
Aku hanya terdiam. Tak berusaha membantu ibuku ataupun menghalau police itu. Kenapa? Aku sendiri heran pada diriku sendiri.
Mungkin apa yang ibuku lakukan siang tadi sungguh membuat hati ku terluka hingga aku memilih hanya diam saja saat ibuku membutuhkan bantuanku. Dan hal yang aku lupakan adalah aku juga sama- sama wanita seperti ibuku. Jika ibuku saja bisa menjadi sasaran Police bengis itu- maka Police itu pasti juga akan berusaha melakukan hal yang sama pada ku.
Setelah menikmati ibuku, tampak jika police itu langsung meludahi ibuku dan tertawa nyaring;
Aku sendiri tak yakin jika ia seorang Police namun dia malah mengumumkan jika dirinya adalah seorang police. Batinku tak percaya melihat kebodohan pria bertubuh tambun tersebut.
Yang membuatku terjenggit kaget adalah pria itu menatapku penuh damba seolah membangkitkan apa yang barus saja di lampiaskan nya. Berdasarkan naluri ku, aku harus lari dari police tersebut. Dan benar saja, police itu mengejarku!
Lari!
Lari!
__ADS_1
Lari!
Hanya itu satu- satunya yang ku pikirkan. Aku memilih bersembunyi di balik tumpukan sampah. Dan dengan tubuh yang gemetar, satu- satunya yang aku harapkan adalah ada orang yang akan menghentikan police tersebut.
Siapa yang menyangka jika orang itu adalah ibuku sendiri? Tepat pada saat Police itu telah menemukanku dan hampir melakukan hal yang sama denganku. Ibuku datang dan menghajar police tersebut. Ibuku yang ku benci membela ku?
β jangan sentuh dia! Dia adalah anakku!β itu adalah satu- satunya kalimat yang meleburkan rasa benci ku pada ibuku. Beruntung teriakan ibuku membangunkan pemilik toko dan Police yang mengetahui itu bergegas pergi dari sana.
Satu- satunya yang dapat kulakuakan adalah memeluk ibuku. Dan untuk kali pertama aku dapat merasakan ibuku membalas pelukanku dan menenangkan aku.
π’π’π’
Setelahnya, aku selalu mengutuk para police itu. Dan rasa benci ku pada ibuku benar- benar telah melebur. Karena setelah kejadian itu, kemana pun aku mengemis ibuku selalu ada, ia juga menggandeng tanganku di sepanjang jalan yang kami susuri. Aku selalu berdoa, semoga Tuhan selalu melindungi ibuku dan menyembuhkan psychology ibu ku agar kami selalu bersama dalam suka.
Aku tak pernah berdoa sebelumnya karena tak ada yang pernah mengajariku berdoa, ibuku sendiri tak pernah mengajariku karena aku tahu jika ia dalam kondisi psychology yang tak stabil sehingga tak tahu Tuhan itu ada atau tidak. Aku sendiri baru belajar berdoa kala aku merasa dalam bahaya kala bertemu police yang hendak memperkosa ku tersebut. Dan siapa yang menyangka jika doa ku tersebut benar- benar di kabulkan?
πΈπΈπΈ
Suka?
__ADS_1
Bukannya menjelek- jelekan police lho ya.