My Vanny

My Vanny
Selisih 2 jam


__ADS_3

Ardhian


Satu minggu ini aku tidak bertemu Gadis cantik ku, ini adalah Waktu yang begitu menyiksa untuk ku. untung saja banyak pekerjaan yang selalu menyita perhatiaan ku, dan selesai dengan banyak laporan yang sudah aku tanda tangani.


Di Bali sudah jam 5 sore, sore ini aku meninggalkan Kantor pusat di Bali dan segera berlari menuju Jakarta.


Jam 8 malam...i'am coming Jakarta. Satu mobil dan sopir dari kantor pusat di Jakarta sudah menunggu ku, dan segera berlari lagi ke Anyer. Anyer adalah tempat training Stevanny dan kawan kawan nya, dan kedatangan ku di sambut oleh para panitia dan peserta training lain nya. Boss besar yang datang semua orang menunjukan keberadaan nya di depan ku.


" Kok ga lengkap personil sih?" Tanya ku pada panitia yang mengurus acara ini, aku tidak melihat wanita cantik ku di menit ke 30 aku duduk di restoran yang sedang mengadakan acara musik


" Ada yang pulang Pak!" ucap salah seorang panitia


" 4 orang "


Dan ku minta list peserta yang ijin pulang malam ini pada ketua panitia nya. benar saja...Stevanny pulang, dan aku kesal. Ku remas list peserta training di depan wajah nya.


" Minggu besok...saya ga mau gini lagi. ini ga sesuai dengan aturan yang sudah kita sepakati, peserta cuma bisa meninggalkan tempat training setiap 2 minggu sekali, kalo pun ada yang Urgent...sertakan bukti pendukung nya" Ucap ku dan meninggalkan restoran ini.


Dengan sangat kesal aku kembali ke Apartement ku, lelah ku bertambah, letih ku semakin menjadi.


STEVANNY


" Pih...bangun dong, subuh nih" Aku mengoyangkan tubuh polos nya.


" Ngantuk Bund!'' jawab Satria dengan suara yang terdengar sangat lelah sekali. sebenar nya tidak tega membangunkan saat ini, kami baru tidur 2 jam, tapi kewajiban adalah kewajiban, tidak bisa di tinggalkan begitu saja.


" Bangun dulu yuks Pih, nanti kita tidur lagi" Ajak ku dan Satria membuka mata panda nya


" Abis subuh lagi yah Bund!" pinta nya dan aku tersenyum, aku mengusap kepalanya,


" Iya...sekali yah pih, trus anter saya jemput Gigi" Pinta ku dan Satria hanya membalas permintaan ku dengan senyuman manis nya.


Selesai Sholat, Satria benar benar menagih janji ku


" janji itu hutang Bund, dan harus hutang wajib di bayar"


" Siap Pih...gak pake di cicil lah kaya mobil saya, cash sekarang juga " Jawab ku dengan melipat mukena dan membuka baju ku di hadapan nya. Satria tertawa dan langsung mencium bibir ku, ciuman yang begitu ganas dan mengiring ku sampai ke tepi tempat tidur.


" Gak Cape?" Tanya nya


" gak tuh... i'm ready to use " Jawab ku dan menarik sarung yang dipakai nya.


Setelah bercinta di pagi hari, Satria suami ku benar benar tertidur lagi dan aku masuk ke dalam dekapan nya. aku terus memandang wajah laki laki yang menjadi ayah dari calon baby ku, ada rasa menyesal meninggalkan seminggu ini, betapa dia membutuhkan kasih dan sayang ku, dan air mata ku menetes saat ini.


" Harus nya saya gak egois Pih, Harus nya saya cukup tunggu kamu di rumah aja, layani kamu ditempat tidur dan bercinta sepanjang hari" Ucap ku dalam hati.


" Tapi kamu terlalu tinggi buat saya Pih, Kamu...keluarga kamu...apa arti nya saya kalo saya ga kerja, saya ga bisa ikutin obrolan kamu dan teman teman kamu seperti kemarin itu"


" Gak ada yang bisa kamu banggain dari saya di depan teman teman mu, Pih! Dan karna itu...saya harus kerja"


Kami terbangun karna suara HandPhone yang berdering.


" Gigi, Bund" Satria menunjukan Layar handphone nya


" Aayyoo angkat Pih " jawab ku dengan semangat


" Waalaikum salam Gi!"


" Papih Di rumah!"


" Ok...Papih tunggu yah!"

__ADS_1


" Gigi mau pulang Bund!" Ucap Satria dan aku tersenyum


" Kapan?"


" Gak Tau " Jawab Satria dan aku langsung memukul lengan nya


" Bukannya di tanya, Pih"


" Lupa Bund, anak nya terburu buru" Jawab Satria dan aku tertawa


" Pasti feeling ada Bunda nya di rumah " Ucap ku dengan bangga dan Satria mencium pipi ku.


" Mandi Yuks Bund!"


" Mandi doang?" Tanya ku serius


" Terserah!" jawab Satria dan aku tertawa


" Papih duluan deh, saya lemes" Jawab ku jujur, aku takut diajak mandi bersama nya. Horor saja rasanya membayangkan apa yang akan terjadi saat kami mandi bersama.


" Gak Nyesel?" Tanya Satria dengan memgedipkan mata nakal nya


" Pagi ini cukup dulu Pih, Saya belum di kasih makan, anak mu lapar" Jawab ku dan Satria tertawa, Tawa yang begitu mendamaikan hati ini, menghilangkan lelah tubuh setelah bercinta dengan nya.


Karna Satria tau aku tidak pañdai di dapur, hanya pintar di kasur, sarapan pagi ini kami memesan makanan on line saja.


Susu hangat Satria siapkan untuk ku.


" Serius...ini Danc**" Ucap Satria ketika aku menatap nya dengan penuh curiga, aku tidak suka susu hamil selain susu hamil model UHT.


" Benar yah Pih?"


" Beneran Bundddd" Jawab Satria dengan memberikan gelas susu untuk ku.


Jam 10 pagi, hari sabtu di awal bulan Januari. Kami hanya menonton Televisi di ruang keluarga, Satria tertidur lagi di paha ku dan aku terus mengusap kepala nya dengan satu tangan yang sibuk dengan keripik kentang.


Ku dengar suara mobil berhenti di depan rumah, aku tidak begitu hapal dengan suara mesin mobil nya, namun teriakan salam seorang anak kecil bisa membuat aku tertawa saat ini.


" Assalamualaikum Papih...Papih...papih" panggil nya dan berlari, lalu berhenti


" Hahhhhh Ada Bunda?!" Gigi begitu histeris melihat aku, dan aku tertawa, Ekspresi Gigi ini yang membuat aku sayang pada nya. Terlihat Spontan, Tulus dan Tercurah dari hati nya.


" Peluk Bunda " Pinta ku dengan melebarkan satu tangan ku


" Ada Papih " Keluh nya pelan, Dia masih berdiri dan seperti nya Gigi memikirkan apa yang harus dia lakukan.


" naik ke sofa pelan pelan, peluk bunda, come on" ucap ku, aku tau...Gigi pasti takut membuat Papih nya terbangun saat ini.


Dengan gerakan perlahan, Gigi menuruti perkataan ku, Gigi memeluk aku, mencium kedua pipi ku.


" Gigi kangen Bund, Bunda kangen Gak?"


" Gak tuh...biasa aja" Canda ku dan Gigi mencium lagi pipi ku


" Biarin lah..bunda ga kangen Gigi, Tapi Gigi beneran kanggggeeeeen bangettttt" Ucap nya dan aku tertawa.


Mbak Hasna dan keluarga nya hadir saat ini, mereka sibuk dengan bawaan nya. Bi Narti yang ikut pulang, langsung sibuk ke dapur, membuat minuman untuk keluarga ipar ku, aku langsung membangunkan Suami ku, dan Satria hanya bisa tersenyum kecut melihat rumah nya ramai saat ini.


Sebagai adik, aku mencium dan memeluk Mbak Hasna lalu Bang Rimba dan menerima pelukan sayang dari keponakan ku Vio dan Akbar.


" Baru semalem Van...udah Minta pulang" Keluh Mbak Hasna

__ADS_1


" Kenapa Gi?" Tanya ku langsung pada Gigi.


" Sakit Bund" Gigi membuka mulut nya.


" Kenapaaaa ga bilang Mama, Gigi!" Keluh Mbak Hasna dan aku tertawa.


" Malu Mah " Jawab Gigi dan Mbak Hasna hanya bisa tersenyum, apalgi Bang Rimba...dia hanya diam mendengar jawaban dari Gigi.


" Sakit Pih...ayo liat mulut Gigi" Pinta Gigi dan Satria meminta Gigi duduk di dekat nya.


" Gigi nya Gigi mau copot tuh, udah otek" Ucap Satria


" Sakit Pih !" suara nya di buat mengeluh, seperti orang yang benar benar sedang merasa di sakiti.


" Iya Tau " Jawab Satria dengan singkat


" Terus gimana Pih?" tanya Gigi dengan suara yang ceria lagi


" Gak Tau deh " Canda Satria dan Gigi yang ekspresif langsung memeluk Papih nya, mencium Pipi Papih nya dengan terus memegang wajah satria dengan tangan nya.


" Geli Gi" Keluh Satria dengan tertawa


" Biariiinnn " Jawab Gigi. aku melihat Gigi yang begitu menyayangi Suami ku, bahkan bisa di lihat ikatan kedua nya lebih erat dibanding dengan yang lainnya.


" Sore kita ke dokter !" ucap Satria


" Dokter Gigi Pih?"


" Bukan...dokter Edi" Jawab Satria dan Gigi menepuk Dahi nya keras.


Rumah yang ramai penuh dengan tawa 3 keponakan ku, Walau Vio dan Gigi tidak bermain bersama, Karna Vio yang sudah lebih Besar dan beranjak remaja, tapi mereka bisa mengobrol dengan baik.


" Nginep Di sini yah Malem Ini!" Ajak ku pada Akbar dan Vio


" ajak yang lain dong Tan, biar seru!" ide dari Vio dan Satria langsung setuju.


" Ok...Om Iya yang chat Tante Indah dan Tante Efi"


" Sipp Om...bakar sosis yahhh" Jawab Vio


" Kambing guling lah...ada Papa tuh" Ucap Satria dan Bang Rimba hanya menganggukan kepala nya.


Sore jam 3, Aku dan Satria membawa gigi ke rumah sakit tempat Satria bekerja, Keluarga Mbak Hasna kamo tinggal di rumah, mereka sedang sibuk menyiapkan acara bakar membakar malam ini.


" Gigi takut Bund!"


Gigi memegang tangan ku saat kami berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


" Bunda temenin Gi, Gak usah takut" jawab ku


" Sakit yah Bund?"


" Bangeettt" Jawab ku


" Gak Jadi deh, Bund!" Jawab Gigi dan dia berhenti melangkah, Satria yang mendengar ocehan Gigi, langsung mengangkat tubuh nya, mengendong nya dan melanjutkan langkah kaki kami ke poli gigi.


" Dokter nya temen Papih, Gi " Ucap Satria


" Jadi Gigi gimana?" tanya Gigi


" Yah periksa lah " Jawab ku memberikan semangat untuk nya.

__ADS_1


Selesai sudah acara cabut Gigi susu nya Gigi, terbilang terlambat untuk anak seusia nya, mungkin karna dulu Pertumbuhan nya kurang dengan asupan gizi yang baik, Gigi susu nya baru terlepas sekarang ini.


Sampai di Rumah, semua keluarga besar Satria Sudah kumpul, Bapak begitu terlihat bahagia melihat anak, cucu dan menantu nya hadir di sabtu sore menjelang malam ini.


__ADS_2